
Mereka bertiga sedang asik mengobrol-ngobrol hingga di kejutkan dengan bunyi bel apartement berkali-kali membuat Sella mencibir.
Ting-ting-ting-ting-ting-ting-tong
"Itu yang menekan tombol tuh penagih hutang apa? Bisa-bisanya dia seperti rentenir."
Sella berbicara sambil turun dari pangkuan suaminya saat ada bunyi bel yang tidak henti-hentinya. Saat bi Yanti akan pergi ke arah pintu Sella langsung berbicara karena ia penasaran siapa yang menekan bel berkali-kali.
"Biar saya saja bi yang buka."
"Baik Non."
Sella langsung pergi ke arah pintu dengan raut wajah kesal, lebih kesal lagi saat membuka pintu menampilkan Ayah mertuanya.
"Di mana putraku? Saya ingin berbicara dengannya."
"Kenapa keluarga kalian itu senang sekali mengusik hidup orang?! Tadi istrimu datang mencari anda sambil memaki ibu mertua saya dan suami saya, dan sekarang yang datang anda, apa hidup kalian hanya mengusik hidup orang?!"
Sella bertanya dengan raut wajah marah, ia tidak mengerti kenapa orang tua Aska begitu gila, dan ia bersyukur karena tidak jadi menikah dengan Aska yang mungkin juga ia akan ketularan gila seperti mereka.
"Apa kamu bilang?! Tadi istri saya kemari?"
"Iya, istri anda kemari dan mengatai ibu mertuaku jallang, lalu menghina suamiku anak dari wanita jallang, apa anda tidak becus mendidik istri anda hingga mulut istri anda itu seperti sampah yang tidak bisa di daur ulang?!"
Sella tidak peduli walau pun ia tau kalau lelaki di depannya itu Ayah mertuanya, ia sangat emosi saat mereka terus saja berdatangan seperti penagih hutang.
Kenan tidak menyangka kalau istrinya sangat berani mendatangi apartement putra ke duanya, ia semakin marah pada istrinya yang terus saja semena-mena.
"Jaga bicaramu Sella, saya masih Ayah mertuamu!"
"Ayah mertua?"
__ADS_1
Sella bertanya sambil tersenyum mengejek pada Kenan.
"Jangan lupa kalau saya itu gagal menikah dengan putra anda, putra anda hanya Aska'kan? Bukan'kah dulu anda mengatakan tidak menginginkan mas Adnan? Lalu untuk apa anda datang dan meminta di akui sebagai seorang Ayah? Apa anda selama ini memberikan kasih sayang pada mas Adnan hingga anda berani minta di akui sebagai Ayahnya? Tentu saja jawabannya tidak, anda hanya membiyayai kebutuhan mas Adnan, itu pun hasil uang Bunda!"
Anisa yang mendengar kegaduhan ia langsung ke luar untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa Jamila?!"
Anisa bertanya sambil berjalan ke arah menantunya.
"Om Kenan Bunda!"
Anisa menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban dari menantunya dan melihat mantan suaminya yang sedang menatap ke arahnya.
"Anisa!"
Walau pun sekarang mantan istrinya memakai cadar, Kenan masih mengenali suara Anisa yang tidak pernah ia lupakan dalam ingatanya.
"Ada apa anda datang ke apartenent putra saya?"
Pertanyaan itu membuat Kenan merasa kalau ia hanya orang asing di kehidupan Anisa, wanita yang ia cintai namun telat menyadari.
"Apa kabar Anisa? Kamu semakin tambah sholehah."
Kenan bertanya dengan raut bahagia saat melihat Anisa ternyata baik-baik saja, setelah 15 tahun ia tidak bisa bertemu dengan Anisa, kini ia di pertemukan kembali dengan Anisa.
"Alhamdulilah saya baik, bahkan bisa di katakan saya sangat baik, ada apa anda kemari?"
Anisa bertanya ada keperluan apa sampai Kenan datang kemari, karena Kenan tidak menjawab pertanyaannya tadi.
"Aku ke sini ingin bertemu dengan putraku, aku ingin minta maaf padanya Nis, tolong biarkan aku tetap menjadi Ayahnya, aku tau kamu bisa menasehati putrku dengan sangat baik."
__ADS_1
"Adnan hanya putra saya kalau anda lupa, bukan'kah anda saat itu tidak mengakuinya? Putra anda hanya Aska, anda tidak pikun karena paktor usia'kan?"
Anisa bertanya dengan pandangan mata menunduk, sekarang Kenan bukan lagi makhromnya, jadi ia akan sangat berdosa kalau saling pandang karena akan berzina mata.
Pertanyaan Anisa membuat Kenan menghela napas berat, ia tau kalau ucapannya di masa lalu tidak bisa di maafkan, tapi sekarang ia ingin menjadi Ayah yang baik untuk putra ke duanya.
"Adnan juga putraku Nis, dia darah dagingku, bagai mana bisa kamu mengubah nama Ayahnya menjadi Morgan?"
"Bukan'kah ini keinginan anda sendiri? Anda yang tidak menginginkan putra saya, saya sadar kalau saya memang bukan wanita yang anda cintai, tapi anda juga saat itu mengatakan kalau anda tidak pernah menyayangi putra saya, saya sudah membiarkan anda memiliki perusahaan, agar anda tidak lagi menipu orang lain dengan embel-embel cinta, cukup saya yang pernah menjadi korban oleh anda."
Anisa menghela napas berat saat ingatanya mengingat masa lalu yang mencoba ia lupakan, walau pun ia sudah mengikhlaskan, tapi ia hanya manusia biasa, tentu luka itu masih membekas di hatinya.
"Jadi tolong biarkan saya hidup bahagia dengan putra dan menantu saya tanpa kehadiran orang asing lagi di kehidupan kami, kami cukup bahagia setelah sekian lama baru bisa berkumpul lagi."
Kenan menghela napas berat saat mendengar ucapan Anisa kalau ia hanya orang asing di kehidupan mereka.
"Nis, aku tau kalau kesalahanku tidak bisa di maafkan, tapi aku tau satu hal kalau kamu masih mencintaiku, mari kita kembali lagi seperti semula tanpa campur tangan dari Lusi, cukup dulu Lusi yang mengatur segalanya, dari aku menikahi kamu hingga menyetujui bercerai dengan kamu, maafkan aku Nis, karena aku lelaki yang tidak memiliki pendirian, tapi kali ini aku ingin memperbaiki segalanya. Aku ingin kita memulai lagi kisah kita tanpa campur tangan dari siapa pun, agar kita hidup menjadi keluarga bahagia."
Anisa yang mendengar ucapan dari Kenan tersenyum samar, tapi senyuman itu adalah senyuman luka, setelah sekian lama pakta itu terungkap juga dari mulut Kenan, kalau Kenan memang benar tidak sedikit pun terbesit untuk bersamanya.
Jadi selama menikah Anisa merasa menjadi orang bodoh, karena pernikahan itu terjadi oleh Lusi, andai ia tidak ingat adanya Allah, ia ingin sekali membalas luka hatinya yang hancur berkeping-keping pada orang-orang yang telah menyakitinya, tapi ia masih ingat adanya Allah, ia percaya kalau Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal dengan kelakuan kita masing-masing.
"Kalau anda merasa saya belum move-on, anda salah Ken, saya sudah bukan anak remaja lagi yang harus mementingkan kisah cinta, apa lagi saya juga sudah terbiasa hidup sendiri, saya tidak ingin ada kehadiran orang lain lagi dan membuat iman saya goyah lagi."
Sekarang Anisa memang masih terus mendalami agamanya, ia tidak ingin hatinya sampai ternoda karena hal percintaan lagi, ia memang tidak trauma dalam pernikahan, ia anggap pernikan yang sudah gagal di masa lalu sebagai pelajaran, tapi ia ingin di nikai oleh lelaki yang memiliki iman.
Itu kenapa Anisa memasukan putranya ke dalam pesantren, ia ingin putranya memiliki iman yang kuat, agar bisa melawan sifat egois dalam hati manusia.
Kenan lagi-lagi menghela napas berat, ia memang sangat tidak pantas kalau kembali lagi bersama Anisa, sekarang Anisa sudah berubah menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya.
"Nis, tolong beri kesempatan sekali ini saja."
__ADS_1
"Sudah saya katakan tidak ada kesempatan ke dua untukmu."