Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Diantar Pulang


__ADS_3

Tak lama tuan Jenson berbalik dan menyuruhku untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kau masih berdiri di sana, ayo masuk bukannya kau mau pulang sedari tadi?" Ucapnya kepadaku.


"Kenapa kau tiba-tiba bersikap baik padaku dan Teguh, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari kami?" Tanyaku dengan sangat serius kepadanya.


Dia malah menghembuskan nafas dengan lesu dan langsung saja memberikan sebuah senyuman mencurigakan kepadaku, berjalan mendekati aku hingga jarak wajah kami tinggal beberapa cm saja, kemudian dia langsung membisikkan sesuatu tepat di samping telingaku dengan cepat dan nada yang tegas.


"Aku mau Teguh tinggal denganku." Bisiknya kepadaku yang membuat aku sangat syok mendengarnya.


Langsung saja aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga, dan memberikan peringatan keras kepadanya.


"Apa? Kau gila ya? Apa kau sudah lupa atas semua perbuatan yang pernah kau lakukan kepadaku hah? Apa kau juga lupa jika kau pernah tidak meng..." Ucapanku tertahan karena tuan Jenson langsung membekap mulutku dengan cepat.


"Eumm, lepaskan aku!" Bentakku berontak lagi untuk menghempaskan tangannya yang membekap mulutku sangat kuat sekali.


"Ssttt... Jangan berisik dan jangan membahas masalah itu disini, lihat Teguh bisa saja bangun dan akan bahaya jika dia mendengarkan suaramu yang sangat nyaring itu, sudah ayo masuk aku akan mengantarkan kamu dan Teguh dahulu, besok baru kita bertemu lagi dan membahas semua masalah ini." Ucapnya dengan nada yang begitu santai.


Memang semudah itu baginya yang sama sekali tidak melewati kesulitan apapun selama lima tahun terakhir ini, berbeda denganku, yang mendapatkan dampak paling besar atas semua hal yang dia lakukan kepadaku, selain dari menghancurkan karir yang sangat aku cintai, dia juga sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, jadi bagaimana mungkin aku bisa memaafkan dia dengan mudah disaat semuanya sudah hampir sembuh seperti sekarang ini.

__ADS_1


Meski dia sudah bicara jauh lebih santai dan lembut dibandingkan sebelumnya, tetapi rasa benci dalam diriku masih terdapat begitu banyak untuknya, aku tidak mau bahkan hanya untuk menatap wajahnya saja, tapi dia justru langsung menarik tanganku dan terus saja memaksa aku untuk masuk ke dalam mobilnya dengan paksa.


Hingga aku tidak memiliki pilihan lain lagi, dan terpaksa dengan hal ini dia pasti akan mengetahui keberadaan rumahku, dan aku mungkin akan mendapatkan banyak kesulitan kedepannya, jika dia sudah tahu tempat tinggal ku.


Bahkan selama di perjalanan, tidak ada percakapan apapun antara aku dan dia, selama itu aku hanya diam, memasang wajah cemberut dan menoleh ke luar jendela karena enggan untuk melihat wajah tuan Jenson.


Namun lama kelamaan aku justru malah tertidur, karena sudah sangat lelah melewati hari yang penuh kesibukan, di tambah drama yang dibuat oleh tuan Jenson sebelumnya, sehingga mengharuskan aku berlari dalam jarak jauh dengan terburu-buru.


Tuan Jenson sendiri hanya tersenyum kecil melihat Ros yang tertidur di sampingnya, dia pun tidak tega untuk membangunkan Ros, padahal saat itu dia telah sampai di depan apartemen sewaan milik Ros. Tetapi dia sama sekali tidak membangunkan Ros, hingga tidak lama justru malah Teguh yang terbangun dan dia langsung bertanya tentang keberadaan dia pada tuan Jenson.


"Eummm.. tuan ada dimana kita, kenapa ibu tidur di mobil?" Tanya Teguh sambil menatap penuh keheranan dan masih mengucek sebelah matanya.


"Sstt... Kecilkan suaramu ya, lihat ibumu sepertinya sangat kelelahan dia sudah tidur begitu lama disini, aku tidak berani membangunkannya," balas tuan Jenson menjawab pertanyaan dari Teguh.


"Lalu sekarang kita harus bagaimana tuan Jenson?" Tanya Teguh lagi dengan wajah polosnya.


"Kamu tahu kunci rumahmu kan?" Tanya tuan Jenson yang langsung di balas anggukkan oleh Teguh, yang membuat tuan Jenson langsung tersenyum menatapnya.


Mereka bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan saat itu, dan langsung saja Teguh keluar dari mobil lalu tuan Jenson menggendong ibunya dengan perlahan, membawa masuk ke dalam rumah yang sebelumnya sudah di buka kan oleh Teguh lebih dulu, kemudian Teguh menunjukkan kamar ibunya sampai tuan Jenson sudah berhasil mengetahui semua hal tentang ibunya tersebut secara tidak sengaja.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya tuan Jenson tahu jika ternyata selama ini putranya tinggal di dalam rumah kecil yang sempit, juga berantakan seperti yang dia lihat saat ini, melihat kondisi tersebut, itu membuat dia semakin bertekad kuat untuk mengambil Teguh dari Ros, agar putranya bisa mendapatkan rumah dan hidup yang lebih layak, meski dia tahu bahwa Ros tidak akan membiarkan dia mengambil Teguh dengan mudah.


"Tuan Jenson apa kamu mau aku ambilkan minuman?" Tanya Teguh kepadanya.


Dengan cepat Jenson langsung menggeleng dan dia justru meminta ijin pada Teguh untuk menginap malam itu di rumah mereka, Teguh tentu menyetujuinya dan dia memberikan selimut juga banyak pada tuan Jenson untuk dia tidur di sofa ruang tengah, karena di rumahnya hanya memiliki dua kamar saja.


Teguh pergi tidur ke kamarnya tanpa merasa curiga sama sekali dengan pria yang dia bawa masuk ke dalam rumahnya tersebut, dan tanpa dia ketahui bahwa pria yang bicara dengannya barusan adalah ayah yang selam ini dia cari keberadaannya.


Bukannya tidur di sofa, tuan Jenson yang tidak terbiasa tidur pada tempat sempit seperti itu, dia tentu tidak merasa nyaman da sangat tidak terbiasa, alhasil dia pergi ke kamar Ros, lalu tidur di sampingnya dengan begitu santai.


Menghadap ke arah Ros yang tidur dengan lelap dan terus menatap wajah gadis cantik dengan begitu lekat.


"Ternyata dia cantik juga ketika diam begini? Pantas saja dulu aku tergoda olehnya, padahal wanita lain tidak pernah aku sentuh dan tidak pernah membuat aku terpancing sekalipun mereka berdiri di hadapanku tanpa busana." Batin tuan Jenson yang justru malah memperhatikan Ros dengan sedetail itu.


Saat sadar dia langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk menghindari pikiran kotor yang berkeliaran di kepalanya.


"Aish ... Aaarrghhhh kenapa aku malah memikirkan hal itu, aku pasti sudah tidak waras, aaahh dasar wanita konyol." Gerutunya sambil segera membalikkan badan agar tidak menatap pada Ros lagi.


Ros yang tengah tidur, dia jelas tidak sadar bahwa ada orang yang tidur di sampingnya, dia pikir dia tidur seorang diri seperti biasanya sehingga dia memeluk tubuh tuan Jenson secara tidak sadar, yang dia anggap sebagai guling yang biasa dia peluk setiap malam, padahal guling itu sudah di singkirkan oleh tuan Jenson dan dia gunakan untuk tumpuan kepalanya sendiri.

__ADS_1


Saat tuan Jenson baru saja hendak menutup matanya dia mendapati tubuhnya sudah di peluk oleh Ros dari belakang, membuat dia tidak bisa bergerak sama sekali karena merasa sangat gugup dan tidak karuan, dia sudah mencoba memindahkan tangan dan kaki Ros ke tempat semula namun tetap saja tangan dan kaki Ros kembali menimpa tubuhnya, membuat dia sangat kesal dan tidak bisa tidur semalaman.


__ADS_2