Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda

Istri Jelek Nomor 1 Kesayangan Tuan Muda
Episode 15: Mengoda di Pagi Hari


__ADS_3

Hari-hari akhirnya berlalu, pagi ini seperti biasanya, Arka masih begitu nyaman di tempat tidurnya.


"Tuan Muda, Tuan Muda sebaiknya segera bangun,"


Arka yang masih memeluk gulingnya itu, tidak menunjukan tanda-tanda bangun.


"Tuan Muda!!" Viola sekali lagi mengucanh tubuh Arka, hingga Arka sedikit membuka matanya, masih setengah tidur dan masih sedikit linglung.


"Ukkhhhh.... Lima menit lagi,"


Lalu mata Arka kembali tertutup.


"Tuan Muda!! Bagun! Apakah Tuan Muda tidak ingat kalau hari ini ada Rapat Direksi? Anda harus hadir nanti,"


Namun sepertinya perkataan Viola tidak didengarkan oleh Arka, Arka masih nyaman memejamkan matanya.


"Tuan Muda...."


Sekali lagi di guncang, akhirnya Arka menyerah, namun sebuah ide tiba-tiba muncul.


"Aku tidak begitu bersemangat untuk bagian, bagaimana jika beberapa ciuman selamat pagi?"


Viola hanya bisa menghela lelah,


"Anda sudah besar dan masih membutuhkan ciuman selamat pagi?"


"Justru karena aku sudah besar,"


Arka ingat, dulu ketika dirinya masih kecil dirinya sering mendapatkan ciuman selamat pagi dikeningnya dari Ibu Kandungnya.


Perasaan itu tidak terlupakan, namun Ibu Tiri Arka tidak mau melakukannya. Ketika Arka berumur sekitar 10 tahun, dan mendapatkan pelayan Pribadi dan sedikit lebih akrab dengan pelayannya ini, Arka pernah iseng meminta ciuman selamat pagi dan meregek, kalau dirinya tidak ingin bangun, karena begitu merindukan Ibunya, sangat indah berada didalam mimpi dimana Ibunya masih ada.


Viola kecil yang saat itu juga sudah diceritakan bagaimana Tuan Muda Arka yang manja itu sangat suka mendapatkan ciuman selamat pagi dari Makanya, lalu mulai mencium kening Arka saat itu.


Itu adalah permintaan anak kecil, jadi saat itu Viola tidak mempermasalahkannya.


Tapi sekarang?


Ini permintan dari Seorang Pria berumur dua puluh enam tahun.


Arka sendiri memejamkan matanya, menunggu dengan gugup keputusan Viola.


Arka yakin Viola akan menolaknya, lagipula ini permintaan yang tidak akan Viola lakukan.


Dirinya hanya ingin sedikit mengoda Viola.


Namun siapa yang tahu, tiba-tiba suatu kenangan lembut berada di dahi Arka.


Itu hanya beberapa detik, namun berhasil membuat Arka segera membuka matanya, terbangun dengan keadaan begitu kaget, langsung menutupi dirinya sendiri dengan selimut, lalu berteriak kaget,


"Akhhh..... Viola... Kamu....."


Ekpersi Arka yang terkejut itu, sungguh terlalu berlebihan, apalagi posisi Arka yang memegang Selimut itu.


Viola hanya bisa menghela nafas, melihat kelakuan aneh Tuan Mudanya itu, dia yang minta sekarang Tuan Muda sendiri yang panik?


"Astaga Tuan Muda, tidak perlu terlalu berekspresi berlebihan seperti itu, Tuan Muda teriak panik seperti itu seolah saya barusan mengambil keperjakaan Tuan Muda, astaga, ini hanya ciuman selamat pagi agar Tuan Muda bangun,"


Sekarang wajah Arka menjadi memerah karena malu setelah mendengar omong kosong Viola, soal mengambil 'Keperjakaanya' tersebut.

__ADS_1


Tentu saja dirinya tidak akan pernah keberatan jika Viola mengambil 'Keperjakaanya' itu, malah sangat ridho lahir dan batin.


Namun tentu saja Arka hanya bisa panik dan berkata,


"Keperjakaan apa? Kamu berhenti bicara omong kosong,"


"Tentu saja saya tahu kalau Tuan Muda masih Perjaka, walaupun terlihat Tuan Muda pernah mengandeng beberapa gadis cantik sebelumnya, anda tidak pernah membawa mereka ke Kamar, sepertinya anda benar-benar menjaga hal itu untuk Istri anda kelak,"


"Hpmh, tentu saja aku akan menjaga ini untuk wanita yang aku cintai,"


'Yaitu kamu' batin Arka.


"Woahhh, sekarang cukup jarang laki-laki yang seperti Tuan Muda yang menjaga dirinya, apalagi di lingkungan seperti ini, setidaknya Tuan Muda yang lain sudah lama melepaskan Keperjakaan mereka,"


"Omong kosong apa yang barusan kamu katakan? Mungkin kalau Galvin dan Robert sampah itu memang iya, tapi Louise adikku tentu saja belum pernah melakukannya!!!"


"Owh, Tuan Muda tidak tahu? Sebelumnya Tuan Muda Louise juga sudah memiliki pacar beberapa kali, dan mengajak mereka ke Kamar,"


Arka tentu saja kaget mendengar hal ini,


"Ba.. Bagaimana mungkin? Ini adikku yang lucu dan imut ini? Dan lagi dari mana kamu tahu hal-hal ini?"


"Kebetulan pernah melihat seorang wanita keluar dari Kamar Tuan Muda Louise di pagi hari,"


"Dan aku tidak tahu?"


"Tuan Muda Arka kalau tidur sudah seperti orang mati, bahkan sangat susah di bangunkan, aku selalu bangun pagi dan pasti harus ke Kamar Tuan Muda Arka dipagi hari, dan akan melewati Kamar Tuan Muda Louise,"


"Astaga dia benar-benar melakukannya!!"


"Tuan Muda Louise selalu populer diantara gadis-gadis muda, jadi wajar jika dia sudah melakukannya. Hanya sepertinya Tuan Muda Arka saja yang masih murni seperti salju putih, pengalaman romantis benar-benar kosong, tidak perlu memikirkan soal Tuan Muda yang masih perjaka, Tuan Muda juga belum pernah berciuman, Tuan Muda Arka masih benar-benar murni,"


Wajah Arka sekali lagi memerah karena malu. Tentu saja, dirinya sebenarnya cukup populer juga diantara pada Gadis-gadis, kadang kala dirinya mencoba memeluk beberapa gadis hanya untuk melihat apakah ada reaksi tertentu pada Viola, cemburu misalnya?


"Kamu... Kamu apa yang kamu katakan? Apakah ini hinaan atau pujian?"


"Tentu saja ini pujian Tuan Muda, sangat beruntung nanti Wanita yang akan Tuan Muda cintai dan nikahi kelak,"


Mendengar kata-kata Viola yang seolah membicarakan hal-hal itu seperti itu adalah orang lain, membuat Arka sedih, padahal yang dirinya nikahi dan dirinya cintai hanya Viola ini.


"Tapi Wanita yang aku nikahi hanya kamu,"


"Maksud saya adalah Wanita di masa depan yang benar-benar anda cintai dan nikahi dengan serius bukan Pernikahan Kontrak seperti dengan saya,"


Arka sekali lagi menghela nafas lelah.


"Sudahlah lupakan saja omong kosong ini. Jadi kenapa kamu membangunkanku begitu pagi? Ini masih jam lima, bahkan matahari belum terlihat,"


"Tuan Muda benar-benar lupa? Hari ini ada Rapat Direksi jam 7 pagi, dan tentu saja kita harus datang lebih awal atau itu akan memalukan kalau sampai kita datang telat, ini bisa jadi bahan Tuan Muda lainnya untuk mempermalukan Tuan Muda Arka,"


"Ah benar juga aku hampir saja lupa, habis rapatnya terlalu pagi."


"Sebaiknya Tuan Muda segera bersiap-siap."


Dengan begitu, Arka lalu pergi mandi, dan tentu saja dia mandi sendiri. Selesai Arka mandi, dia mengenakan jubah mandi, dirinya langsung menuju ruang pakaian.


Di ruang pakaian, ada begitu banyak koleksi baju, jas, dasi, jam tangan, hingga sepatu di tatap dengan rapi, sudah bah toko pakaian saja, namun itu hanya milik satu orang.


"Tuan Muda sudah selesai? Ini Tuan Muda, saya sudah siapkah Jas dan Baju yang akan Tuan Muda pakai hari ini, saja juga sudah memilihkan Sepatu, dan jam tangan yang cocok dengan pakaian Tuan Muda,"

__ADS_1


"Bagus, kamu melakukannya dengan baik,"


"Tuan Muda silahkan duduk dulu agar saya mengeringkan rambut Tuan Muda,"


Sesuai kata-kata Viola, lalu Arka duduk di kursi yang ada di ruangan itu, menunggu Viola mengeringkannya rambutnya, lalu setelahnya Viola juga membatu Arka mengenakan kemejanya, juga Jasnya.


Arka hanya merentangkan tangannya, dan semua sudah di urus oleh Viola.


Sebagai seorang Tuan Muda dari Keluarga William, hal-hal seperti ini tentu saja wajar untuk dilayani oleh Pelayan sebelumnya, semua Tuan Muda Keluarga William mendapatkan perlakuan seperti ini dan memiliki Pelayannya masing-masing.


Untuk Tuan yang sudah menikah hal-hal dasar seperti ini selain Pelayan biasanya akan dibantu juga oleh Istrinya.


"Apakah harus memakai dasi segala hari ini?" Tanya Arka, ketika Viola mulai mengeluarkan sebuah dasi dari lemari.


"Harus, Tuan Muda. Hari ini Rapat Direksi yang sangat penting, setidaknya Tuan Muda harus tampil dengan profesional bahkan walaupun Tuan Muda tidak akan mengatakan apapun."


Viola dengan cekatan membantu Arka mengikat dasi miliknya.


Jarak mereka sangat dekat, dan Arka bisa merasakan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.


Apalagi kali ini, seharunya Viola melayaninya seperti ini sudah bukan lagi sebagai Pelayan, namun sebagai Istrinya.


Memikirkan kata 'Istri' saja membuat hati Arka sedikit berbunga-bunga.


Hanya saja, mungkin hanya dirinya yang merasakannya, Viola masih terlihat memiliki wajah tanpa ekpersi seperti biasanya.


Viola sendiri, tentu saja sudah mengenakan setelan baju Kantor yang cukup rapi, dengan warna sesuai dengan pakaian yang Arka pakai, sebuah Jas hitam, dan sebuah celana hitam, terlihat profesional sebagai seorang Asisten.


Viola selalu mengikat rambutnya, dan hanya beberapa poninya diposisikan untuk menutupi beberapa luka diwajahnya.


Itu benar, Viola biasanya akan memakai pakaian laki-laki, alasannya karena dirinya merasa mengenakan pakaian wanita dengan wajah seperti itu tidak cocok.


Arka sudah berulangkali membujuknya, namun Viola tetap keras kepala.


Sepintas dengan penampilan Viola yang seperti itu di kantor, orang-orang akan salah mengira dia sebagai seorang Pria.


Persiapan akhirnya, selesai Viola juga sudah menyiapkan sarapan untuk Arka, jadi Arka tidak perlu keruang makan.


Memang, karena kesibukan masing-masing, biasanya tidak ada tradisi makan pagi bersama.


Arka keluar dari Rumah Keluarga William, dan disambut dengan memunduk oleh banyak pelayan yah sudah berbaris rapi didekat pintu keluar.


"Selamat Pagi, Tuan Muda Arka,"


Arka hanya mengaguk ringan, lalu memasuki mobil sport merahnya yang sudah disiapkan disana, menyuruh Viola duduk disampingnya.


"Hari ini aku menyetir."


"Tuan Muda jangan membuat masalah, dan mulai kebut-kebutan di pagi hari."


"Aku tidak akan kebut-kebutan,"


"Tuan Muda, sebaiknya menyuruh supir saja ini ada rapat penting, jika terjadi sesuatu dijalan...."


"Viola! Aku bilang aku ingin menyetir!"


"Baiklah-baiklah, Tuan Muda. Sebaiknya hati-hati dan jangan kebut-kebutan,"


"Ya, tentu saja aku akan naik mobil dengan aman,"

__ADS_1


####


Bersambung


__ADS_2