
"Ibu...apa kamu baik-baik saja?" Tanya Teguh dalam gendonganku saat itu.
"Sayang ibu baik-baik saja, bagaimana denganmu, apa saja yang sudah mereka lakukan padamu?" Tanyaku dengan penuh kecemasan dan panik tidak karuan saat itu.
Untungnya Teguh menggelengkan kepala padaku dan dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja, aku menjadi sangat lega ketika mendengar hal tersebut darinya, setidaknya asalkan dia baik-baik saja aku tidak memperdulikan hal yang lainnya lagi.
"Ibu tapi ponselmu diambil oleh om jahat itu." Ucap Teguh sambil menunjuk ke arah tuan Jenson.
Yang dimana saat itu tuan Jenson masih menatap begitu tajam kepada Ros karena dia merasa tidak aneh dengan sosok Ros saat itu, sedangkan Roy justru malah terperangah ketika melihat sosok Ros ada di hadapannya saat itu, dia sangat tidak menduga seorang gadis yang sudah dia cari dalam waktu yang begitu lama ternyata selama ini ada di negara ini dan bersembunyi di balik pelayan cafe tersebut.
"KA...kau, kau Ros kan?" Ucap Roy kepadaku.
Aku sangat kaget ketika ada orang yang mengenali aku setelah sekian lama sudah berlalu dan aku juga begitu kaget ketika melihat tuan Jenson yang sangat aku benci itu ada di hadapanku dan dia hampir saja mengambil Teguh dariku, saat ini aku sungguh panik dan tidak tahu harus berbicara apa ataupun mengatakan apa, yang pasti di dalam kepalaku saat ini hanya terus berpikir bagaimana caranya aku kabur dari kedua orang ini secepatnya, karena aku tidak ingin mereka mengetahui keberadaan aku.
Aku tidak bisa menjawab ucapan dari pria ber jas rapih di samping tuan Jenson tersebut dan segera saja aku berbisik pelan kepada Teguh untuk bersiap melarikan diri dari tempat itu.
"Teguh, kamu harus memeluk ibu dengan erat, dalam hitungan tiga kita akan lari dari sini, kamu siap?" Ucapku berbicara pelan padanya.
Aku langsung saja menghitungnya dalam hati begitu juga dengan Teguh yang sudah memeluk tubuhku dengan begitu erat.
__ADS_1
Hingga sampai pada hitungan ke tiga, aku langsung membalikkan badan dan berlari dengan sekencang yang aku bisa untuk melarikan diri dari dua orang pria yang sangat menyebalkan dan menakutkan itu, awalnya aku pikir mereka tidak akan mengejarku, namun ternyata aku salah, saat aku berlari rupanya kedua orang itu malah mengejar aku dari belakang, sehingga aku harus terus berlari lebih kencang lagi untuk melarikan diri dan tidak boleh meninggalkan jejak untuknya.
"Aaaahhh.....ya ampun kenapa mereka mengejarku?" Gerutuku sambil terus berlari dengan kuat sambil menggendong Teguh saat itu.
"Hei ...mau lari kemana kau, cepat kejar dia Roy!" Teriak tuan Jenson kepadanya.
"Ibu ayo Bu lebih cepat lagi, mereka semakin dekat kita harus lari bu!" Ucap Teguh kepadaku.
Aku tahu kita harus lari tapi aku memang bukan pelari yang handal dan cepat, sehingga saat itu aku terus saja berusaha untuk mencari tempat yang bisa ku pakai untuk bersembunyi dari mereka setidaknya dengan begitu aku bisa menghilangkan jejak ku juga dari kedua orang tersebut.
Hingga ketika aku berlari di pinggir jalan sengaja aku masuk ke dalam pusat perbelanjaan dimana terdapat banyak orang dan turis yang ada disana, aku masuk ke dalam dan terus berlari ke tempat yang terdapat banyak pengunjung hingga bersembunyi dibalik sebuah tak mainan anak-anak saat itu, aku berharap dia tidak akan menemukan keberadaan aku dan Teguh di tempat itu.
"Aish ....kemana perginya wanita itu?" Gerutu tuan Jenson dengan wajah yang begitu kesal.
"Hah....hah...hah...tuan kita tidak bisa menemukan dia di tempat yang banyak orang seperti ini, sebaiknya kita kembali dulu dan pikirkan bagaimana cara untuk menangkap dia nantinya, yang penting kita sudah tahu jika dia ada di negara ini." Ucap Roy memberikan solusi kepada tuan Jenson.
Namun sepertinya tuan Jenson sudah sangat penasaran sekali dengan Ros sebab sejak beberapa tahun yang lalu dia sudah harus menunggu dalam waktu yang sangat lama dan dia merasa sangat penasaran sekali dengan anak kecil yang memanggil Ros dengan sebutan ibu di hadapannya barusan.
Sehingga ketika Ros memberikan solusi seperti itu, terus saja tuan Jenso marah dan berdecak kesal sendiri sambil membentak Roy yang menjadi pelampiasan kekesalan dan emosi di dalam hatinya kali ini.
__ADS_1
"CK ....dasar wanita itu, awas saja aku tidak akan melepaskan dia dengan mudah, pokoknya kita harus menemukan dia bagaimana pun caranya!" Bentak tuan Jenson saat itu.
"Iya...iya, aku akan membantumu tapi sekarang kita tidak punya banyak waktu lagi, kau masih harus mengikuti jamuan makan malam beberapa menit lagi, ayo kita pergi sana dari sini, aku punya cara yang lebih bagus untuk menemukan gadis seperti dia." Ucap Roy sambil terus menarik tangan tuan Jenson dengan paksa.
Dan dia terus saja membawa tuan Jenson pergi dari sana secepatnya karena mereka masih harus menghadiri jamuan makan malam dengan rekan bisnisnya di negara ini, sesuatu dengan tujuan utama kedatangan mereka ke negara ini sebelumnya.
Aku merasa sangat plong dan lega ketika melihat mereka sudah pergi dari tempat itu dan segera saja aku menurunkan Teguh sambil duduk mengistirahatkan tubuhku sejenak disana.
"Aaahhhh....syukurlah mereka akhirnya pergi juga." Ucapku sambil mengurut dadaku dengan perasaan yang lebih lega.
Namun kini aku harus dihadapkan dengan putraku sendiri yang sangat cerdas, dia melipatkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang cemberut dan menatap ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam bak tengah menyelidiki aku.
"Ehh... Teguh sayang ada apa denganmu, kenapa menatap ibu seperti ini?" Tanyaku kepadanya dengan kedua alis yang aku naikkan bersamaan karena merasa heran dengan reaksi yang Teguh berikan kepadaku saat itu.
"Ibu kenapa kau harus kabur dari dua orang pria tadi? Apa kau melakukan kesalahan pada mereka? Dan kenapa tidak mengambil ponsel kita dari pria itu, harusnya mereka yang kabur dan kita yang mengejar mereka, karena mereka yang sudah mencuri barang kita, kenapa malah kita yang dikejar mereka?" Tanya Teguh kepadaku saat itu.
Dia memang anak yang sangat pandai sehingga aku harus menghadapi dia dengan jauh lebih cerdik, dia tidak bisa dibohongi oleh siapapun dan pemikirannya benar-benar seperti orang dewasa saja.
Kini aku sendiri malah kebingungan bagaimana cara menjawab pertanyaan yang panjang itu, aku hanya bisa menutupi semua kebenarannya karena aku tidak ingin Teguh mengetahui bahwa orang tadi sebetulnya adalah ayah dia yang selalu dia tanyakan kepadaku selama ini, namun aku selalu mengatakan padanya bahwa ayahnya sudah meninggal dunia ketika dia masih dalam kandunganku.
__ADS_1
Hanya itu satu satunya cara yang bisa aku lakukan agar Teguh tidak terus mempertanyakan mengenai ayahnya lagi kepadaku.