
Tentu saja Sella ingat kalung itu, itu adalah kalung pemberian Neneknya yang turun temurun. Bahkan karena kalung itu Sella mendapatkan hukuman dari ke dua orang tuanya saat ia mengatakan kalung itu hilang.
Sebenarnya dulu Sella pergi karena keluarganya bangrut, jadi mereka pergi ke kampung halaman Kakeknya hingga ia harus meninggalkan lelaki kecil yang selalu memanggilnya Kaka Ella. Apa lagi saat kecil lelaki kecil itu selalu mengatakan akan menikahinya.
"Kak Ella, setelah kita dewasa aku akan menikahi Kak Ella, karena Kak Ella wanita baik, sudah menolongku dari kejaran mamang santri."
Itu lah yang selalu Adnan ucapkan saat bertemu dengan Sella. Sella tidak menyangka kalau ucapan suaminya itu benar, ia tidak menyangka kalau sekarang lelaki kecil itu menjadi suaminya.
"Bagai mana mas tau kalau itu aku?"
"Mas tidak sengaja melihat foto masa kecil Jamila di dinding saat kita berkunjung ke rumah Bunda, apa lagi Jamila juga memakai kalung itu, sedangkan kalung itu kata Jamila kalung turun-temurun, tentu saja mas tau, mas tidak menyangka kalau ucapan mas saat kecil benar adanya, saat mas mau bilang masa kecil kita, mas takut kalau Jamila tidak belajar mencintai mas, secara dulu mas jahil sama kamu Jamila."
"Hahaha...! Mas sih ada-ada saja masa iya makanan Jamila di kasih sambel, kalau tidak itu mas menaburi banyak garam, dulu ekstra jahil sekali."
Saat kecil setiap kali mereka membeli cemilan dan makanan saat Sella tinggal untuk ke kamar mandi, Adnan selalu saja menjahili Sella.
"Tapi Mas juga sudah minta maaf pada Jamila saat pertemuan terakhir kita, jadi kalau mas bilang juga Jamila tidak akan marah. Bahkan Jamila senang karena nyatanya ucapan mas itu benar adanya kalau mas akan menikahi Jamila."
"Menikahi Kak Ella iya?"
Tanya Adnan sambil tersenyum lebar saat mengingat ia memanggil istrinya dengan panggilan Kak Ella.
"Iya dulu mas bilang kalau akan menikahi Jamila, bahkan mas bilang bakal jadi imam yang baik untuk Jamila saat Jamila mengatai mas bocil."
__ADS_1
"Mas masih ingat ucapan Jamila dulu, dasar bocil, mana mau kamu menikah denganku saat dewasa nanti, aku sudah keriput, tapi kamu baru tumbuh dewasa."
Sella tersenyum lebar saat mendengar ucapan dari suaminya, ia tidak menyangka kalau ingatan suaminya masih ingat dengan jelas.
"Mas juga ingat kalau kita sudah besar, Jamila akan menemani mas mencari Bunda. Mas ingat kalau dulu Jamila sering sekali mencium pucuk kepala mas, dan mengatakan kalau mas boleh menganggap Jamila sebagai kaka kandung, tapi mas tetep kekeh tidak mau, mas ingin menjadi suami Jamila bukan adik Jamila."
"Habis mas dulu menyedihkan, kata mas ke dua orang tua mas tidak menginginkan mas, dari Bunda pergi meninggalkan mas, dan Ayah mas juga tidak menginginkan mas, jadi Jamila turut prihatin dengan keadaan mas dulu, bahkan Jamila sering sekali memaki sang maha pencipta karena Jamila merasa kehidupan mas sangat tidak adil."
Tiba-tiba saja air mata Sella langsung mengalir deras, ia merasakan sakit saat mengingat masa kecil dari suaminya.
"Jamila memeliki keluarga lengkap dan mendapat kasih sayang yang lebih, sedangkan mas, tidak mendapatkan kasih sayang dari siapa pun, mas harus bergantung pada diri mas sendiri tanpa keluarga, seharusnya di usia mas yang masih 7 tahun, mas di dukung oleh keluarga mas, walau pun orang tua mas tidak menginginkan mas, tapi tidak ada yang mau berdiri di belakang mas. Jamila tau bagai mana perasaan mas dan sehancur apa hati mas, walau pun Jamila belum mengalami itu, tapi saat mendengar cerita mas, Jamila sering sekali menangis saat memeluk mas dan saat mencium pucuk kepala mas, tapi tangisan Jamila tidak pernah Jamila tunjukan di depan mas, karena Jamila tau mas tidak suka melihat wanita lemah."
Dulu Sella selalu mendengar ucapan suaminya saat kecil, suaminya tidak suka melihat wanita menangis, karena kata suaminya tangisan itu adalah tanda kelemahan, dan suaminya benci melihat wanita menangis yang artinya wanita lemah.
"Saat air mata menetes Jamila selalu buru-buru menghapus air mata Jamila, apa lagi dulu usia Jamila sudah 11 tahun, tentu saja Jamila mengerti apa yang mas alami."
Adnan langsung mengusap air mata istrinya dengan ke dua ibu jarinya.
"Sekarang mas sudah tidak sedih lagi Jamila, mas sudah dewasa dan sudah bertemu dengan Bunda, jadi jangan menangis untuk masa lalu mas."
Adnan langsung mengecup ke dua mata istrinya sambil tersenyum lebar, bohong kalau ia tidak sedih, sampai saat ini ia masih sangat sedih, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ke dua orang tua seperti anak-anak pada umumnya, ia harus bergantung pada diri sendiri, tentu saja hatinya masih sakit, dan luka hati itu masih selalu membekas.
Adnan selalu berharap kalau Bundanya menyayangi ia walau pun Ayah ia tidak menginginkan ia, tapi nyatanya Bundanya juga pergi meninggalkan ia, harapan itu hanya lah harapan kosong yang tidak akan menjadi kenyataaan.
__ADS_1
Adnan berusaha belajar giat agar saat Bundanya datang, Bundanya bangga memiliki putra cerdas seperti ia, tapi nyatanya Bundanya tidak pernah kembali, lagi-lagi harapan ia tidak pernah menjadi kenyataan.
Andai saja Adnan tidak mengingat awal permasalahan Bundanya pergi meninggalkan ia, mungkin ia juga sudah membenci Bundanya, seperti ia yang tidak pernah suka pada Ayahnya.
"Jamila tau kalau mas sampai sekarang masih merasakan sakit di hati mas, apa lagi menurut Jamila luka mas itu sangat besar dan mungkin luka hati mas tidak akan pernah kering."
Adnan tersenyum mendengar ucapan dari istrinya yang bisa menebak pikirannya.
"Iya memang sulit untuk menerima itu semua Jamila, itu kenapa mas ingin belajar menjadi suami dan Ayah yang baik, agar kelak putra-putri mas tidak ada yang menjadi korban karena ke egoisan kita. Cukup mas yang menjadi korban karena ke egoisan orang tua mas, mas tidak mau mereka mengalami nasib yang sama seperti mas, karena rasanya sangat menyakitkan."
Adnan ingin masa lalunya menjadi sebuah pelajaran untuknya, agar ia tidak bersikap egois, agar ia bisa mempertahankan rumah tangganya kelak.
"Iya mas, Jamila juga berharap kalau kita jangan sampai memiliki masalah besar, tapi Jamila tau kalau rumah tangga kita akan selalu di uji agar tembok rumah tangga yang kita bangun itu menjadi semakin kokoh"
"Iya Jamila."
Adnan berharap sikap kanak-kanakan istrinya menghilang setelah ini, bukan ia benci dengan sikap kanak-kanakan istrinya, tapi ia merasa kalau sikap kanak-kanakan istrinya itu selalu membuatnya pusing.
"Mas harap Jamila mau belajar dewasa dan buang sipat kanak-kanakan Jamila, jangan terus membuat mas pusing karena sikap kanak-kanakan Jamila."
"Iya mas, Jamila akan berusaha menjadi istri yang baik termasuk akan belajar menjadi Bunda yang baik untuk anak-anak kita kelak."
Sella mengatakannya dengan sungguh-sungguh, ia akan belajar menjadi istri yang baik termasuk akan belajar menjadi Bunda yang baik, ia tidak mau bersikap egois lagi pada suaminya, suaminya sudah banyak menderita selama ini.
__ADS_1