Istri Kesayangan

Istri Kesayangan
BAB. 41 Sella merasa beruntung


__ADS_3

Malam ini Adnan tidak mengaji setelah sholat isya ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia merasa sangat lelah karena menceritakan masa lalu yang masih menyisakan luka di hatinya.


Malam ini Adnan dan istrinya masih di rumah Kakeknya karena ia akan pulang besok pagi bersama Bundanya juga yang akan tinggal di apartement bersamanya.


Setelah cerita panjang tadi siang bersama Bundanya, Adnan tidak menyangka kalau Bundanya mengganti identitasnya menjadi Kanaya Putri, ia sudah tau nama Kanaya Putri mememiliki perusahaan kosmetik, namanya sudah terkenal di berbagai media dari 7 tahun yang lalu, tapi ia belum pernah melihat langsung pemilik perusahaan kosmetik itu di media karena ia jarang sekali melihat televisi, ia lebih menyukai membaca berita dari pada televisi.


Adnan merebahkan tubuhnya dengan sesekali tersenyum saat mengingat makan malam tadi, sudah lama sekali ia tidak makan masakan sang Bunda, setelah ke dua orang tuanya berpisah, ia pernah sekali memakan masakan Bundanya, saat Bundanya berpamitan akan pergi hingga setelah itu ia tidak pernah memakan masakan Bundanya lagi.


Sella baru masuk ke dalam kamar karena ia tadi di ajak ngobrol oleh ibu mertuanya, jadi ia ikut mengobrol-ngobrol di sana, ia menyukai ibu mertuanya yang sangat ramah dan penyayang.


Sella merasa kehidupannya tidak memiliki kekuranga, dari memiliki suami yang sangat sempurna dan sekarang ia merasakan bagai mana memiliki ibu mertua yang menganggap ia seperti putri kandungnya sendiri.


Bahkan saat sholat isya tadi ia berkali-kali mengucap syukur pada ya Rabbnya karena telah mendekatkan ia dengan orang-orang yang sangat baik.


"Mas."


Sella memanggil suaminya sambil naik ke atas ranjang karena suaminya menghadap ke tembok.


"Iya Jamila."


Adnan menjawab panggilan istrinya sambil membalikan badannya, ia langsung mengecup kening istrinya yang sudah berbaring.


"Mas pasti bahagia iya sekarang? Selamat iya mas, karena mas sudah bertemu dengan Bunda, dan semoga semakin bertambahnya usia mas, semakin bertambah juga cinta mas sama Jamila."


"Jelas mas sangat bahagia Jamila, mas sudah bertemu Bunda dan memiliki kamu, wanita yang sangat penurut sama mas."


Adnan menjawab ucapan istrinya sambil mengusap lembut pipi istrinya. Sella memainkan jari-jari suaminya sambil melihat bibir suaminya, ia berkali-kali menelan ludahnya sendiri, entah kenapa ia merasa kalau suaminya itu berbeda dari cerita teman-teman saat ia masih menjadi model.


Suami mereka selalu meminta haknya lebih dulu, tidak peduli walau pun lelah, tapi suaminya sampai sekarang tidak pernah meminta duluan, selama 3 hari berturut-turut selalu ia yang meminta duluan, ia juga malu kalau terus saja meminta sendiri, walau pun ia ingat kalau istri yang menawarkan diri mendapatkan pahala, tapi tetap saja ia sangat malu pada suaminya.


"Jamila, tidak keberatan atas permintaan Nenek yang melarang Jamila untuk bekerja lagi?"

__ADS_1


Sebenarnya pertanyaan itu sudah ada di otaknya dari tadi, tapi ia baru sempat bertanya karena istrinya mengobrol-ngobrol dengan keluarganya.


"Sama sekali tidak mas, Jamila juga memang memutuskan akan berhenti, Jamila ingin menjadi istri yang baik, tapi dengan satu syarat kalau mas tidak boleh menjadi artis lagi, tidak boleh juga menjadi pengacara."


"Kenapa tidak boleh menjadi pengacara?"


Adnan bertanya dengan kening berkerut karena bingung, kalau menjadi artis ia memang tidak menginginkan profesi itu, apa lagi kalau sudah ada jumpa pans, ia tidak mungkin menyentuh wanita lain selain istri dan keluarganya.


"Aku takut mas kecantol sama klien mas nanti, jadi lebih baik mas fokus mengurus perusahaan saja."


Adnan tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari istrinya.


"Jadi ceritanya Jamila cemburu sama hal yang belum pasti?"


"Bukan cemburu, tapi berjaga-jaga saja mas, Jamila hanya takut kehilangan mas, suami kecil Jamila yang paling menggemaskan."


"Kata siapa mas suami kecilmu? Buktinya mas bisa membuat Jamila merintih nikmat, itu artinya mas bukan suami kecil!"


"Ih Mas, kenapa sekalinya ngomong tentang hal mesum bikin Jamila malu terus?!"


Adnan hanya menanggapi ucapan dari istrinya dengan tertawa, lalu langsung mencium bibir istrinya sekilah.


"Night kiss!"


Sella yang mendengar ucapan dari suaminya, ia langsung membalas ciuman suaminya sekilas sambil tersenyum lebar.


"Mas."


"Iya."


"Nanti mas sering begini tidak kalau kita sudah punya anak? Apa mas akan berubah seperti lelaki-lelaki yang sering Jamila lihat? Mereka tidak mesra lagi saat istrinya sudah memiliki anak, bahkan mereka mengatakan jelek, tidak bisa dandan, bau, kumel, jorok dan sebagainya, lalu si lelaki kecantol lagi sama wanita lain."

__ADS_1


"Mas tidak tau dan Mas tidak bisa janji kalau kita akan selalu mesra, tapi kalau Jamila mengatakan mas seperti mereka, insya Allah mas tidak akan seperti mereka, karena seindah-indahnya wanita yang ada di luar, lebih indah istrimu, dan janganlah berzina, karena orang yang berzina sama saja memakan daging mentah, sedangkan istri, itu sama saja seperti memakan daging yang sudah matang. Mas tidak akan melakukan itu dan semoga iman mas semakin bertambah, tapi Jamila harus tau, semakin kuat iman kita, maka semakin banyak juga ujian kita."


Sella hanya menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum lebar, hatinya sangat tenang saat suaminya memberikan nasehat, dan nasehat itu akan ia jadikan ilmu untuk kedepannya.


Sella langsung memeluk suaminya dengan sangat erat sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik suaminya.


Sella menghirup aroma tubuh suaminya yang membuat ia nyaman, aroma tubuh suaminya selalu saja tidak membuat ia bosan.


"Jamila senang tidak setelah tau kalau Kakek sama Nenek bukan seperti orang yang di pikiran Jamila?"


"Sangat senang mas, Jamila pikir orang kaya seperti Kakek dan Nenek memandang bibit-bobotnya, ternyata mereka sangat baik, tidak heran juga mas juga lelaki yang sangat baik, jadi sifat baik mereka itu menurun ke mas."


"Kata siapa? Mas juga bisa marah dan emosi, bahkan sampai kabur dari apartement, tapi satu hal yang mas ingat saat itu, mas tidak ingin melukai hati Jamila dengan ucapan-ucapan gila mas, jadi mas lebih baik memutuskan untuk pergi saja."


"Tapi saat di tinggal oleh mas pikiran Jamila tidak tenang mas, lebih baik Jamila di marahi oleh mas, dari pada Jamila di tinggalkan oleh mas."


Ungkapan itu memang sangat jujur dari hati Sella, ia lebih baik di marahi suaminya dari pada di tinggal pergi oleh suaminya, banyak ketakutan yang ia pikirkan saat suaminya pergi.


Sella takut kalau suaminya sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosi hingga membuat suaminya kecalakaan, bukan hanya itu ia juga takut kalau suaminya di manfaatkan oleh orang-orang yang mencintai suaminya hingga menjebak suaminya tidur satu ranjang oleh wanita yang menginginkan suaminya, jadi ia memilih di marahi suaminya, ia takut hal yang tidak di inginkan terjadi pada suaminya.


"Semoga mas tidak sampai marah serti itu lagi Jamila, mas berharap kalau mas bisa selalu membirikan contoh yang positif untuk Jamila dari pada contoh yang negatif."


Sella menganggukan kepalanya pelan dengan tangan kanan yang sudah meraba-raba milik suaminya.


"Mas... pengin."


Sella berbicara sambil mengelus milik suaminya tanpa tau malu.


"Iya sudah ayo berolah raga malam Jamila."


"Iya ayo mas."

__ADS_1


Jamila dengan senang hati mengiyakan ucapan dari suaminya.


__ADS_2