
"nai? mau kemana?"kely mama naila menatap penasaran pada anaknya yang tumben tumbenan rapi
selama seminggu ini naila uring uringan karena artisnya yang mendadak mengundurkan diri, pakaiannya pun selalu compang camping tak terurus. sepertinya begitu besar dampak kiara dalam hidup naila
"mau ngampuslah mah"
kely mengangguk, mengapa ia bisa lupa kalau anaknya ini masih kuliah
"bukannya kamu sudah selesai sidang ya?"setahu kely anaknya ini telah menyelesaikan sidangnya. bahkan ia mendapat hasil yang memuaskan
naila menggaruk belakang kepalanya"nyibukin diri aja mah. bosan di rumah terus"naila berujar santai sambil menyalim tangan sang mama
kely mengangguk saja, membiarkan anaknya itu mengambil kesibukan sendiri sebelum naila mengambil ahli usaha miliknya yang telah susah payah ia bangun sejak umurnya masih berusia 20 tahun
"kabar kiara gimana? kiara sudah pernah ketemu sama kamu?"kely sudah sangat merindukan kiara, ia menganggap kiara seperti anaknya sendiri
naila tergagap tak tahu harus berkata apa, semenjak kejadian satu minggu yang lalu ketika naila di hadang oleh orang suruhan dari leo mengancamnya supaya tak membeberkan apapun, naila tak pernah lagi bertemu dengan kiara lebih tepatnya pertemuan terakhir mereka saat naila meminta kiara untuk menemaninya ke mall
"u-udah kok mah"singkat naila"yaudah ya mah, nai berangkat dulu. pengen ngumpul ngumpul sama temen kampus dulu"buru buru kiara berjalan meninggalkan kely yang sibuk dengan urusan bunga bunga miliknya
kely tersenyum"IYA! hati hati!"teriaknya ketika melihat naila yang sudah memasuki mobil sedan hitam milik naila yang ia beli dengan uang hasil jerih payahnya
naila menurunkan sedikit kaca mobilnya lalu mengulurkan tangannya, mengacungkan jempolnya ke udara setelahnya naila menjalankan mobilnya
tin tin
naila melajukan mobilnya dengan kecepatan standar di jalanan yang bisa di bilang lumayan padat, sesekali menyelip mobil truk yang melaju sangat pelan mungkin karena takut bawaanya hancur
setelah lima belas menit lamanya naila memberhantikan mobil sedan hitamnya di parkiaran kampus, membuka pintu mobil lalu ia turun menutup kembali pintu mobilnya
"nai!"
__ADS_1
naila menoleh setelah melihat siapa yang memanggilnya ia tersenyum ramah kepada orang itu
"tumbenan pakai baju rapih gini?"orang itu bertanya sembari menyentuh kerah baju yang di apakai naila
naila menepis tangan orang itu pelan menekuk wajahnya"memangnya kenapa?"tanyanya tak santai
orang itu menyengir kuda membentuk simbol pice yang di balas dengsan kesal dari naila
"kan semenjak kiara gak ada kau tak pernah mengurus tampilan mu lagi, karena kau bilang tak penting lagi berdandan artis ku saja sudah tak ada. dia sudah pergi menghilang tak tau kemana, yakan? yakan?"orang itu berbicara dengan menirukan gaya berbicara naila
"kau sangat mengesalkan sisil"desis naila setelahnya naila melenggang memasuki gedung kampus yang diikuti oleh sisil orang yang sedari tadi merecoki naila
sisil terkekeh"memengnya siapa yang bilang aku menyenangkan?"sisil bertanya ketika mereka telah mendudukkan bokong mereka di bangku kantin
"berisik!"
°°°°
"bungannya tempelkan saja di pilar pilar itu"wanita paruh baya itu menunjuk ke arah beberap pilar yang begitu besar
dengan segera para pekerja itu melaksanakannya, malam ini di kediaman keluarga angleo akan di adakan acara kecil kecilan untuk merayakan hasil sidang anak anaknya, ya walupun acara kelulusannya masih akan di adakan minggu depan
"kak kana? kue kue ini bagaiman? cocok tidak untuk menu malam ini?"kana mengangguk ketika erika ibu kandung adi lebih tepatnya adik iparnya itu memperlihatkan beberapa kue
"ya itu bagus"ujarnya kana
erika mengangguk dan memberikan nampan kue kue itu kepada salah satu pelayan yang kebetulan lewat. menyuruh pelayan itu menata kue kue itu di atas meja tempat makanan makanan lain di letakkan
"kak minumannya cocoknya apa?"salsa datang dari arah dapur menghampiri kedua kakak iparnya, masih ingat salsa ibu kandung dari frans?
kana dan erika saling bersitatap saling mengode lewat tatapan mata, begitu erika mengendikkan bahunya kana menghela nafasnya. bagaimanapun ia harus lebih bijak dari para adik iparnya selaku yang tertua di antara mereka bertiga
__ADS_1
"sirup aja gimana? atau sup buah?"saran kana
"sup buah aja kali ya?"erika menyarankan sup buah
"lebih baik sirup"
°°°°
lain halnya dengan para ibu ibu yang sibuk dengan urusan mempersiapkan acara malam nanti, justru kiara sedang di tahan oleh leo di kamar. tak memperbolehkan kiara turun untuk membantu
"sangat menyebalkan"
sedari tadi kiara terus saja mengumpat dan juga menggerutu, meruntuki leo yang selalu saja melarangnya ini itu sehingga mengganggu kebebasan kiara dalam bergerak di dalam mansion ini, dengan alasan takut kiara kelelahan lah atau nanti tiba tiba kiara mengalami cedera karena tidak hati hati dan masih banyak lagi alasan lasan yang di berikan leo untuk melarang kiara turun membantu sedangkan para iparnya sibuk menghabiskan waktu di luar
"kak! kau terus saja mengurungku di kamar, aku sangat bosan"lagi. kiara mengucapkan kata kata yang sama sedari tadi
leo hanya mengangguk sebagai balasan dan sukses mendapat cibiran dari kiara
posisi mereka sekarang kiara yang tengah duduk gelisah di tepi ranjang sedangkan leo tengah asik berkutat dengan laptopnya di sofa kamar mereka
kiara menggeram"apasih mau kakak, kau melarangku menggunakan ponsel kau juga melarangku menonton televisi. jadi apa yang harus aku lakukan"kiara masih belum menyerah, ia terus saja mengoceh mengeluarkan protesan protesannya atas perilaku semena mena leo
"bagaimana kalau kita melakukan tanya jawab?"usul leo yang sedari tadi sibuk dengan urusannya
kiara tampak berfikir sedetik kemudian ia tersenyum senang lalu mengangguk semangat, berdiri lalu berjalan menghampiri leo dan duduk di sebelah leo
"baiklah tanyakan apa saja yang mengganggu pikiran mu"
kiara tersenyum penuh arti, akhirnya"apakah kau mengetahui tentang keluargaku?"kiara bertanya hati hati
"selain itu, kau boleh bertanya masa laluku makanan kesukaan ku dan apapun itu yang menyangkut diriku"kiara mendesah kecewa, lagi lagi leo menghindar
__ADS_1
tapi tak apa masih ada lagi yang menjanggal dalam fikiran kiara"kenapa kau terus melarangku menonton dan juga menggunakan ponsel?"