Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 76: Ingin Pindah (Part 1)


__ADS_3

Setelah mendengar kata-kata kasar dari Tantenya itu, Arka tentu saja membalas karena tidak terima.


"Coba Tante ngaca sendiri, yang tidak tahu diri itu Putra Tante, si Galvin itu,"


Arka tahu Tantenya itu segera akan meledak dan marah-marah, itulah kenapa Arka lansung menutup telinganya, kemudian melarikan diri dari sana secepat kilat.


"Arka!! Kamu tidak sopan!! Apa kamu tidak pernah di ajari sopan santun hah??"


"Ada Mak Lampir, sebaiknya kabur saja...."


"Arka!! Siapa yang kamu panggil Mak Lampir hah? Dasar anak kurang ajar!!"


Arka membiarkan Tantenya itu bersumpah serapah sesuka hatinya disana, dirinya benar-benar tidak mau dengar.


Toh ini bukan pertama kalinya, Tantenya Aurora itu mamarahi dirinya.


Sudah sejak kecil, Tantenya itu suka bikin gara-gara, dan mencari alasan agar bisa memarahi dirinya, benar-benar cukup muak selalu dimarahin sejak kecil.


Semakin Arka ingat, semakin dirinya merasa sangat sebal.


Pagi ini harusnya menjadi pagi yang indah, kenapa harus mendegar suara Tantenya yang marah-marah itu.


Membuat dirinya sangat tidak tahan.


Namun sialnya, saat Arka berlali itu dia malah bertemu Robet ditengah jalan.


"Astaga, Kak Arka ternyata masih hidup,"


Mendengar kata-kata Robet itu, jelas membuat Arka merasa tambah kesal.


Kenapa pagi ini begitu sial sekali sih?


Ada Tantenya yang menyebalkan, sekarang harus bertemu Sepupunya tidak kalah menyebalkan.


Apalagi, kata-kata begitu menusuk, selolah ingin dirinya celaka lebih parah hingga tidak bisa kembali ke rumah.


Benar-benar adik sepupu tidak tahu diri!!


"Cih, aku juga kaget melihat wajah Jelekmu di pagi begini, benar-benar merusak pemandangan," kata Arka dengan nada merendahkan.


"Hah? Apa katamu! Siapa yang jelek!!"


"Robet, apakah kamu tidak pernah mengaca? Tidak lihat wajahmu sendiri?"


"Kak Arka itu yang jelek!!! Benar-benar menyebalkan!!"


Robet yang marah itu hendak menjambak rambut Arka karena marah, namun malah dia menarik wig yang Arka pakai, membuat Arka yang kepalanya sebagian botak itu terlihat.


Itu mengejutkan Robet, lalu Robet segera tertawa sambil membawa wig itu.


"Astaga.... Ada apa dengan gaya rambut mu itu? Aku dengar Kak Arka habis terbentur kepalanya, apakah sekarang otak Kak Arka menjadi rusak juga hingga memiliki model rambut seperti ini? Ahahahaha...."


Robet jelas tertawa sangat puas melihat hal-hal itu.


"Robert!! Kembalikan Wig milikku!!" Teriak Arka dengan ekpersi marah.


Robert Tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa mengejek Kakak sepupunya ini.

__ADS_1


"Kembalikan? Silahkan berlutut dan memohon padaku!!"


Arka sebenarnya ingin datang dan bertengkar dengan Robet ini memberinya beberapa pukulan, namun Arka ingat kalau dirinya habis operasi, jika dirinya banyak bergerak dan malah pertengkaran dengan Robet menjadi parah, sampai luka di kepalanya robek, ini akan menjadi cerita yang panjang, dan jelas Viola akan marah-marah.


"Jangan pernah bermimpi dasar Robert sialan!!!"


"Cih, kamu yang sudah menjadi jelek begini masih berani untuk mengejekku dasar tidak tahu diri!!"


"Percuma berbicara dengan tembok sepertimu," kata Arka dengan marah, dan berniat untuk pergi dari sana.


"Hah, lihat penampilanmu sekarang! Sungguh jelek!! Namun aku pikir ini jadi serasi dengan Istrimu yang jelek itu!!"


Mendengar itu, Arka sudah diambang batas emosinya hendak memukul Robet, namun Robet berhasil menghindarinya.


Arka segera menarik tangannya, dan menarik nafas dalam-dalam mencoba menahan emosinya.


Dirinya tidak boleh menjadi terlalu emosional seperti ini, sekarang kepalanya menjadi sakit lagi.


"Apa? Ingin memukulku? Coba pukul aku sadar cacat!!"


Tenang, Arka, sabar...


Sabar...


Pasti ada saatnya bisa membalas Sepupunya yang menyebalkan ini.


Malas bertengkar, akhirnya Arka segera lari dan melarikan dirinya dari tempat itu, membiarkan Robert marah-marah sendiri disana.


Namun sepertinya Robert tidak mengejarnya, mungkin sepupunya itu juga sudah lelah bertengkar dengannya setiap hari.


Mereka semua berada setidaknya di halaman yang sama selama beberapa tahun..


Tidak, lebih tepatnya selama dua puluh tahun terakhir.


Dengan waktu lebih dari itu malah, dirinya kurang lebih sangat muak pergi dari sini, dari Rumah sial yang isinya orang-orang menyebalkan.


Walaupun masih ada beberapa orang baik di Rumah ini, namun jumlah orang yang menyebalkan jauh lebih banyak.


Dirinya selalu tidak bisa pergi karena tidak memiliki tempat untuk pergi.


Namun tunggu, bukankah sekarang dirinya sudah menikah?


Artinya dirinya memiliki Keluarga sendiri bukan?


Bukankah ini bisa menjadi sebuah alasan untuk pindah dari Rumah ini!?


Astaga ini sebuah ide yang sangat bagus.


Kenapa tidak dari dulu saja dirinya kepikiran hal-hal ini?


Dirinya harus segera bilang pada Viola soal hal ini.


Berikutnya, Arka segera lanjut berlari dan menuju ke taman biasa dirinya bersantai di pagi hari.


Dan benar saja, Viola sudah duduk di sana dengan santai sambil menunggu dirinya.


"Viola,"

__ADS_1


Viola segera menatap Tuan Mudanya dengan ekspresi heran.


"Kenapa Tuan Muda begitu cepat?" Tanya Viola penasaran.


Karena biasanya Tuan Mudanya akan lari pagi cukup lama tidak secepat ini.


Apakah Tuan Mudanya kelelahan?


Benar juga tuan mudanya saat ini sedang tidak sehat dan masih terluka.


Kenapa malah dindingnya mengijinkan Tuan mudanya ini berolahraga?


Gimana jika ini malah memperparah kondisi Tuan Mudanya?


Sebelumnya dokter pernah berkata agar Tuan mudanya mengurangi aktivitas-aktivitas fisik dulu dan olahraga merupakan aktivitas fisik.


Dirinya ternyata cukup ceroboh.


"Apakah Tuan Muda rasa pusing atau sakit kepala?"


Arka tentu saja mengeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata,


"Tentu saja tidak. Aku hanya baru saja dikejar-kejar oleh anjing gila,"


Viola menjadi tambah heran.


Setahunya, di rumah ini tidak ada anjing?


Viola lalu segera menatap kearah tangan Tuan Mudanya di sana ternyata ada seekor kucing kecil.


Ini kucing kecil peliharaan Tuan Mudanya.


Seharusnya kucing itu didalam kandungan ada di rumah utama, kenapa itu malah ada disini?


Apakah melarikan diri lagi?


Viola lalu menebak, sepertinya Tuan Mudanya barusan membuat masalah?


"Apakah Kucing itu ketahuan oleh Tante Aurora?"


"Lupakan itu, Aku ingin memberitahumu hal yang penting,"


"Apa itu?"


"Viola, Bagaimana jika kita berdua pergi dan pindah dari rumah ini? Aku ingin kita memiliki rumah sendiri atau setidaknya sebuah apartemen untuk kita berdua tinggal,"


Mendengar hal itu tentu saja Viola menjadi kaget.


Tidak tahu harus merespon seperti apa.


"Tapi Tuan Muda, kenapa Tuan Muda ingin pindah?"


"Ayolah, Viola. Apakah kamu tidak merasa muak terus berada di rumah ini?"


"Saya rasa Rumah ini tidak terlalu buruk,"


"Namun tiap hari aku harus bertemu dengan orang-orang menyebalkan seperti Paman atau Tanteku juga Sih, pagi hari ini yang begitu indah dan damai juga harus rusak gara-gara beberapa orang menyebalkan,"

__ADS_1


__ADS_2