Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Menjemput Teguh


__ADS_3

"Iya, aku juga tidak pernah melihat dia diantar ke sekolah dengan ibunya, dia selalu datang sendiri dan selalu pulang dengan pengasuh di panti, apa jangan-jangan dia memang anak yang dibuang oleh kedua orangtuanya ya, kasihan sekali." Ucap yang lainnya menimpali.


Aku mengerutkan kedua alisku dan terus menutup mulut dengan kedua tangan sambil menahan air mata yang sudah membendung di mataku saat itu, rasanya benar-benar sangat menyakitkan ketika aku harus melihat putraku satu satunya mengalami hal seperti ini di sekolahnya, aku yang sibuk bekerja tidak pernah tahu bagaimana putraku bergaul di sekolah, aku juga tidak tahu apakah dia memiliki teman atau tidak, aku hanya perduli jika nilainya besar dan dia menjadi siswa nomor satu, kupikir dia akan menjadi anak yang populer di sekolahnya, karena dia tampan dan jenius, namun sayangnya aku salah, ternyata dia malah harus mendapatkan hal seperti ini, di cemooh oleh teman-temannya yang lain hanya karena aku yang tidak pernah menampakkan diri untuk mengantarnya ke sekolah, dan dia bahkan tidak bisa berkata-kata apapun ketika dia ditanya mengenai ayahnya oleh temannya yang lain.


Hatiku sedih sekali dan aku tidak bisa membiarkan putra kesayanganku merasa sedih dan terus saja diam tertunduk seperti itu, aku langsung berusaha tegar untuk diriku dan segera datang untuk menemuinya.


"Teguh..." Teriakku memanggilnya saat itu.


Teguh langsung berbalik menatap ke arahku dan dia memanggil aku hingga membuat teman-temannya yang lain menatap ke arahku juga dengan tatapan yang terperangah.


"Ibu?" Balas Teguh sampai aku menghampirinya dan berada di hadapan dia.


"Teguh apa Tante cantik ini, dia ibumu?" Tanya salah satu temannya yang tadi menghina putra kecilku.


"Hai anak manis, iya aku ibunya Teguh, namaku Ros, kamu bisa memanggil Tante dengan sebutan itu." Ucapku sambil menyapa gadis kecil yang manis tersebut.


"Wahh.... namamu sangat cantik Tante, kau juga begitu tinggi dan tubuhmu seperti seorang model, kamu benar-benar luar biasa, pantas saja Teguh sangat tampan, ternyata ibunya juga secantik ini, Teguh maukah kamu berteman denganku?" Ucap gadis kecil itu yang langsung saja bersikap baik pada Teguh.


Mereka memang anak-anak kecil yang mungkin wajar saja melakukan hal seperti itu karena hanya bercanda saja saat itu, tetapi mungkin perkataan tersebut dan candaannya tidak bisa di terima dengan mudah oleh sosok Teguh sebab dia memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak-anak seusianya yang lain.


Buktinya sekarang setelah aku muncul dan memperkenalkan diri, anak-anak itu menjadi jauh lebih baik kepada Teguh dan mereka bisa bermain dengan layaknya anak-anak seharusnya, aku senang bisa melihat Teguh menebarkan senyum kepada orang lain selain diriku seperti itu.


"Ibu aku sudah harus masuk, kenapa kau kembali kemari, apa ada yang mau kamu katakan padaku?" Tanya nya saat itu.


"Iya ibu lupa ingin memberikan permen ini kepadamu, dan teman-temanmu yang lain, ini jangan lupa kamu bagikan dengan yang lain ya sayang." Balasku kepadanya saat itu sambil memberikan sebungkus permen kepada Teguh.

__ADS_1


Anak-anak disana langsung saja merasa sangat senang dan terlihat terus saja gembira, mereka terus saja berterimakasih kepadaku dan mereka kini sudah jauh lebih akur dibandingkan sebelumnya, hingga ketika anak-anak itu pergi tiba-tiba saja ada guru Teguh yang menyapaku dari samping dan aku segera saja pergi dengannya lalu mengobrol mengenai perkembangan Teguh saat ini.


"Ibu Ros, aku tahu kamu memiliki seorang putra yang sangat pandai bahkan dia jenius di kelasnya, dia benar-benar sangat luar biasa, dan saya rasa sekolah di tempat ini terlalu mudah untuk anak jenius seperti Teguh, kenapa ibu Ros tidak pergi menyekolahkan dia ke luar negeri saja?" Ucap guru itu memberikan ide kepadaku.


Aku hanya bisa terdiam sejenak saat itu dan memikirkan dengan apa yang diucapkan oleh wali kelas Teguh saat itu, aku juga tidak tahu bagaimana cara menjawab ucapan guru tersebut, karena memang apa yang dia katakan benar, Teguh pantas mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan lebih bagus lagi demi masa depannya, tetapi dengan keadaan keuanganku saat ini, aku tidak mungkin pergi ke luar negeri atau pun ke tempat lain, aku perlu mengumpulkan uangku dahulu untuk bisa menyokong kepandaian putra semata wayangku ini.


"Ibu Ros, saya tahu mungkin biaya akan menyulitkan anda, tetapi ibu Ros saya mau menawarkan sesuatu kepada anda, ini ada beasiswa yang bisa di gunakan untuk Teguh ketika dia masuk ke SMP di negara C, pendidikan disana sangat bagus, Teguh bisa menemukan guru yang lebih pandai dan teman-teman yang sepadan dengannya, terlebih bukankah anda juga sebelumnya dari negara C, kenapa anda tidak memikirkannya untuk kesana." Ucap wali kelas Teguh memberikan pendapat kepadaku saat itu.


"Itu benar Bu, tetapi saya rasa saya tidak ingin kembali lagi ke negara itu untuk saat ini." Ucapku kepadanya saat itu.


"Semua kembali lagi pada keputusan ibu dan Teguh, saya hanya bisa memberikan pendapat saja, tetapi jika nanti ibu ingin mengambil beasiswa ini, ibu bisa datang menemui saya lagi, kapanpun ibu mau," ucap guru itu yang sangat baik kepadaku.


"Terimakasih banyak, kalau begitu saya permisi." Balasku kepadanya sambil membungkuk dan pergi secepatnya.


Selama di perjalanan menuju cafe aku terus saja memikirkan ucapan dari guru tersebut, aku pikir apa yang dikatakan olehnya memang benar, jika aku pindah ke negara C dari sekarang mungkin nantinya Teguh tidak akan kesulitan dengan bahasa baru yang digunakan disana, dia juga bisa mencari teman-teman yang baru disana nantinya, kalau aku pindah ke negara C saat Teguh sudah mau ke SMP nantinya dia bisa saja kesulitan dengan mencari teman baru dan membiasakan diri dengan bahasa asing nantinya.


"Ros bukankah kamu mau izin menjemput putramu, kenapa masih disini?" Tanya rekan kerjaku saat itu.


"Aahh, iya aku hampir saja lupa, terimakasih sudah mengingatkan aku, aku pergi dulu kalau begitu." Ucapku kepadanya sambil segera pergi dengan cepat saat itu juga.


Aku terus saja terburu-buru untuk sampai ke sekolah Teguh untungnya saat aku sampai disana berbarengan dengan bubarnya anak-anak TK jadi Teguh tidak akan mengetahui kalau aku hampir saja datang terlambat ke sekolah untuk menjemputnya.


"Ibu...." Teriak Teguh sambil berlari dan langsung memelukku saat itu.


"Sayang, ayo kita pergi." Ajak ku kepadanya saat itu.

__ADS_1


"Eumm ayo ibu, aku sudah lapar aku mau makan di cafemu. Kamu harus memasakkan aku makanan nanti." Ucap Teguh yang langsung aku anggukkan dengan cepat.


Dia terlihat sangat ceria dari sebelumnya, aku sangat senang sekali melihat Teguh sudah bisa menjadi anak yang ceria seperti ini, hingga sesampainya di cafe aku segera saja menyajikan makanan untuk Teguh dan kembali bekerja, aku menyuruh Teguh untuk duduk di rmsalah satu kursi yang ada disana sambil bermain memegangi ponselku.


"Teguh sayang kamu tunggu disini sampai ibu selesai bekerja ya, jangan nakal dan jadilah anak yang baik, apa kamu mengerti?" Ucapku kepadanya saat itu.


"Eum...aku mengerti ibu." Balas dia sambil mengambil ponsel yang aku berikan kepadanya saat itu.


Dia sangat manis dan teman-temanku juga menyukainya.


Sedangkan disisi lain tanpa Ros sadari saat itu tuan Jenson kebetulan tengah berada di negara tersebut untuk sebuah perjalanan bisnis sebelumnya, dia juga datang ke cafe tempat Ros bekerja dan dia menempati kursi yang berdampingan dengan sofa tempat Teguh duduk disana.


Dari awal masuk ke dalam cafe tersebut Roy yang merupakan orang kepercayaan tuan Jenson dia sudah memperhatikan Teguh dengan begitu lekat karena merasa wajah anak kecil itu sangat mirip sekali dengan tuan Jenson.


Sehingga dia mulai memberitahu tuan Jenson mengenai hal tersebut tepat ketika pembicaraan bisnis tuan Jenson dengan kliennya baru saja selesai saat itu.


"Tuan Jenson, lihatlah kesana, bukankah anak kecil itu memiliki wajah yang sangat mirip denganmu?" Ucap Roy berbisik pelan pada tuan Jenson saat itu.


Sedangkan Ros tengah memasak di dalam dan dia sama sekali tidak mengetahui mengenai hal itu sebab dia tidak berada di bagian pelayanan hari ini.


Tuan Jenso mulai melirik ke arah anak kecil yang sangat mirip dengannya bahkan dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Roy saat itu, tuan Jenson sampai memegangi wajahnya sendiri ketika melihat bocah kecil di sampingnya begitu mirip dengan dirinya saat itu.


Hingga karena merasa penasaran tuan Jenson segera menghampiri bocah kecil yang tengah bermain ponsel tersebut dengan sangat serius, dan mulai berbicara dengan Teguh.


"Heh..bocah siapa kau?" Ucap tuan Jenson yang bersikap sangat dingin bahkan kepada anak kecil seusia Teguh ini.

__ADS_1


Teguh yang fokus memainkan permainan di ponsel ibunya dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh tuan Jenson saat itu, dan malah terus saja sibuk bermain game sendiri, hingga tuan Jenson yang merasa kesal sebab diabaikan bocah kecil seperti itu, dia pun langsung merampas ponsel yang ada di tangan Teguh sampai membuat Teguh terperangah dan marah kepadanya.


__ADS_2