Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
Puasa


__ADS_3

Langit mulai gelap. Sebagian penghuni bumi akan tertidur. Di terangi oleh bulan dan taburan bintang. Begitu pun dengan Gardapati dan juga Hanna. Gardapati menghela nafasnya di ambang pintu, melihat pemandangan sang istri yang menggunakan lingerie tipis berwarna merah yang menggoda. Hanna selalunya, berhasil membuat Gardapati terlena dengan baju favorit sang suaminya yaitu merah menyala. Bahkan kulit putihnya menyaingi warna merah yang sama sama menyala.


Bagaimana caranya Gardapati bisa berpuasa tidak berhubungan intim dengan sang istri. Jika malam ini saja Hanna memakai lingerie. Bahkan jantungnya semakin berdegup kencang, hatinya kian membara melihat Hanna mulai naik ke kasur untuk bersiap tidur.


Tanpa basa-basi Gardapati bergegas naek ke kasur dan memeluk sang istri dari arah belakang tepat di pinggangnya lalu mencengkram dua gunung kembar milik sang istri.


" Aw.. Pa, bukankah dokter sudah bilang. Papa harus puasa." Ucap Hanna seperti orang tak bersalah memakai baju setipis itu. Padahal Hanna sedang menguji imannya suami saat ini. Gardapati yang sadar hal itu langsung melepas cengkramannya dan sedikit menjauh dari sang istri.


" Sayang, bisakah kau memakai baju yang lebih tertutup. Aku gak bisa tahan. Bisa-bisa aku menerkammu." Jelas Gardapati.


" Ih pa, Tapi panas ah..Lebih baik papa tidur di kamar lain ya." Ucap Hanna memberi solusi.


" Apa? Mana bisa? Kok tega amet sih, suruh papa tidur di kamar lain. walaupun gak bisa berhubungan intim. Tapi papa masih bisa raba-raba ma. " Ucap Gardapati tersenyum mesum dengan tangan yang sudah menyelinap ke panty sang istri.


" Ah, papa.." Ucap Hanna langsung merasa terangsang dengan satu serangan. Mencium tengkuk leher sang istri dari arah belakang. Mencengkram gundukan sintal itu lagi. Bahkan dengan sentuhan kecil itu membuat Gardapati bisa melepaskan nafsunya yang memburu. Dengan desahan kecil, yang membuat Gardapati semakin liar mencium sang istri. Dengan hanya sentuhan, dia benar-benar tidak harus berpuasa menunggu dimana usia kandungan sang istri kuat.


***


Keisya menatap kursi kosong di kelasnya. Tepatnya di samping Keisya. Sudah dua hari ini Meimei tak masuk sekolah membuat dirinya begitu sedih.


Bahkan dirinya masih mencari-cari cara bagaimana


bisa membalas dendam kepada Geisha yang berani menindas Meimei.


Kelas yang begitu ramai karena guru masih belum juga sampai. Lalu setiap siswa memegang secarik amplop berwarna merah muda di tangannya. Yang membuat Keisya sangat penasaran, karena hanya dirinya lah yang belum mendapatkan secarik kertas tersebut. Tiba-tiba Geisha datang dan menghampiri Keisya.


" Undanganku, sisa satu guys..Apakah kau menginginkannya? Undangan ulang tahunku! " Ucap Geisha dengan memegang secarik kertas merah muda yang ternyata adalah undangan ulang tahun.

__ADS_1


Owh, undangan si kuman. Ah, penting? dasar menyebalkan.


" Makasih Geish undangannya. Pasti gue bakalan datang." Timpal salah satu siswa pria.


" Oke.Aku akan menanti kalian." Ucap Geisha tersenyum.


" Pasti ulang tahun Geisha sangat mewah tahun ini. Gak kalah dengan tahun sebelumnya. Aku gak sabar lihat Princes Geisha." Ucap wanita yang bergerombol di ujung dinding. Geisha yang mendengar akan itu hanya tersenyum bangga.


Mewah? Benarkah mewah? aku tidak yakin. Dari penampilannya saja yang sering memakai barang tiruan. Aku yakin tidak semeriah acaraku.


" Bagaimana? Sekarang aku sedang baik. Mungkin satu detik lagi aku akan berubah pikiran." Ucap Geisha menawarkan undangannya dengan tersenyum licik.


Sombong sekali. Kau selalu mengujiku! Lihat saja jika kesabaranku habis. Kau akan terbasmi.. Aha..aku punya rencana..


Keisya langsung mengambil undangan yang berada di tangan Geisha tersebut dengan secepat kilat namun tak berhasil.


" Hahaha, dasar gak sadar diri. wanita cupu.. Jangan harap lo bisa datang ke acara Geisha. Mimpi siang bolong harus bangun." Ucap teman Geisha.


Byurrrr...


Tiba-tiba salah satu teman Geisha menyiram Keisya. Tepat di atas kepalanya. Hingga membasahi seluruh baju dan juga rambutnya.


" Nah, bangun lo sekarang!" Ucap Geisha.


" Hahahahahahah." Satu ruangan pun tertawa terbahak-bahak melihat pertunjukan tersebut.


" Kau jangan menyesal telah membuatku seperti ini. Kau sungguh keterlaluan. Wajahmu sudah terlalu banyak di totok. Bahkan antingmu itu palsu!" Teriak Keisya dengan lantang.

__ADS_1


" What??? Geish..dia benar-benar menuduhmu yang bukan-bukan." Ucap teman yang lainnya.


" Dasar kau berani-beraninya!" Ucap Geisha langsung mejambak rambut Keisya. Begitu pun Keisya yang juga menjambak rambut Geisha.


***


Setelah guru mengetahui kejadian tersebut. Dimana semua murid terdengar brisik sampai ke kantor sekolah. Membuat guru yang bernama Brata langsung melerainya dan membawa mereka ke kantor BK.


" Mau jadi apa kalian? apakah kalian ingin menjadi gengster? katakan!" Teriak buk Brata sambil menggebrak meja. Meja tersebut bergetar hampir menjadi retak karena bu Brata sangat gemuk.


" Ti..dak buk..Dia duluan buk yang jambak rambut saya. Coba lihat buk rambut saya baru selesai di creambat. Ibu tau kan, biaya salon saya gak murah. Jika tidak, bagaimana bisa ayahku menjadi salah satu penyumbang di sekolah ini." Jelas Geisha sengaja membawa nama ayahnya agar terhindar dari hukuman.


" Ehem..benarkah? Kau harus di hukum atas perbuatanmu Kei." Ucap Brata mengenal ayah Geisha yang merupakan penyumbang di sekolahnya tersebut.


" Tapi buk, jangan percaya. Dia dulu buk yang ngebully saya. "Bela Keisya tidak terima.


" Kau tau kan Kei, kau adalah pelajar baru di sekolah ini. Seharusnya kau bersikap baik agar nilaimu bagus. jika sikapmu seperti ini pasti ini akan mempengaruhi nilai pelajaranmu." Jelas Brata memilih alasan yang cukup. Padahal Keisya murid yang pandai. Mana bisa Keisya di tipu dengan alasan yang tidak masuk akal.


" Baiklah, Geish..kau sebaiknya kembali ke kelas." Ucap Brata.


" Tapi buk, Kenapa hanya saya yang berada di sini? Saya tidak bersalah!" Jelas Keisya bersikukuh.


" Kau yang bersalah, bahkan banyak saksi mata yang melihatmu." Jelas Brata.


" Kau harus menerima hukuman. Kau berdiri di lapangan basket sekarang sambil angkat satu kaki dan dua tangan menjewer dua telinga." Lanjut Brata.


Ternyata kau juga bersekongkol dengannya. Awas saja kau. Kau juga akan menerima balasannya dariku. Bahkan kau tidak akan bisa di terima di pekerjaan manapun. Kenapa aku tidak semenjak dulu seperti ini. Pasti aku akan mengetahui komplotan komplotan kuman seperti mereka. Dasar penjilat!

__ADS_1


Akhirnya Keisya harus berdiri di bawah terik matahari, lapangan basket. Dengan kedua tangan yang menjewer dua telinga. Dan juga kaki terangkat satu.


__ADS_2