
Hingga Teguh terus mengguncang tanganku, dia mendesak aku tanpa henti untuk menjawab pertanyaan dari pria menyebalkan itu, semakin dia mendesak aku, itu membuat diriku semakin tidak memiliki pilihan lain dan otakku tidak memberikan aku solusi yang tepat di waktu yang cepat.
"Mah... Kenapa mamah diam saja? Ayo katakan mah, mamah pasti mengenal pria itu kan, siapa dia ma?" Ayo jawab aku!" Ucap Teguh terus menarik sebelah tanganku.
Aku pun segera menghembuskan nafas cukup kuat, berbalik menatap ke arah Teguh dan langsung memegangi kedua tangannya dengan erat, aku masih harus membohongi dia, aku tidak ingin Teguh mengetahui hal yang sebenarnya.
"Teguh sayang, mamah memang mengetahui namanya tetapi mamah sama sekali tidak mengenali pria ini, dia hanya orang asing yang selalu mengikuti mama, dan kamu tolong jangan bertanya lagi soal ini, mamah juga tidak mengerti kenapa pria ini terus mengikuti kita." Balasku menjelaskan kepadanya.
Aku sudah berusaha payah menjelaskan kepada Teguh dan menyembunyikan semua kebenarannya, tetapi pria sialan itu justru membongkarnya begitu mudah di depan Teguh sekaligus, membuat aku terperangah saat mendengar ucapan dari mulutnya.
"Aku ayahmu, aku orang yang akan mengejar ibumu." Ucap tuan Jenson dengan penuh keyakinan dan bicara begitu kuat.
Teguh langsung saja menatap ke arah tuan Jenson dengan mata yang begitu berbinar, dia justru malah terlihat begitu senang ketika mendengar hal tersebut dari pria yang paling aku benci, dan paling tidak ingin aku lihat wajahnya selama ini.
"Apa? Benarkah? Om, apa kamu selama ini menyukai ibuku, itulah kenapa kamu mengikuti aku sebelumnya?" Tanya Teguh lagi dengan wajah yang sangat antusias.
Pria itu malah mengangguk membuat aku semakin kesal dengannya, aku terus menarik Teguh untuk kembali duduk di sampingku dan agar dia menjauh dari pria licik seperti tuan Jenson ini, aku sudah tahu siapa dia dan mendengar banyak rumor tentangnya, dan aku masih mengingat dengan jelas bagaimana perlakuan dia terhadapku sebelumnya, mengusir aku dari kantornya dan sama sekali tidak mengakui bayi dalam kandunganku.
__ADS_1
Itu masih sangat membekas dan tidak akan pernah terlupakan sedikit pun olehku.
"Teguh kemari, jangan dekat-dekat dengan pria itu, kamu ini masih kecil dia bisa saja berbohong padamu, jangan anggap serius ucapannya." Kataku memperingati Teguh dengan wajah serius dan bicara sangat tegas.
"Sudahlah mau kemana kalian, biar aku antarkan." Ucap dia begitu saja.
Entah kenapa aku merasa dia seperti tiba-tiba berubah menjadi lebih ramah dan lebih baik dibandingkan sebelumnya, padahal sangat jelas sekali tadi dia malah hendak membawa aku pergi entah kemana tapi sekarang justru malah menawarkan diri untuk mengantarkan aku dan Teguh ke tempat tujuan kami.
Bagaimana aku bisa mempercayai orang sepertinya disaat aku sudah tahu jika dia orang yang mudah berubah seperti ini, aku juga merasa orang seperti dia pasti tidak akan ingat dan tidak akan sadar dengan kejahatan yang pernah dia lakukan kepadaku dimasa lalu.
"Permintaanmu diluar tawaranku, jadi aku tidak bisa melakukannya, kataka kemana kau akan pergi atau kau ikut denganku saja." Balas pria itu yang sangat menjengkelkan.
Teguh malah mengatakan tujuan kami dan dia segera melajukan kembali mobilnya dengan cepat, aku benar-benar dibuat kesal dan emosi karenanya, tapi aku tidak bisa marah pada Teguh, jadi sepanjang jalan aku hanya bisa cemberut dan memasang wajah jelek terus menerus tanpa henti.
Sesampainya di pusat kain, aku langsung turun dari mobilnya dan menarik tangan Teguh untuk pergi dengan cepat dari pria itu, sebelum dia akan terus mengikuti jejakku.
"Eh.. mah... Mamah.. kenapa kita tidak mengucapkan terimakasih dahulu kenapa om tampan tadi? Kenapa mamah sangat tidak menyukainya, kelihatannya dia orang yang baik." Ucap Teguh kepadaku.
__ADS_1
"Kamu anak kecil, kamu tidak tahu apapun, sudah jangan bahas pria itu lagi, kita pergi berbelanja kainnya saja, nanti Tante Nayla akan menunggu kita di butik." Balasku dan langsung masuk ke dalam pasar kain tersebut dengan cepat.
Sementara tuan Jenson bersandar di samping mobilnya dengan kaki yang dia silangkan serta kedua tangan yang di lipat di depan dada, dia menatap lurus, terus memperhatikan sosok Ros bersama dengan bocah laki-laki yang ikut bersamanya, kini tuan Jenson sangat yakin sekali bahwa anak kecil yang memiliki wajah mirip dengan dirinya adalah putra dia di lima tahun yang lalu.
"Aku yakin anak itu adalah putraku, kita lihat saja sampai bukti tes DNA itu keluar, kau tidak akan bisa mengelak padaku lagi Ros." Gerutu tuan Jenson dengan senyum licik di wajahnya.
Tuan Jenson memang sangat membutuhkan seorang putra bagi penerus perusahaan besar miliknya saat ini, tetapi karena dia selalu disibukkan dengan bisnis dan permasalahan kantor lainnya, dia memiliki untuk mendedikasikan dirinya pada bisnis, dia benci wanita dan tidak pernah mau menikah, dia berniat ingin mencari seorang anak laki-laki yang memiliki kecerdasan setara atau bahkan lebih dari pada dirinya untuk dia angkat sebagai putranya, agar dia bisa tetap memberikan seorang cucuk pada sang nenek tanpa perlu menikah sama sekali.
Namun sayangnya kejadian yang tidak menyenangkan terjadi di lima tahun kebelakang tersebut, dia tiba-tiba saja kedatangan seorang wanita ke dalam kamar tidurnya begitu saja, dengan pakaian yang sudah tidak layak tentu saja dia tetap tergoda karena bagaimana pun dia seorang pria, walau sebenarnya dia tidak pernah merasa tertarik dengan banyak wanita yang sudah pernah di kirimkan oleh sang nenek sebelumnya.
Bahkan sampai saat ini tuan Jenson sendiri masih merasa aneh dengan kejadian tersebut. "Kenapa aku tergoda dengan wanita itu? Padahal malam di lima tahun yang lalu, aku sama sekali tidak meminum alkohol, aku sadar dengan benar, kenapa juga wanita itu bisa tiba-tiba muncul di dalam kamar hotelku, apa benar dia wanita yang di kirim oleh nenek?" Batin tuan Jenson mulai terpikirkan ke arah sana.
Karena dia sangat penasaran dan ingin mencari tahu kebenarannya, dia pun segera menghubungi sang nenek untuk bertemu, meski mereka tinggal di kota yang sama sayangnya tuan Jenson lebih memilih tinggal di rumahnya sendiri, berbeda rumah dengan sang nenek kesayangannya tersebut.
Demi memastikan hal tersebut, tuan Jenson berani pergi menemui sang nenek setelah dia tahun terakhir ini dia tidak pernah mengunjungi neneknya lagi, bahkan sangat jarang sekali untuk memberikan kabar, karena setiap kali dia bertemu ataupun menghubungi neneknya, sang nenek sudah pasti akan menanyakan tentang percintaan dirinya, pertanyaan seperti kapan dia menikah, kapan dia akan memiliki anak juga sejenisnya akan selalu dilontarkan oleh sang nenek, sehingga hal itu sangat membuat sosok tuan Jenson muak dan kesal untuk membahasnya.
Jadi dia lebih memilih untuk tidak menghubungi dan mengunjungi sang nenek sekaligus.
__ADS_1