
Ah, kenapa aku harus menerima tawarannya. Benar-benar bodoh! Apakah aku ingin membuat perangkap untuk diri sendiri. Jika sampai Carlos tau aku adalah Keisya? Apa aku tidak perlu datang? Tapi, bagaimana jika dia benar-benar memperbesar masalah ini.
" Hei..Kei...Kau tidak mendengarku?" Ucap Meimei yang semenjak tadi bercerita, namun Keisya malah melamun.
"E..ya..apa? sampai dimana?" Tanya Keisya yang baru menanggapi Meimei. Padahal Meimei telah berkali- kali menyadarkan Keisya.
" Ih.. Kei..apakah kau tidak sedikit pun mendengar ceritaku. Padahal aku sudah panjang lebar menjelaskan. Apa sih yang kau fikirkan Kei?" Tanya Meimei cukup penasaran.
" Penguntit menyebalkan!" Ucap Keisya tanpa sadar mengumpati Carlos.
" Siapa? penguntit?? Siapa yang mengikutimu Kei?" Tanya Meimei yang mendengar jelas perkataan Keisya.
Opss...ah, kenapa mulutku sendiri tidak bisa di ajak kompromi sih.
" Eh seseorang, sepertinya dia tidak waras. Saat aku naek bus ke sekolah. Sudah lah Mei jangan di bahas. Cerita mu tadi sampai dimana?" Ucap Keisya berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Hemps. Sekarang kau dengarkan baik-baik...Aku ingin kau mengajariku memakai ayeliner. Bagaimana jika nanti sore kau ke rumahku, atau aku yang ke rumahmu. Ya benar, kau kan sudah pernah ke rumahku. Jadi aku boleh dong maen ke rumahmu Kei?" Tanya Meimei.
" Apa? Ke rumahku? Nanti sore?" Tanya Keisya terkejut. Malam ini tentu Keisya tidak bisa karena ada jadwal janji makan malam bersama Carlos. Apalagi Keisya tidak mungkin menerima permintaan Meimei menyangkut soal berkunjung ke rumahnya yang mewah.
" Kenapa kau terkejut?" Ucap Meimei heran melihat keterkejutan Keisya.
" E..Mei, nanti sore aku dan keluargaku tidak ada di rumah. Kami akan ke rumah nenek." Ucap Keisya berasalan. Padahal rumah Elapati berlainan negara.
" Nenekmu juga ada di negara ini Kei, bukankan kau asli Indonesia?" Ucap Meimei.
" E.. benar, nenekku menikah dengan orang sini." Ucap Keisya berbohong.
***
Ada apa dengan mereka? kenapa mereka tertawa? Apakah aku lucu, bukankah mereka telah biasa melihat penampilanku seperti ini?
Keisya menatap heran seluruh temannya yang tertawa terbahak-bahak melihatnya. Begitu pun dengan Meimei yang sangat kebingungan dengan sikap para teman sekolahnya yang berjejer di sekitar lorong sekolah.
" Kei, apa ada yang salah dengan kita? Kenapa mereka tertawa?" Tanya Meimei.
__ADS_1
" Entahlah, mungkin semua sedang kerasukan setan." Ucap Keisya memilih meneruskan langkahnya dan tidak menghiraukan mereka.
Lalu tiba-tiba seseorang memegang tangan Keisya hingga Keisya tertarik dan sontak tubuhnya berputar dan berakhir mendekap di tubuhnya.
Carlos!
Hingga Keisya sekarang tepat menempel ke tubuhnya hingga tatapan mata mereka saling bertemu. Bukan hanya itu saja, Carlos juga merangkulnya hingga membuat Keisya benar-benar kebingunan dengan sikap mendadaknya. Sedangkan Meimei menutup mulutnya yang tengah terbuka lebar karena sikap Carlos.
" Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan?" Ucap Keisya gelagapan karena tubuhnya kini sedekat permen karet.
Apa dia sekarang sudah mengenaliku?
" Lepaskan aku...lepaskan!" Ucap Keisya yang saat ini berada di pelukan Carlos.
Apa dia sudah gila? Dasar pria brengsek!
" Kau memang gadis pemarah! Jangan salah paham. Aku ingin melepas tempelan kertas yang berada di punggungmu." Jelas Carlos melepas pelukannya karena sudah berhasil melepas kertas yang berada di punggung Keisya. Kertas dengan kata bullyan, membuat semua orang yang membacanya tertawa.
Apakah ada yang memiliki pembalut, maaf aku sekarang lagi datang bulan!
" Kei!!" Ucap Meimei yang mengerti akan sikap Carlos dan menarik Keisya menjauh dari kerumunan siswa lainnya.
" Carl terima kasih!" Ucap Meimei dan bergerak menjauh.
What? Aku datang bulan? Tidak, aku sudah menstruasi bulan ini! Apakah aku datang bulan lagi? Dan ini tulisan siapa? Siapa yang menulis ini? mengapa dia tau? Dan aneh, saat datang bulan hari pertama aku merasakan sakit perut. Sekarang tidak!
" Kei, tunggu disini sebentar, aku ambilkan pembalut!" Ucap Meimei kepada Keisya saat mereka telah sampai di toilet. Meimei meninggalkan Keisya sendiri. Dan Keisya masuk ke toilet dan memeriksanya.
Beberapa menit kemudian Meimei kembali dengan sebuah pembalut.
" Kei, ini!" Ucap Meimei menyodorkan pembalut.
" Aku tidak datang bulan Mei, ini hanya jebakan agar aku menjadi malu!" Jelas Keisya merasa geram ketika mengetahui noda merah di roknya bukan darah melainkan pewarna yang menyerupai darah.
" Tapi, di rokmu?" Tanya Meimei.
__ADS_1
" Itu hanya pewarna! Lagi pula siapa yang tau jika aku sedang datang bulan selain diriku?" Lanjut Keisya menatap cermin.
" Apa!!! Sialan, siapa sih yang melakukannya? ini sungguh keterlaluan!" Ucap Meimei.
" Saya yang melakukannya!" Tiba- tiba Geisha datang seorang diri mengaku bahwa dirinyalah sang pelaku.
Meimei dan Keisya terkejut dengan kedatangan Geisha yang tiba-tiba.
" Apa maksudmu melakukan hal tidak senonoh seperti ini?" Ucap Meimei.
" Haha, kalian saja yang bodoh. Dan kau cupu! Beraninya kau mengambil posisiku sebagai tim cheerleaders di sekolah ini! Kau hanya sampah! " Ucap Geisha mengumpat. Geisha hanya seorang diri tanpa temannya yang telah beralih ketika tau Keisya lebih hebat dari Geisha.
" Apa kau bilang? Dia hanya membantumu ketika kau sekarat. Salah siapa kamu sok-sokan manjat gitu. Kalau gak ahli ya gitu deh akibatnya. Jadi jangan salahkan Kei!" Ucap Meimei membela.
" Diam! Kau jangan ikut campur! Atau kau akan merasakan akibatnya! Ternyata kalian itu sama saja. Ulat yang baru saja belajar terbang jadi kupu-kupu. Dan kau jangan coba-coba merebut kekasihku!" Ucap Geisha dengan mata berapi-api. Dia cukup marah dengan apa yang terjadi. Kedudukannya bergeser karena Keisya dan Meimei yang sebelumnya di anggap remeh dengan Geisha.
" Sedangkan kau kupu-kupu lama! Waktunya sayapmu patah dan mati!" Ucap Keisya yang membuat Geisha semakin menyulut. Sekali Keisya berucap membuat Geisha terhenyak menggila dengan perkataan Keisya.
" Apa kau bilang! Kalian tidak tau siapa aku? Aku bisa mendepak kalian dari sekolah ini." Ucap Geisha.
" Silahkan kalau kau bisa! Aku tunggu!" Ucap Keisya.
" Hah! Baiklah! dan Kau Mei, bukankah ayahmu bekerja di perusahaan Mosa! Dan kau tau pemilik perusahaan ayahmu bekerja siapa?" Ucap Geisha.
" Tunggu saja. Aku pastikan, besok kalian sudah tidak berada disini. Bahkan ayahmu Mei, Aku pastikan dia akan kehilangan pekerjaan. Bye..." Lanjut Geisha melangkah keluar dengan bangga dengan senyum sinis.
Apa? jangan-jangan perusahaan ayahku bekerja adalah miliknya.
" Jangan dengarkan dia Mei, Ayo kita pergi." Lanjut Keisya menarik tangan Meimei.
" Tunggu dulu Kei, Bagaimana jika ayahku bekerja di perusahaan miliknya?" Ucap Meimei terdiam merasakan takut jika ayahnya benar-benar di berhentikan dari pekerjaannya.
" Tidak Mei, Dia hanya mengancam!" Ucap Keisya berusaha meyakinkan Meimei yang takut.
" Jangan takut Mei, ada aku!" Ucap Keisya.
__ADS_1