Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
Berharap dan berharap


__ADS_3

Keluarga Pati tengah berkumpul di ruang tamu. Menikmati siang hari dengan perbincangan hangat. Sudah lama mereka tidak bertemu. Karena kesibukan Gardapati yang mengharuskan berpindah-pindah tempat.


" Semakin besar dia sangat mirip denganmu Bel." Ucap Hanna. Matanya berbinar-binar melihat betapa menggemaskannya, jika sampai dirinya mempunyai seorang bayi. Dua sahabat karib tersebut lebih memilih menikmati teh hijau sambil berbincang. Berbeda dengan Adik kakak tiri yang memilih menghabiskan kehangatan dengan sebatang rokok.


" Benarkah? Tapi lihatlah Han, bukankah hidungnya menyerupai mas Adi." Ucap Bella melihat hidung baby Atar mirip dengan suaminya.


" Kau sangat beruntung Bel, bisa mendapatkan putra selucu dirinya. Andai saja, dulu aku bisa menjaga bayiku dengan baik. Mungkin dia lebih besar dari putramu sekarang." Jelas Hanna mengingat kenangan ketika dirinya merasakan kehamilan.


" Sabar Han, tidak ada kata tidak mungkin." Ucap Bella menyemangati sahabatnya yang kehilangan harapan tersebut.


" Usiaku dan mas Garda tidak muda lagi Bel. Kemungkinan untuk berhasil 44,5 %. Aku takut gagal, dan hanya tersisa harapan kembali." Jelas Hanna mencoba pasrah jika dirinya tidak memungkinkan memiliki seorang anak lagi. Bahkan mata sipit bak cina itu telah tergenang air mata.


" Han, kau harus yakin. Bukankah kau hanya sekali mencoba. Mungkin proses bayi tabung itu akan positif. Dan Atar akan mempunyai seorang teman sekaligus kakak." Jelas Bella. Bella mengetahui jika berbagai usaha di lakukan oleh Hanna dan Gardapati untuk mendapatkan seorang anak. Mungkin takdir masih belum berpihak kepada dirinya, sehingga sampai saat ini Hanna masih belum dikarunia seorang anak.


" Ah lihatlah, dia sudah tertidur di pelukanmu. Seharusnya dia tidak senyenyak itu. Dia begitu aktif di umurnya kini." Ucap Bella melihat baby Atar sudah tertidur di pelukan Hanna.


" Dia begitu lucu. Rasanya ingin menahanmu lebih lama lagi disini. Tapi sayang, Ayahmu terlalu sibuk! Bel, tak bisakah kau lebih lama lagi disini?" Rengek Hanna. Dia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang bayi walaupun hanya sebentar. Namun sayang, karena pekerjaan Adipati yang tidak bisa di tunda, mengharuskan Adipati dan Bella pulang.


"Maaf Han, bagaimana aku bisa meninggalkan dia seorang diri. Jika ada libur panjang, aku akan tinggal beberapa pekan di rumahmu ini. " Jelas Bella.


***


Jam istirahat telah usai, akhirnya Keisya yang sedang makan bersama dengan Meimei harus kembali ke kelasnya. Mereka berjalan melewati lapangan basket untuk sampai di kelas. Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba bola basket terlempar ke arah Keisya dan Meimei, yang menyebabkan Meimei terjatuh tergeletak. Bola basket tersebut tepat mengenai kepala Meimei. Keisya dan beberapa pemain basket datang menolong Meimei yang pinsan. Tanpa basa basi pria tampan dari pemain basket tersebut langsung membawa Meimei ke Uks sekolah yang di ikuti oleh Keisya, yang sudah terlihat panik semenjak tadi.


" Ya ampun, Meimei..." Ucap Keisya terlihat khawatir dengan keadaan sahabatnya tersebut. Sedangkan pria tampan tersebut sedang sibuk menyadarkan Meimei.


" Hei... Apakah kau tidak bisa berhati-hati saat bermain bola basket? Lihatlah dia sampai pinsan terkena bolamu! " Ucap Keisya terlihat sangat marah.

__ADS_1


" Maafkan aku, Aku benar-benar tidak sengaja." Ucap pria tampan itu menatap Keisya lalu beralih menyadarkan Meimei lagi.


" Bagaimana jika bola itu mengenai kepalamu sendiri?" Ucap Keisya tersulut emosi.


" Sudahlah, tak akan terjadi apa-apa. Sebentar lagi dia akan sadar." Ucap pria itu.


" Bagaimana jika tidak sadar. Kau harus benar-benar bertanggung jawab." Lanjut Keisya.


" Aku tidak pernah lari dari tanggung jawab. Kau tenang saja." Jawab pria itu.


Kau pikir siapa dirimu! Pria menyebalkan! Aku tidak akan lari dari tanggung jawab! Awas saja jika terjadi sesuatu dengan Meimei. Kau akan menerima akibatnya.


Beberapa saat kemudian Meimei tersadar setelah pria tampan itu mengoleskan minyak angin di bagian hidungnya.


" Akh..Dimana aku?" Ucap Meimei memegang kepalanya yang terasa berat setelah sadar dari pinsannya.


" Mei kau sudah sadar?" Ucap Keisya langsung memberikan kacamata Meimei.


Tampannya...


" Mei, kau baik-baik saja?" Ucap Keisya.


" Maafkan aku, bolaku mengenai kepalamu." Ucap pria tampan yang masih memakai baju basket itu. Postur tubuh tinggi dan sispex, potongan rambut undercut yang menambah maskulin, kulit putih dan alis tebal, bahkan lesung pipi tersebut begitu nampak saat ia berbicara.


Pria tersebut berusaha menjelaskan dan juga meminta maaf. Tapi Meimei hanya merespon dengan senyuman.


Kok Meimei malah tersenyum sih? Apakah ada yang salah dengan otaknya, setelah terkena lemparan bola?

__ADS_1


" Hehe..Gakpapa kok!" Ucap Meimei tak lepas tersenyum, seakan dirinya terkena bola adalah sebuah keberuntungan bagi dirinya.


" Baiklah, jika kau baik-baik saja. Sekali lagi maafkan aku." Ucap pria tampan itu dan bergegas pergi dari hadapan Meimei dan Keisya.


" Mei, Kenapa kau tersenyum-senyum. Bukankah memberi hukuman karena dia membuatmu pinsan." Ucap Keisya menatap heran Meimei yang tak berhenti tersenyum.


" Aku menyukainya." Ucap Meimei dengan memegang kepalanya yang seakan berputar.


" What? Kau benar-benar baik-baik saja kan Mei. Aku rasa ada yang salah dengan otakmu! " Ucap Keisya membantu Meimei yang berusaha duduk.


" Bukankah dia sangat tampan! Senyumnya, matanya." Ucap Meimei terus menatap pria itu yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.


" Itu sudah tidak penting lagi. Tapi kau pinsan karena dia."Jelas Keisya kesal.


" Dia adalah pria terpopuler di sini." Ucap Meimei.


" Tapi sayang dia sudah mempunyai kekasih." Ucapnya Lagi.


" Kau tau pacar dia siapa?" Lanjut Meimei.


" Enggak!" Ucap Keisya singkat.


Emang penting tau siapa pacar dia! Ya ampun, otak Meimei benar-benar bermasalah.


" Geisha. Bukankah dia dan Geisha pasangan yang tidak cocok!" Ucap Meimei tak berhenti menjelaskan pujaan hatinya tersebut.


Mau Geisha kek, siapapun dia. Aku tidak peduli.

__ADS_1


" Oke Mei, sudah cukup kau jelaskan pangeranmu itu. Sekarang, apakah kau bisa berdiri? apakah kepalamu masih sakit?" Ucap Keisya khawatir.


" Kau benar-benar tidak menyukainya ya. Ah, kepalaku sedikit berputar." Ucap Meimei memegang kepalanya.


__ADS_2