
Arka yang mendengar itu tentu saja marah, sejak melihat wajah Galvin dirinya sudah merasa kesal dan ingin memukul wajah menebalkannya itu, namun dari tadi menahan diri.
"Galvin!! Jangan bicaramu, kamu itu yang Sampah!!"
"Kamu bicara apa barusan Arka? Kamu pikir kamu siapa? Kamu begitu sombong hanya karena baik jabatan, dan lihat kamu bahkan sok-sokan datang ke Pesta seperti ini, tidakkah kamu takut akan mempermalukan Keluarga?"
"Disini, siapa yang membuat malu siapa? Yang ada kamu yang membuat malu, Galvin!!"
"Sudah-sudah, Kak jangan urusi Kak Galvin, mari sebaiknya kita pergi saja," kata Louise berusaha menengahi, lalu mengandeng Arka dan Kyla berniat mengajak mereka pergi, bertemu Galvin disini adalah hal yang buruk.
Namun melihat dirinya di abaikan itu, Galvin segera mengambil gelas dari seorang Pelayan dan menyiramkannya ke baju Louise.
"Uuppsss, tanganku licin,"
Arka yang marah itu segera mengambil gelas juga dan menyiramkannya pada wajah Galvin.
Galvin yang wajahnya menjadi basah itu marah, apalagi melihat Arka yang malah tertawa,
"Uppsss, tanganku juga licin,"
"Kurang Ajar Kamu Arka!!"
"Kamu yang mulai duluan!!!"
Louise mencoba menenangkan Arka agar tidak memukul Galvin.
Ketika suasana menjadi panas itu, mereka menjadi pusat perhatian Pesta, sampai seseorang yang familiar datang.
"Louise, kenapa kamu malah disini berurusan dengan mereka? Kenapa dengan bajumu? Mari Mama bantu bersihkan, dan pergi dari sini, kamu tidak perlu berurusan dengan orang-orang bermasalah itu,"
Itu adalah Laura, Ibu Tiri Arka.
"Mama, aku masih memiliki urusan disini,"
Galvin mengelap wajahnya dengan saputangan, lalu berikutnya menatap Laura dengan ekpersi kesal,
"Astaga, ternyata tidak hanya Anak di Pelakor yang datang, namun Si Pelakor juga datang? Astaga sepertinya melihat kalian disini membuatku ingin muntah,"
Laura yang marah itu hendak menampar Galvin, lalu di cegah oleh Louise.
"Mama sudahlah, mari pergi dari sini," kata Galvin mencoba mengajak Mamanya pergi, semakin lama disini hanya akan membuat semakin banyak masalah.
Namun dirinya juga tidak bisa meninggalkan Kyla sendirian dengan Arka dan Galvin yang masih bertengkar itu.
Haduh, Kak Viola dimana sih?
Kenapa Kak Viola belum datang juga?
####
Disisi lainnya, saat ini Viola sedang berada di kamar mandi membersihkan gaunnya yang terkena kopi itu dengan air.
Walaupun tidak benar-benar hilang, Viola cukup puas karena sudah tidak terlalu terlihat lagi nodanya.
Ketika dia hendak keluar, dia bertemu dengan wajah yang familiar.
Dia orang itu saling bertatapan dalam diam.
"Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya," kata wanita itu tiba-tiba.
"Anda adalah Nona Marsela Cavel, kita memang pernah bertemu,"
Marsela yang saat ini sedang membeberkan riasannya itu, lalu menatap Viola dengan seksama.
__ADS_1
Memang dirinya merasa cukup familiar dengan gadis ini...
Ah, benar juga, apakah ini Asisten dari Keluarga William itu?
"Kamu Asisten Arka William?"
"Nona Marsela sepertinya ingat saya,"
Sepertinya setelah percakapan singkat itu, tidak ada diantara mereka yang ingin saling melanjutkan pembicaraan.
Dan karena Viola sudah selesai, dia segera berpamitan.
"Sepertinya saya permisi Nona, mungkin lain kali kita bertemu lagi,"
Marsela lalu ingat kelakuan Tuan Muda dari Keluarga William itu, lalu berkata dengan Arogan,
"Aku lebih sudah jika Tuan Mudamu itu sebaiknya mundur saja dari Proyek ini, karena hasilnya sudah jelas,"
"Nona Marsela jangan berlebihan, Klaien belum memilih siapa yang akan memenangkan tender ini,"
"Hah, sepertinya kamu cukup sombong juga sebagai Asisten Keluarga William. Kamu harus paham, lawanmu adalah Keluarga Cavel kami, aku merasa kalian tidak akan bisa berurusan dengan kami,"
"Mari tunggu dan lihat saja, Nona Marsela. Saya permisi," dengan itu Viola keluar dari kamar mandi, meninggalkan Marsela yang saat ini kesal.
Setelah Viola keluar dari Kamar mandi, dirinya buru-buru ingin kembali ke tempat Arka.
Mana tau, kalau setelah dirinya tinggal ada masalah disana.
Karena Viola buru-buru, dia tidak sadar setelah menabrak seseorang.
Itu adalah seorang lelaki parubaya.
Melihat wajah Viola, matanya terteguh sejenak.
"Maaf, Tuan saya buru-buru,"
Ketika Viola hendak pergi, liontin dilehernya yang tersangkut, terjatuh.
Pria Parubaya itu, mengabil kalung biru itu.
Kalung biru itu terlihat familiar, dimanakah dirinya pernah melihatnya?
"Tunggu dulu,"
Melihat dirinya dipanggil, Viola kembali menengok.
"Ada apa Tuan?"
"Ini sepertinya milikmu?"
Melihat kalung yang dipakainya berada di tangan Pria Parubaya itu, Viola hampir saja panik.
Ini adalah Kalung Berharga peninggalan Almarhum Ibu Tuan Mudanya!!
Bagaimana bisa dirinya hampir menghilangkan barang berharga ini?
Dengan panik, Viola mengambil kalung itu.
"Terimakasih banyak Tuan,"
"Tidak masalah, tidak masalah,"
Dan setelah beberapa cuapan basa basi, Viola lalu pergi.
__ADS_1
Pria Parubaya itu lalu bertanya pada Asisten di sampingnya,
"Apakah kamu tahu orang itu? Aku sepertinya pernah melihatnya entah dimana, wajahnya cukup familiar,"
"Dia adalah Viola Anggraini, Istri dari Tuan Muda Pertama dari Keluarga William, Arka William, Istri yang dirumorkan itu,"
Ekpersi pria itu lalu menjadi kaget, lalu teringat lagi kalung yang familiar itu...
Jangan bilang kalung itu adalah salah satu dari Kalung yang dicarinya selama ini?
'Kunci' Dari tempat itu!
Sungguh sial melewatkan hal-hal bagus.
"Ayah disini? Dan wanita yang Ayah Tabrak tadi, dia dari Keluarga William, Asisten Arka William,"
"Aku disini mencarimu, mau mengajak pulang, tidak ada gunanya lama-lama disini. Dan, Asisten katamu? Hey, bukankah itu Istri Arka William?"
Dia bertanya pada Asistennya.
Sebagai Asisten Keluarga Cavel, tentu saja menyelidiki musuh adalah keahliannya, jadi dirinya sudah menyelidiki soal Keluarga William seperti apa, siapa yang tahu jika mereka nanti akan membuat masalah dengan Keluarga Cavel.
"Dia Asisten sekaligus Istrinya, rumorya seperti itu,"
"Ayah, memang ada apa dengan Keluarga William? Apakah Ayah tahu, jika Keluarga William itu berani mencari masalah dengan kita? Tuan Muda mereka, Arka William sangat berani menantangku dalam Proyek,"
"Sebuah Proyek?"
"Ya, dalam Proyek Pembangunan Pusat Perbelanjaan, Ayah tahu Proyek ini kan?"
"Mereka tidak mundur?"
"Tidak, malah mereka menyatakan akan mengalahkan kita, dan Tuan Muda itu bahkan menghinaku,"
"Apa katamu? Dia dari Keluarga William berani dengan Kita?
Mendengar itu, mood Pria itu menjadi buruk.
Hah, Keluarga William itu akhirnya menunjukan gerakan.
Ini mungkin akan menjadi hal-hal menarik.
#####
Ketika Viola sampai ditempat Arka, disana hanya ada Arka sendirian.
"Tuan Muda, yang lain kemana?"
Wajah Tuan Mudanya itu terlihat kesal.
"Hah, si Galvin membuat Ulah, dan Ibu Tiriku datang membuat masalah juga, Louise pergi menenangkannya dan mengajak Kyla bersamanya,"
"Bukankah saya bilang untuk tidak membuat Maslaah?"
"Itu Galvin yang membuat masalah, Ukhh..."
Melihat Arka memegangi kepalanya, Viola tiba-tiba memiliki perasaan tidak enak.
"Tuan Muda kenapa?"
####
Bersambung
__ADS_1