Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Bicara Dengan Tuan Jenson


__ADS_3

Hingga sesampainya di kediaman tuan Jenson, tepat ketika aku baru saja selesai menidurkan Teguh di kamarnya, aku langsung keluar dari kamar dan berniat pergi untuk menemui tuan Jenson di kamarnya, aku menarik nafas dengan dalam di depan kamar tuan Jenson, sambil terus saja menenangkan diriku sendiri agar berani masuk dan mulai bicara kepadanya, saat baru saja aku mau mengetuk pintu kamarnya tetapi tiba-tiba saja ada seseorang dari belakang yang memegangi pundakku, membuat aku sangat kaget dan langsung berbalik sambil terperanjat dengan kuat.


"Aaarrkkkk...astaga...ahh, tuan aku pikir siapa." Ucapku sambil mengelus dada dengan pelan beberapa kali.


Karena rupanya orang yang menepuk pundakku saat itu adalah tuan Jenson, aku pikir dia ada di kamarnya ternyata dia malah ada di belakangku, membuat aku kaget kemunculannya yang datang secara tiba-tiba seperti tadi.


"Sedang apa kau terus berdiri di depan kamarku? Apa kau mau tidur denganku?" Tanya tuan Jenson yang membuat aku langsung membelalak mata kepadanya.


Dan tidak habis pikir kenapa dia bisa menduga hal seperti itu padaku, yang jelas-jelas tidak mungkin aku lakukan.


"Hah? Ahahaha...tuan kau ini mengigau atau apa, bagaimana mungkin aku mau tidur dengan pria sepertimu, meskipun kau sudah menjadi suamiku tetap saja aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali, yang benar saja kau ini." Balasku yang rupanya langsung membuat tuan Jenson mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat jelek dan ditekuk kuat, dia juga langsung menyenggol ku ke samping sambil menyuruhku pergi dari sana, padahal aku sama sekali belum selesai.


"CK...kalau begitu cepat minggir, jangan menghalangi jalanku untuk masuk ke kamarku sendiri, dasar penghalang, sana kau pergi!" Bentak tuan Jenson yang terlihat kesal.


Aku segera menghentikannya karena aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk membicarakan hal penting yang sejak awal sudah tertahan cukup lama.


"Eehh..tunggu, ada yang mau aku bicarakan denganmu tuan, ini hal yang sangat penting." Ucapku sambil menahan tangannya saat itu.

__ADS_1


"Hei apa kau tidak tahu waktu ya, lihat ini sudah jam berapa, aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu, aku mau tidur sana pergi ke kamarmu." Ucap tuan Jenson menghempaskan tanganku begitu saja.


Dia kemudian masuk dan menutup pintu kamarnya sangat kencang, aku bahkan kaget dengan kelakuannya yang sangat aneh tersebut, dia marah hanya karena ucapanku sebelumnya, padahal aku pikir itu juga salah dia sendiri yang memulai lebih awal menduga hal yang tidak-tidak denganku, tentu saja aku menjawabnya sesuai dengan apa yang aku pikirkan, tetapi justru dia malah marah seperti ini denganku.


"Aishh...ada apa sih dengan orang ini, mudah sekali dia marah, aahh bagaimana aku mau bicara dengannya kalau begini, tapi kalau bicara besok, dia pasti makin marah dan pergi ke kantor lagi, terlalu lama jika harus menunggu dia pulang dari kantor lagi, huh bodo amatlah yang penting aku harus bicara dengannya malam ini juga, karena ini tidak bisa ditunda sama sekali." Gerutuku terus saja memikirkan tekad yang sangat kuat.


Aku tidak ingin berlama-lama menahan semua keinginanku ini, karena bisa saja besok aku tidak akan memiliki waktu dengan tuan Jenson ataupun pikiranku sendiri yang bisa saja berubah secara tiba-tiba, jadi aku pikir ketika sebuah ide muncul di kepalaku, maka aku harus segera membicarakannya kepada tuan Jenson sebelum diriku sendiri berubah pikiran, oleh karena itu aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya dan terus memanggil tuan Jenson tanpa henti hingga dia mau membukakan pintunya untukku.


"Tok...tok..tok..tuan buka pintunya aku ingin bicara denganmu!" Teriakku di iringi ketukan pintu sangat kuat saat itu.


"Tuan, ayolah aku minta maaf jika ada ucapanku yang menyakiti perasaanmu, tapi kan aku hanya bicara apa adanya saja, tuan ayo buka pintunya ini sangat penting!" Teriakku lagi mulai membujuk tuan Jenson.


Tapi rupanya dua kali teriakkan ku itu sama sekali tidak dapat mengubah pikiran tuan Jenson, sampai pada akhirnya terpaksa aku harus menggunakan cara terakhir yang bisa aku lakukan saat itu, untuk membuat dia bisa membukakan pintu kamarnya untukku.


"Tuan aku mau tidur di kamarmu!" Teriakku sangat kencang hingga tidak lama tuan Jenson benar-benar membukakan pintunya dengan cepat.


Aku merasa sangat senang dan langsung tersenyum kepadanya, dia juga mempersilahkan aku untuk masuk, meski dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat datar dan masih kesal denganku.

__ADS_1


"Masuk." Ucapnya jutek sekali.


Aku mengangguk dan segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tuan Jenson, melihat kamarnya yang begitu rapih dan semuanya terlukis dengan cat putih bersih, membuat kamar yang luas ini terlihat semakin luas dan sangat bersih sekali.


Aku berdiri di samping ranjangnya sedangkan tuan Jenson sendiri langsung saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang tepat di hadapanku, membuat aku langsung menarik tangannya dan menghentikan dia yang saat itu hendak menarik selimutnya dan hampir saja tertidur. "Ehh...tuan tunggu, aku mau bicara dulu denganmu, kenapa kau begini sih." Ucapku menahan tangannya lagi sampai membuat tuan Jenon menatap tajam kepadaku dan dia segera terduduk diatas ranjangnya tersebut.


"Baiklah, apa yang sebenarnya mau kau katakan padaku, sedari tadi terus saja menggangguku tanpa henti." Balas dia yang akhirnya bisa juga diajak bekerjasama.


"Eumm sebelumnya apa aku boleh naik ke atas kasurmu? Tidak nyaman jika kita bicara sangat jauh seperti ini." Ucapku meminta izin terlebih dahulu kepadanya karena aku takut dia akan marah tidak jelas lagi denganku.


"Bukankah kau bilang mau tidur di kamarku? Ya sudah naik saja apa yang kau tunggu, begitu saja masih meminta izin denganku, ribet sekali sih kau ini." Balas dia lagi dengan kecut.


Meski saat itu aku sangat kesal dalam menghadapi tingkahnya tersebut yang terlihat lebih mudah marah dan kekanak-kanakan di bandingkan sebelumnya, tetapi aku harus bisa menahan diri dan menjaga kesabaran dalam diriku, untuk bisa meminta bantuan darinya, agar aku bisa membalaskan dendamku kepada Mike, bagaimana pun aku tidak akan merasa lega jika belum bisa memberikan balasan setimpal atas semua perbuatan yang sudah Mike lakukan terhadapku dimasa lalu.


Segera saja aku duduk di samping tuan Jenson dan menutupi sebagian tubuhku dengan selimut miliknya, aku mulai bicara kepadanya tentang apa yang aku inginkan.


Dan mulai untuk berusaha mengutarakan pemikiran dalam diriku.

__ADS_1


__ADS_2