
Suasana pengadilan begitu mencengkam, wajah Gardapati dan Hanna memucat ketika pembelaan paman Ande sang pengacara tidak cukup melawan Anisa. Benar, jika uang adalah segalanya. Nyatanya Gardapati dan Hanna tidak mampu berkutik, melihat ketua hakim yang akan segera menjatuhkan hak asuh Lala ke tangan Anisa. Khatijah, Bella dan Adipati turut berada di sana.
Sedangkan Anisa menyimpulkan senyum miring di bibirnya, seakan-akan kemenangan sudah berada di tangannya. Bahkan suaminya yang tua renta juga ikut bersamanya. Gardapati tau kenapa Anisa menginginkan Lala kembali setelah meninggalkannya. Usia Anisa yang mendekati menopause tidak memungkinkan dirinya mengandung lagi. Sedangkan suaminya pasti menginginkan keberadaan seorang anak untuk mengatasi kesepian mereka.
Mereka sisa menunggu detik ketua hakim memukul palunya. Gardapati mengepalkan tangannya, matanya begitu tajam, otaknya mendidih. Rasanya ingin sekali saat ini dirinya membawa kabur putri kesayangannya dan juga istrinya. Begitupun dengan Hanna, jantungnya semakin berdetak kencang. Seakan-akan menunggu jantungnya berhenti berdetak menunggu ketua hakim mengetuk palu. Tak terasa air matanya telah meluncur hebat di atas pipinya, ia tak kuasa jika harus melepaskan Lala sang buah hati angkatnya.
Beberapa kali Adipati juga berharap sang nenek yaitu Elapati berubah pikiran dan datang ke pengadilan untuk mendukung sang kakak tiri. Ia menoleh kebelakang mengharap kedatangan Elapati.
Tok...tok..tok
"Pengadilan memutuskan hak asuh anak jatuh kepada ..."
Ruangan pengadilan tersebut menjadi sunyi, Gardapati dan Hanna terlihat tidak mau mendengar keputusan ketua hakim, yang tentu akan terjatuh di tangan Anisa. Ia menahan hatinya yang sebentar lagi akan tertusuk kembali, namun air mata itu telah mengalir deras sebelumnya. Jantung Gardapati pun kian berdetak kencang dan mungkin akan terhenti seketika mendengar keputusan pengadilan. Khatijah tidak berhenti berdoa mengharapkan sebuah keajaiban. Bella juga merasakan bagaimana perasaan sahabatnya kali ini, ia memejamkan matanya berharap tidak melihat ketidak adilan yang terjadi. Sedangankan Adipati terus menatap pintu masuk ruangan pengadilan mengharap kedatangan Elapati. Disisi lain Anisa tersenyum sambil memegang lengan suaminya, ia sudah tidak sabar menunggu keputusan ketua hakim yang pastinya akan jatuh di tangannya. Ia akan segera membawa pulang putri kandungnya itu.
" Tunggu..." Teriakan dari arah belakang itu membuyaran keheningan ruangan pengadilan.
Semua orang menoleh ke arah belakang mencari sumber suara yang ternyata adala Elapati. Dengan kursi rodanya dan juga Lala serta beberapa anak buahnya yang ikut mendorongnya.
Brengsek...Sedang apa nenek tua itu disini? jangan bilang kau akan ikut campur dengan masalah hak asuh anakku.
Anisa begitu terkejut dengan mata menyala. Ia mengepalkan tangannya.
Nenek!
Nenek!
Nenek!
Lala!
Nenek datang! akhirnya Hanna berhasil mengubah hati nenekku yang keras.
__ADS_1
Nenek,Lala!Aku yakin batu yang keras akan hancur dengan tetesan air. Lala? apa kau menemui nenek?
Nenek! Apa kau ingin mendukungku?sejak kapan kau peduli terhadapku? Bagaimana putriku bisa bersamanya?
" Tunggu ketua hakim, kau harus mendengar kembali pembela sekali lagi." Ucap Elapati menghampiri Ande. Dia berusaha bicara dan Ande terlihat tersenyum mengangguk-ngangguk.
"Baiklah, silahkan pembela menyampaikan pendapat!" Ucap ketua hakim.
Akhirnya paman Ande menyampaikan bahwa kekayaan Pati telah di wariskan kepada Gardapati yang membuat harta kekayaan Anisa kalah dengan harta Gardapati. Paman Ande langsung memberikan surat warisan yang di beri Elapati sebagai bukti bahwa Gardapati bisa menunjang masa depan Lala.
Ketua Hakim sedang berdiskusi kepada anggota hakim. Lalu ia mulai berbicara.
"pak Hakim, saya tidak ingin ikut dengan wanita jahat itu. Mama saya adalah mama Hanna." Teriak Lala yang sedang bersama Elapati. Elapati tersenyum melihat cucunya yang sangat berani tersebut.
" Apa sayang? ini mama nak, mama kandungmu. Kenapa kau berbicara seperti itu dengan mama yang telah melahirkanmu." Bela Anisa tidak menyangka jika putrinya akan ikut berbicara dan menghancurkan reputasinya di depan hakim dan semua orang.
" Stop..lebih baik kalian mengikuti peraturan persidangan." Ucap ketua hakim.
"Hak asuh anak bernama Felysia Lalapati akan jatuh di tangan...Gardapati. Sesuai dengan perbandingan yang memenuhi perkembangan dan juga masa depan anak maka kita putuskan akan jatuh di tangan tuan Gardapati." Ucap ketua hakim yang membuat Hanna langsung memeluk sang suami begitu bahagianya mendapatkan hak asuh Lala.
Begitu pun dengan Khatijah, Bella dan juga Adipati yang ikut senang karena akhirnya hak asuh Lala jatuh kepada Gardapati. Sedangkan Anisa mengepalkan tangannya, begitupun suaminya yang juga terlihat marah.
" Bagaimana bisa seperti ini, mas aku tidak rela jika putriku jatuh di tangannya. Kau harus melakukan sesuatu." Ucap Anisa merengek kepada sang suami.
"Tidak bisa! ternyata mantan suamimu lebih kaya." Ucap pria tua suami Anisa.
Sedangkan Lala langsung memeluk sang nenek. Tidak sia-sia Lala datang ke rumah Elapati yang di hantar Roby menuju ke kediamannya. Disana Lala langsung meluluhkan hati sang nenek. Elapati pun yang menginginkan kehadiran cucu laki-laki tidak bisa mengelak dengan kehadiran Lala cucu perempuannya yang begitu pintar mengambil hatinya.
Di saat Lala bicarapun dia begitu pintar layaknya orang dewasa. Sehingga hati Elapati terhenyak dengan pemikiran yang tulus dari anak sekecil itu. Ia melihat betapa sayangnya dirinya kepada mama angkatnya. Elapati melihat betapa baiknya Hanna mendidik Lala sehingga anak sekecil tersebut berani datang kehadapannya.
Bukankah ini anak Gardapati?
__ADS_1
"Hello nenek, namaku Lala. Aku adalah putri kesayangan ayah dan juga mama Hanna." Ucap Lala dengan senyum manisnya.
" Apakah kau sendiri datang kesini?" Tanya Elapati begitu terkejut dengan kedatangan Lala yang tiba-tiba.
" Tentu tidak, bagaimana aku bisa berjalan sejauh ini menggunakan kakiku yang pendek ini. Mungkin jika aku sudah besar, aku bisa berjalan kaki sendiri ke rumah nenek." Ucap Lala begitu lucu.
Hahah, dia lucu sekali.
"Hahaha ya benar! Sedang apa kau kemari gadis kecil?" Ucap Elapati tertawa melihat sikap Lala.
"Panggil aku Lala. Emps..ayah dan mama sedang pergi ke..e.. penga..dilan. Ya, pengadilan! Jika Lala tidak salah mendengar, Lala akan tetap tinggal bersama mama dan ayah jika nenek mendukung ayah dan mama kan? jadi aku ingin nenek datang. " Ucap Lala, Lala tidak sengaja mendengar perbincangan Gardapati dan Hanna waktu itu. Sehingga dirinya lah yang harus datang memohon kepada neneknya.
Wah, di luar pemikiranku. Ternyata dia juga berani datang kehadapanku. Apa mereka menyuruh anak sekecil ini untuk mempengaruhiku.
" Apa ayahmu dan mamamu yang menyuruhmu datang ketempatku?" Tanya Elapati.
"Tidak, Lala sendiri yang ingin kesini. Ayah dan Mama tidak tau. Bagaimana bisa Lala tinggal dengan perempuan jahat itu. Perempuan itu telah meninggalkan Lala. Tidak dengan mama Hanna yang sangat menyayangi Lala. Lala ingin tinggal bersama ayah dan mama Hanna nenek. Aku sudah menganggap mama Hanna adalah mama kandungku, mama yang melahirkan aku. Tanpanya Lala mungkin tidak akan sebahagia ini." Ucap Lala menangis mengeluarkan isi hatinya.
Ya ampun kenapa dia menangis? aku gak bisa melihat anak sekecil ini menangis begitu.
"Ya ampun, kenapa kau menangis. Jangan menangis. Sini kemari cucuku." Ucap Elapati memeluk Lala.
Ternyata tidak salah jika aku mempunyai cucu perempuan, pemikirannya tidak kalah dengan laki-laki. Dia cukup berani.
" Nenek, Lala mohon. Lala ingin tinggal bersama ayah dan mama Hanna." Ucap Lala menangis.
Baiklah, istri Gardapati adalah perempuan baik. Aku pun melihat ketulusan di matanya. Tentu dia akan menjadi mama terbaikmu.
" Baiklah sayang, aku akan menolongmu. Tapi janji, kau tidak akan melupakan nenek. Kau harus sering-sering datang bertemu denganku. Sekarang mari kita kesana." Ucap Elapati masih memeluk Lala.
" Tentu nenek. Baik nenek." Ucap Lala langsung tersenyum karena ia berhasil mempengaruhi hati Elapati yang begitu keras.
__ADS_1