
Saat ini, dari lantai Atas, Arlan menatap Arka dan Viola yang baru keluar dari gedung itu.
Dirinya tidak mengira, kalau mereka akan berada di gedung ini selama seharian.
Namun pada akhirnya mereka pergi.
Entah kenapa ada sedikit rasa kecewa.
Sudahlah, dirinya tidak mau memikirkannya tentang sepasangan Suami Istri aneh itu lagi.
Setidaknya, hal-hal memusingkan sudah berlalu.
Namun keesokan harinya, Arka dan Viola benar-benar kembali ke Gedung itu, Arlan yang baru saja datang itu sangat terkejut.
Dua orang itu rupanya cukup keras kepala, mari lihat betapa lama mereka akan bertahan.
Di hari kedua ini, Arka membawa lebih banyak persiapan.
Misalnya saja bantal untuk tidur.
Menunggu terlalu lama membuat Arka bosan, dia lalu juga mulai mengeluarkan Laptopnya dan mulai mendownload beberapa game.
Pada akhirnya, satu hari sekali lagi berlalu begitu saja.
Hari benar-benar semakin cepat berlalu sampai hari presentasi Proyek dekat.
Di hari ke empat, juga hari terakhir ini, Arka menunggu dengan cemas.
Hah, kalau ini masih gagal..
Tidak, dirinya tidak boleh gagal kali ini.
Dengan penuh tekat, kali ini Arka mulai serius berbicara dengan karyawan disana untuk mencoba bertemu dengan Atasan mereka.
Arlan disisi lainnya, tentu saja selalu mengamati dua orang itu diam-diam selama beberapa hari ini.
Dia cukup terteguh dengan tekat mereka.
Anak muda yang masih begitu bersemangat.
Walaupun, beberapa kelakuannya masih cukup nakal dan kekanak-kanakan.
Seperti tempo hari, dia malah sempat-sempatnya benar-benar membawa Set BBQ di gedung ini saat jam makan siang.
Dia bahkan sempat membagikan makanan-makanannya ke beberapa karyawan disana.
Awalnya memang sedikit mengagu, namun para Karyawan akhirnya merasa senang akan kehadian orang itu.
Walaupun sedikit aneh, namun pemuda didepan itu benar-benar cepat akrab dengan pada Karyawannya.
Sekarang ketika mereka datang, para Karyawannya itu malah menyapanya dengan akrab.
Seperti sekarang, Arlan melihat ketika Arka datang, beberapa Karyawan yang datang menyapanya.
__ADS_1
"Ah, selamat Pagi Tuan Muda, kok tumben begitu rajin di pagi hari?" Kata Satpam yang berjaga disana.
"Hah, tentu saja, aku harus semagat untuk mencoba mengambil hati Pak Bos ini,"
Beberapa orang yang datang juga menyapa Arka dengan senang hati.
"Selamat Pagi Tuan Muda,"
Arlan yang melihat pemandangan itu, merasa ini cukup familiar.
Benar-benar mengigatkannya pada Putranya yang sudah meninggal.
Alasan kenapa dirinya tidak ingin lagi menjadi Arsitektur untuk Perusahaan besar karena dulu Putranya meninggal di Proyek.
Itu hal-hal yang menyakitkan ketika memikirkannya.
Lalu dirinya mulai berhenti dari semua pekerjaannya yang berhubungan dengan itu, dan mulai meneruskan Perusahaan kecil milik Putranya dulu.
Dulu, putranya juga selalu begitu bersemangat seperti itu.
Dia selalu keras kepala dan sedikit nakal.
Dirinya mulai berpikir sekarang, jika Putranya masih hidup apakah dia akan seperti pemuda ini?
Kalau memikirkannya lagi, pasti Putranya disana juga akan sedih jika melihat dirinya tidak lagi menjadi seorang Arsitek.
Putranya selalu bangga pada Pekerjaannya, itulah kenapa dulu dia mengikut jejaknya, dan bahkan dengan begitu semangat membuat Perusahaan kecil ini.
Melihat Arka itu, Arlan menjadi teringat lagi akan beberapa emosi dimasalalu.
'Aku selalu sangat suka dengan Desain Ayah, aku ingin menjadi seperti Ayah suatu hari nanti,'
Memikirkannya sekarang, perasaan Arlan menjadi rumit.
Apakah dengan dirinya berhenti menjadi Arsitektur, ini menghianati Putranya?
Setelah ingat dengan emosi-emosi yang telah lama terpendam itu.
Akhirnya, Arlan memutuskan.
Ya, mari coba berbicara lagi dengan Pemuda itu.
Mungkin akan ada hal yang baik.
Arlan lalu turun dari lantai atas, itu benar dia selama ini tinggal disini, jadi tentu saja tidak akan bertemu Arka ketika masuk atau keluar.
Arlan juga cukup jarang keluar dari gedung ini, hanya kalau ada hal-hal penting.
Pagi itu, Arka baru saja duduk bersama Viola di sofa biasanya, sampai ada seseorang yang menyapa mereka.
"Selamat Pagi,"
Kalau Viola, dia tahu orang ini.
__ADS_1
Namun Arka tidak tahu, hanya...
"Ah, ini Bapak yang tempo hari itu? Aku tidak pernah melihat Bapak, Bapak kemana saja selama ini?"
Arlan sedikit tertawa,
"Kamu masih tidak mengenaliku?"
Viola dari tadi menyikut Arka mencoba memberikan sinyal, namun Arka tidak paham.
"Eh? Bapak salah satu pegawai disini bukan?"
"Ya, aku memang pegawai disini,"
"Maaf Tuan Arlan jika Tuan Muda Arka ini tidak sopan,"
Arka terkejut mendengar perkataannya Viola itu.
Ini...
Ini Tuan Arlan Arsitektur hebat yang di carinya!!
Bagaimana ini??
Dirinya pernah tidak sopan pada orang ini!!
Bagaimana kalau itu menyinggung perasaan orang ini?
Arlan lalu tertawa melihat wajah pucat Arka itu.
"Kalian tidak perlu terlalu sopan santai saja, mari masuk Ke Ruanganku, mari akan saya dengarkan apa yang ingin kalian katakan,"
Melihat wajah ramah itu, hati Arka tiba-tiba menjadi begitu senang.
"Bapak benar ingin bertemu kami?"
"Ya, mari tunggu apa lagi, segera masuk atau aku akan berubah pikiran,"
Arka tentu saja tidak membuang waktu lagi.
Dirinya langsung masuk mengikuti Pak Arlan ini ke Ruangannya.
Disana, dengan begitu semangat, Arka menjelaskan tentang rencananya itu.
Dan dua juga menjelaskan betapa pentingnya Proyek ini.
Arlan menatap dokumen-dokumen itu, dan merasa itu juga cukup menarik.
"Baik, aku akan membantu kalian,"
Arka jelas sangat senang sekali.
"Terimakasih Pak, kalau begitu besok apakah Bapak mau ikut saya bertemu dengan Klaien?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku akan mengosongkan jatwal,"
"Baik, Besok aku dan Viola akan menjemput, Bapak,"