
Hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh Teguh akhirnya tiba juga, pagi ini sekitar jam 8 pagi, Teguh, tuan Jenson dan aku sudah bersiap-siap untuk masuk ke mobil dan dibantu oleh sekretaris Roy yang memasukkan barang-barang bawaan kita ke dalam bagasi, kali ini kita akan liburan keluarga, dimana hanya akan ada aku, tuan Jenson dan Teguh saja, kami sudah memiliki tiket pesawat dan ikut dalam perjalanan awal, sekretaris Roy yang menyetir di depan sedangkan aku dan tuan Jenson duduk di belakang, dan Teguh yang duduk di depan tepat di samping sekretaris Roy, mereka sudah sangat dekat sekarang karena selama ini jika aku atau tuan Jenson tidak sempat menjemput Teguh di sekolah, maka sekretaris Roy yang akan melakukan, maka dari itu kini hubungan dia orang tersebut sudah bak saudara kandung yang sangat dekat dan begitu akur.
Awalnya selama perjalanan tidak ada sesuatu yang aneh, hingga tiba-tiba saja setelah kami melewati lampu merah, sekretaris Roy terus menatap ke arah kaca spion luarnya dan kedua alisnya itu mulai di tekuk kuat, membuat tuan Jenson bertanya-tanya kepadanya. "Roy ada apa?" Tanya nya dengan wajah yang mulai merasa aneh.
"Tidak ada tuan, hanya saja aku merasa mobil di belakang kita seperti tengah mengikuti kita sejak dari persimpangan terakhir." Ujar sekretaris Roy mengatakan keheranannya.
Refleks aku dan tuan Jenson langsung memeriksanya ke belakang, dan apa yang dikatakan oleh sekretaris Roy memang benar, bahkan tidak hanya satu mobil saja, tetapi dia mobil sekaligus, yang satu sebuah taxi berwarna biru dan yang satu mobil berukuran besar dan cukup bagus, jelas aku kaget ketika menyadari hal itu.
"Tuan itu benar, tapi kenapa mereka mengikuti kita? Apa kau ada masalah dalam urusan pekerjaan dengan lawan sainganmu?" Tanyaku kepada tuan Jenson.
Tuan Jenson menggelengkan kepala dengan pelan, karena dia juga merasa tidak terlibat dengan masalah apapun belakangan ini, jadi sudah pasti dia mobil yang mengikuti kami saat itu bukanlah mobil saingan bisnisnya.
"Tidak ada, jika ada saingan atau hal-hal yang bersangkutan dengan bisnis, aku pasti sudah mengantisipasinya sejak awal, dan mereka tidak akan berbuat apapun jika tidak ada masalah seperti ini, aku rasa orang yang mengikuti kita bukan dari saingan bisnisku." Balas tuan Jenson yang membuat aku semakin cemas dan bingung.
"Kalau begitu, bagaimana jika mereka orang jahat ayah?" Tanya Teguh yang tiba-tiba saja masuk dalam obrolan kami.
Dengan cepat aku berusaha untuk menenangkan Teguh, bagaimana pun dia terlalu kecil untuk mengetahui hal urusan orang dewasa seperti ini, dan anak yang masih duduk di kelas satu SD tidak pantas ikut campur, apalagi terlibat di dalamnya.
"Ehh sayang jangan berpikiran seperti itu dulu, bisa saja mereka tidak mengikuti kita hanya jalurnya saja yang sama atau bisa saja mereka orang yang kita kenal." Ujarku berusaha untuk menenangkan Teguh hingga akhir putraku itu bisa menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya, aku juga bisa sedikit lebih tenang melihatnya.
__ADS_1
"Begini saja, aku sudah menghubungi supir di rumah, dia akan segera menyusul kita, Roy bawa mobil memutar dahulu jangan sampai mereka tahu kemana tujuan kita saat ini." Ucap tuan Jenson yang sudah memiliki rencana sendiri di kepalanya.
Roy mengikuti semua perintah darinya hingga tidak lama sang supir pun tiba, dan Roy langsung menancap gas mobilnya hingga dia berhenti tepat di samping mobil sang supir, tuan Jenson mulai menyuruh aku dan Teguh untuk pindah mobil sedangkan dia masih bersama dengan Roy berniat untuk mengelabui mobil yang mengikuti kami di belakang, awalnya aku tidak mau dan merasa cemas akan dirinya tetapi karena tuan Jenson menyuruhku untuk bertindak cepat, terpaksa aku hanya bisa menurutinya saja.
"Tuan tapi bagaimana denganmu, apa kau akan kembali bersama kami lagi?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang cemas.
"Kenapa kau takut, kau kan wanita kuat, jaga Teguh denganmu, aku akan baik-baik saja bersama Roy, jangan terlalu mencemaskan ku, pergilah lebih dulu ke bandara dan tunggu aku disana, apa kau mengerti?" Ujar tuan Jenson sambil memegangi kedua pundakku.
Aku hanya bisa mengangguk dengan pelan dan tuan Jenson memelukku lalu dia pergi kembali masuk ke dalam mobil begitu pula denganku yang sudah berpindah lebih dulu bersama dengan Teguh, sepanjang perjalanan aku terus berusaha meyakinkan Teguh bahwa ayahnya itu akan baik-baik saja dan kita akan sampai di bandara sesuai dengan rencana yang sudah dia katakan.
Tetapi aku sendiri sebenarnya tidak yakin apakah semua itu akan berhasil atau tidak, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, sejujurnya aku juga merasa sangat cemas akan tuan Jenson dan Roy, bagaimana pun dia sudah mengorbankan dirinya dalam bahaya hanya untuk menjaga dan melindungi aku serta Teguh, dia juga sudah sangat baik denganku selama ini, dan baru saja kami sudah sepakat untuk menjadi suami istri sungguhan, tetapi ujian sudah melanda lagi kepada keluarga kecilku ini.
Teguh juga terus menarik tanganku dan aku segera saja mengangguk dan pergi ke luar dari mobil tersebut dengan cepat.
Membawa Teguh beserta beberapa barang bawaan kami ke bandara dan menunggu tuan Jenson di salah satu kursi tunggu yang ada disana, sedangkan pak supir sudah harus pergi lagi dia juga masih memiliki pekerjaan lain dan harus menyusul tuan Jenson barang kali sesuatu yang buruk terjadi dengannya dan tidak bisa di selesaikan dengan sekretaris Roy dan tuan Jenson saja.
Disisi lain tuan Jenson yang terus pergi ke tempat yang jauh dari bandara dan berusaha untuk meninggalkan jejak bagi kedua mobil yang ada di belakang mereka saat itu, namun sayangnya saat sudah setengah jam perjalanan yang begitu sengit hanya ada satu mobil saja yang berhasil kehilangan jejak mereka, tuan Jenson yang merasa geram dia tidak dapat menunggu dan terus berputar-putar untuk melarikan diri dari orang yang mengikutinya seperti itu, sehingga dia pun mengubah rencananya dan menyuruh Roy untuk berbalik hingga menghentikan mobil di belakang yang terus mengikutinya sedari tadi. "Aishh...dasar taxi sialan, Roy hentikan mobilnya, biar kita lawan saja siapa orang di baliknya." Ujar tuan Jenson yang langsung di turuti oleh Roy.
Dia segera menghentikan mobil tersebut beserta dengan taxi yang sedari tadi mengikutinya hingga ketika tuan Jenson dan Roy turun, tiba-tiba saja seorang wanita keluar dari taxi tersebut dan berlari ke arah tuan Jenson dengan terengah-engah.
__ADS_1
"Tuan tolong saya tuan, tolong bayarkan ongkos taxi nya." Ujar perempuan itu yang membuat tuan Jenson merasa kesal sekaligus kebingungan di buatnya.
Padahal tuan Jenson maupun Roy tidak mengenal wanita itu sama sekali tetapi tiba-tiba saja dia memohon dan meminta agar tuan Jenson membayarkan ongkos taxi yang dia tumpangi, dengan cepat tuan Jenson menarik tangan dia yang di genggam wanita itu dan Roy mendorong wanita tersebut untuk menjauh dari tuannya.
"Siapa kau, beraninya meminta uang dari bosku setelah menguntit mobil kami." Ujar Roy kepada wanita tersebut.
"Aduhh...tidak penting siapa aku sekarang ini, tetapi bayar dulu ongkos tadinya, ayo cepat kita harus segera pergi dari sini, cepat!" Ucap wanita itu yang terlihat begitu tergesa-gesa.
Tuan Jenson terus memperhatikan wajahnya, hingga hingga dia merasa seperti tidak asing dengan wajah perempuan tersebut, tanpa banyak basa basi tuan Jenson pun membayarnya dan perempuan itu justru malah berlari masuk ke dalam mobilnya sambil terus berteriak menyuruh tuan Jenson juga Roy agar ikut masuk dengannya.
"Hei, apa lagi yang kalian tunggu, ayo cepat aku kan sudah bilang kita harus segera pergi dari sini, disini terlalu berbahaya, ayo cepat tuan Jenson!" Bentak wanita itu mengenali nama tuan Jenson yang membuat tuan Jenson semakin dibuat penasaran.
Roy menghentikan tangan tuan Jenson saat duduk di bangku belakang dengan wanita tersebut, karena mau bagaimana pun Roy tetap harus berjaga-jaga dengan orang asing yang aneh sepetinya, dia pun melepaskan dasi yang dia kenakan, lalu menggunakannya untuk mengikat tangan wanita tersebut ke belakang tubuhnya agar dia tidak bisa berbuat macam-macam dengan tuan Jenson.
"Tunggu tuan, sebaiknya kau duduk di depan dan biarkan wanita ini aku urus dahulu." Ucap sekretaris Roy langsung mengikat kedua tangan wanita itu.
Yang membuat tuan Jenson semakin merasa aneh, wanita itu sama sekali tidak berontak sedikit pun ketika Roy mengikat kedua tangannya, dia malah terus menyuruh mereka untuk pergi dari sana sebelum seseorang akan datang.
"Aishh kalian ini benar-benar konyol, cepat lajukan mobilnya, disini berbahaya, ayo cepat kita harus pergi sebelum dia tiba disini!" Teriak wanita itu lagi.
__ADS_1
Tuan Jenson segera menyuruh Roy untuk mengemudikan mobil dengan cepat, karena dia juga merasa wanita itu sama sekali tidak berbahaya meskipun dia cukup mencurigakan sekali sedari tadi.