
Di depan pintu lift itu, melihat Arka yang hendak pergi, ekpersi Lewis menujukan sedikit ketidak senangan.
Sepertinya Tuan Muda itu lebih bijak dari pada yang dirinya kira dan tidak mencoba mencari masalah dengan dirinya.
Apakah karena Marsela sudah membuat dia jadi seperti itu?
Marsela masih saja begitu terang-terangan melukai orang seperti itu, cara Keluarga Cavel yang seperti ini yang dirinya selalu tidak suka, namun terlahir di Keluarga sialan ini tidak memberinya begitu banyak pilihan selain menurut.
Dan soal masalah harta Tersembunyi itu, sebaiknya nanti saja di pikirkan.
Yang paling penting masih mencoba menemukan adiknya yang hilang, ini adalah prioritas utamanya saat ini.
Namun tiba-tiba Lewis terlihat wajah gadis yang bersama dengan Tuan Muda Keluarga William itu.
Wajahnya tiba-tiba mengigatkannya pada wajah Almarhum Ibunya...
Ini sedikit familiar entah bagaimana.
Tapi mungkin ini hanya perasaanya saja?
Ya, mungkin karena dirinya merasa rindu pada Ibunya juga adiknya.
Jika adik perempuannya ada disini, kira-kira seumuran itu, bukan?
Pasti adiknya akan menjadi seorang gadis yang cantik, sama cantiknya dengan Ibunya...
Adiknya selalu menjadi cukup mirip dengan Ibu nya ..
Tunggu...
Lalu gadis itu...
Memikirkan ini, perasaan Lewis menjadi cukup rumit.
Tidak, ini mungkin hanya kebetulan saja bukan?
Tapi apakah perlu mencoba menyelidikinya?
Kemungkinan 0,001% saja tidak masalah.
Ya, dari pada tidak sama sekali.
Dirinya juga tidak akan terlalu berharap.
Sekalian menyelidiki Tuan Muda Keluarga William itu pula.
Setelahnya, Lewis segera menelepon anak buahnya untuk menyelidiki hal-hal ini.
####
Di tempat lainnya saat ini, Arka dan rombongannya segera pergi dari kompleks Apartemen C dan menuju Kompleks Apartemen D.
Namun Arka yang ada di mobil itu, segera memiliki ekspresi tidak senang.
Tentu saja itu karena Arka memang sangat menginginkan Apartemen Penthouse di Kompleks C, desainnya terlihat sangat bagus dan mewah.
Dirinya benar benar-benar sudah menyukai tempat itu dari saat menginjakkan kaki ke gedung itu.
Louise dan Viola tentu saja juga menyadari ketidak senagan Arka itu, Viola mulai mencoba untuk menenangkannya.
"Arka sebaiknya dan terlalu memikirkan soal Apartemen itu, banyak apartemen lainnya, lagipula hanya bukankah kamu bilang kamu menginginkan sebuah tempat yang tenang dan damai? Makanya jika kita pindah ke Apartemen dimana ada musuh berada, bukannya ini masih sama saja seperti kita berada di Rumah Keluarga William yang setiap hari akan bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan?"
Arka yang masih cemberut itu segera menjawab,
"Itu memang benar. Kita pindah karena ingin hidup damai, tidak ada gunanya pindah ke tempat yang tidak damai dan tentram,"
Louise yang mendengar itu, lalu ikut menambahkan,
"Hah, aku jadi ingin pindah juga, kok malas ada di sana,"
Arka lalu segera menatap adiknya itu, kemudian segera menepuk bahunya,
"Maka dari itu, segeralah kamu menikah,"
"Menikah apa? Aku bahkan belum lulus Kuliah,"
"Maka cepatlah lulus, lagian hari ini kamu tidak ada jatwal Kuliah apa bagaimana?"
"Ini kan hari libur nasional,"
"Ah, aku lupa tanggal,"
"Kakak kelamaan di Rumah Sakit sih, koma segala,"
"Mana aku tahu ada kejadian seperti itu,"
"Sudah, lebih baik tidak perlu mengungkit-ungkit soal masalah itu lagi," kata Viola tiba-tiba.
"Tapi Keluarga Cavel itu menyebalkan, tadi siapa sih Pria menyebalkan itu?"
"Aku juga tidak tahu Kak," kata Louise lagi,
__ADS_1
Kemudian Viola segera menjawab,
"Dia adalah Lewis Cavel, Putra Pertama Keluarga Cavel, Ya sudah menyelidiki keluarga itu sebelumnya,"
Mendengar Viola menyelidiki Keluarga yang terlihat sangat berbahaya itu, ekpersi Arka dan Louise menjadi cemas.
Arka segera berkata,
"Sudah-sudah, soal hal-hal yang terjadi begitu sudah lewat, kamu juga tidak perlu menyelidiki soal Keluarga Cavel itu, yang paling penting perusahaan kita sudah memenangkan proyek itu, dan begitu aku nanti kembali kerja, aku benar-benar bisa menampar bokong orang-orang yang merendahkan ku sebelumnya,"
"Tapi Tuan Muda, saya merasa hal-hal soal Keluarga Cavel ini, tidak akan selesai dengan mudah. Tuan muda tahu sendiri bagaimana mereka mencoba mencelakakan kita,"
"Ah, itu benar, memang sebaiknya kita menjadi lebih waspada terutama, kamu Kak Arka. Aku senang jika tadi Kakak bisa mengendalikan emosi, jika tidak dan Kakak tadi marah-marah sejujurnya aku juga takut soal apa yang akan terjadi berikutnya," kata Louise dengan lega.
"Itu, benar. Tuan Muda Arka sepertinya sudah bisa lebih menahan diri sebaiknya hal-hal ini ditingkatkan,"
"Kalian memujiku hanya karena hal-hal kecil ini? Ini sungguh bukan apa-apa," kata Arka yang tiba-tiba terlihat bangga pada pencapaian kecilnya itu.
Viola dan Louise tertawa melihat Arka yang seperti itu.
Berikutnya mereka melanjutkan perjalanan dengan tenang menuju kompleks Apartemen D.
Di tengah jalan, Louise tentu saja mulai bertanya,
"Kenapa kalian memilih di Apartemen? Kenapa tidak Rumah saja? Aku rasa sebuah rumah juga hal yang bagus daripada sebuah Apartemen,"
"Viola bilang dia ingin tempat yang tenang, jika itu tempat yang tenang, jelas di Apartemen lantai atas,"
"Tapi, Rumah juga pilihan yang bagus, cari yang memiliki halaman cukup luas,"
"Aku awalnya juga memikirkan itu untuk mendapatkan sebuah Rumah di pinggiran Kota dengan halaman luas, namun itu terlalu jauh dari kantor,"
Louise lalu menatap Kakaknya dengan ekpersi heran,
"Lah? Kenapa pula harus di pinggiran kota? Di sekitar sini pasti juga ada sebuah Rumah dengan halaman Luas,"
Viola lalu memambahkan,
"Benar, Tuan Muda. Tidak perlu Apartemen, sebuah Rumah juga baik-baik saja,"
Lalu Agen Properti yang duduk di kursi depan dengan sopir itu ikut berkomentar,
"Jika itu sebuah Rumah, saya juga memiliki rekomendasi yang cocok, ini dekat dengan kota, dan juga memiliki halaman yang luas, kalau tertarik, Tuan Muda, Tuan Muda ini bisa melihatnya,"
Mendengar kata-kata Agen Properti itu, dan persetujuan Viola, Arka segera berkata dengan semangat,
"Ayo, coba saja kesana!!"
Akhirnya, mereka memutuskan untuk putar baik dan menuju ke Kompleks Perumahan yang ada di Jalan H.
Arka melihat-lihat keluar jendela begitu mereka sampai ke kompleks perumahan itu.
Melihat susunan rumah di dalam kompleks yang terlihat begitu besar dan mewah, dengan gerbang yang begitu besar.
Arka mulai menilai, ini sepertinya salah satu Kompleks Perumahan Elite.
Arka merasa tidak buruk juga memiliki Rumah di tempat seperti ini.
Dan jelas, semoga saja Viola akan menyukainya.
Dirinya akan memastikan Rumah yang mereka tinggali nanti akan menjadi atas nama Viola.
Semoga Viola senang.
Dengan perasaan itu, mobil itu akhirnya tiba disalah satu Rumah i agak pinggir Kompleks.
Rumah itu memilikan gerbang berwarna putih, dengan halaman yang cukup luas, yang memiliki tatanan rapi pada tamannya.
Arka yang melihat hal itu jelas menjadi cukup senang.
"Tempat ini benar-benar terlihat bagus, bahkan memiliki Kolam Ikan, mari beli saja tempat ini," kata Arka dengan semangat.
Louise juga melihat-lihat, lalu bertanya ke agen Properti itu.
"Bisa meminta peta sekitar sini?"
Agen Properti itu cukup professional, lalu segera mengirimkan peta yang Louise maksud dengan nyaman.
Louise menatap peta itu, dengan seksama.
Sejak memasuki kompleks Perumahan ini, Louise memang merasa ada sesuatu yang cukup familiar.
Susunan jalan-jalannya....
Apakah ini sedikit mirip dengan Peta yang di temukannya tempo hari?
Arka yang melihat Louise lihat sangat serius itu bertanya,
"Hey, apa yang kamu lihat?"
Louise segera berbisik,
__ADS_1
"Peta tempat ini sedikit mirip dengan Peta yang aku temukan tempo hari,"
"Astaga, jangan bilang kalau lokasi itu memang disini?"
"Aku juga tidak yakin,"
Mereka berbisik-bisik sendiri, sedangkan Viola asik bertanya pada Agen Properti yang menjelaskan soal tempat ini.
"Kompleks Perumahan ini cukup bagus, apalagi dekat dengan Pusat Perbelanjaan, di Distrik tidak jauh dari sini, ada Kompleks Sekolah mulai dari SD sampai Universitas, disana juga banyak tempat Les dan Khusus,"
Louise yang mendengar itu, lalu segera ingat sesuatu,
"Ah, benar juga ini dekat dengan Kampusku,"
"Wah, berani memang cocok tempat ini. Louise kalau kamu bisa di Rumah atau ada jam Malam di Kampus, kamu bisa sesekali menginap di tempatku ini,"
Louise lalu menatap Kakaknya dengan ekspresi kaget,
"Aku tidak ingin mengaggu pasangan yang baru menikah atau menjadi obat nyamuk diantara kalian,"
Sekarang Arka yang menatap adiknya dengan ekpersi heran,
"Lah? Lalu sekarang kamu sedang apa? Tidak mengaggu pasnagan baru menikah memilih rumah? Kamu sudah menjadi obat nyamuk dari tadi,"
Ekspresi Louise menunjukkan wajah cemberutnya.
"Kak Arka sungguh tega, ya sudah aku pergi," kata Louise terlihat berbalik arah ke pintu keluar.
"Astaga, kamu ini gampang sekali Ngembek, aku hanya bercanda, adikku yang paling lucu,"
"Aku sudah bukan anak kecil,"
"Aku tahu aku tahu, kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa membuat bayi sendiri," kata Arka dengan tidak tahu malu, membuat Louise merasa malu.
"Omong kosong,"
Mereka terlihat asik bercanda sambil melihat lihat ke sekeliling rumah.
Setelah memeriksa bagian dalam rumah, yang memiliki dekorasi yang cukup sederhana, mereka terlihat cukup puas, apalagi Rumah itu game memiliki beberapa kamar.
Ini benar-benar nyaman jika ada tamu ingin menginap.
Arka lalu segera bilang ke Agen Properti itu,
"Aku membeli Rumah ini dan akan di bayar tunai,"
Jelas mendegar kata-kata Arka itu yang bahkan tidak bertanya soal berapa harga rumah ini dan langsung ingin membelinya, membuat Agen Properti itu sangat senang.
"Tentu saja Tuan Muda. Saya akan segera mengurusnya,"
"Owh iya, aku minta udah beres hari ini dan aku bisa pindah ke rumah ini besok pagi,"
"Secepat itu?"
"Ya, aku ingin pindah besok pagi. Harus besok pagi,"
"Tentu saja, untuk surat-suratnya mungkin cukup lama namun ada sudah bisa pindah langsung besok pagi begitu pengurusan pembayarannya dilakukan, anda bisa langsung mendapatkan kunci dan langsung pindah,"
Arka juga terlihat senang.
"Ya, bagus sekali,"
Kemudian, Agen Properti itu bertanya lagi,
"Atas Nama Siapa nanti surat-surat Rumah ini?? Saya akan membutuhkan Kartu Identitas,"
Arka segera menarik Viola yang masih melihat-lihat ruang tamu.
"Viola, pinjam Kartu Identitasmu,"
"Tuan Muda tidak membawa Kartu Identitas?" Tanya Viola heran.
"Pokoknya berikan saja,"
Viola tanpa banyak bertanya, segera memberikannya.
Kemudian, Viola melihat bagaimana Arka memberikan Kartu Identitas pada Agen Properti, yang terlihat langsung di foto itu.
"Tuan Muda ini??"
"Tentu saja Rumah ini Atas Namamu, Rumah ini untukmu," kata Arka dengan ekpersi cerianya itu sambil menatap Kearah Viola.
Terlihat jelas ekpersi serius Arka disana, yang membuat Viola benari kaget.
Rumah Sebesar dan Semewah ini untuknya?
Ini...
Viola benar-benar tidak bisa berkata-kata setelah keinginan Tuan Mudanya itu.
Perasaannya menjadi cukup rumit tiba-tiba...
__ADS_1
Apakah ini benar-benar nyata?