Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Menemui Nenek


__ADS_3

Namun kali ini demi kepentingan dirinya sendiri, tuan Jenson harus menemui neneknya, untuk memastikan kejadian di lima tahun yang lalu, malam hari setelah dia baru saja selesai dalam urusan pekerjaannya, dia langsung pergi meluncur ke kediaman sang nenek yang berada di pinggiran kota, rumahnya yang berada di dekat perbatasan antara ibu kota dengan kota lain, tentu begitu strategis dan memiliki udara lebih menyegarkan dibandingkan dengan pusat ibu kota yang sudah lebih banyak polusi udara akibat kendaraan yang berlalu lalang di jalanan dalam setiap waktu.


Pergi bersama asisten pribadinya Roy yang selalu mematuhi semua perintah dari dirinya.


Hingga sesampainya di rumah besar sang nenek yang di kenal memiliki lebih dari seratus karyawan yang tinggal dan memelihara rumah tersebut, kedatangan tuan Jenson langsung disambut begitu antusias oleh sebuah karyawan sang nenek, mereka berbaris rapih dan berjajar di depan pintu masuk untuk menyambut sang cucuk kesayangannya nenek Sulistyo.


Saat tuan Jenson keluar dari dalam mobil di ikuti dengan Roy, semua pelayan disana langsung membungkuk memberikan hormat sekaligus menyambutnya dengan suara yang keras dan serempak.


"Selamat datang tuan muda." Ucap semua karyawan bersamaan.


Tuan Jenson tidak membalas apapun, dia hanya berjalan sambil melepaskan kancing jas yang dia kenakan, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sang nenek yang memiliki kepribadian bertolak belakang dengan dirinya, benar saja saat tuan Jenson baru masuk ke dalam rumah sang nenek sudah datang berjalan menuruni tangga sambil menyinggung cucuk yang telah menelantarkan dirinya itu.


"CK.. untuk apa kau datang kemari, apa kau baru ingat jika masih memiliki keluarga disini?" Ucap nenek Sulistyo dengan membawa sebuah tongkat cantik yang penuh dengan ukiran sebagai penyanggah agar membantunya berjalan lebih cepat dan hati-hati.


Tuan Jenson hanya menghembuskan nafas pelan, lalu dia segera menghampiri neneknya tersebut dengan memasang wajah yang tetap saja terlihat datar.


"Ayolah nek, aku kemari hanya ingin bertanya sesuatu yang penting, tolong jangan menyinggung dengan hal yang tidak penting lainnya." Balas tuan Jenson mendekati neneknya sambil mulai membantunya duduk di sofa.

__ADS_1


"Hei.. apa yang kau katakan barusan? Dasar cucuk tidak tahu diri, bagaimana bisa kau mengatakan bahwa hal tentang nenekmu sendiri sebagai sesuatu yang tidak penting, apa kau lupa, kedua orangtuamu yang tidak tahu diri itu meninggalkan kamu sendiri disini, menyerahkan kau pada wanita tua sepertiku, sedangkan mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa ingat denganku ataupun kau. Tapi kau masih tidak berterimakasih juga dengan wanita tua ini, keterlaluan!" Bentak nenek Sulistyo dengan tatapan mata yang tajam kepada tuan Jenson.


"Maafkan saya nek, saya sibuk dan nenek tahu itu bukan, lagi pula saya bukannya sengaja melupakan nenek, buktinya sekarang saya pulang, itu artinya saya masih perduli dan mengingat nenek, tolong jangan bicara seperti itu lagi, Jenson menyayangi nenek, lebih daripada nenek menyayangiku." Balas tuan Jenson mulai membujuk neneknya dengan bicara lembut dan mengusap kedua lengan sang nenek.


Wanita berusia 65 tahun itu mulai tersenyum senang, karena dia masih memiliki cucuk yang perduli dengan dirinya, setidaknya dia tidak benar-benar sendirian di dunia ini.


"Nenek percaya padamu, jadi apa yang mau kau tanyakan pada nenek, apa kamu sudah memiliki pasangan?" Tanya sang nenek secara langsung.


Hal biasa yang selalu ditanyakan oleh sang nenek memang tentang pasangan, calon istri dan cucuk yang selalu dia inginkan, nenek Sulistyo sudah semakin tua, dia juga tidak sebugar sebelumnya, dia tidak ingin meninggalkan cucuknya hidup sebatang kara jika dia meninggal dunia, itulah kenapa sejak lama nenek Sulistyo selalu menyuruh tuan Jenson untuk mencari pasangan hidup, sebab bisnis dan uang yang banyak tetap tidak akan bisa menemani dia dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang murni.


Nenek Sulistyo ingin melihat cucuk semata wayangnya tersebut agar bisa merasakan rasanya mencintai dan di cintai oleh seorang pasangan, agar dia bisa sedikit memilih rasa empati di dalam dirinya terhadap orang lain selain dari keluarganya sendiri.


Sebenarnya selama ini kedua orang tua tuan Jenson masih hidup, hanya saja mereka telah memilih untuk berpisah, keduanya sudah memiliki kehidupan masing-masing dengan keluarga mereka yang baru, meninggalkan tuan Jenson dengan neneknya, dan mereka tinggal di luar negeri, hanya datang mengunjungi tuan Jenson satu tahu sekali saja, itu pun jika mereka tidak lupa, karena kegagalan kedua orangtuanya, tuan Jenson memilih untuk tidak menikah dan menjauh dari perempuan, karena dia merasa tidak ada siapapun yang benar-benar mencintai dia, selain dari neneknya seorang.


Kali ini meski tuan Jenson sangat benci, bahkan sudah menganggap kedua orangtuanya mati, dia mulai menghentikan sang nenek agar tidak membahas masalah kedua orangtuanya tersebut dan dia justru mulai bertanya mengenai kejadian di lima tahun sebelumnya.


"Begini nek, apakah nenek masih mengirimkan para wanita kenalan nenek itu untuk mengambil hatiku?" Tanya tuan Jenson langsung pada intinya.

__ADS_1


"Aish.. kau masih mencurigai wanita tua sepertiku, terakhir kali nenek mengirimkan wanita yang cantik dan seksi ke dalam kamar dirumahmu apa yang kau lakukan, kau malah menendang wanita itu keluar dengan kasar, aish dia langsung meminta ganti rugi pada nenek dengan sangat banyak, dan kau marah kepadaku begitu keras, mana berani nenek melakukan hal itu lagi." Balas sang nenek menjawabnya dengan jujur.


"Jadi lima tahun yang lalu, bukan nenek yang mengirimkan wanita ke dalam kamar hotelku?" Tanya tuan Jenson memastikannya lagi.


"Lima tahun yang lalu? Lama sekali? Kenapa kamu menanyakan hal yang sudah berlalu begitu lama, nenek juga tidak pernah mengirimkan wanita lagi padamu semenjak kejadian wanita yang kau tendang dari rumahmu itu." Balas sang nenek mulai merasa heran.


"Nek, sebenarnya aku sudah memiliki cucuk untukmu." Balas tuan Jenson membuat nenek Sulistyo langsung terbelalak sangat kaget dan memegangi dadanya.


"Astaga... Hei, kau ini bicara apa? Kapan kau menikah?" Bentak sang nenek sambil langsung menepuk tubuh tuan Jenson dengan kencang.


Langsung saja tuan Jenson meringis kesakitan dan mengusap pundaknya yang terasa sakit akibat mendapatkan p*kulan dari sang nenek sebelumnya.


"Ssstt aw... Nek, kenapa menepukku begitu, aku tidak bercanda atau membohongimu, aku sungguh sudah memiliki seorang anak laki-laki sebagai cucukmu." Balas tuan Jenson sekali lagi membuat sang nenek langsung menunduk dan mengatur nafasnya beberapa saat, hingga dia sudah merasa lebih tenang.


"Astaga... Dasar anak ini, wanita mana yang sudah kau hamili? Dan katakan apa yang sebenarnya terjadi, kau berani menghamili seorang wanita tanpa memberitahuku!" Bentak sang nenek semakin memberikan tatapan yang sangat tajam.


"Semuanya terjadi lima tahun yang lalu nek, aku tidak bisa menceritakan detailnya karena saat ini aku juga masih mencari tahu siapa dalang dari semua ini dan orang yang telah menjebak aku juga wanita tersebut sampai berapa di dalam kamar hotelku lima tahun yang lalu." Balas tuan Jenson menjelaskannya sekilas.

__ADS_1


__ADS_2