Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
Kehilangan.


__ADS_3

Mata Hanna berlahan terbuka, melihat ruangan yang begitu asing baginya. Ia masih memandang kabur, memegang kepalanya yang begitu sangat berat. Lalu bibir pucat itu mulai berbicara.


"Dimana aku?" Tanyanya yang membuat Gardapati terperanjat dari tidurnya. Gardapati berada tepat di samping Hanna sambil memegang tangan istrinya. Khatijah, Bella dan Adipati yang mengetahui jika Hanna sadar terperanjat dari duduknya yang berada di tepi ruangan.


"Kau sudah sadar sayang. Kau berada di rumah sakit." Jelas Gardapati.


"Apa? Rumah sakit?" Tanya Hanna masih berusaha mengingat yang baru saja ia lewati.


"Bayiku?" Ucap Hanna memegang perutnya yang mulai mengempes.


Gardapati, Khatijah, Bella dan Adipati masih belum siap untuk menjelaskan. Hanna baru saja sadar, Hanna belum sepenuhnya pulih, namun tidak mungkin juga mereka berbohong lagi.


"Maaf sayang, bayi kita tidak bisa di selamatkan." Jelas Gardapati.


"Apa? Tidak..tidak..bayiku..." Teriak Hanna histeris memegang perutnya. Gardapati berusaha menenangkan Hanna, menyentuh kedua pipinya yang basah. Namun Hanna menepisnya. Yang berada diingatannya hanyalah sang buah hati.


"Ini karena kamu mas. Kamu jahat..Kenapa kalian harus berbohong kepadaku? Hiks..." Ucap Hanna menangis dengan kepergian bayinya.


"Sayang, maafkan aku.. maafkan aku..kau benar, ini salahku!" Ucap Gardapati dengan air mata menggenang.


" Aku mau bayiku mas. Aku tidak peduli dia perempuan atau laki-laki. Aku ingin melihat dia. Hiks.." Ucap Hanna histeris sambil berusaha membuka infusnya, berusaha beranjak dari tempat tidurnya walaupun perutnya masih terasa perih teriris.


Dokterpun segera datang dan memberi suntikan kepada Hanna, sekita Hanna merasa mengantuk yang begitu berat.


" A..ku i..ngin bayi..ku" Ucap Hanna seketika matanya terlelap kembali. Gardapati begitu syok dan merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang..maafkan aku." Ucap Gardapati tiada henti. Tak pernah terbayangkan istrinya akan sangat terluka. Tak pernah terbayangkan kebohongannya akan mencelakai istri dan bayinya.


Gardapati begitu menyesal, meraup wajahnya dan mencengkram kepalanya yang hampir mau pecah.


***


Sudah satu pekan Hanna kehilangan bayinya. Ditambah kenyataan pahit jika dirinya tidak akan bisa hamil lagi. Gardapati masih sangat merasa bersalah, yang menjadikan Hanna sesosok pendiam. Bahkan butiran air bening yang terus mengalir. Gardapati sudah kehilangan jati diri istrinya yang sangat ceria. Untuk makanpun, Khatijah harus memaksa Hanna.


Lala pun juga melihat mamanya yang telah berbeda, walaupun Lala masih begitu kecil, dia mengerti akan kesedihan mamanya.


"Ma, makan dulu. Lihatlah mama sekarang lebih putih dari Lala, nanti mama akan kecil seperti Lala kalau gak makan." Ucap Lala berbicara kepada Hanna yang diam termenung. Bahkan membuat Gardapati frustasi dan tidak konsentrasi dalam pekerjaannya karena memikirkan perubahan pada diri istrinya.


"Ma, makan ya. Lala suapin." Ucap Lala menyodorkan sendok yang berisikan sesuap nasi di bibir Hanna. Hanna membuang muka dan menangis. Ia masih belum merelakan kepergian bayinya.


"Mama gak mau makan, Lala juga gak mau makan kalau mama gak makan." Ucap Lala ikut bersedih melihat Hanna. Ucapan Lala berhasil membuat Hanna menangis terisak dan melahap makananya.


"Lala sayang mama. Lala bakalan temeni mama sampai tua." Ucap Lala memeluk Hanna dengan hangat.


Walaupun Lala berhasil membuat Hanna berbicara tidak dengan Gardapati. Beberapa kali Gardapati mencoba untuk berbicara, Hanna tidak menggubrisnya. Bahkan Gardapati tidak berani untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Kau mau apa lagi? aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Ucap Hanna melihat Gardapati yang tanpa henti untuk menemuinya. Sebenarnya mereka sama-sama merindukan. Namun Hanna bukan sekedar marah kepada Gardapati melainkan dirinya yang merasa sudah tidak pantas menjadi istrinya karena Hanna tidak bisa hamil kembali.


"Sayang.." Ucap Gardapati berusaha memegang tangan Hanna.


"Aaaa...pergi...pergi.." Ucap Hanna berteriak histeris. Padahal Gardapati hanya menyentuh tangannya. Membuat Bella dan Khatijah berlari menghampiri Hanna.

__ADS_1


"Nak, biarkan ibu yang bicara." Ucap Khatijah agar Gardapati segera pergi dari hadapan putrinya. Khatijah pun menutup pintu kamar Hanna membiarkan Gardapati hanya diam berdiri di luar pintu.


" Han, apa kau ingin selamanya seperti ini?" Ucap Khatijah menuntun Hanna untuk duduk di kasur.


"Han, sama sepertimu. Suamimu juga ikut terpuruk. Suamimu juga merasa kehilangan." Jelas Khatijah.


"Benar Han, kau harus memaafkannya. Dia hanya ingin membuatmu bahagia." Timpal Bella berusaha menenangkan Hanna.


"Aku tidak marah kepadanya, Aku hanya merasa tidak pantas untuknya. Aku sudah bukan wanita sempurna lagi. Aku gak bisa hamil buk, Bell..mas Garda pasti akan membuangku." Ucap Hanna menangis.


"Han, jangan berbicara seperti itu. Suamimu sangat mencintaimu nak. Walaupun kamu gak bisa punya anak lagi. Tapi masih ada Lala. Ingat Lala juga anakmu, walaupun bukan berasal dari rahimmu. Kalian masih bisa melanjutkan hidup bahagia sebagai suami istri dan seorang anak. Bukankah itu sudah cukup!" Jelas Khatijah.


"Yang terjadi, yang menimpamu itu sesuatu yang tidak di inginkan. Kau harus kuat nak, jangan hukum suamimu seperti ini. Dia juga berat menjalani hari tanpa senyumanmu. Bahkan dia begitu berantakan." Jelas Khatijah. Hanna baru menyadari jika dirinya sudah melantarkan suaminya setengah bulan ini.


"Buk, tapi Hanna tidak bisa jadi istri yang sempurna buat mas Garda. Hanna takut buk, Hanna hanya takut mas Garda gak bahagia dengan Hanna." Jelas Hanna.


"Kebahagian mas Garda adalah dirimu Han." Ucap Bella memegang pundak Hanna dan mereka memeluk Hanna.


Entah mengapa setiap ujian yang datang bersilih berganti. Seperti hujan kerikil baginya. Ternyata cobaan sebelumnya tidak cukup untuk menguji dirinya. Entah hati butuh sekeras apa? entah harus sekokoh apa untuk menghadapi rintangan hidup yang semakin lama semakin sulit.


Air mata tidak cukup untuk meringankan beban, sudah terjadi dan tidak bisa kembali. Hanna telah merakit harapan, ia berharap bisa membesarkan buah hatinya, berharap menjadi ibu yang baik, berharap agar Gardapati juga menjadi ayah yang baik. Namun harapan itu pupus seketika. Bahkan ia harus menguatkan hatinya menghadapi kenyataan jika harapan tersebut tidak akan pernah muncul lagi karena dirinya sudah tidak bisa hamil kembali.


Entah tuhan sedang merencanakan apa untuk dirinya, atau tuhan sudah menyediakan kejutan kebahagian yang tiada tara di bandingkan dengan kesulitan hidupnya.


Ya mari kita tunggu lanjutan kehidupan Hanna...

__ADS_1


Semoga otak author ini lancar🤣 biar kalian gak bosan bacanya kan! Miss you kalian🄰


__ADS_2