
"Mulai besok aku akan mengantar dan menjemputmu!" Ucap Adipati merasa cemas jika sampai kejadian tadi akan menimpa Bella lagi. Entah perasaan apa yang membuat Adipati sekhawatir ini terhadap Bella.
"Apa? ti..dak..tidak perlu. Itu sangat merepotkanmu. Aku telah biasa berjalan kaki sendiri ke tempat kerja." Jelas Bella merasa cukup sungkan dengan tawaran Adipati selain itu sungguh berlebihan jika sampai di antar jemput. Mereka masih dalam perjalanan pulang.
Siapa diriku? dan kamu? bahkan hubungan kita adalah seorang teman. Namun sikapmu semakin lama akan membuatku salah paham. Bel, buang perasaan itu! Kau tidak layak untuknya!
Tadi dia bilang apa? kekasihku? aku masih ingat saat dia mengatakan jika aku adalah kekasihnya.
Ah...tidak, dia hanya sekedar berucap agar preman itu tidak akan macam-macam lagi terhadapku.
"Tak masalah. Jangan menguji keselamatanmu lagi. Sekarang kau masih bernasib baik karena aku sedang melalui jalan tersebut. Jika aku tidak melewati jalan sepi itu sekarang. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kepadamu." Jelas Adipati. Jika ingat kejadian tadi, Adipati sangat geram sampai saat ini ingin menghabisi dua pria asing tersebut. Adipati melihat penampilan Bella yang begitu berantakan dan baju yang sobek-sobek.
"Ta..pi mas...A..k" Belum sempat Bella meneruskan perkataannya. Namun Adipati telah menutup bibir Bella menggunakan jari telunjuknya.
"Tidak ada tapi-tapian." Ucap Adipati yang membuat jantung Bella berdebar semakin kencang. Setelah itu Adipati merapikan rambut Bella yang berantakan.
Bisa-bisa aku akan jatuh hati kepadamu mas. Ah jantungku, aku mohon berdetak seperti biasanya.
"Kau seorang wanita, bagaimana bisa aku melihatmu malam-malam melewati jalan sepi itu sendiri lagi." Ucap Adipati lalu kembali duduk semula.
Beberapa menit kemudian Adipati dan Bella telah sampai di kediaman Gardapati.
"Bell, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?" Ucap Hanna melihat penampilan Bella yang berantakan.
"Apa kau melakukan sesuatu terhadapnya?" Ucap Gardapati langsung menarik kerah baju Adipati. Gardapati menganggap jika Adipati telah berbuat sesuatu kepada Bella.
"Santai..akan aku jelaskan." Ucap Adipati melihat Gardapati yang begitu sangat marah.
"Tidak! mas Adi barusan telah menolongku. Aku hampir saja dilecehkan oleh preman." Ucap Bella segera menjelaskannya. Jika tidak, mungkin Gardapati akan memukulnya sekarang juga.
__ADS_1
"Maaf!" Ucap Gardapati langsung melepas cengkramannya. Gardapati benar-benar telah salah paham.
"Apa? apa kau tidak apa- apa Bell?" Ucap Hanna merasa cemas.
"Aku baik-baik saja Han, untung ada mas Adi tadi. Jika tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi." Jelas Bella.
"Terima kasih her, jika tidak ada kau, Bella pasti akan terluka." Ucap Hanna.
"Baiklah. Aku permisi akan pulang." Jelas Adipati.
"Apa kau tidak ingin menginap disini dulu?" Ucap Hanna menawarkan kepada Adipati karena hari sudah cukup malam.
"Tidak perlu. Ingat aku akan menjemputmu besok!" Ucap Adipati yang membuat Bella menjadi gugup. Adipati pun bergegas meninggalkan kediaman Gardapati. Hanna pun tersenyum melihat pipi Bella menjadi merah merona.
"E..hati-hati mas.." Ucap Bella.
"Apaan sih Han.." Ucap Bella mengelak pernyataan Hanna dan memilih meninggalkan Hanna dan Gardapati.
Gardapati pun tersenyum dan cukup lega karena tidak akan ada lagi yang membuatnya merasa cemburu.
"Tidak akan ada tom and jerry lagi kan! Lihat Tom sudah menyukai Bella, Jerry kau tidak perlu khawatir lagi." Jelas Hanna sambil mencubit pipi suaminya.
Apa tom and jerry? Aku dan Adipati? kau memanggil kita dengan sebutan tikus dan kucing?
"Aw.. sakit sayang. Awas kau ya, jangan salahkan aku jika sampai aku menangkapmu." Ucap Gardapati mengejar Hanna yang berlari meninggalkan dirinya.
Gardapati pun berhasil menangkap Hanna di dalam kamarnya. Memeluknya dan mulai menggelitiknya.
"Aw..aw..ampun..ampun..geli" Ucap Hanna merasa menggelitik.
__ADS_1
"Tidak akan aku beri ampun, So..bukankah kau masih boleh ku sentuh! Ayah datang nak!!!" Ucap Gardapati langsung melepas baju Hanna. Dan pergulatan panas di mulai lagi. Saling memaut, dan mencumbu satu sama lain. Menikmati setiap sentuhan. Bahkan cinta itu semakin kuat, semakin kokoh. Setiap deserin nafas, setiap kalimat cinta yang terucap di bibir suaminya membuat Hanna semakin membara, bahkan berapi-rapi.
***
Walaupun tanpa ibu kandungnya, terlihat Lala begitu bahagia hidup bersama ibu barunya yaitu Hanna. Hanna pun melihat perkembangan Lala akhir-akhir ini begitu baik. Apalagi Gardapati yang melihat Lala bertambah ceria dan aktif.
"Coba lihat anakmu? dia begitu aktif. Dia belajar dari mana joget-joget kayak gitu?" Ucap Gardapati kepada Hanna melihat Lala berjoget menghadap ke ponsel.
"Entah....Bukankah kamu yang memberi fasilitas ponsel kepada Lala." Ucap Hanna juga merasa heran melihat Lala aktif mengikuti irama dengan gerakan senada.
"Hust..bukankah bagus jika cucuku aktif!" Ucap Khatijah menghampiri Lala juga ikut bergoyang mengikuti Irama.
"Ya ampun, ibuk...." Ucap Hanna melihat khatijah yang juga ikut bergoyang sambil memukul keningnya sendiri.
"Ayo joget nenek.." Ucap Lala bergoyang bersama Khatijah.
Sedangkan Hanna dan Gardapati menggeleng-geleng kepalanya melihat anak dan ibunya bergoyang menikmati irama musik.
"Ayo Han, ikut goyang..ini baik untuk kehamilanmu agar persalinanmu lancar." Ucap Khatijah menarik tangan Hanna agar juga ikut joget.
"Tidak..Hanna gak bisa buk." Ucap Hanna menolak.
"Ayo mama ikut joget!" Ucap Lala.
"Nanti adikmu pasti pintar dance kayak kamu!" Ucap Khatijah tanpa ia sadari.
"Hahaha, tidak mungkin! Adikmu laki-laki, mungkin dia lebih suka maen sepak bola seperti ayahmu." Ucap Hanna.
"Hahaha...ia benar." Ucap Khatijah. Untung saja Hanna tidak percaya dengan perkataan ibunya. Padahal Gardapati yang juga ikut mendengar jantungnya sudah hampir copot melihat kesalahan mertuanya salah berucap.
__ADS_1