
What? dia benar-benar serius ingin bisa memasak???Dia ingin bisa memasak untuk Hanna, atau pesta rakyat???
Adipati sungguh terkejut dengan bahan mentah yang cukup banyak yang memenuhi sebagian ruangan dapur.
"Kau ingin memasak untuk pesta rakyat?" Tanya Adipati kepada Gardapati.
"Cukup untuk proses belajar memasakku kan!" Ucap Gardapati tersenyum dengan percaya diri. Padahal 5 lemari esnya yang besar pun sudah tidak muat, sehingga pelayan Gardapati sangat bingung harus di letak di mana lagi bahan tersebut.
"Tidak gratis, kau pikir aku gak punya pekerjaan lain apa!" Ucap Adipati mulai mengambil beberapa bahan makanan untuk memasak.
"Tenang saja, pasti akan ku berikan berapapun yang kau mau. Tapi aku rasa kau tidak membutuhkan uang, bukankah kau telah berada di lindungan nenek." Ucap Gardapati mulai meledek.
Adipati mulai memotong ikan dengan begitu ahli dan terbiasa. Sedangkan Gardapati berusaha untuk memahami gerakan Adipati.
"Apa kau sungguh ingin menawarkanku?jangan memancingku. Bahkan kau tidak akan mampu memberikan apa yang aku inginkan. Yang aku inginkan juga yang kau inginkan." Ucap Adipati mulai meledek Gardapati juga, yang cukup tau jika arah pikirannya kemana.
Mungkin ada benarnya juga perkataan Adipati bahwa kakak beradik itu saling menginginkan sesuatu yang sama. Saling merebutkan hingga tidak memiliki keakuran hingga saat ini.
"Tapi yang aku inginkan tidak dapat kau miliki. Hahaha..." Gardapati tertawa nyaring mendengar perkataannya yang masuk akal dan nyata. Memang benar adanya, Gardapati selalu beruntung selalu mendapatkan apa yang diinginkan oleh Adipati.
Sial serigala tua!
"Diamlah, kau ingin aku tetap mengajarimu atau tidak!" Ucap Adipati merasal kesal.
"Oke bosku, jangan marah!" Ucap Gardapati.
"Aku butuh kunyit." Lanjut Adipati ketika mulai meracik bumbu. Sedangkan Gardapati langsung mencari keberadaan kunyit. Lalu memberikannya kepada Adipati.
"What? Kau memang benar-benar tidak berbakat masak! Ini jahe, benar-benar bodoh!" Ucap Adipati.
Dasar serigala bodoh.
"Oh...Jaaaheeee...." Ucap Garadapati melihat Jahe seksama dengan tampang tidak bersalah.
"Kalau kunyit itu berwarna kuning." Jelas Adipati.
"Owh...baiklah, akan kuingat." Ucap Gardapati. Sedangkan Adipati hanya mampu menggeleng kepalanya.
__ADS_1
***
Sepagi ini Hanna mendengar bau wangi masakan menyeruak di kamarnya. Sehingga dirinya yang baru saja sedang membaca buku seputar kehamilan langsung menutup bukunya dan beranjak berdiri bergegas mencari aroma dari mana arah asalnya.
Dengan kandungannya yang membuncit, Hanna memakai baju dres longgar di atas lutut berwarna hijau putih. Terlihat sangat cantik walaupun Hanna sedang hamil. Terlihat menawan dengan rambut panjangnya yang hitam. Bahkan senyumannya memang tidak luput dari fikiran Gardapati.
Hanna turun dari tangga mengintip isi dapur. Entah mengapa wangi masakan ini membuat dirinya cukup penasaran. Hanna melihat dua pria yang tak asing sedang memasak di dapur.
Mas Garda dan Herman??? Mereka memasak bersama? Sejak kapan tom and jerry itu sedekat ini?Apa aku yang sedang berhalu! Aku rasa ini bukan mimipi kan?
"Nona Hanna sudah bangun!" Ucap Roby yang tiba-tiba melihat keberadaan Hanna yang bersembunyi di samping dinding.
"Hust..Rob,sejak kapan tuan memasak bersama Herman,e...maksudku Adipati?" Ucap Hanna cukup penasaran dengan kedekatan mereka.
"Semenjak tadi nona. Nona pasti heran melihat mereka sedekat itu, kan?" Ucap Adipati.
"Benar, emangnya tuan yang ngundang Adipati rob?" Ucap Hanna.
"Benar nona,Tuan ingin bisa memasak seperti Adipati. Kalau begini mereka seperti adik kakak yang sebenarnya kan non!" Ucap Roby. Mereka saling memandang Adipati dan Gardapati. Hanna masih berdiri diam melihat mereka adik kakak tertawa bersama, saling menyapa, membantu.
"Benar Rob, senangnya melihat mereka bisa akur seperti ini." Ucap Hanna menjadi tenang jika mereka sampai bisa baikan.
"Baiklah Rob, biarkan mereka berdua saling melampiaskan rasa rindu yang mereka pendam. Aku akan kembali ke kamarku dulu." Ucap Hanna bergegas kembali ke kamarnya.
***
Akhirnya masakan Garda dan Adi sudah selesai, waktunya Garda bergegas ke kamar Hanna untuk menyajikan hidangan untuk sang istri. Gardapati berharap agar Hanna kali ini senang dengan kedatangannya. Atau ia berharap sang istri tidak akan marah lagi kepadanya. Sungguh, tiga hari ini sangat sulit di lewati oleh Gardapati, di diamkan oleh sang istri membuat dirinya sangat tersiksa. Bahkan selama tiga hari ini Gardapati harus tidur berpisah dengan istrinya.
Tok..Tok...Tok...
"Sayang...." Teriak Gardapati sambil mengetuk pintu kamar Hanna.
Ceklek..
"Ada apa mas?" Ucap Hanna. Kali ini Hanna lebih lembut dan tersenyum dengan Gardapati. Dan melihat kudapan yang di bawa oleh Gardapati di tangannya. Hanna menelan ludah melihat masakan Gardapati yang sepertinya begitu lezat.
"Sayang, maaf jika aku mengganggumu. Aku hanya ingin kau tidak melupakan makan siangmu." Ucap Gardapati menyodorkan sepiring makanan.
__ADS_1
"Apakah ini masakanmu mas?" Ucap Hanna.
"Benar,bagaimana kau bisa tau, jika ini masakanku?" Ucap Gardapati merasa heran.
"E..terlihat dari penampilan masakannya. Oia,kau sudah menyicipinya?Jangan bilang kalau masakanmu yang ini..." Ucap Hanna berpura-pura. Hanna sudah sangat yakin jika masakan Gardapati kali ini enak karena di bantu oleh Adipati.
"Jangan khawatir, aku jamin masakanku kali ini enak." Ucap Gardapati melihat istrinya ragu-ragu.
"Benarkah? Kalau gak enak gimana? Kalau asin gimana?" Ucap Hanna sudah tidak sabar melahapnya sekarang juga. Tapi Hanna masih memancing sang suami.
"Kau bisa terus marah kepadaku, tapi jika enak,kau harus memaafkanku." Ucap Gardapati.
"Benarkah, oke baiklah..Aku coba." Ucap Hanna masuk ke dalam kamarnya dan mulai menyicipinya.
"Bagaimana rasanya?" Ucap Gardapati menatap lekat-lekat wajah sang istri.
"Emps...rasanya..." Ucap Hanna memang disengaja.
Gardapati tetap menunggu kelanjutan perkataan Hanna.
"Rasanya, enak banget...Tapi ini benar masakanmu mas?" Ucap Hanna yang berusaha menguji kesabaran Gardapati.
"Ia betul. Jangan heran, wajar jika kali ini masakanku enak. Karena ada burung gagak yang sudah membantuku." Ucap Gardapati tersenyum.
"Burung gagak?" Ucap Hanna merasa asing dengan kalimat Gardapati yang satu ini.
"E..maksduku, aku dibantu oleh Adipati." Jelas Gardapati yang keceplosan menyebut nama lain adik tirinya.
Ah, mulutku benar-benar celaka, bagaimana jika Hanna bertambah marah jika mantan kekasihnya di panggil burung gagak denganku. Hahaha..memang hidungnya mirip paruh gagak!
"Baiklah, berarti sayang sudah memaafkanku. Sungguh aku tidak tahan jauh darimu. Sekarang aku boleh tidur bareng dong." Ucap Gardapati begitu senang. Kini, pengorbanannya tidak sia-sia. Meminta bantuan kepada adik tirinya yang di anggap musuh bagi Gardapati adalah pengorbanan yang besar, bahkan sesuatu di luar kepala. Namun demi meluluhkan hati sang istri, Gardapati akan terus berjuang.
"Aku sudah rindu jenguk anakku loh." Ucap Gardapati merindukan sentuhan sang istri selama tiga hari harus pisah ranjang.
"Apa?Ehem...bekas kekasaranmu belum hilang loh mas." Ucap Hanna menolak ajakan sang suami. Padahal dirinya juga sangat merindukan sentuhan sang suami.
"Benarkah, apakah menurutmu malam itu aku sekasar itu sayang?" Ucap Gardapati merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Emps..benar. Jika tidak, aku tidak akan semarah ini kepadamu. Tapi, bagaimanapun dirimu, Aku sangat mencintaimu mas." Ucap Hanna menyentuh pipi sang suami dengan punggung tangannya.
"Maafkan aku sayang, Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Gardapati mencium kening sang istri.