
" Jangan katakan kepada Kei, jika ini merupakan liontin pemberian mbak Nisa pa!" Jelas Hanna kepada Gardapati. Hanna berharap bisa memberikan kalung liontin berbentuk hati tersebut kepada Keisya.
Liontin pemberian Anisa dulu, saat Anisa tidak berhasil mendapatkan hak asuh Keisya. Diam-diam Anisa menemui Hanna, hanya untuk memberikan sebuah liontin untuk Keisya. Namun, Gardapati selalu menghalangi Hanna untuk memberikan kalung tersebut kepada Keisya. Namun, Hanna berfikir kali ini dirinya harus berusaha lebih kuat lagi meyakinkan Gardapati. Dan memberikan kalung tersebut sebagai hadiah ulang tahun Keisya yang ke 24 tahun.
Apalagi usia Keisya yang ke 24 merupakan usia yang sudah matang menurut Hanna. Mungkin jika Keisya tau pun, tidak terlalu mempengaruhi masa lalu Keisya yang menyedihkan. Mungkin juga lambat laun Keisya akan menerima ibu kandungnya sendiri, dan tidak menghapus kenyataan bahwa Anisa adalah ibu kandung Keisya.
"Menurutku, itu tidak perlu ma. Bagiku dia sudah mati dan juga bagi Kei dia, tidak pernah ada! Sudah beberapa kali papa ucapkan, papa tidak ingin mendengar persoalan itu lagi. Lebih baik mama buang saja kalung tidak berguna itu. Kita bisa memberikan kalung yang lebih menarik dan indah untuk Kei!" Ucap Gardapati tidak ingin membahas tentang istri pertamanya yang pernah mengkhianatinya tersebut. Bahkan Gardapati sungguh menyesal pernah memiliki tiga istri lainnya yang juga bersekongkol memperebutkan warisannya.
Gardapati sangat membencinya, begitu pun dengan putri kandungnya sendiri. Sudah bertahun- tahun lamanya kenangan buruk tersebut di pendam oleh kedua ayah dan putri tersebut. Namun, Hanna adalah seorang wanita juga, dan ibu. Tentu Hanna memiliki pemikiran berbeda dan tau rasanya berada di posisi Anisa.
" Pa, walau pun begitu dia adalah ibu kandung Kei!" Ucap Hanna berusaha meyakinkan Gardapati yang tidak ingin mendengarnya. Gardapati berdiri tegap dengan pandangan menuju ke jendela besar yang tertuju dengan lingkungan luar. Gardapati sebenarnya sangat jenuh mendengar sang istri kesayangan meminta sesuatu yang di bencinya.
" Ma, tidak perlu. Kita akan memberikan hadiah yang lebih layak untuk putri kita!" Ucap Gardapati, bersikukuh dengan pendapatnya. Terdengar membosankan, berkali-kali Hanna ingin memberikan kalung tersebut kepada sang putri kesayangan.
" Pa.." Ucap Hanna menatap Gardapati yang enggan menatapnya karena tidak ingin membahas persoalan tersebut. Hanna berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Gardapati, Lalu ia memegang pundak sang suami dengan lembut.
" Pa, apa salahnya? Ini ucapan terima kasihku kepada mbak Anisa yang telah melahirkan putri sebaik Kei!" Ucap Hanna. Hanna yakin bisa meluluhkan hati suami yang sangat mencintainya.
Itulah Gardapati tetap memilih membuang muka. Gardapati enggan melihat wajah teduh sang istri yang membuat hatinya langsung luluh begitu saja.
" Ma, tapi..." Ucap Gardapati masih begitu bimbang. Ia tetap mencoba mengelak.
Seketika Hanna menyentuh kedua pipi tersebut, menariknya kehadapannya. Bahkan pernik mata tajam tersebut berhasil Hanna tangkap. Seketika hati Gardapati berlahan-lahan mulai sedikit mencair. Lalu Hanna mencium bibir sang suami dengan hangat.
" Tanpa dia, kita tidak bisa melihat sosok Kei. Putri terbaik..Putri yang sudah menemani kesepian kita." Ucap Hanna. Gardapati terdiam, kecupan tersebut membuat ia tidak bisa mengelak lagi. Seperti sebuah keajaiban yang mampu mencairkan hati yang keras.
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Keisya datang dengan wajah gembira. Hanna langsung tersenyum.
" Morning pa, ma!" Ucap Keisya yang baru saja datang dari lokasi lahan tambang.
__ADS_1
" E..Mor..ning sayang.. Kenapa kau datang sendiri?" Ucap Gardapati gelagapan. Baru saja Hanna mendaratkan sebuah ciuman yang membuat terdiam lama. Tiba- tiba Keisya datang.
" e..Dia sedang ada urusan pa!" Ucap Keisya, yang di maksud dengan dia adalah Carlos.
Hanna pun memantapkan hatinya untuk berbicara kepada Keisya. Saat inilah Hanna menunggu memberikan kalung liontin tersebut.
" Tutup matamu Kei!" Ucap Hanna tersenyum memerintah. Keisya pun mengikuti ucapan Hanna. Yaitu memejamkan matanya dengan lubuk hati yang penuh dengan rasa penasaran. Entah kejutan apalagi yang akan datang. Keisya hanya menutup mata dengan bibir sumringah.
" Tunggu sebentar ya!" Ucap Hanna membuka kotak liontin lalu menjulurkan tangannya yang sedang memegang kalung di depan mata Keisya. Dan meminta persetujuan kembali kepada Gardapati. Yang di balas anggukan. Gardapati sudah pasrah. Dengan sebuah kecupan sang istri berhasil mendapat persetujuannya.
" Apakah sudah ma?" Ucap Keisya sudah tidak sabaran menunggu kejutan yang berikan oleh Hanna.
" Baiklah, silahkan buka matamu sayang!" Ucap Hanna.
Keisya pun berlahan-lahan membuka matanya. Hatinya menjadi terlonjak dengan kalung liontin yang bergelayutan di depan mata. Liontin berbentuk hati berwarna emas putih. Bahkan sinarnya sudah membinarkan mata Keisya. Senyumnya semakin melebar. Kebahagiannya semakin bertambah dengan rentetan kejutan di hari ulang tahunnya tersebut.
" Waaa...apakah ini hadiah ulang tahunku ma, pa?" Tanya Keisya masih menatap kalung liontin tersebut dengan bahagia. Entah bagaimana dirinya bisa meluapkan rasa bahagia saat ini? Tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata-kata dan juga kalimat.
" Suka! kalungnya sangat cantik!" Ucap Keisya memperhatikan liontin tersebut.
" Syukurlah.. Biarkan mama yang memakaikannya!" Ucap Hanna bergegas memakaikan kalung tersebut ke leher Keisya. Keisya mulai memutar tubuhnya saat Hanna mengalungkan perhiasan tersebut.
" Apapun yang terjadi, jangan lepaskan kalung ini sayang!" Ucap Hanna. Hanna berharap, jika seandainya suatu saat nanti Keisya tahu kebenaran tentang liontin tersebut, Keisya tidak melepaskannya begitu saja. Hanna tau, komitmen kuat yang berada di dalam hati Keisya. Hanna sangat mengenal sang putri. Jika Keisya sudah berjanji, kemungkinan besar Keisya tidak akan mengingkarinya.
Bagaimana pun mbak Nisa adalah wanita yang melahirkanmu. Ini terima kasihku terhadapnya karena melahirkan seorang putri sebaik dirimu sayang! Tanpamu, mungkin mama dan papa tidak mampu melewatkan hari yang begitu sepi sebelum terlahir adik kembarmu di dunia. Yah, walaupun kau bukan darah dagingku, aku sangat menyayangimu.
" Mama tau, bahkan sampai kapanpun Kei tidak akan pernah melepaskan kalung ini. Kei akan menjaga kalung cantik ini agar tidak terlepas dari leher Kei." Ucap Keisya dengan nada meyakinkan, karena Keisya masih belum mengetahui kebenaran tentang kalung yang telah bertengger sempurna di lehernya.
" Janji?" Ucap Hanna menjulurkan jari kelingkingnya kepada Keisya.
__ADS_1
" Janji!" Ucap Keisya sambil mengaitkan salah satu tangannya. Ia tersenyum mengembang dengan mata berbinar-binar. Entah bagaimana dirinya bisa mengungkapkan rasa senangnya karena mendapatkan kejutan dari orang- orang yang di sayanginya.
***
Satu pekan sudah, Gardapati dan Hanna menemani sang putri Keisya di Tokyo. Akhirnya mereka harus kembali ke Indonesia. Keisya meluangkan waktunya untuk mengantar keluarganya ke bandara. Keisya merasa jika waktu seminggu berjalan cukup cepat, dan tidak cukup menghabiskan waktu dengan keluarganya tersebut. Dan di antara mereka, Carlos juga ikut mengantar kedua orang tua Keisya.
Hubungan Carlos dan kedua orang Keisya di bilang dekat. Walaupun hanya sepekan Gardapati menginjak kakinya di Tokyo tapi Gardapati dari awal memang sangat menyukai Carlos, di tambah ketika dirinya mengetahui jika Carlos adalah pria sukses dan pengusaha terkaya. Gardapati langsung menyetujui hubungan sang putri dan juga pria tampan tersebut.
" Kei, luangkan dirimu untuk beristirahat. Mama rasa kau terlalu berlebihan dalam bekerja. Mama tau jika kau ingin mencapai cita-citamu. Namun, jangan sampai melupakan jadwal makanmu!" Ucap Hanna menasehati sang putri sebelum meninggalkannya. Hanna begitu khawatir kepada Keisya , karena terlalu sibuknya sang putri, membuat Keisya melupakan sarapan paginya saat itu.
" Tenang ma, jangan khwatir. Baiklah!" Ucap Keisya tersenyum dengan mata telah bergenang.
" Tolong jaga putriku. aku percaya denganmu!" Ucap Gardapati memegang bahu Carlos dengan menepuk-nepuk.
" Baiklah om, tante. Saya akan menjaga putri anda dengan baik. " Ucap Carlos tersenyum bahagia karena Gardapati memberikan kepercayaan untuk menjaga Keisya.
Jangankan menjaga putri kalian di Tokyo. Aku juga rela menjaga putri anda sampai kapan pun!
Akhirnya Gardapati dan Hanna memeluk Keisya. Keisya begitu sedih, di tambah melihat tampang adik kembarnya yang lucu tersebut ikut memeluk dirinya lalu memeluk Carlos yang berada di samping Keisya.
"Nantli maen baleng acu dan Lekca juga ya om!" Ucap Axel. adik kembar laki-laki Keisya tersebut menghampiri Carlos. Carlos langsung menggendongnya dan mencium pipi gembil Axel. Begitu pun dengan Alexsa yang ikut di belakang Axel juga memeluk Carlos.
Jam penerbangan semakin dekat, Akhirnya mereka berpamitan pulang kepada Keisya dan juga Carlos. Sedangkan Keisya sudah terlihat begitu sedih. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
Carlos yang melihatnya langsung menghapus air mata Keisya dan memeluknya. Ia tahu bagaimana perasaan Keisya. Sama halnya dulu saat dirinya sangat merindukan wanita yang sedang tenggelam di pelukannya tersebut.
" Aku akan merindukan mereka lagi." Ucap Keisya menangis, seakan dada Carlos menjadi tempat ternyaman untuk meluapkan kesedihannya karena harus merindukan keluarganya kembali.
" Aku janji, jika ada waktu yang tepat. Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang!" Ucap Carlos.
__ADS_1
Jika kau bersedia menikah denganku, aku pastikan kita akan menetap disana. Kau tidak perlu mengejar bisnis lagi. Biarkan aku yang mengurus semuanya. Tenang sayang, aku tidak akan membuatmu bersedih.