
Hari ini aku harus kembali pergi bekerja, berangkat sangat pagi sembari mengantarkan Teguh ke sekolah, dia selalu menjadi anak paling pandai di sekolahnya tetapi kepribadian putra semata wayangnya ini sering kali di nilai tertutup dan begitu sulit untuk di dekat oleh orang lain, bahkan guru dan pengasuhnya saja sering berbicara kepadaku dan mereka mengatakan aku harus lebih dekat dengan Teguh, tetapi selama ini aku merasa aku dan Teguh sudah sangat dekat, dia bisa tertawa lepas dan terus saja bisa bercanda ria denganku, hanya saja aku juga memang tidak pernah tahu bagaimana sikap Teguh di belakangku terhadap orang lain.
Karena aku selalu sibuk bekerja di cafe, jadi aku tidak tahu bagaimana Teguh di luar sana, hingga hari ini aku mendapatkan libur dari pekerjaanku, dan aku memutuskan untuk pergi menunggui Teguh dan menemaninya seharian ini.
Walaupun niat awalnya aku tetap akan bekerja, tapi setelah aku memikirkannya lagi, merawat Teguh itu adalah hal yang paling penting untukku, karena aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini kecuali dirinya.
Tapi aku juga sengaja tidak memberitahukan Teguh soal ini, sebab aku ingin diam-diam memperhatikan dia dari belakang, aku ingin mengetahui semua yang dia lakukan ketika tidak ada aku di sampingnya.
"Teguh, sayang ayo sarapan dulu." Ucapku memanggil Teguh yang baru saja keluar dari kamarnya saat itu.
"Iya bu." Balas Teguh padaku.
Dia segera datang menghampiri aku dan duduk di depan meja makan, aku juga membantunya naik dan terus saja kami mulai menikmati sarapan pagi ini hanya berdua saja, sama dengan apa yang kita lakukan setiap pagi.
__ADS_1
"Teguh ayo makan, kamu harus tumbuh dengan cepat, supaya ibu tidak perlu menitipkan kamu lagi ke panti, ibu tidak mau kamu terus tinggal disana, tapi ibu mencemaskan kamu jika kamu pulang sendiri ke rumah." Balasku kepadanya.
"Ibu Teguh sudah mau enam tahun hanya kurang beberapa hari saja, untuk apa ibu mencemaskan Teguh, sudah mulai sekarang Teguh akan pulang ke rumah, Teguh tidak perlu ke panti, Teguh bisa naik taxi kok Bu." Balas Teguh yang memang seperti orang dewasa.
Aku sangat gemas ketika melihat dia menjawab ucapan dariku, selama ini dia selalu saja bekerja keras untuk tidak membuat aku mencemaskannya, dia benar-benar putra kecilku yang sangat menggemaskan dan luar biasa, dia anak jenius yang tuhan karunia kan sebagai hadiah terbaik untukku.
"Teguh sayang, jangan begitu, mulai sekarang ibu akan mengambil pekerjaan setengah hari, jadi biarkan ibu menjemputmu, kamu juga bisa ikut dengan ibu ke cafe, bagaimana. Bukankah itu akan menyenangkan untukmu?" Ucapku kepada Teguh dan menawarkannya.
Teguh terlihat begitu senang sekali, dan dia terus saja tersenyum lebar menatap kepadaku, aku langsung mengacak rambutnya pelan karena sangat gemas dengan wajahnya yang begitu lucu sekali.
"Ya ampun Teguh sayang, kamu ini benar-benar seperti orang dewasa saja, hei ingat usiamu itu hanya lima tahun, kau tidak bisa bicara seperti itu, kamu sangat perhatian sekali dengan ibumu ini." Ucapku kepadanya saat itu sambil mencubit kedua pipinya yang chubby.
"Aahh...ibu aku memang sudah besar, jumlah usiaku sudah enam tahun aku sudah dewasa dan ibu menyekolahkan aku di TK terbaik, tentu saja aku akan tumbuh dengan sangat cepat dan menjadi orang cerdas, aku akan membanggakanmu ibu, aku tidak akan membiarkan siapapun menyuruhmu lagi dan nanti kamu tidak perlu bekerja di cafe lagi ibu, aku yang akan menafkahi dirimu." Ucap Teguh kepadaku.
__ADS_1
Mendapatkan perkataan seperti itu dari seorang anak yang masih berusia lima tahu aku sungguh terharu mendengarnya, tidak bisa lagi menahan tangisan dari mataku dan aku langsung memeluk Teguh dengan erat, aku sangat menyayanginya dan dia lebih baik daripada orang-orang dewasa lainnya yang sangat mengecewakan aku sebelumnya.
"Hiks....hiks...Teguh sayang, kamu tidak perlu menafkahi ibu, kamu yang akan ibu nafkahi, ibu masih sangat kuat untuk bekerja dan mencari uang, kamu masih sangat kecil dan tugasmu hanya perlu belajar dengan giat, ibu ingin kamu bisa menggapai impianmu sayang, bukankah kamu selalu bilang kalau kamu ingin menjadi orang yang sukses, kamu selalu menggambar gedung-gedung tinggi, ibu akan membantu kamu mewujudkan apa yang kamu sukai dan apa yang kamu inginkan, kamu hanya perlu belajar dengan giat untuk menggapai semuanya, jangan memikirkan uang kamu terlalu kecil untuk hal itu." Ucapku kepadanya sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
"Baik Bu, aku mengerti, aku akan melakukan apapun yang ibu katakan, aku sangat menyayangimu ibu." Balas Teguh kepadaku saat itu.
"Eum....ibu juga sangat menyayangimu sayang." Balasku padanya.
Kami segera pergi ke sekolah dan aku mengantarkan Teguh secara khusus saat ini, dia terlihat sangat ceria dari biasanya, dan aku tahu dia mungkin membutuhkan perhatian dariku yang lebih banyak, karena aku yang terlalu sibuk bekerja Teguh jadi tidak mendapatkan banyak perhatian yang seharusnya dia rasakan pada usianya ini.
Aku terus saja merasa bersalah pada Teguh, bahkan saat dia hendak masuk ke kelasnya dia memelukku lagi dan langsung berlari masuk ke dalam kelas dengan tersenyum lebar, senyuman itu selalu memberikan aku banyak sekali kekuatan untuk melewati hidup yang beras ini, hanya dengan Teguh seorang saja itu bisa membuat aku sangat kuat.
Aku baru saja hendak pergi dari sana dan berniat untuk menemui guru Teguh, namun belum juga aku benar-benar pergi, terdengar suara anak-anak yang terdengar seperti tengah bertengkar saat itu, sehingga aku segera saja membalikkan badan untuk melihatnya saat itu.
__ADS_1
"Hei.... teman-teman lihatlah itu, dia kan si anak bisu, bukankah dia satu satunya anak yang tidak punya ayah, bagaimana dia bisa merayakan hari ayah di sekolah besok?" Ucap salah satu anak perempuan disana.