
Arka yang tidak bisa mengerem mobilnya itu, akhirnya menabrak salah satu pembatas jalan, dan untungnya tidak masuk kedalam jurang, namun kepala Arka mengalami benturan, dan dia tidak sadarkan diri.
Ketika Arka masih pingsan didalam mobil itu, dari arah luar ada beberapa orang yang muncul degan mobilnya.
Salah satu wanita tertentu keluar dari dalam mobil itu,
"Cih, Arka William ini memiliki keberuntungan yang tinggi untuk mobilnya tidak masuk ke jurang,"
"Lalu Nona Marsela, hal apa yang sebaiknya kita lakukan?"
"Jatuhkan mobil itu ke jurang, buat ini semacam kecelakaan maut, sesuai rencana kita,"
"Baik Nona Marsela. Lalu apakah anda ingin tetap berada disini dan melihat dia jatuh?"
Marsela lalu tertawa,
"Aku masih ada urusan lagi yang harus aku urus kamu yang mengawasi semua hal-hal ini, apakah kamu mengerti?"
"Baik, Nona."
Marsela yang terlihat tertawa penuh kemenangan itu kembali memasuki mobilnya.
Ini semua adalah Rencana yang dirinya siapkan di bantu oleh dua Tuan Muda Keluarga William itu, Robert William dan Galvin William?
Mereka membantu dirinya melakukan hal ini agar mereka diberikan informasi soal Harta Tersembunyi itu.
Seolah dirinya akan memberikan Informasi ini.
Namun, ini mungkin juga menjadi kesempatan untuk dirinya bisa memanfaatkan mereka berdua untuk mendapatkan Kunci itu.
Sayang sekali rencananya ini sedikit tertunda karena Kakeknya tiba-tiba memanggil, entah karena apa karena sepertinya semua anggota keluarga Cavel dipanggil kesana.
Marsela lalu segera naik ke atas mobil meninggalkan bawahannya untuk melakukan semua yang dirinya perintahkan.
Marsela sekali lagi melihat ke arah mobil yang saat ini menabrak pembatas jalan itu merasa tertawa puas melihat orang yang berada di dalamnya sebentar lagi akan mati.
"Selamat tinggal, Tuan Muda Bodoh dari Keluarga William, sangat senang melihat akhir dari hidupmu seperti ini," kata Marsela dengan penuh kepuasan.
Dirinya jelas tidak akan membiarkan orang-orang yang berani menentangnya ataupun berani berbuat lancang padanya hidup dengan tenang.
Dan Arka itu sangat berani membuat semua rencananya, jelas ini adalah balas dendam yang layak yaitu kematiannya.
Marsela memikirkan itu saja terlihat sangat senang dan menikmati semua ini, lalu segera mobilnya pergi dari tempat itu.
Disisi lainnya, beberapa anak buah Marsela itu masih berada di tempat itu berusaha untuk melaksanakan perintah dari Nona mereka.
Mereka sekarang mencoba mendorong Mobil Arka menjauh dari tiang pembatas jalan, memposisikan mobil itu agar mengarah langsung kearah jurang.
Butuh waktu cukup lama untuk menggeser mobil itu.
Dan setelah merasa posisinya cukup pas, mereka segera akan menjatuhkan mobil itu kedalam jurang, sampai kemudian beberapa mobil entah bagaimana datang ke lokasi mereka.
Mereka mengenakan baju-baju serba hitam, langsung keluar dari mobil dan mulai memukuli anak buah Marsela itu hingga kewalahan, dan menangkap mereka semua.
Pertarungan itu berlangsung cukup sengit, karena hari ke dua belah pihak terlihat sama-sama profesional dan hebat dalam berkelahi.
Hingga kemudian, seorang wanita tertentu yang mengenakan sebuah topeng di sebagian wajahnya muncul dan ikut terlibat untuk memukuli beberapa orang di sana hingga pingsan.
Dan setelah membuat anak buah Marsela itu pingsan dan mengikat mereka, akhirnya wanita itu di bantu oleh beberapa Pria dengan pakaian serba hitam, mendatagi mobil yang Arka gunakan.
Wanita itu segera membuka sabuk pengaman yang di pakai oleh Akra, dan menariknya keluar dari mobil.
"Tuan Muda.... Lagi-lagi Anda harus mengalami hal-hal menyedihkan ini..."
Ya, itu adalah Viola, yang sekarang memeluk Arka yang pingsan itu.
Sekali lagi, Viola melihat ada genangan darah dari pemuda dalam pelukannya.
Viola bisa melihat seperti benturan itu cukup keras, hingga membuat kepala Arka sekali lagi terluka.
Ini adalah kedua kalinya dirinya melihat Tuan Mudanya terbaring tidak berdaya seperti ini.
Sebuah kebohongan jika hatinya tidak terluka.
"Tuan Muda.... Maaf karena terlambat datang.... Coba aku bisa datang lebih cepat...."
Viola ketika melihat darah itu menjadi semakin takut.
Ini adalah kedua kalinya Kepala Tuannya terluka, padahal efek dari operasi sebelumnya belum benar-benar pulih namun Tuan Mudanya harus sekali lagi mengalami hal ini.
Jelas, Viola sangat takut soal ini, menagis disana menatap wajah pucat itu.
"Clarissa... Ah maksudku, Viola ayo segera bawa Arka Ke Rumah Sakit, aku sudah menyiapkan mobil untuk membawanya kesana, jangan buang waktu di sini lebih lama, jangan menagis lagi, aku yakin dia akan baik-baik saja,"
Viola lalu menatap seorang pemuda yang berbicara padanya itu, itu adalah Lewis Cavel, Kakaknya.
Viola memiliki perasaan yang cukup rumit saat ini.
Sial, Tuan Mudanya lagi-lagi seperti itu karena Marsela sialan itu!!
__ADS_1
Sial!! Dirinya jelas tidak akan memaafkan orang itu, dan seluruh Keluarga Cavel karena membuat Tuan Mudanya seperti ini dan mengalami hal-hal ini.
Dirinya padahal sudah memiliki rencana untuk menyusup ke dalam Keluarga mereka untuk balas dendam.
Urusan dalam Keluarga Cavel lebih rumit dari pada yang dirinya kira.
Sebelumnya, dirinya membicarakan hal-hal ini dengan Kakak Kandungannya, Lewis soal bagaimana Ibu Kandung Mereka meninggal, berkat persekongkolan Ayah mereka dan Istri Keduanya.
Diri sinilah, intinya memiliki keberanian untuk memasuki keluarga itu dengan bantuan Kakaknya.
Untuk balas dendam dan menepati janjinya.
"Ya, mari segera membawanya,"
Namun ketika mereka hendak memasukan Arka kedalam mobil, kali lagi Ada rombongan mobil yang datang.
Tentu hal itu membuat Viola dan anak buahnya menjadi waspada Siapa tahu jika itu bala bantuan musuh yang datang.
Namun Viola langsung segera menyuruh anak buahnya untuk mundur ketika melihat wajah siapa yang keluar dari salah satu mobil.
"Kak Viola? Ini kamu Kak Viola?"
Itu adalah Louise William, Viola menatapnya dengan ekspresi terkejut.
"Louise? Kamu...."
Mereka berdua saling bertatapan, Louise juga segera menyuruh anak buahnya itu untuk mundur.
Louise menatap Arka yang saat ini pingsan didalam sebuah tandu.
Louise lalu datang dan bertanya,
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Louise tentu saja bisa sampai ketempat ini karena tahu jika Arka Kakaknya dikabarkan melarikan diri, dari Kakeknya.
Kakeknya malah menuduh dirinya terlibat dalam pelarian Arka, padahal jelas dirinya tidak tahu apa-apa, pasti ada orang-orang tertentu yang sengaja menjual namanya dalam rencana mereka.
Dengan panik, dirinya hasil meyakinkan kakeknya untuk mencari Arka.
Sangat beruntung mereka meletakan sebauh alat pelacak pada tubuh Arka sehingga mereka bisa mencari keberadaan Arka jika hal-hal seperti ini terjadi.
Namun Sebenarnya apa yang terjadi di sini?
Kenapa ada Kak Viola disini?
Jangan bilang....
"Aku juga tidak tahu, ada seseorang yang sengaja menjual namaku dan nama Kak Viola, agar Tuan Muda pergi dari Rumah Keluarga William,"
Viola yang mendengar hal itu tentu saja tahu bagaimana rencana ini berjalan.
Awalnya dirinya ada di Rumah Keluarga Cavel dan sempat mendengar bagaimana Marsela membicarakan soal rencananya itu dengan anak buahnya untuk melenyapkan Arka, dia sepertinya memiliki seorang mata-mata yang menyusup ke Keluarga William untuk melancarkan aksinya itu.
Namun sayangnya, Viola cukup terlambat ketika mengetahui semua ini, dan ketika dirinya dan Kakaknya mengikuti Marsela, hal-hal sudah terjadi, dan Arka sudah terlibat kecelakaan ini.
Dirinya tidak akan pernah mengira jika alasan Tuan Muda itu tertipu karena para penjahat itu berani menipu mereka dengan namanya.
Mereka benar-benar tidak bisa dimaafkan!!
"Aku kurang lebih tahu apa yang terjadi, ini sebenarnya ulah Keluarga Cavel, lebih tepatnya ulah Marsela Cavel, dia yang merencanakan semuanya dan aku terlambat untuk mengetahui semua itu.... Namun Tuan Muda Louise tenang saja, Aku Yang akan mengurus semua ini, sekarang Tuan Muda Louise, tolong bawa Tuan Muda Arka ke Rumah Sakit, dan jangan biarkan dia sampai pergi lagi,"
"Apa maksudmu? Kamu tidak ikut?"
Viola lalu terdiam, dan kembali menatap wajah pucat bersimpa darah itu.
Viola lalu mengelus rambut Arka, dan mencium keningnya.
"Aku Percaya pada Arka... Jika dia akan baik-baik saja, walaupun aku ingin pergi bersamanya, namun saat ini aku tidak bisa...."
"Kak Viola, jangan seperti ini ini sudah kedua kalinya Kakak mengatakan hal yang sama..."
"Louise, Aku mohon jangan banyak bertanya dan lakukan saja apa yang aku katakan...."
"Lalu, apa yang harus aku katakan kepada Kak Arka ketika dia sadar nanti? Dia jelas akan mencoba mencari Kak Viola,"
Mendengar itu Viola menjadi terdiam.
Namun sejak awal dirinya sudah memutuskan hal ini.
Jika dirinya akan memenuhi janjinya untuk menghancurkan Keluarga Cavel, dengan menyusup kedalamnya.
Tidak masalah jika nanti pada akhirnya Tuan Mudanya akan membenci dirinya, karena dirinya juga bagian dari Keluarga Cavel.
Dirinya sudah memiliki ketetapan hati.
Ini semua demi laki-laki yang sangat dirinya cintai, yaitu Arka William.
Dirinya akan melakukan apa saja untuk membuat Tuan Mudanya bahagia.
__ADS_1
"Louise dengarkan aku. Ketika nanti dia sadar bilang jika aku sudah kembali ke Keluarga Cavel, dan tidak ingin lagi memiliki hubungan dengannya,"
"Aku tidak bisa melakukan itu,"
"Louise, dengar, kita semua tahu Arka seperti apa, dia pasti akan tetap mencoba mencariku, jadi pastikan kamu mengatakan kepadanya tentang aku yang memihak Keluarga Cavel, aku yang mengambil kunci Harta Tersembuyi itu. Tidak masalah jika nanti Tuan Muda Arka membenciku, namun pastikan dia tidak akan mencariku lagi seperti ini, karena hal-hal ini jelas akan sangat berbahaya kamu harus mengerti maksudku,"
Louise yang mendengar kata-kata itu jelas merasa semua itu tidak masuk akal.
"Tapi Keluarga Cavel bahaya,"
"Tuan Muda Louise, aku akan mengatasi ini, dan jangan pernah bilang pada Arka soal rencanaku ini, dia tidak boleh tahu, dia tidak boleh terlibat dalam hal ini, lagipula aku juga memiliki beberapa hal yang harus aku urus dengan Keluarga Cavel,"
"Tapi.... Tapi kenapa Kakak melakukan hal-hal sampai seperti itu?"
Setelahnya Viola tersemyum, dan mengelus sekali lagi, wajah Tuan Mudanya.
"Ini untuk orang yang paling aku cintai, Arka William,"
Mendengar itu, Louise jelas tidak tahu harus bersikap seperti apa, banyak gejolak emosi juga yang memenuhi dirinya.
Namun menatap kepastian di wajah Kak Viola itu, Louise juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena itu adalah sesuatu yang sudah Kak Viola pilih.
"Baik, aku akan menuruti apa permintaan Kakak. Lain kali, Aku tidak akan pernah membuat Arka seperti ini,"
"Owh, benar, Louise kamu harus hati-hati para Robert dan Galvin, aku sepertinya mencurigai jika mereka bekerja sama dengan Marsela yang merancang semua hal ini,"
"Itu... Itu ulah mereka?"
"Ya, pastikan kamu mengurus mereka berdua dan menjaga Tuan Muda Arka,"
"Kenapa Kak Viola percaya padaku seperti itu? Apakah Kakak tidak curiga jika aku yang mungkin berkianat?"
"Jangan bicara omong kosong, aku percaya pada orang yang Arka percayai, aku yakin kamu bisa melakukan semuanya,"
Louise lalu terdiam, dan akhirnya memberikan persetujuan.
Dia segera menyuruh anak buahnya membawa tandu itu ke mobil, dan untuk membawanya ke Rumah Sakit.
"Kalau begitu, aku pergi dulu,"
Viola hanya bisa menatap kepergian mobil itu dengan ekspresi yang begitu sedih, dirinya tentu saja sangat dengan perpisahan ini.
Mulai dari hari ini, dirinya mungkin tidak akan pernah melihat Tuan Mudanya lagi....
Hari-hari tanpa Tuan Muda ada disisinya mengisi hari-hari, agar menjadi lebih warna...
Lewis juga menatap kejadian dan percakapan itu.
Apalagi melihat adiknya yang sekarang memiliki begitu banyak ekpersi, kesedihan, cinta, kemarahan....
Dulu, adiknya Clarissa selalu menjadi seorang gadis dingin tanpa ekspresi, yang hanya mengikuti kemauan orang-orang, terutama Kakek mereka, gadis tanpa ekpersi yang bisa bersikap begitu kejam bahkan ketika dia masih begitu muda, ketika di berikan sebuah Pistol dia akan memakainya tanpa segan dan takut, seolah-olah itu bukan apa-apa...
Itulah kenapa Kakek mereka menyukai Clarissa adiknya, seseorang berhati dingin yang akan cocok untuk menjadi pewaris Keluarga Cavel.
Namun sekarang sepertinya semua sudah berubah, awalannya ketika mereka kembali bertemu, dan melihat wajah tanpa ekpersi itu, dirinya takut jika Clarissa masih akan seperti dulu.
Namun sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan...
Adiknya sudah tumbuh dewasa, dan menemukan orang yang dia cintai, bahkan bisa memiliki ekpersi seperti itu...
Pemuda bernama Arka itu pasti sangat berharga untuk adiknya.
Itulah juga kenapa awalnya dirinya tak ingin mengungkapkan fakta ini, dirinya ingin membiarkan adiknya tetap bahagia seperti itu, namun ternyata situasi tidak mengujikannya.
"Clarissa, jika kamu kita ingin melakukannya kamu bisa kembali kepada Arka, biar Kakak yang akan mengurus semua ini, hal-hal soal Keluarga Cavel,"
Viola segera menghapus air matanya, lalu segera berkata,
"Tidak. Aku ingin menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri, orang-orang yang membuat Arkaku menjadi seperti ini,"
"Baik, jika itu maumu, Aku tidak bisa berbuat apa-apa, mari segera pergi dari sini dan datang ke Acara itu, Acara Pertemuan Keluarga Cavel,"
"Ya,"
Viola saat ini masih memiliki ekspresi yang sedih tentu saja memikirkan Bagaimana dirinya berpisah dengan Arka.
Ini akan menjadi sebuah Perpisahan panjang, entah kapan mereka bisa bertemu lagi...
Tapi Viola juga sadar, hari di mana mereka bertemu lagi, mungkin mereka akan menjadi musuh.
Tuan Mudanya itu mungkin akan membenci dirinya, dan ketika saat itu tiba dirinya harus menyiapkan diri....
Namun itu tidak masalah sama sekali, yang paling penting dirinya bisa melihat Tuan Mudanya bahagia, bahkan walaupun itu hanya dari jauh.
Semuanya akan baik-baik saja, dirinya akan tetap menjaga Tuan Mudanya dalam bayang-bayang, memang lebih baik seperti itu dari awal.
Namun memikirkannya tentu saja dirinya masih tidak tahu apakah akan sanggup atau tidak.
__ADS_1
Namun pilihannya sudah ditentukan...
'Tuan Muda Arka, aku harap di pertemuan berikutnya, anda tidak akan terlalu membenciku, aku harap Tuan Muda baik-baik saja....'