Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
BAB. 44 Mengenali aroma parfum


__ADS_3

Menurut Adnan Lusi itu sangat gila, mengatai Bundanya jallang, tapi Lusi menikmati harta milik Bundanya, benar-benar sangat menjijikan.


Setelah kepergian Lusi yang di seret paksa oleh satpam. Kini mereka langsung masuk ke dalam apartement, bi Yanti beberapa saat mematung saat wanita bercadar yang di genggam tangannya oleh Adnan melewatinya masuk mengikuti Adnan.


Aroma parfum wanita bercadar itu membuat bi Yanti mematung, walau pun ia sudah lama tidak bekerja di rumah Anisa, tapi ia masih ingat aroma parfum milik Anisa, aroma parfum itu tidak ada di pasaran, itu adalah buatan Anisa sendiri, bagai mana pun juga Anisa selalu menyukai membuat komsetik termasuk parfum.


Walau pun Anisa mengeluarkan produk ke pasaran, hanya satu parfum yang di pakai Anisa tidak di jual di pasaran, jadi bi Yanti sangat hapal dengan aroma parfum itu. Setelah itu bi Yanti juga ikut masuk ke dalam mengikuti mereka yang sudah duduk di sofa.


"Hhmm, mau minum apa iya den buat Non."


Walau pun bi Yanti berpikir kalau wanita itu Anisa, ia takut kalau itu bukan Anisa, jadi ia memanggil wanita bercadar itu dengan panggilan Non.


Anisa langsung berdiri, ia membuka cadarnya sambil tersenyum lebar, lalu langsung memeluk bi Yanti yang memang sudah seperti keluarga sejak dulu.


"Saya tidak menyangka kalau kamu bekerja di putraku bi, setengah bulan yang lalu saya baru mendengar kabar kalau suami bibi meninggal, turut berduka bi, semoga amal ibadah mamang di terima dan di tempatkan di sisi terbaiknya."


Bi Yanti juga membalas pelukan dari Anisa sambil meneteskan air mata bahagia, ia tidak menyangka kalau ia akan bisa bertemu lagi dengan Anisa.


"Saya tadi sudah menduganya kalau itu ibu, tapi saya mau bilang takut salah, soalnya aroma parfum ibu tidak pernah saya lupakan di indra penciuman saya."


Bi Yanti memang selalu memanggil ibu pada Anisa sesuai permintaan Anisa, ia tidak suka kalau di panggil Non, walau pun Anisa lebih muda 15 tahun dari Bi Yanti.


"Ternyata bibi masih ingat juga."


Setelah mengatakan itu mereka melepaskan pelukannya. Anisa sangat senang saat tau bi Yanti tidak melupakannya.


"Wajah ibu?"


Bi Yanti bertanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat wajah Anisa berbeda, mau pun dulu atau sekarang wajah Anisa memang cantik, bahkan sekarang sangat cantik dan bercahaya, bisa bi Yanti tebak kalau iman Anisa semakin bertambah setelah berpisah dengan Kenan.


"Saya mengalami kecelakaan bi jadi saya melakukan oprasi."


Jawaban Anisa membuat bi Yanti sangat kuatir, terlihat jelas di mata Anisa.


"Saya sudah tidak apa-apa bi, bibi tidak perlu kuatir."


Anisa berbicara sambil tersenyum lebar, ia memang sudah tidak kenapa-kenapa, bahkan luka hati yang di buat Kenan 15 tahun lalu sudah sembuh, hatinya sudah bisa menerima dengan ikhlas, sesuai keinginan Kenan, kalau Kenan tidak memginginkan putranya maka dari itu ia mengubah nama Ayah untuk putranya.


"Eh iya ibu mau di buatin teh melati?"

__ADS_1


"Iya bi."


Bi Yanti mengangguk pelan, ternyata kesukaan minuman Anisa masih sama, yaitu teh melati.


"Yul, sini ada ibu datang."


Bi Yanti memanggil putrinya saat putrinya sedang membawa sapu.


"Iya bu."


Yuli langsung mencium punggung tangan Anisa.


"Waduh Yuli sudah besar sekarang iya bi?"


Anisa tersenyum lebar saat melihat Yuli sudah tumbuh menjadi seorang Gadis remaja.


"Iya Bu, kalau begitu saya tinggal ke dapur dulu."


"Iya bi."


Setelah bi Yanti dan Yuli pergi Anisa langsung duduk lagi, tidak ada yang berubah di apartement itu walau pun di tinggal 15 tahun, bahkan guci-guci yang ada di meja masih tertata rapih seperti saat ia menata guci-guci itu terakhir kali.


"Iya Bunda, selalu masih sama, dulu Adnan kalau bersih-bersih selalu menata ketempat semula, begitu pun semenjak ada bi Yanti dan putrinya, Adnan menyuruh mereka agar menata seperti semuala, hanya itu kenangan yang Adnan miliki, jadi Adnan tidak mau ada yang di rubah."


Mendengar jawaban dari putranya air mata Anisa langsung menetes, ia merasakan hatinya sangat sakit saat mendengar jawaban dari putranya.


"Maafkan Bunda nak."


Anisa berbicara sambil memegang lengan kanan putranya, hanya kata maaf yang lagi-lagi terucap dari mulutnya saat putranya membahas masa lalu yang membuat hatinya sangat sakit. Adan langaung memegang tangan Bundanya dengan ke dua tangannya sambil tersenyum lebar.


"Untuk apa Bunda minta maaf? Bunda tidak salah pada Adnan, semuanya hanya tinggal masa lalu, justru setelah kejadian di masa kecil Adnan, semua yang sudah terjadi Adnan anggap sebagai pelajaran buat Adnan di masa depan. Adnan berharap kalau cinta Adnan dan Jamila di iringi dengan iman, agar tidak ada kata egois dan tidak ada anak-anak Adnan yang menjadi korban perceraian."


Anisa tersenyum lebar sambil mengusap pipi putranya, ternyata pemikiran putranya sudah sangat dewasa. Namun berbeda dengan Sella saat mendengar jawaban dari suaminya langsung meneteskan air mata, ia sedih dan terharu.


Sedih karena Sella tau masa lalu suaminya sangat menyedihkan, tapi ia terharu saat tau kalau suaminya selalu berpikir dewasa. Adnan yang melihat istrinya menangis karena duduk bersebrangan, ia sangat terkejut.


"Jamila kamu kenapa menangis? Apa karena mas mengabaikan kamu? Mas minta maaf. Ayo kemari."


Sella menjawab ucapan dari suaminya dengan menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah suaminya.

__ADS_1


Adnan langsung menarik istrinya dalam pangkuannya hingga membuat Anisa tersenyum lebar sambil bergeser sedikit saat melihat putranya memperlakukan istrinya dengan sangat baik.


"Kenapa menangis hhmm?"


Adnan bertanya sambil mengusap sisa air mata istrinya yang menetes.


"Jamila menangis bukan karena di cuekin oleh mas, tapi jawaban mas membuat Jamila terharu dan merasa beruntung memiliki mas."


"Katanya selalu beruntung, tapi di suruh sholat masih malas-malasan, bagai mana mau bersyukur pada Allah?"


"Ih mas, jangan malu-maluin Jamila sama Bunda."


Sella memukul dada suaminya pelan, ia merasa malu dengan pertanyaan suaminya karena ibu mertuanya sangat ta'at agama, sedangkan ia tidak.


"Biar Bunda tau kalau menantunya sangat malas sholat."


"Ternyata mas menyebalkan!"


Adnan hanya tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari istrinya, ia langsung mencium kening istrinya sekilas yang tertutup oleh ciput.


"Mas jangan cium Jamila, malu tau ada Bunda."


"Ngapain harus malu? Kita sudah sah Jamila, Bunda juga pernah muda."


"Ngapain harus malu Jamila? Bunda senang saat melihat rumah tangga kalian sangat romantis, Bunda berharap kalian berdua di pisahkan karena batas waktu kalian habis di dunia, bukan karena keegoisan kalian berdua."


Anisa berbicara sambil tersenyum lebar, ia sangat senang saat melihat putra dan istrinya itu sangat mesra, walau pun ia tau pernikahan mereka di dasari dengan mendadak dan tidak saling mengenal karena seharusnya Sella menikah dengan Aska, tapi ia sangat senang saat tau mereka sudah saling mencintai.


"Amin."


Adnan dan istrinya mejawab serempak saat mendengar ucapan dari Bundanya.


"Ini bu tehnya."


Bi Yanti meletakan teh melati di depan Anisa sedangkan di depan Adnan ia metakan dua gelas jus.


"Iya bi terima kasih."


"Iya bu, sama-sama."

__ADS_1


Setelah bi Yanti pergi ke dapur lagi, mereka bertiga langsung memulai obrolan ringan dengan Sella yang masih tetap duduk di pangkuan suaminya.


__ADS_2