
Sehari sekali lagi berlalu, setelah kedatangan salah satu penggemar Arka itu, tidak ada ribut-ribut di kantor, dan Arka kembali ke rutinitas sibuknya mengurusi Pekerjaannya bersama Viola.
Sampai malam tiba, keduanya pulang seperti jam biasanya, namun hari ini mereka makan malam di Rumah.
Karena malam ini akan ada acara makan malam langka, dimana Arka makan malam bersama dengan Kakek dan Neneknya, ya hanya dengan mereka tidak ada Keluarga William lainnya.
Di sela-sela makan itu, Nenek Arka mulai bertanya-tanya pada Arka soal bagaimana jabatan barunya, apakah Arka kesulitan atau tidak, lalu juga mulai bertanya soal rencana proyek baru yang Arka akan rencanakan.
"Masih belum sih, hanya saja tempo hari sempat meeting dengan klaien, yang paling membuat aku kesal adalah saingan kami yang begitu sombong,"
"Kamu... Kamu sudah bertemu dengan mereka?"
"Ya, dia adalah seorang wanita mungkin sekitar umuran hampir sama denganku, dia memiliki banyak bodyguard mencurigakan dengan sebuah Tato Naga... Dan Tato Naga itu terlihat familiar,"
"Mungkin hanya perasaanmu saja? Jadi bagaimana dengan rencana proyekmu itu? Sudah mendapatkan ide?"
Mendengar pertanyaan Neneknya itu, Arka tiba-tiba merasa lelah,
"Nenek, aku tidak ingin membahas masalah pekerjaan di meja makan, sangat lelah memikirkannya seharian di kantor,"
"Baiklah-baiklah, Nenek tidak akan bertanya lagi soal itu, jadi biarkan Nenek bertanya hal lainnya,"
"Apa yang ingin Nenek tanyakan?"
"Kapan kamu berencana memberikan Nenek seorang cicit? Nenek benar-benar ingin melihat seorang cicit darimu, itu pasti akan sangat lucu seperti saat kamu masih kecil dulu,"
Mendengarkan hal ini, Viola hampir saja tersedak makanannya, dia hanya menikmati makan malamnya dengan damai dari tadi, dan mendegarkan orang-orang berbicara.
Arka sendiri memiliki wajah memerah ketika Neneknya bertanya,
"Nenek apa-apaan sih!! Aku kan baru menikah selama satu Minggu, kenapa sudah ditanya hal ini?"
"Ya, kan Nenek hanya ingin bertanya. Apa yang salah dengan ingin memiliki cicit? Memang kamu tidak ingin memiliki anak cepat-cepat?"
Arka yang ditanya itu binggung harus menjawab apa.
Bukan apa-apa, mereka berdua bahkan belum melakukan itu, jadi mana ada soal memiliki anak?
Prosesnya saja belum dimulai.
Namun sebuah ide tiba-tiba muncul dikepala Arka, mungkin ini akan menjadi kesempatan bagus untuk menipu Viola lagi?
"Soal itu, kami berdua juga tidak akan tahu? Aku dan Viola hanya bisa berusaha dengan baik untuk mencoba memberikan Nenek Cicit secepatnya,"
Nenek Arka itu lalu tertawa,
"Lihat sayang, sekarang cucu kita yang kecil ini sudah dewasa dan berniat memberikan kita cicit,"
Kakek Arka yang dari tadi diam lalu berkomentar,
"Ya, dia masih muda masih sangat mungkin memberikan banyak cicit, tidak perlu buru-buru pula. Masa-masa ini memang masa-masa mereka masih bersenang-senang dan bersemangat, dan ingat Arka walaupun kamu masih bersemangat, jangan sampai membebani Istrimu dan melakukannya dengan berlebihan,"
__ADS_1
Mendengar kata-kata Kakeknya itu, wajah Arka menjadi sedikit memerah.
Apa-apaan tuduhan Kakeknya ini?
Siapa yang melakukannya begitu bersemangat?
Akhhh...
Lalu Arka mencoba berkata dengan tenang,
"Aku... Aku tentu saja melakukannya dengan lembut, benar bukan Viola? Jadi mari kita buat cicit untuk Kakek dan Nenek sekuat tenaga,"
Wajah Viola sedikit memerah ketika Arka mengatakan itu.
"Nenek dan Kakek jangan dengarkan omong kosong Arka ini, dia memang seperti ini,"
"Viola, kamu harusnya membelaku, hpmh,"
Nenek Arka lalu tertawa melihat cucu mantunya itu terlihat malu-malu, mereka yang terlihat harmonis itu membuat dirinya senang.
"Tapi, Nek bukankah ada baiknya aku mengatur Cuti lagi untuk Bulan Madu? Aku masih Pengantin baru dan harus berurusan dengan begitu banyak pekerjaan, proses membuat cicitnya kan jadi tertunda,"
Kakek Arka disana lalu kembali berkomentar,
"Bukankah kamu sendiri yang mencari masalah soal Proyek itu? Siapa yang sok-sokan bilang seperti itu di Rapat dan membuat masalah?"
Arka lalu terdiam, memang dirinya sendiri yang mencari masalah, hingga membuat dirinya jadi sibuk sendiri sekarang, dan tidak bisa memikirkan soal Bulan Madu lagi.
"Sudahlah, pokoknya aku benar-benar menantikan kabar baik dari kalian soal cicit itu,"
"Tenang saja Nenek, itu beres secepatnya saja, benar bukan Viola sayang?"
Viola segera menatap Arka dengan ekpersi rumit, namun segera mengikuti Aktingnya itu.
"Itu benar, segera saja, Nenek. Nenek tidak usah khawatir, nanti akan ada saatnya kalau memang rejekinya,"
Mendengar tanggapan Viola itu, hati Arka tiba-tiba berbunga-bunga.
Jadi Apakah sekarang Viola mau?
"Hmm, itu sangat bagus, Arka, Viola, setelah urusan proyek selesai, kamu bisa mengabil cuti untuk pergi Bulan Madu," kata Nenek Arka juga ikut senang.
"Benar, Nek?"
"Benar, jadi selesaikan hal-hal itu, dan jangan membuat masalah,"
"Terimakasih, Nek."
"Dan kali ini, kamu bebas mau Bulan Madu kemana, aku tidak akan mengaturnya, ini salahku yang terkahir kali,"
"Nenek jangan seperti itu, itu bukan salah Nenek, Arka sudah bilang kan?"
__ADS_1
"Itu benar yang di katakan Arka, itu bukan salah Nenek sama sekali," kata Viola menambahkan.
Namun pembicaraan itu tidak berlangsung lama, sampai makan malam selesai, kemudian Arka dan Viola kembali ke kamar mereka.
Sampai di kamar mereka, setelah menutup rapat pintu, Viola segera protes ke Arka,
"Tuan Muda omong kosong apa yang barusan Tuan Muda katakan pada Kakek dan Nenek Tuan Muda?"
"Omong kosong apa? Apa lagi yang bisa aku katakan selain mengiyakan soal cicit? Tidakkah Kakek dan Nenek akan curiga kalau kita tidak mengiyakannya?"
Viola terdiam dan berpikir sebentar,
"Apa yang di katakan Tuan Muda cukup masuk akal,"
Arka lalu bertanya dengan malu-malu,
"Jadi... Jadi kamu setuju mau membuat bayi denganku?"
Viola menatap Tuan Mudanya dengan ekpersi binggung sekaligus kaget, terdiam sebentar dan menatap Tuan Mudanya itu, lalu mengambil kesimpulan,
"Sepertinya Tuan Muda salah minum obat?"
"Hpmh, siapa yang salah minum obat, Viola menyebalkan!!"
Setelah tahu kalau Viola mengagap ini sebagai lelucon, Arka lalu dengan marah langsung melemparkan dirinya di tempat tidur.
Viola di ujung tempat tidur mencoba berbicara dengan Arka lagi,
"Namun ini tidak ada dalam surat perjanjian kontrak,"
Arka lalu kembali menatap kearah Viola,
"Surat Perjanjian Apa? Kapan kita membuatnya?"
"Owh, benar surat Perjanjiannya memang belum dibuat karena Pernikahan ini terlalu buru-buru, jadi bagaimana kalau membuatnya sekarang?"
Arka mencoba mengeles soal itu, dan mulai membuat alasan,
"Hpmh, aku terlalu malas memikirkannya, lain kali saja, aku sangat lelah ingin tidur,"
"Tapi Tuan Muda...."
"Tidak ada tapi-tapinya!! Terserah aku nanti apa isinya dan kapan membuatnya,"
Melihat sikap keras kepala Tuan Mudanya itu, Viola hanya bisa menyerah, lalu segera pergi ke kamar mandi.
Melirik Viola sudah menyerah, akhirnya Arka merasa lega, lalu mulai berkata dalam hati,
'Hpmh, siapa yang akan membuat surat perjanjian? Aku dan Viola sekarang sudah resmi menikah, jangan pernah berharap Viola untuk kamu bisa lepas dari Pernikahan ini, kamu selamanya milikku,'
####
__ADS_1
Bersambung