
Matahari belum juga muncul, kebiasaan Keisya untuk bangun awal. Matanya seakan otomatis terbuka saat jam pagi. Sebelum mandi, Keisya terlebih dahulu menghirup udara segar melalui jendela kamarnya. Desir angin yang membangunkan bulu-bulu kuduk. Keisya menghirup nafas dalam-dalam mengambil oksigen baik tanpa polusi dan karbon dioksida yang biasa tercampur saat matahari menyambut kota metropolitan tersebut.
Setelah tubuhnya cukup menghirup oksigen yang baik dan olahraga dengan gerakan ringan. Keisya akhirnya melangkah ke kamar mandi. Seusai itu Keisya turun tangga yang berputar menuju ke arah dimana aroma makanan lezat tercium. Sang mama, Hanna ternyata sudah memasak di bantu oleh para koki handal.
Hanna terlihat menyicipi masakannya sendiri lalu meminta komentar kepada koki handalnya. Ya, seperti itulah kebiasaan Hanna, ia selalu meminta pendapat tentang rasa masakannya sebelum di sajikan di meja makan. Bukankah Gardapati sendiri memiliki selera tinggi, karena Gardapati bukan hanya sekedar menikmati melainkan berpendapat soal rasa. Selera tingginya datang saat Gardapati sendiri bisa memasak. Itulah Hanna tidak ingin kalah memasak dari sang suami.
" Bagaimana?" Tanya Hanna ingin mendengar pendapat kokinya yang telah lama bekerja di rumahnya tersebut.
" Tidak bisa diragukan lagi Nyonya, masakan anda sangat lezat." Ucap koki tersebut berpendapat. Membuat Hanna sangat senang jika percobaan masakannya begitu lezat. Dengan begitu Hanna bisa menyajikan di meja makan tanpa khawatir dan percaya diri.
" Ma?" Ucap Keisya memeluk Hanna dari arah belakang. Hanna terkejut mendapat dekapan secara tiba-tiba. Ketika mengetahui jika itu adalah putri kesayangannya, Hanna begitu bahagia ternyata ia selalu bisa melihat sang putri beberapa hari ini.
" Sepertinya masakan mamaku terlihat begitu lezat." Ucap Keisya.
" Tentu, apakah kau sudah tidak sabar mencoba masakan mamamu ini?" Ucap Hanna sambil mengaduk sop ayamnya.
" Tentu, tapi Keisya akan berangkat kantor sekarang ma!" Ucap Keisya.
" Apa? Sepagi ini? Kei kau baru saja menginjakkan kakimu di Indonesia. Tak bisakah kau tidak memikirkan pekerjaan terlebih dahulu. Apakah kau tidak merindukan mamamu, ayahmu atau adik-adikmu?" Ucap Hanna begitu kecewa.
" Maafkan Kei ma, Kei harus menyelesaikan hal penting dulu di kantor. Jika semua urusan Kei di kantor sudah selesai, Kei janji akan meluangkan waktu untuk kalian." Jelas Keisya.
" Sepenting itukah? Ah, apakah kami kalah dengan urusanmu!" Ucap Hanna.
" Mama, tidak begitu.. Mengertilah ma!" Ucap Keisya memeluk mamanya kembali, memohon.
" Kei memang tidak bisa menemani mama makan, tapi Kei bisa membawa masakan mama ke kantor kan!" Lanjut Keisya.
" Tentu key" Ucap Hanna langsung luluh dengan dekapan putrinya.
" Hati-hati sayang." Ucap Hanna ketika Keisya sudah bergegas keluar rumah.
***
Keisya sudah sampai di kantornya. Sebelumnya Keisya menukar mobil mewahnya di service mobil miliknya. Keisya melakukan aktivitas biasanya. Kantor begitu sepi, dan karyawan masih sedikit yang datang. Setelah satu jam kemudian, para karyawan telah mengisi tempat duduknya masing-masing.
Keisya pun semenjak tadi sedang menggali masalahnya di depan komputer. Tiba-tiba semua karyawan yang sebelumnya ramai memulai aktivitasnya, sekarang semuanya terdiam. Keisya pun terheran dan menoleh. Ternyata rekan kerjanya terdiam karena Gunawan sang di rektur datang. Dan semakin mendekati langkahnya ke arah Keisya yang terdiam terkejut. Entah kepentingan apa Gunawan harus menghampiri Keisya sepagi ini.
" Selamat pagi Nir!" Ucap Gunawan kepada Keisya.
__ADS_1
" Pagi!" Ucap Keisya terlihat santai dan kembali menatap komputernya.
Aku kira siapa yang datang! Ternyata tuan buaya!
Oho, apakah seperti itu balasan untukku yang bersedia datang datang seawal ini hanya untuk melihatmu! Kau sungguh manarik nona cantik! Sungguh menantang!
Sedangkan para karyawan memainkan perannya sebagai karyawan yang patuh dan sedikit mengintip sang di rektur yang jarang sekali datang untuk mengontrol tiba-tiba hari ini mereka melihatnya.
Mereka sungguh menjadi penasaran sambil pura-pura fokus kerja.
" Ia ada keperluan apa tuan gunawan?" Ucap Keisya tanpa melihat sang direktur dan masih menatap layar komputer. Para karyawan hanya berdecak dalam hati, mengapa Keisya seberani itu bersikap kepada sang direktur yang sangat mereka takuti.
" Aku ingin kau mengerjakan kembali tugas yang diberikan Stella sekretarisku!" Ucap Gunawan.
" What?" Ucap Keisya langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Gunawan dengan wajah terperangah bukan main.
" Jika kau ingin segera pindah di kursi keuangan, Kau harus melakukannya dan segera memberikan hasilnya kepadaku sendiri, Aku akan menunggumu di ruanganku!" Ucap Gunawan tersenyum dengan ekpresi Keisya yang menggemaskan.
Mengertilah, ini bukan tempat yang pas bagiku untuk merayumu! Kau segera akan mengenaliku, dan tergila-gila denganku. Itulah, aku sengaja menyuruhmu untuk datang ketempatku!
Keisya hanya terdiam dan cukup kesal melihat kepergian Gunawan.
..bagaimana caranya aku tau jika penyamaranku secepat ini terbongkar. Oke..oke...Kei sabar, pasti kau bisa.
Keisya mulai fokus mengerjakan proposal yang pernah dibuatnya tersebut. Sebenarnya Keisya cukup menyalinnya saja. Namun, sungguh akan membuang waktu hanya untuk mengerjakan hal yang sama.
3 jam kemudian, Akhirnya Keisya berhasil menyalin proposalnya dengan sempurna. Keisya pun bergegas menuju ruangan direktur. Setelah itu akhirnya Keisya mengetuk pintu ruangan Gunawan.
" Tuan, apakah saya, Nira boleh masuk?" Ucap Keisya.
Kemana nona Stel?
Sambil mengetuk pintu, Keisya melihat meja kosong. Ternyata Stella tidak berada di tempat.
" Silahkan Nira!" Teriak Gunawan.
Keisya pun masuk dengan proposal yang sama di tangannya. Gunawan tersenyum melihat kedatangan Keisya. Lalu menatap Keisya begitu lekat.
Akhirnya bidadari tanpa sayap ini datang juga, aku akan mengusai hatimu sebelum Stella datang.
__ADS_1
Sebelumnya Gunawan menyuruh Stella menghadiri meeting bersama karyawan lainnya.
Stella akan menyelesaikan waktu meeting paling sebentar, satu jam. Dan mungkin dalam satu jam, aku bisa mendapat satu kecupan darimu, atau..emps..
Gunawan melihat bentuk tubuh Keisya, otak mesumnya mulai bekerja.
Apakah kau tidak cukup menatapku? Dasar buaya brengsek!
" Tuan, ini proposalnya!" Ucap Keisya memberikan proposal tugasnya kepada Gunawan. Tiba-tiba Gunawan memegang tangan Keisya saat Keisya menjulurkan dokumennya. Keisya segera melepas eratan tangan Gunawan dari tangannya sendiri.
Brengsek, pecundang, beraninya kau memegang tanganku.
Keisya cukup bergidik ketika Gunawan sengaja memegang erat tangan putih mulus Keisya dan menatap Keisya dengan tersenyum mesum.
" Benar kata Stella, jika ini memang hasilmu sendiri. Selain cantik ternyata kau juga pintar. Baiklah, aku akan memindahmu ke kursi keuangan!" Ucap Gunawan.
"Benarkah tuan?" Ucap Keisya senang.
" Tentu, tapi jika kau mau berkencan denganku malam ini!" Ucap Gunawan memberikan isyarat.
"Apa?" Ucap Keisya terperangah. Ternyata awalan tidak senikmat akhirannya.
" Maaf tuan, saya tidak bisa!" Keisya langsung menolaknya mentah-mentah.
" Kenapa? Apa kau menolakku? Apakah kau tidak ingin duduk di kursi keuangan." Ucap Gunawan.
Brengsek. Apa kau mengancamku! Dasar buaya..
" Apa permintaaanku berat?" Ucap Gunawan yang berdiri dari tempat duduknya menghampiri Keisya dan mulai mengangkat tangannya, berawalan dari memainkan rambut Keisya. Lalu mulai meyentuh pipi mulus Keisya yang di balas dengan tepisan oleh Keisya.
" Waw, kau sungguh mahal. Baru kali ini ada wanita yang menolakku." Gunawan tersenyum kecut.
" Kau menolak seorang direktur, yang benar saja sayang!" Ucap Gunawan memegang erat pergelangan tangan Keisya. Keisya berusaha menepisnya dan ingin segera terlepas dari jeratan Gunawan yang semakin berbahaya.
" Lepaskan aku!" Ucap Keisya.
" Haha, tidak akan bisa sayang!" Ucap Gunawan tertawa.
" Lepaskan aku.!" Keisya berusaha menolak Gunawan.
__ADS_1