
Semua mata tentu saja kaget mendengar pernyataan Arka tersebut.
Termasuk Kakek dan Nenek Arka, namun disisi lainnya terlihat Galvin dan Robert malah tertawa.
"Ahahahaha.... Kamu mau mendapatkan proyek itu? Cobalah, saja, dan kami akan menunggu kegagalanmu," kata Galvin.
Tentu saja Arka menjadi tidak sabar dan marah mendegar kata-kata Galvin itu.
"Kalian lihat saja nanti!! Aku akan membuktikannya!!"
Lalu, Nenek Arka yang tidak tahu tentang proyek itu, berbisik pada Kakek Arka,
"Proyek apa yang Arka maksud itu?"
Namun wajah Kakek Arka malah menjadi pucat, sebagai CEO tentu saja Kakek Arka tahu semua detail tentang Proyek-proyek yang akan dikerjakan dimasa depan.
Salah satunya Proyek pembangunan pusat perbelanjaan di Kota A ini.
Namun setahu dirinya, ini sudah dibatalkan agar Perusahaan tidak ikut tender bukan?
Kenapa hal-hal itu bisa sampai ditangan Arka?
Karena saingan untuk proyek itu....
"Saingan untuk proyek ini adalah Perusahaan milik Keluarga Cavel,"
Nenek Arka yang awalnya tenang itu, langsung menjatuhkan dokumen ditangannya.
"Me... Mereka..."
Lalu tatapan Nenek Arka beralih kearah Arka yang masih bersemangat.
Hal-hal ini tidak bisa dibiarkan, mereka tidak boleh berurusan atau memprovokasi Keluarga Cavel, atau...
Mungkin mereka akan kembali mengincar Keluarga ini lagi seperti dulu...
Urusan dengan Keluarga Cavel belum selesai, ini adalah kisah panjang....
"Arka kamu diam saja! Tidak ada soal Proyek-proyek ini, kamu tetap di Bagian Wakil Direktur Pengembangan dan Proyek, dan jalankan saja pekerjaanmu disana." Kata Nenek Arka dengan tegas.
Namun ini jelas di tentang oleh orang lain.
"Tapi Ibu Ketua Direksi, Arka hanya ingin membuktikannya dirinya kenapa musti ditentang? Setujui saja itu," kata Lucas dengan tenang.
Andreas sendiri memiliki ekpersi wajah pucat ketika mendengar proyek itu.
Walaupun dirinya tidak menyukai Putranya yang membangkang ini, dirinya tidak bisa membiarkan Arka berurusan dengan Keluarga Cavel itu lagi.
"Tidak, kali ini aku setuju dengan usulan Ketua Direksi, biarkan saja Arka mendapatkan posisi itu, lagipula ini bagus untuk dia mencoba belajar lebih banyak dengan lebih banyak tanggungjawab, agar dia lebih bisa bertanggung jawab,"
Arka yang masih berdiri disana, cukup kaget ketika Ayahnya tiba-tiba membela dirinya.
Biasanya Ayahnya tidak peduli padanya?
"Anderas, Kamu mulai ikut membela Putramu Hah? Apakah kamu takut kalau, Arka bertaruh disini dia akan kehilangan lebih banyak muka lagi karena kalah? Dan itu akan membuatmu menjadi malu?" Kata Lucas lagi.
"Lucas!! Diam kamu!! Kamu seharusnya tahu Proyek apa ini!! Dan kamu masih berani mencoba menyuruh Putraku mengurusnya? Aku yakin itu akal-akalan mu saja sampai itu sampai ke tangan Arka!"
Arka sendiri menjadi binggung kenapa semua orang menjadi bertengkar karena Proyek ini.
Sebenarnya ada apa dengan Proyek ini?
Ketika memeriksanya, dirinya tidak menemukan ada yang salah?
Memang tingkat kesulitannya cukup banyak, namun hanya itu. Masih sama dengan kebanyakan Proyek lainnya.
Atau karena dirinya sebelumnya pernah gagal dalam tender jadi mereka semua mulai meremehkannya?
Ayahnya juga hanya tidak ingin kehilangan lebih banyak muka, jadi dia pura-pura membelanya?
Jika dirinya ini hanya bisa membantu malu Ayahnya?
__ADS_1
Memikirkan kemungkinan ini, membuat Arka menjadi marah, lalu berkata lagi,
"Aku akan memenangkan Proyek ini! Ini adalah janjiku!"
Kakek Arka yang melihat suasana menjadi gaduh, apalagi beberapa anggota Direksi sepertinya setuju soal Arka mencoba membuktikannya dirinya dengan proyek ini, menjadi binggung saat membuat keputusan.
Hal yang paling berat, bukan masalah dirinya percaya pada Cucunya Arka atau tidak, namun pada tindakan Keluarga Cavel.
Bahkan jika Arka entah bagaimana menang, berurusan sisanya dengan Keluarga Cavel akan menjadi masalah serius.
Namun...
Itu jika Arka berhasil bukan?
Melihat kinerja Arka sebelumnya, hanya sedikit kemungkinan Arka berhasil.
Jika Arka Gagal dalam proyek ini paling-paling dia hanya kembali turun jabatan sedikit, ini Istrinya yang memaksa agar Arka mendapatkan jabatan baru, dirinya masih sedikit tidak setuju.
Arka masih perlu lebih banyak belajar dibagian Manajemen.
"Coba lakukan apa yang kamu suka Arka, jika ada apa-apa kamu langsung bisa melapor padaku. Dan untuk semuanya, rapat kita akhiri sampai disini. Terimakasih atas kedatangannya,"
Mendengar keputusan suaminya itu, Nenek Arka menjadi marah.
Rapat itu bubar, Kakek Arka sudah keluar duluan disusul oleh Nenek Arka yang sepertinya ingin meminta penjelasan pada Kakek Arka itu.
Sedangkan Arka hanya bisa menghela nafas lega, setelah semua orang mulai bubar satu persatu.
Namun, Ayah Arka, Andreas mendatangi Arka,
"Jika kamu mengambil proyek ini kamu harus hati-hati, jangan membuat masalah,"
"Apa maksud Ayah? Ayah meremehkanku?"
"Bukan seperti itu, kamu tidak tahu apa-apa soal Keluarga Cavel,"
"Keluarga Cavel apa?"
"Sudahlah, pokoknya jika kamu ada masalah tentang proyek ini datang saja padaku,"
Melihat putranya itu masih begitu keras kepala, Andreas tidak bisa apa-apa.
Ini juga keputusan Kakeknya pula.
Semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak-tidak.
"Itu benar, Ayah. Sebaiknya Ayah harus lebih percaya pada Kak Arka, Kak Arka pasti bisa,"
"Bukan itu alasannya Louise. Dan kamu Louise ingat untuk tidak berburusan dengan Proyek ini dan mencoba membantu Arka! Ini adalah peringatan." Kata Andreas lalu langsung pergi dari sana, sekarang menyisakan dua bersaudara yang saling bertatapan dengan ekpersi binggung.
"Ada apa dengan Ayah? Aku tidak pernah melihat dia memiliki ekpersi seperti itu?" Tanya Louise dengan binggung.
Namun Arka tidak heran sedikitpun,
"Dia memang orang seperti itu, sudah lupakan saja."
Dengan itu, dua bersaudara itu juga ikut keluar dari ruang rapat untuk kembali ke ruangan masing-masing.
Dan tentu saja Arka ketika keluar dari ruangan, dia disambut wajah marah Viola.
"Tuan Muda sepertinya barusan membuat masalah lagi,"
Arka hanya bisa tertawa canggung, lalu berkata,
"Ini bukan masalah sama sekali,"
Viola hanya bisa menghela nafas pasrah, dirinya sudah denger hal-hal yang terjadi diruang rapat.
"Ya, sebaiknya kita mulai pindah ruangan dulu,"
Kemudian dua orang itu mengurus kepindahan Arka ke ruangan baru sebagai Wakil Direktur.
__ADS_1
Tidak banyak hal yang Arka pindahkan karena memang Arka tidak memiliki banyak barang di kantor.
Mereka selesai berbenah sampai waktu sudah cukup siang.
Arka akhirnya duduk lega di kursi barunya ini.
Lalu dirinya menatap sebuah papan nama didepan mejanya yang sepertinya sudah disiapkan oleh Neneknya.
'Wakil Direktur Pengembangan dan Proyek, Arka William'
Melihat papan nama itu, terlihat sangat keren, dan Arka menyukai ini.
"Tidak buruk seperti ini,"
"Tuan Muda Arka jangan senang dulu, karena akibat perbuatan Tuan Muda sendiri, posisi ini sekarang tidak aman, kita masih harus mengerjakan dan memenangkan Tender Proyek itu,"
"Hah, mau bagaimana lagi? Kamu tidak tahu, ada banyak orang yang memojokanku di ruang rapat tadi, semua orang menatap meremehkanku, itu benar-benar membuat aku kesal,"
"Inilah kelemahan Tuan Muda, selalu tidak bisa menjaga emosi, Tuan Muda harus paham untuk bisa menang, Tuan Muda harus bisa menjaga emosi Tuan Muda tetap tenang dalam posisi apapun, buat lawan lengah, lalu jatuhkan tanpa disadari,"
"Viola sepertinya kamu cukup pintar juga,"
"Terimakasih Tuan Muda atas sanjungannya,"
"Aku sebenarnya sangat penasaran, dengan kemampuanmu ini, kamu mungkin bisa meraih posisi yang lebih tinggi lagi, dari pada awalnya menjadi Pelayan Pribadiku, kenapa kamu memilih tetap menjadi Pelayan Pribadiku?"
Viola lalu terdiam sesaat, lalu menjawab,
"Itu karena saya menyukai Tuan Muda,"
Kata-kata itu, membuat Arka sejenak hampir kehilangan kata-kata.
Lalu Viola melanjutkan,
"Lagipula dari awal ketika aku bertemu dengan Tuan Muda, aku selalu merasa kalau Tuan Muda tidak bisa dibiarkan sendirian, atau Tuan Muda benar-benar akan ditipu banyak orang,"
Ketika mendengar lanjutan kata-kata Viola, perasaan Arka menjadi rumit, tidak tahu apa harus senang atau harus menagis.
"Hmm, Viola kamu mengerti apa yang kamu katakan soal Menyukaiku?"
"Tentu saja saya paham, ini menyukai Tuan Muda sebagai Tuan Muda yang ingin saya lindungi,"
"Sepertinya kamu terlalu tidak memahami emosi, kamu mungkin tidak benar-benar mengerti apa itu suka. Lagipula apakah kamu pernah marah pada sesuatu? Sepertinya apapun yang orang lain katakan kamu tidak pernah marah,"
"Karena emosi tidak dibutuhkan dalam pekerjaan, aku tidak membutuhkan emosi untuk melakukan semua ini,"
"Tidakkah kamu terlalu dingin?"
"Aku tidak paham apa yang Tuan Muda maksud?"
"Sudahlah mungkin aku salah memberikan pertanyaan, apakah kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?"
"Jatuh cinta? Aku tidak tahu hal-hal seperti itu,"
"Ini sejenis ketertarikan pada lawan jenis,"
"Owh, aku paham maksud Tuan Muda, ini sejenis keinginan untuk bersama dengan lawan jenis untuk bisa memiliki keturunan, ini merupakan insting manusia untuk bertahan hidup yang ingin meneruskan keberadaannya dengan memiliki keturunan,"
Arka tidak bisa berkata-kata dengan jawaban Viola.
Sepertinya ada yang salah dengan pola pikir nya ini?
"Dari mana kamu mendegar hal-hal seperti itu?"
"Entahlah.... Aku hanya merasa pernah mempelajarinya dari seseorang tapi aku tidak ingat...."
Arka mulai memikirkannya...
Memang, Viola sempat kehilangan ingatannya sebelum masuk Keluarga William saat kecil.
Tidak benar-benar tahu dari mana asal gadis ini sebelum dia ada di panti asuhan dan diangkat anak oleh Pelayan Keluarga William.
__ADS_1
####
Bersambung