
Hari-hari cepat berlalu ketika Arka berada di Rumah Sakit, hampir satu minggu lebih dia di Rumah Sakit setelah dia sadar dari Koma.
Tidak ada banyak hal yang terjadi ketika hari-hari di Rumah Sakit itu.
Arka yang akhirnya bisa berada dikamarnya, merasa sangat lega.
Sangat melelahkan berada di Rumah Sakit, harus memakai infus yang menyakitkan itu, membuat tangannya sudah bergerak bebas, dan sangat tidak nyaman sekali.
Apalagi aroma Rumah Sakit yang memang dari awal tidak begitu dirinya sukai.
Namun yang membuat Arka heran, Viola benar-benar menjaganya selama di Rumah Sakit.
Padahal dirinya yang paling tahu, betapa bencinya Viola dengan Rumah Sakit.
Namun, demi dirinya ini, Viola rela berada ditempat yang dibencinya itu selama beberapa hari ini.
Sungguh, memikirkannya saja membuat Arka merasa terharu.
"Sungguh, berada di Rumah memang yang paling nyaman, aku benci di Rumah Sakit,"
Viola yang berada disamping Arka itu segera membalas,
"Memang, tidak ada yang lebih nyaman dari pada di Rumah,"
"Ya, Terimakasih juga, Viola kamu telah menemaniku di Rumah Sakit selama ini, aku tahu kamu tidak suka Rumah Sakit,"
"Ini tidak masalah, ini adalah bagian dari Tugas saya, lagipula disana ada Tuan Muda, jadi tidak terlalu masalah berada disana,"
"Tapi sungguh, aku tidak mau ke Rumah Sakit lagi dan dirawat, sangat tidak nyaman,"
"Maka dari itu, Tuan Muda harus lebih banyak hati-hati dimasa depan, sekarang apakah Kepala Tuan Muda sudah benar-benar tidak apa-apa?"
Arka lalu menunjuk ke perban kecil dibagian belakang kepalanya itu.
"Ini sudah tidak apa-apa, hanya masih masa pemulihan setelah Operasi, tapi memang masih sedikit sakit,"
"Ya, itu wajah saja, bagaimanapun Tuan Muda mengalami Operasi Besar saat itu,"
"Ukhh... Dan rambut-rambutku belum kembali,"
Viola sedikit tertawa melihat Tuan Mudanya mengeluh itu.
"Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya akan mencarikan wink yang cocok untuk Tuan Muda,"
"Memang, sebaiknya segera carinya yang bagus, cukup memalukan memiliki rambut seperti ini,"
"Tentu saja, apapun permintaan Tuan Muda,"
Tidak lama kemudian, Viola segera ijin Keluar untuk segera membelikan Arka wing.
"Kamu bisa membeli beberapa barang untukmu juga, maaf belum bisa menemanimu," kata Arka sambil menyerahkan Kartu Hitam miliknya pada Viola, dan Viola menerima kartu itu dengan ekpersi biasa saja.
"Ya, saya akan membeli beberapa barang secukupnya,"
"Ingat, beli barang-barang yang bagus, sekarang kamu adalah Istriku, aku ingin melihat kamu memakai semua barang-barang bagus mulai sekarang,"
"Tapi, hadiah Tuan Muda sebelumnya aku rasa lebih dari cukup,"
"Tidak! Pokoknya, kamu beli lagi yang banyak! Mengerti?"
Melihat sikap keras kepala Tuan Mudanya itu, Viola segera mengagguk setuju.
"Baiklah, aku mengerti,"
Itu benar, sekarang dirinya sudah menjadi Istri Tuan Mudanya, dirinya harus menjaga image juga agar tidak membuat malu Tuan Mudanya itu.
Dengan tekat itu, akhirnya Viola bersiap untuk pergi ke Mall sendiri.
Melihat Viola sudah pergi, Arka tentu saja menikmati waktu luangnya di kamarnya, dan mulai bermain dengan ponselnya.
Begitu lama di Rumah Sakit, tangan Arka merasa tidak nyaman.
"Ukhh... Apakah ada minyak angin disini? Owh, sepertinya ada satu di meja,"
Arka segera turun dari tempat tidur, ingin mencari minyak angin untuk tangannya yang agak tidak nyaman itu.
__ADS_1
Namun siapa yang tahu, ketika dirinya turun, Arka malah menginjak sesuatu.
Segera, Arka melihat apa yang dirinya injak itu.
Itu berbentuk kotak kecil lonjong.
"Huh? Apa ini?"
Arka tentu saja penasaran soal itu lalu mengambilnya dan mengamati benda itu.
Tentu saja, Arka mengenali apa ini.
Ini bukanlah Alat Tes yang dibelinya tempo hari itu?
Namun hal yang cukup mengejutkan adalah ketika Arka menatap alat itu.
Itu sepertinya sudah di gunakan?
Jangan bilang Viola sudah melakukan Tes nya?
Lalu bagaimana hasilnya?
Arka segera membalik kotak itu dengan perasaan cemas.
Ada garis dua dari alat itu.
"Gadis dua? Tunggu bukankah artinya Viola.... Hamil?"
Tentu saja Arka menjadi kaget setelah melihat itu.
Sungguh tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
Tapi kenapa Viola tidak bilang padanya soal hal sepenting ini?
Atau mungkin, Viola memang belum sempat memberitahukan ini...
Jika ini positif...
Bukankah itu artinya ini calon anaknya?
Dan lagi, ini bersama dengan wanita yang di cintainya itu...
Sungguh memikirkan ini, membuat Arka merasa sangat senang sekali.
Ini adalah berita yang sangat hebat!
Jika dirinya dan Viola memiliki seorang anak, ikatan antara mereka akan semakin kuat, dan akhirnya mereka tidak akan terpisahkan!!
Dirinya benar-benar akan memiliki Viola dan Viola akan mencintai dirinya....
Ini benar-benar hal yang baik.
Arka yang begitu senang itu, tidak bisa menahan rasa kegembiraannya dan segera menelepon adiknya Louise untuk berbagi kabar bahagia ini.
"Louise, Louise, aku ada kabar baik," kata Arka dengan penuh antusias.
'Huh? Ada apa Kak Arka? Aku dengar Kakak baru pulang dari Rumah Sakit? Apakah kabar ini?'
"Bukan, Bukan bukan masalah itu, ini adalah kabar yang lebih bagus,"
Louise dari ujung telepon jelas menjadi penasaran.
'Lalu Kabar baik apa itu?'
"Viola hamil,"
'Apa?'
"Istriku, Viola hamil,"
'Jadi... Jadi Kakak sudah melakukan itu dengan Kak Viola?'
"Ya, kami sudah melakukan... Dan sekarang dia hamil!! Ini sungguh berita yang sangat menyenangkan,"
'Selamat kalau begitu, Kak. Akhirnya Kakak mengunakan nasehatku, langsung saja gunakan cara itu,'
__ADS_1
"Huh, siapa yang mengunakan nasehatmu? Ini hanya ada beberapa kejadian sebelumnya yang terjadi,"
'Apa itu?'
Arka terdiam sejenak, seperti tidak perlu menceritakan detailnya soal malam itu?
"Kamu tidak perlu tahu, jadi pokoknya hanya harus tahu kabar baik ini,"
'Baik-Baik, aku turut bahagia untuk Kak Arka, Kak Arka benar-benar hebat, hanya sekali dan langsung sukses, ini hal yang bagus, padahal tingkat kesuksesannya sekali coba cukup sulit,'
"Hah, aku mah bukan seperti kamu yang tidak becus,"
'Kak Arka bicara apa?'
"Kamu tidak usah berbohong padaku, aku sudah dengar dari Viola bagaimana kamu sering bermain-main dengan beberapa gadis muda,"
'Ukhhh.... Itu hanya beberapa hal,'
"Hah, dan tidak ada dari beberapa teman kencanmu itu yang membawakanmu tespek?"
'Kak Arka jangan bercanda, aku selalu waspada ketika melakukannya!! Dan jangan berbicara seperti itu, jika sampai ada yang seperti itu, aku bisa mati,'
"Kamu sebaiknya jangan terlalu banyak bermain-main, carinya Kekasih yang benar dan segeralah menikah saja,"
'Hah, Kak Arka ini, mentang-mentang sudah menikah,'
Mereka berdua terlihat berbicara ditelepon dengan senang.
Sampai Arka mulai bertanya lagi,
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan ketika tahu Viola hamil? Aku tidak tahu harus melakukan apa,"
'Aku juga mana tahu. Kenapa tidak cek di Internet? Disana biasanya ada hal-hal apa saja yang harus di lakukan dan diperhatikan ketika Istri hamil,'
"Ide bagus, aku akan segera cek di Internet,"
Dan segera Arka mencari hal-hal di Internet.
Tidak mengira ada banyak hal yang harus diperhatikan.
Seperti ketika Istri ngidam atau sesuatu selama masa kehamilan?
Arka benar-benar terlihat serius saat itu.
####
Disisi lainnya, ada beberapa pelayan yang sedang bergosip di rumah Keluarga William.
Salah satu Pelayan disana terlihat memiliki wajah sedih, pelayan lain yang penasaran lalu bertanya,
"Ada apa? Bukankah kamu sebelumnya sangat bahagia?"
"Tespek ku hilang, jatuh entah dimana saat aku bekerja,"
Pelayan yang satunya itu menatap temannya dengan heran.
"Lagian, kenapa kamu membawa hal-hal seperti itu ke tempat kerja?"
"Aku hanya sangat gembira setelah tahu aku hamil, aku ingin berbagi kamar baik ini dengan kalian, dan rencananya akan memberikan kejutan pada Suamiku setelah dia pulang kerja nanti, namun siapa tau malah Tespek nya hilang,"
"Apakah kamu tahu kira-kira itu di mana?"
"Aku juga tidak tahu,"
"Hah, itu bikin repot saja bagaimana jika hal hal itu membuat masalah?"
Pelayan itu menjadi panik.
"Aduh, bagaimana ini?"
Ya, kalau itu ditemukan majikan bukankan akan jadi Maslaah?
Atau itu malah di manfaatkan untuk hal yang tidak-tidak.
Duh...
__ADS_1
Dirinya sungguh ceroboh.