Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
BAB. 40 Menceritakan masa lalu


__ADS_3

Adnan menghela nafas berkali-kali sambil beristighfar saat mendengar penjelasan dari Bundanya, ia memang merasa sangat sedih saat mendengar Bundanya kecelakaan, tapi ia kecewa saat mendengar Bundanya berpikir kalau ia tidak membutuhkan Bundanya.


Selama 15 tahun Adnan menunggu hari ini, selama 15 tahun ia berdo'a agar bisa bertemu Bundanya kembali, selama 15 tahun ia berusa menjadi lebih baik lagi dan lagi agar kelak Bundanya datang ia bisa menjadi putra yang bisa Bundanya banggakan, tapi Bunda yang selama ini ia tunggu-tunggu untuk kembali, nyatanya berpikir kalau ia tidak membutuhkannya.


Adnan tidak mengerti kenapa Bundanya sampai berpikir seperti itu, tidak ada seorang anak yang tidak menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, begitu pun dengannya, sebahagia apa pun kehidupan yang ia jalani, tapi hati kecilnya masih memiliki harapan-harapan untuk Bundanya kembali.


Sebahagia apa pun kehidupan yang Adnan jalani, tapi do'a yang utama di setiap sujudnya adalah ingin di pertemukan kembali dengan Bundanya.


"Bunda berpikir terlalu jauh, tidak ada seorang anak yang tidak menginginkan kasih sayang dari orang tuanya, seharusnya Bunda berpikir kalau Ayah sudah membuang Adnan, jadi harusnya Bunda memberikan kasih sayang yang lebih untuk Adnan, bukan berpikir seperti itu, apa Bunda tidak tau, betapa berat kehidupan Adnan yang di jalani selama ini, memikul beban daru kecil, dari kecil Adnan sudah di hadapkan dengan berkas-berkas Alfero Grup dan menghitung pemasukan dari Apartement Alfero? Apa Bunda tidak berpikir di usia Adnan yang masih terbilang muda, seharusnya Adnan masih menjalani kehidupan seperti anak-anak pada umumnya."


Dulu Adnan sempat mengeluh tentang hal itu semua, ia belajar dewasa dan mandiri di usianya yang terbilang masih kecil, ia tidak berani untuk meminta pertolongan pada Kakek atau Neneknya, karena yang ia tau, ke dua orang tuanya saja tidak pernah menginginkan kehadiranya, tanpa bantuan pak Samsul dan istrinya, mungkin ia tidak bisa memikul beban yang sangat berat, tapi ia selalu bersyukur, karena mereka sangat jujur dan baik hingga saat ini, kalau pun ia tidak mengerti pak Samsul selalu menasehatinya.


Apa lagi yang Adnan butuhkan saat kecil memang nasehat, nasehat itu penting agar ia benar-benar menjadi lelaki yang bermanfaat.


"Dulu, Adnan selalu berpikir bagai mana Adnan mempertahankan semuanya yang di tinggalkan Bunda hingga Bunda kembali dan berpikir bagai mana caranya agar Adnan bisa sukses, agar Ayah tau kalau putra yang Ayah buang itu bisa sukses tanpa bimbingan darinya."


Air mata Adnan mengalir deras lagi, bahkan air matanya semakin deras, saat ia mengingat masa lalunya yang sangat menyedihkan hingga membuat hatinya sangat terluka.


Anisa menangis tersedu-sedu saat mendengar ucapan dari putranya, seharusnya dulu ia mendengar permintaan dari ke dua orang tuanya agar tidak menikahi Kenan, tapi cinta membuatnya menentang ke dua orang tuanya hingga putra yang tidak bersalah menjadi korban karena keegoisannya.

__ADS_1


Hati Anisa begitu sangat terluka saat mendengar ungkapan dari putranya, seharusnya putranya membencinya. Bahkan Anisa merasa kalau ia tidak pantas di panggil Bunda.


Semua yang ada di ruang keluarga juga sangat sedih, begitu pun dengan Sella, air matanya langsung mengalir deras saat mendengar ucapan dari suaminya, ia tidak menyangka kalau kehidupan suaminya saat kecil sangat menyedihkan, bahkan hingga awal-awal menikah, ia memperlakukan suaminya dengan sangat buruk, tapi suaminya sangat sabar menghadapinya, hingga ia tau kalau kesabaran suaminya sudah di latih dari kecil.


"Maafkan Bunda nak, Bunda tidak bisa mendidik kamu dengan baik, bahkan Bunda telah membuat kamu menderita selama ini."


Anisa minta maaf sambil menghapus air mata putranya dengan ke dua ibu jarinya, dulu ia memang merasa sangat bersalah, tapi kali ini ia lebih bersalah lagi saat mendengar ungkapan yang ada di dalam hati putranya.


"Semuanya sudah berlalu Bunda, sekarang Adnan sudah tidak menderita lagi tentang hal itu, karena sekarang Adnan sudah dewasa."


Anisa menangis sambil tersenyum getir, ucapan dewasa putranya mampu membuat ia seperti tertusuk ribuan belati, tapi ia juga bersyukur karena sifat putranya selalu berpikir dewasa, sedangkan ia dan Kenan seperti anak-anak yang pergi dengan keegoisan masing-masing.


Adnan menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum samar.


"Bagai mana Adnan bisa membenci Bunda kalau di setiap sujud Adnan selalu menyebut nama Bunda? Adnan tidak pernah sedikit pun membenci Bunda, tapi Adnan sangat kecewa dengan Bunda. Namun Adnan juga sadar perkara permasalahan ini di mulai oleh Ayah, satu hal yang pernah Adnan benci saat mendengar pengakuan darinya, Adnan benci memiliki hubungan darah dengan lelaki brengsek sepertinya, entah apa kurangnya Bunda, dan apa kurangnya Adnan, hingga Ayah mengatakan hal yang tidak sepantasnya Adnan dengar saat kecil."


Air mata Adnan masih mengalir deras, hingga 15 tahun hatinya masih belum bisa berdamai dari masa lalu.


"Adnan tau Bunda pergi karena hati Bunda terluka, saat Ayah mengatakan tidak pernah menyayangi Adnan, semua yang di lakukannya hanya kepalsuan untuk mendapatkan perusahaan itu, Adnan tau Bunda sangat kecewa karena si brengsek itu tidak mengakui Adnan sebagai putranya, tapi Adnan saat itu tidak masalah kalau Ayah tidak menginginkan Adnan, masih ada Bunda yang menyayangi Adnan, namun Bunda juga ikut pergi untuk meninggalkan Adnan."

__ADS_1


Sebenarnya Adnan tidak ingin mengingat masa lalunya lagi, tapi ia merasa memiliki banyak beban saat semua unek-uneknya selama 15 tahun tidak ia keluarkan pada siapa pun, dan hari ini ia menceritakan semua rasa kesedihan di masa lalunya, dan ia juga berharap kalau ia bisa berdamai dengan masa lalu yang sangat menyakitkan.


Sella yang mendengar semua ucapan suaminya, tangisanya tidak bisa ia tahan, ia menangis tersedu-sedu, rasanya sangat sakit, ia pikir ia adalah orang yang paling menyedihkan saat gagal menikah dan di permalukan, tapi nyatanya suamiya jauh lebih menyedihkan.


Isabel langsung memeluk cucu menantunya saat mendengar tangisan cucu menantunya, ia juga memang sangat sedih, lebih sedih lagi saat mengingat permintaan Anisa untuk tidak memanjakan cucunya, hingga cucunya memikul beban berat itu sendiri, tapi ia bangga karena nyatanya cucunya itu mampu memikul sendiri penderitan itu dan menjadi cucu yang ia banggakan.


Dari cucunya memegang kendali Alfero Grup, lalu Apartement Alfero, dan termasuk sebagai pengacara muda, ia sangat bangga karena cucunya itu sangat pintar, cucunya mampu berpikir dewasa dari usianya yang seharusnya masih senang bermain-main.


"Jangan menangis Jamila, ini lah masa lalu suamimu, Nenek harap kamu lebih menyayangi suamimu lagi, dari kecil Adnan selalu belajar dewasa dan dewasa, jadi tolong kamu memahami hatinya yang ternyata sangat terluka."


Isabel berbicara sambil mengusap kepala cucu menantunya yang tertutup hijab.


"Jamila tau Nek, dan Jamila akan lebih menyayangi mas Adnan, bukan karena permintaan dari Nenek, dan juga bukan karena rasa kasihan terhadap masa lalu mas Adnan, tapi karena rasa Jamila sangat mencintai mas.Adnan."


Isabel mengecup kepala cucu menantunya sekilas, ia suka dengan pemikiran cucu menantunya, tidak heran kalau cucunya menikahi Sella, walau pun usia Sella lebih tua 4 tahun dari cucunya, tapi Sella memang pantas untuk mendampingi cucunya.


"Terima kasih Jamila."


"Nenek jangan berterima kasih, karena Jamila memang sangat mencintai mas Adnan."

__ADS_1


__ADS_2