Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Dikecupnya Tiba-tiba


__ADS_3

Hingga sesampainya di rumah, aku segera memandikan Teguh dan memakaikan pakaian ganti kepadanya, selepas itu dia terus bermain dengan beberapa pelayan di taman halaman rumah, nampak sudah ada banyak sekali mainan yang dipakai bermain oleh Teguh dan semua mainan yang berserakan di tahan itu semuanya adalah mainan yang dulu pernah Teguh inginkan tetapi belum sanggup untuk aku belikan untuknya.


"HM.... Pantas saja Teguh sudah bisa dekat dengan tuan Jenson sangat cepat, dia menyuap Teguh dengan banyak mainan mahal." Gerutuku saat itu sambil terus memperhatikan Teguh dari balik jendela rumah.


Hingga tidak lama tuan Jenson berjalan menghampiri aku dan dia mulai mengajak aku untuk bicara dengannya saat itu. "Hei, ayo ikut aku, kau tidak perlu terus memperhatikan putramu seperti itu, semua pelayan disini sudah aku didik dengan baik dan mereka memiliki aturannya sendiri, cctv juga ada dimana-mana kau tidak perlu menjadi bagian dari kamera pengintai." Ucap tuan Jenson kepadaku.


Aku memang cukup kesal dia malah membandingkan aku dan menyamakan aku dengan kamera pengintai yang dia pasang di rumahnya sendiri, benar-benar manusia yang sangat oper protektif pada pelayannya sendiri, dia memang tidak pernah mempercayai manusia manapun kecuali dirinya sendiri, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan segera saja mengikutinya, kami duduk di ruang tengah dan aku segera menyajikan cemilan juga minuman untuknya, karena mau bagaimana pun dia tetaplah suamiku saat ini, aku masih harus menghormatinya sebagai kepala keluarga, kecuali jika dia mulai melewati batas, maka aku tidak akan segan untuk melawannya sekaligus.


"Tumben sekali kau mau menyajikan makanan dan minuman untukku, apa sekarang kau sudah sadar ya bahwa aku ini penguasa di rumah ini?" Ucap tuan Jenson sengaja sedikit bercanda dengan Ros.


Sayangnya aku sama sekali tidak bisa menganggap bahwa ucapannya barusan adalah candaan, karena itu sama sekali tidak lucu, jauh dari kata lucu dan sangat menyebalkan untuk di dengar telingaku. "Iya aku baru sadar jika ternyata pria menyebalkan ini adalah suamiku, dan satu lagi cemilan ini untukku begitu juga dengan minumannya bukan untukmu." Balasku sengaja mengatakan kebohongan kepadanya.


"Kalau hanya untuk dirimu sendiri kenapa minumannya ada dua, apa kau se rakus itu?" Tanya tuan Jenson lagi kepadaku.

__ADS_1


"Iya aku rakus, memangnya kenapa, masalah?" Balasku lagi dengan wajah jutek dan ketus padanya, entah mendapatkan keberanian dari mana tapi aku sekarang semakin berani untuk melawan dan bicara lantang kepada tuan Jenson, mungkin karena sekarang kami adalah pasangan suami istri dan aku sudah cukup berhubungan dekat dengannya, jadi mungkin rasa malu di dalam diriku juga berkurang dan aku sudah tidak se gugup dulu lagi, ketika aku berhadapan dengannya, justru sekarang hanya rasa kesal dan sedikit sebal ketika bertemu dengannya yang terus muncul dalam diriku, walaupun di beberapa momen aku merasa tuan Jenson cukup keren, tapi saat di rumah dia lebih banyak menyebalkannya dibandingkan rasa keren itu, makanya aku hanya duduk di sampingnya dan segera saja menanyakan kepada-nya tentang dia yang mengajak aku untuk bicara saat ini.


"Ada apa kau mengajakku bicara?" Tanyaku yang sudah tidak memanggilnya dengan sebutan tuan Jenson lagi.


"Hei..tunggu, kenapa aku merasa ada yang kurang darimu, apa kau barusan berkata kau kepadaku?" Tanya dia dengan ekspresi wajahnya yang sangat serius dan mendekat ke arahku dengan kedua alis yang ditekuk sangat kuat.


"Iya, tadi aku lupa maafkan aku tuan Jenson. Bagaimana apa kau puas?" Balasku kepadanya lagi.


Aku hanya terus menatap dengan wajah yang terperangah, sebenarnya aku sangat tidak terima dengan apa yang dia katakan barusan, memanggil tuan Jenson dengan sebutan Jenson apalagi panggilan sayang, itu sangatlah membuat aku tertekan bahkan ingin muntah mendengarnya, karena sebelumnya aku juga tidak pernah memanggil sayang kepada siapapun kecuali putraku Teguh.


Tentu saja saat itu juga aku membantahnya dan menolak dia dengan cepat.


"Tuan sepertinya kau sudah diluar batas, aku tidak mungkin memanggil kamu dengan sebutan sayang, walaupun aku tahu kamu suamiku dan aku memang akan bersikap sebaik yang aku bisa selama aku menjadi pasanganmu, meskipun itu hanya di atas perjanjian kita berdua saja, tapi..." Ucapku belum selesai menjawabnya tapi tuan Jenson sudah langsung memotong ucapanku dengan cepat.

__ADS_1


Dia bahkan menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya memberikan isyarat agar aku diam saat itu. "Ssyyyuuuuttt.... Sudah jangan bahas masalah perjanjian kita lagi, intinya kau harus membiasakan diri bersikap layaknya istri sungguhan untukku, apa kau mengerti?" Ucap tuan Jenson kepadaku saat itu.


"Tuan ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba kau mau aku bersikap layaknya istri sungguhan untukmu?" Tanyaku kepadanya dengan penuh keheranan.


Tuan Jenson sama sekali tidak menjawab ucapanku dan dia malah langsung bangkit berdiri lalu mencium keningku secara tiba-tiba, membuat aku semakin kaget hingga membelalakkan mataku sangat lebar di buatnya.


"Much. Istriku tidak boleh banyak bicara dan dia harus menuruti denganku, jadilah istri yang baik, oke." Ucapnya setelah mencium keningku sekilas saat itu.


Dia kemudian meminum minuman yang memang aku buatkan untuknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dalam keadaan dimana aku masih merasa syok dan kebingungan tidak menentu saat itu, bahkan setelah tuan Jenson sudah pergi aku masih saja termenung dan langsung memegangi keningku saat itu, membayangkan kembali kejadian yang baru saja terjadi barusan dan semuanya berlalu begitu cepat sampai aku tidak sadar dan tidak bisa menahannya sama sekali.


"Hah... Apa-apaan dia itu, kenapa dia harus mengecup keningku, memangnya kita ini sungguh sudah menjadi pasangan yang sedekat itu? Astaga...kenapa juga jantungku seperti ini, aaahhh aku tidak boleh begini." Gerutuku terus saja berusaha untuk menghilangkan semua perasaan tidak karuan yang muncul dalam diriku saat itu.


Jujur saja aku memang cukup tersentuh dengan apa yang tuan Jenson lakukan kepadaku selama ini, apalagi dengan apa yang dilakukan kepadaku barusan, meski dia memang selalu bicara keras dan tidak pernah berkata dengan lembut kepadaku, tetapi sikapnya memperlihatkan hal yang berbeda dengan apa yang dia ucapkan, aku pun tersenyum kecil tanpa aku sadari ketika mengingat apa yang baru saja terjadi saat itu.

__ADS_1


__ADS_2