Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 48: Menjadi Keras Kepala (Part 1)


__ADS_3

Sudah hampir satu jam sejak Arka menunggu di kantor Arsitektur itu, hingga Arka yang awalnya bermain ponselnya itu, tiba-tiba merasa mengantuk dan tertidur.


Jelas, untuk Arka menunggu disini lebih nyaman dari pada Kerja di Kantor, sekalian bisa bermalas-malasan, atas dasar pekerjaan.


Arka benar-benar langsung tertidur pulas di sofa itu.


Viola yang berada disampingnya, hanya menatap heran pada Tuan Mudanya itu.


Disaat seperti ini, dia benar-benar bisa tertidur pulas?


Viola hanya menghela nafas lelah, kemudian dia membuka laptopnya, dan mulai mengecek beberapa pekerjaan yang belum selesai.


Namun lama kelamaan menatap laptop juga membuat Viola menjadi lelah.


Arka yang awalnya tertidur berbaring di sandaran sofa, kepalanya bergetark dan jatuh ke bahu Viola, membuat Viola kaget.


Namun melihat wajah Tuan Mudanya yang masih sangat damai tertidur pulas itu, ekpersi Viola menjadi hangat, tidak berani untuk membangunkannya.


Viola masih mengamati wajah tidur itu.


Hmm, ketika Tuan Mudanya tidur seperti ini benar-benar terlihat sangat jinak, dan tenang, biasanya orang di sampingnya ini selalu penuh berapi-api dan terlihat galak.


Namun ketika tidur seperti ini, benar-benar sangat damai, apalagi dengan wajah tampan ini.


Tanpa sadar, Viola mengelus rambut Arka.


Menyadari perbuatannya yang tidak sopan itu, Viola segera menghentikannya.


Viola yang melihat Arka tertidur lelap itu, tiba-tiba merasa lelah juga, dan tanpa sadar jatuh tertidur.


Cukup lama ketika Arka tertidur di sofa itu, dia kemudian bangun karena merasa perutnya keroncongan, dan lagi posisi dimana dirinya bersandar pada Viola, hampir membuat jantung Arka copot.


Jarak wajah mereka cukup dekat, dan Viola juga bersandar padanya, juga saat ini masih tertidur lelap.


Arka mencoba bergerak pelan-pelan, agar tidak membangunkan Viola.


Menatap Viola yang tertidur itu, tiba-tiba pemikiran iseng datang.


Arka segera mendekatkan kembali wajahnya, dan mencium singkat bibir itu.


Hmm, dan Viola tidak terbangun.


Melihat itu, sekali lagi, Arka memberikan ciuman diam-diam pada Viola.


Ah, benar-benar membuat candu.


Tanpa Arka sadari, ada seseorang yang kebetulan melewati lorong itu menatap adegan barusan.


Itu adalah Pak Arlan pemilik Kantor Arsitektur ini.


Dia benar-benar tidak habis pikir, bukankah dua orang ini seharusnya menunggunya disini?


Kenapa malah mereka terlihat asik bermesraan disini?

__ADS_1


Sungguh terlalu.


"Ehemmmmm...."


Mendengar suara itu, Arka tentu saja menjadi kaget, terutama setelah melihat seorang Pria Parubaya yang sepertinya memergokinya melakukan hal-hal nakal.


"Eh, Bapak.... Aku... Aku sungguh tidak melakukan apapun,"


Arlan mengeleng-gelengkan kepalanya dengan ekpersi heran.


"Dasar anak muda jaman sekarang, sangat suka mengoda dimanapun kalian berada. Ini kantor! Bukan tempat pacaran!"


"Kami tidak sedang pacaran Pak. Lagipula ini bukan pacar saya,"


"Hah, jadi kamu melecehkan rekan kerjamu hah? Mana di depan kantorku pula," kata Arlan dengan ekpersi kesal.


"Tentu saja tidak, Pak. Ini Istri saya, Viola, apa yang salah melakukan pada Istri sendiri? Hehe, seperti Bapak tidak pernah muda saja," kata Arka dengan nada bercanda.


"Kamu ini...."


Arlan tidak tahu harus berkata apa melihat sikap santai pemuda didepannya itu, yang terlihat benar-benar santai disini, dirinya bahkan sebelumnya melihat orang ini asik bermain ponsel sebelumnya, dan kemudian tidur lelap, sekarang malah bermesraaan disini.


Berikutnya apa lagi?


Membuat party BBQ disini?


Kryuukkk


Ekspresi Arka jelas menjadi malu, lalu berkata,


"Uppsss.... Sepertinya aku menjadi lapar, sudah jam makan siang? Tiba-tiba aku ingin makan daging panggang,"


Memikirkan pemikiran tidak jelas dalam pikirannya soal pemuda itu benar-benar akan membuat Party BBQ di kantornya, ekpersi Arlan itu lalu tertawa.


Anak didepannya ini, tiba-tiba mengigatkannya pada Putranya yang selalu nakal dan iseng.


"Kamu ini, ini bukan restoran. Sana-sana pulang saja, tidak ada gunanya juga kamu disini, orang yang kamu tunggu tidak akan datang,"


"Tidak bisa, Pak. Saya akan mendapatkan Arsitektur itu bagaimanapun caranya, ini sangat penting bagi saya," kata Arka dengan penuh semangat.


"Dia sudah tidak menerima proyek seperti ini lagi. Apakah kamu tidak tahu?"


"Aku tidak mengerti, dia memiliki Kantor Arsitektur namun tidak mau lagi mendesain,"


"Percayalah, semua orang punya alasan sendiri,"


"Tapi aku juga punya alasan sendiri. Aku harus mendapatkan Arsitektur itu, lihat aku sudah menyusun rencana untuk Proyek ini dengan baik, agar aku bisa mendapatkan Proyek ini. Aku harus mendapatkan Proyek ini, aku benar-benar benci melihat orang-orang di kantor selalu meremehkanku, aku akan buktikan kalau aku ini layak mendapatkan posisiku yang sekarang. Ya, aku benar-benar berniat melihat orang-orang itu yang selalu merendahkanku menendang pantat mereka sendiri setelah tahu aku berhasil mendapatkan proyek ini!! Jadi aku tidak bisa menyerah dan mendapat Arsitektur itu!!"


Arlan sedikit terdiam mendengar penjelasan itu, lalu bertanya dengan tenang,


"Apakah begitu? Namun bagaimana kalau Arsitektur itu tidak mau bergabung dengan proyek mu ini?"


"Dia pokoknya harus mau!!"

__ADS_1


"Kamu ini keras kepala, dia bahkan tidak mau menemuimu,"


"Tidak masalah, aku akan menunggu disini sampai dia ingin menemuiku,"


Arlan sedikit tertawa melihat pemuda yang penuh tekat ini.


"Kamu ini, benar-benar ya. Coba lihat, seberapa lama kamu bertahan,"


"Hpmph, tentu saja aku akan menunggu Samapi dia mau menerimaku, aku bukan orang yang gampang menyerah,"


"Mari lihat, seberapa bagus tekatmu itu, paling kamu juga akan pulang nanti,"


"Tentu saja aku akan pulang,"


"Hah?"


"Dan besok akan kembali lagi, dan lagi, masih ada setiap hari, aku akan kesini setiap hari sampai Pak Arsitektur itu mau mendengarkan keinginanku ini,"


Arlan menatap Arka dengan heran, tidak tahu apakah yang dikatakannya itu benar atau tidak.


"Ya, menunggulah sesukamu," kata Arlan lalu pergi dari sana.


Pada akhirnya, sampai sore tiba, Arka dan Viola tetap disana menunggu namun tetap tidak mendapat respon baik.


"Tuan Muda sebaiknya kita kembali saja, sudah jam segini,"


Arka lalu melihat kearah jam tangannya yang menunjukkan pukul lima, bahkan kantornya mau segera tutup.


Satpam didepan juga sudah mengusir mereka.


"Baiklah, mari kita pulang. Dan besok kesini lagi," kata Arka memutuskan.


Viola tentu saja menurut apa kata Tuan Mudanya.


Lagipula, Tuan Mudanya selalu menjadi keras kepada, percuma juga menghalangi keinginan Tuan Mudanya itu.


Sifat keras kepala ini sudah bawaan dari kecil.


Ketika dia mengiginkan seorang, Tuan Mudanya ini selalu keras kepala dan selalu berusaha mendapatkan apa yang dia mau.


Namun sayangnya, hal-hal yang diinginkan Tuan Mudanya selalu menjadi hal-hal yang memusingkan.


Contohnya ketika dia kecil, sangat ingin makan coklat dan permen, walaupun sudah dilarang, namun tetap keras kepala dan akhirnya sakit gigi karena kebanyakan makan permen.


Ya, tapi sisi itu juga yang membuat hidup Tuan Mudanya itu lebih berwarna.


Dirinya selalu menyukai sisi ini.


"Viola, ayo pulang," kata Arka lagi, menyadarkan lamunan Viola.


"Baik, Tuan Muda."


Namun tanpa mereka tahu, beberapa orang menatap mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2