
Pagi itu, Arka dan Viola yang menjemput Pak Arlan untuk pertemuan akhirnya memasuki mobil Arka.
Mereka sudah siap untuk pertemuan yang akan diadakan nanti.
"Viola, apakah tidak ada yang tertinggal?"
"Semuanya sudah beres semuanya sudah saya siapkan, Tuan Muda tidak usah Khawatir,"
"Itu bagus. Mari Pak Arlan di bawa santai saja, tempat pertemuan nya tidak jauh dari sini dan bagi ini masih cukup bagi pasti kita tidak akan terjebak macet,"
"Ya, terimakasih banyak Arka, aku hanya bisa mendoakan semoga nanti semua berjalan baik sesuai keinginanmu,"
"Bapak Arlan apa sangat baik,"
Dalam mobil mereka terlihat berbicara dengan santai.
Sopir didepan juga mengemudi dengan santai.
Jam masih menunjukkan jam delapan kurang jadi masih memiliki cukup banyak waktu sebelum merapat itu dimulai.
Perjalanan itu awalnya berjalan dengan baik, sampai tiba-tiba, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti.
Arka yang kaget karena rem dadakan itu, tentu saja mengarah dan mulai bertanya pada supir,
"Ada apa ini Pak Supir?"
"Sepertinya ada masalah dengan Ban mobil kami,"
Arka tentu saja terkejut.
"Bagaimana bisa? Bukannya tadi semua baik-baik saja?"
"Saya juga tidak tahu Tuan Muda, saya akan cinta keluar dan memeriksa nya,"
Dan benar saja, ketika Supir itu keluar, salah satu Ban mobilnya kempes.
"Banar Tuan Muda sepertinya Ban ini terkena paku atau sesuatu, jadi kempes, memerlukan cukup waktu untuk menggantinya,"
Arka melihat jam tangannya.
Sekarang baru jam 08.00, rapat andi mulai setengah jam lagi namun dirinya juga dengan sampai telat atau ini mungkin akan memberikan reputasi yang buruk terhadap dirinya dimata Klaien itu.
Arka lalu menatap kearah Viola, dan bertanya,
"Viola, baiknya bagaimana?"
Viola terdiam dan berpikir sebentar,
"Apakah sebaiknya kita memesan Taksi saja?"
"Itu sepertinya ide yang bagus,"
Kemudian, mereka mulai keluar dari mobil, dan hendak mencari Taksi.
Namun sayang sekali, tepat ketika mereka keluar dari mobil itu, tiba-tiba ada beberapa mobil yang datang mengelilingi mereka.
Lihat hal itu tentu saja Viola memiliki firasat yang buruk.
Viola play berpikir sepertinya memang ada yang ingin menghalangi mereka untuk pergi ke pertemuan itu.
Sungguh dirinya sepertinya ceroboh lagi harusnya tadi dianya membawa beberapa pengawal untuk menemani mereka.
Hah...
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dari mobil-mobil itu muncul segerombolan orang dengan pakaian serba hitam wajah ditutupi.
Arka tentu saja menatap orang-orang itu dengan ekspresi terkejut juga rasa cemas dan panik.
"Apa mau kalian??"
"Serahkan semua uang kalian!!" Kata salah satu orang.
"Parampok... Bagaimana ini Viola...."
Tentu saja Arka menjadi takut.
Viola kirim merasa tetap menjadi kaya orang orang itu.
Di mana mungkin mereka hanya perampok biasa?
Mungkin Tuan Mudanya bisa dibodohi namun tidak dengan dirinya.
"Taun Muda rusdi hati sepertinya mereka akan perampok itu hanya penyamaran sepertinya mereka ingin mencegah kita agar tidak datang ke pertemuan itu,"
"Apa kamu bilang?"
"Hey!! Kenapa kalian berbisik-bisik!!" Salah satu orang itu langsung datang dan ingin memukul Arka, tes aja viola masih cukup seperti biasanya dan memukul balik orang itu.
Menerima pukulan, orang itu menjadi marah.
"Kurang ajar!! Hajar!! mereka semua!!"
Viola segera bersiap.
"Tuan Muda, bawa Pak Arlan masuk kedalam mobil!!"
Arka pun menurut lalu membawa Pak Arlan kedalam mobil.
"Ya, tentu saja, jadi apa yang harus dilakukan sekarang?"
"Tak tunggu di sini saja kalau bisa hubungi keluarga William, ini ponsel saya Bapak bisa membantu saya menghubungi seseorang untuk minta bantuan," kata Arka sambil menyerahkan ponselnya, lalu dia keluar mobil dan menutup pintu mobil itu.
Saat ini Viola dan Supir itu tengah berkelahi dengan orang-orang yang mengeroyok mereka.
Supir Keluarga William tentu saja, bukan orang biasa, sudah tertatih juga jika hal-hal seperti ini mungkin terjadi.
Arka segera bergabung dengan Viola, dan mulai memukul salah satu preman itu.
"Viola kamu tidak apa-apa?"
Viola yang menatap Tuan Mudanya itu keluar dari mobil, tentu saja mamah menjadi marah.
"Tuan Muda apa-apaan!! Tuhan muda harus kau bukan di sini berbahaya!! Tuan Muda harus masuk ke mobil biar saya dan pak supir yang mengurus ini sampai balap bantuan datang!"
Wajah Arka tentu saja menjadi cemebut.
"Kamu pikir aku siapa? Aku ini bisa berkelahi jadi jangan terlalu mencemaskan ku!" Kata Arka dengan ekpersi serius.
Namun ikan saatnya untuk berdiskusi sarana musuh selalu datang dan jumlah mereka cukup banyak.
Viola cukup kewalahan jadi tidak lagi berdebat dengan Tuan Mudanya.
Viola aku kehebatan memukuli beberapa orang yang ada di sana membuat mereka jatuh, tentu saja dia menghindari semua pukulan itu.
Disisi lainnya, Arka sedikit kewalahan.
Dirinya tidak benar-benar pernah berkelahi dengan profesional seperti ini.
__ADS_1
Bukan berarti dirinya kalah, Arka mulai mengamuk juga, gunakan semua penghilangan bertarungnya kecil, dan memukuli orang-orang itu.
Tetap saja Arka kenal pukul.
Sungguh cukup menyakitkan.
Pertarungan itu berangsur sangit, namun Pihak Arka tidak kalah.
Terutama, Viola benar-benar memukuli dan membuat beberapa orang jatuh terkapar dan tidak bisa bangun lagi.
Orang yang terlihat seperti atasan di sana, do saja merasa kesal melihat anak buahnya satu persatu tumbang.
Terutama, set mereka dipilih oleh seorang gadis seperti itu.
Dirinya menjadi begitu emosi, lalu mengambil sebuah tongkat, dan bersiap maju kedepan.
Viola yang fokus pada lawannya aku saja tidak menyadari jika ada yang membawa senjata.
"Viola awas!!!" Itu adalah teriakan Arka yang menerima pukulan itu.
Melihat itu, tentu saja Viola menjadi kaget.
"Tidak.... Tuan Muda...."
Viola segera memukul baik penyerang itu, dan mengambil paksa tongkat itu.
Lalu segera menghampiri Tuan Mudanya yang terjatuh ketanah.
"Viola? Kamu tidak apa-apa?"
Melihat ekpersi Arka menjadi pucat itu, dan masih menghawatirkan dirinya, ekpersi Viola menjadi begitu terpukul.
Terutama setelah melihat tangannya berdarah.
Ini darah dari Kepala Arka yang terkenal pukulan....
"Tuan Muda.... Tuan Muda harusnya tidak boleh begitu... Tuan Muda..."
Namun Arka hanya tersenyum, dan berkata,
"Tidak apa-apa... Setidaknya kamu tidak apa-apa.... Aku tidak ingin selalu di lindungi... Aku juga ingin melindungimu...."
Itu adalah kata-kata Arka sebelum dia kehilangan kesadarannya.
"Tuan Muda...."
Melihat tubuh lemas dan pucat itu, tiba-tiba Viola menagis.
Rasa sedih, frustasi dan kemarahan, begitu takut ketika melihat Arka terkapar tidak berdaya dengan banyak darah itu.
"Tuan Muda.... Jangan seperti ini...."
Namun itu bukan saat yang tepat untuk sedih.
Karena masih ada preman yang sekarang mencoba menyerang Viola.
Menatap para musuh itu, kemarahan Viola memuncak.
Dirinya harus cepat membereskan orang-orang sampah itu, dan segera membawa Tuan Mudanya ke Rumah Sakit.
Kalian...
Berani membuat Arka seperti ini...
__ADS_1