
Arka jelas terlihat bingung melihat adiknya Louise yang tiba-tiba meminta untuk menginap sekarang diam saja duduk di kursi sofa ruang tamu.
Viola juga segera datang menghampiri Mereka bertanya kepada Arka soal apa yang terjadi.
Namun Arka juga menjawab tidak tahu apa-apa soal ini.
Dirinya lalu menyuruh Viola untuk kembali ke kamar membiarkan dirinya memiliki waktu berbicara empat mata dengan adiknya itu.
"Louise, Sebenarnya ada apa? Jawab aku?"
Louise laki-laki masih terdiam di sana menatap Kakaknya itu dengan rasa bersalah.
Dirinya sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya bercerita hal-hal ini kepada Kakaknya itu.
Hal-hal yang menyangkut soal mamanya sungguh membuat dirinya merasa rumit.
Louise lalu hanya segera berkata,
"Tidak ada apa-apa, hanya aku begitu lelah karena memiliki banyak pikiran,"
Arka tentu saja menjadi tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya itu.
"Kamu bukan tipe orang yang akan terlihat seperti ini jika memiliki banyak pikiran,"
"Kakak mungkin salah menilaiku jika aku terlalu memiliki banyak beban pikiran aku memang seperti ini,"
"Jadi intinya tidak ada yang penting, soal alasan kenapa kamu tiba-tiba ingin menginap di sini?"
"Aku hanya ingin menginap di sini memangnya tidak boleh?"
"Kamu sungguh datang di saat yang tidak tepat,"
Louise jelas menatap angka dengan ekspresi heran lalu dirinya segera bertanya,
"Memangnya ada apa? Apakah malam ini jatwal Kak Arka untuk melakukan ini dan itu dengan Kak Viola atau bagaimana? Sehingga kedatanganku mengganggu kegiatan asik kalian malam hari ini,"
Mendengar kesimpulan adiknya itu yang terlalu frontal bertanya, Arka menjadi malu sendiri.
Ya, bukannya dirinya dan Viola akan melakukan hal-hal seperti itu namun mungkin saja jika tadi diteruskan bisa mengarah kepada hal-hal seperti itu.
Tunggu!!
Apa yang dirinya pikirkan?
Apakah sejak dirinya melakukan hal-hal itu dengan Viola, pikirannya menjadi agak sesat seperti ini?
Melihat ekpersi malu dari Kakaknya itu, Louise kembali mengambil sebuah kesimpulan,
"Jadi begitu, aku benar-benar mengganggu Kakak. Aku benar-benar senang bisa mengganggu kegiatan malam Kakak itu," kata Louise sambil sedikit tertawa.
Arka lalu menepuk kepala adiknya itu merasa sedikit kesal, tapi Arka tidak benar-benar kesal karena dirinya tahu adiknya itu hanya membuat sebuah lelucon.
"Kamu ini jadi adik, benar-benar suka menggangguku masih iseng sama ketika kamu masih kecil,"
Louise juga menjadi tertawa ketika Kakaknya itu tidak marah padanya.
__ADS_1
"Hmm, Kakak juga terlihat tidak berubah sejak kita masih kecil,"
"Hah, kamu ini. Ayo ke Kamar Tamu, tempat itu juga sudah dibersihkan oleh para pelayan jadi bisa langsung kamu tempati,"
Louise pun menurut dan mengikuti kakaknya itu menuju salah satu kamar di rumah itu.
Begitu sampai didalam, Arka segera menutup pintu kamar dengan hati-hati lalu mulai berbicara lagi dengan adiknya.
"Louise, Ya ampun sebenarnya aku ingin curhat denganmu, Aku pastikan sepertinya Viola sudah tidak mendengar kita lagi,"
Louise yang duduk di tempat tidur menatap kakaknya yang terlihat sedikit malu-malu itu dengan penasaran,
"Memang kakak ingin bercerita apalagi?"
"Aku baru saja menyatakan cintaku pada Viola,"
Mendengar hal itu tentu saja Louise menjadi terkejut.
"Apa? Kakak baru saja menyatakan cinta pada Kak Viola? Jadi bagaimana hasilnya?" Tanya Louise dengan penasaran.
"Justru itu belum dijawab eh tahu-tahu kamu malah datang,"
Louise segera merubah ekspresinya dan merasa sedikit bersalah lagi,
"Rupanya aku benar-benar mengganggu Kakak,"
"Astaga, kenapa sekarang kamu malah terlihat sedih begini? Sungguh ini benar tidak apa-apa, lagi pula Viola itu membutuhkan banyak waktu untuk berpikir, aku membiarkan dia memiliki waktunya sendiri untuk malam ini,"
"Kak Akra... Maaf jika aku menjadi adik yang tidak peka,"
Padahal jelas dirinya tidak pernah menyalahkan adiknya soal ini.
"Louise, sungguh sebenarnya apa sih yang terjadi padamu?"
"Hanya pertengkaran biasa dengan Mamaku,"
Mendengar hal itu ekspresi Arka segera berubah.
"Apa lagi kali ini yang dia lakukan padamu?" Arka lalu menatap Louise dengan seksama, lalu setelah menatapnya, dan menemukan jika pipi Louise terlihat ada tanda merah.
Arka langsung memegang wajah Louise dengan ekspresi yang begitu cemas,
"Astaga, Apakah dia menamparmu lagi? Astaga, dia berani menampar adikku ini? Sungguh, keterlaluan,"
"Sudahlah ini toh hal yang biasa bukan hal yang besar," kata Louise dengan ekspresi biasa saja.
Dan ini jelas membuat Arka bertambah cemas.
"Tapi sampai kapan kamu membiarkan hal-hal ini?"
Louise mulai terdiam sebentar, memikirkan apa yang kakaknya itu katakan.
Ya, sampai kapan dirinya seperti ini?
"Kak Arka, Apakah kakak Percaya padaku?"
__ADS_1
"Kamu bertanya pertanyaan omong kosong apa? Jelas aku sangat mempercayaimu, kalau tidak bagaimana Aku bercerita banyak soal rahasiaku padamu? Kamu adalah adik tersayangku, kamu masih sama pentingnya seperti Viola untukku, kamu sendiri juga tahu bagaimana keadaan Keluarga William, kamu adalah saudaraku satu-satunya yang paling berharga,"
Louise tersenyum mendengar hal-hal itu.
"Ya, terimakasih atas kepercayaan Kakak. Namun aku yang seperti ini mungkin tidak seperti yang kakak kira, aku mungkin menyimpan beberapa rahasia buruk dari kakak,"
Namun Arka tersenyum,
"Tidak apa-apa, wajar seseorang memiliki sebuah rahasia. Namun aku percaya padamu jika kamu pasti akan tetap ada di pihakku, karena kamu adalah adikku, jadi tidak apa-apa, tidak usah khawatir, apapun yang terjadi aku akan percaya padamu,"
"Kak Arka...."
Mendengar kata-kata penuh kepastian itu, jelas Louise langsung memeluk Kakaknya itu dan sedikit menangis.
Rasanya memiliki seseorang percaya padanya adalah hal yang bagus.
Baik, dirinya memang harus berubah dan bisa pergi dari genggaman Mamanya.
Dirinya akan berubah dan menjadi lebih mandiri.
Dalam keheningan malam, mereka berdua terdiam masing-masing dengan pikiran itu sendiri.
Arka jelas menunggu untuk adiknya tenang.
Tidak butuh waktu lama sampai Louise menenangkan pikirannya.
"Sekarang sudah tidak apa-apa lagi,"
"Ya, aku percaya padamu kalau begitu."
Sekarang dua orang itu terdiam kemudian, Louise baru teringat sesuatu soal telepon dari bawahannya sebelumnya,
"Owh iya, aku ada kabar terbaru soal penyelidikan masa lalu Kak Viola,"
"Apa yang kamu temukan?"
"Ternyata ada orang lain yang juga menyelidiki soal Kak Viola,"
"Apa kamu bilang? Siapa orang yang menyelidiki Viola ini?"
"Aku juga belum tahu soal hal itu. aku belum mendapatkan jawaban dari anak buahku, namun menurut Kakak siapa orang yang menyelidiki tentang masalalu Kak Viola?"
Arka terdiam sebentar,
"Mungkin Viola sendiri?"
"Kakak aneh,"
"Lalu menurutmu siapa?"
"Seseorang yang penasaran akan masa lalu Kak Viola?"
"Maksudmu Keluarga Cavel?"
"Kenapa mereka malah Kakak bawa-bawa?"
__ADS_1