
Aku sudah mencoba berontak dan terus menepuk punggungnya dengan kuat karena dia menggendong aku seperti sebuah karung beras yang dia angkat di sebelah bahunya dengan begitu mudah dan seenaknya, membuat kepalaku terbalik ke bawah dan rambutku terurai terbalik begitu saja, aku sangat kesal kepadanya dan terus berontak meminta dia menurunkan aku secepatnya.
"Tuan turunkan aku, hei ayo lepaskan aku apa yang kau lakukan, aahh kepalaku pusing jika kau mengangkat ku begini!" Teriakku sekencang yang aku bisa.
Dia tetap saja tidak mendengarkan teriakkan yang aku katakan dan masih terus membawa aku ke sebuah ruangan yang ada di rumah itu, lalu keluar menuju kolam renang yang ada di samping rumahnya.
Disanalah baru dia menurunkan aku, dan aku terus merasa pusing dengan kepalaku sendiri sampai membuat tubuhku sempoyongan, kesulitan menjaga keseimbangan tubuhku saat itu.
"Aduduh...kepalaku, aahh kenapa jadi pusing begini." Gerutuku sambil terus saja memegangi kepalaku yang terasa sangat pusing.
Pandanganku tidak jelas dan semuanya terlihat memiliki banyak bayangan saat itu, aku memang memiliki riwayat darah rendah jadi hal seperti ini sering terjadi kepadaku, aku berusaha untuk mencari pegangan saat itu namun tidak berhasil, dan hampir saja aku terjatuh ke belakang, dimana di belakangku saat itu adalah sebuah kolam renang yang dalam, tempat tuan Jenson merendam tubuhnya.
Melihat itu tuan Jenson sangat panik dia langsung melangkahkan kakinya besar dan menarik tanganku sampai dia memelukku membawa aku menjauh dari kolam itu.
"Ya ampun, Ros awas!" Teriak tuan Jenson menarik tanganku dan berhasil menyelamatkan aku tepat waktu.
"Hei...hei...Ros, apa kau baik-baik saja?" Tanya dia sambil memegangi kedua pundakku saat itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin duduk dan beristirahat sebentar, tolong bantu aku untuk mencari tempat duduk tuan." Ucapku kepadanya.
Tuan Jenson segera memapah aku dan mendudukkan aku pada salah satu kursi yang ada disana, aku pun mulai menundukkan kepalaku dan mencoba untuk menenangkan diri termasuk menenangkan kepalaku yang terasa sangat pusing saat itu.
"Ros, kenapa kau barusan seperti itu, apa ada masalah dengan kepalamu? apa kau masih merasa pusing? Apa kita perlu memeriksanya ke dokter?" Ucap tuan Jenson di sampingku dan terus bertanya tiada henti sedari tadi.
Membuat aku semakin pusing dengan banyaknya pertanyaan yang dia ajukan kepadaku, padahal aku hanya ingin istirahat sejenak saja aku perlu untuk menenangkan diriku sendiri agar semuanya bisa segera kembali menjadi normal lagi. Sampai pada akhirnya aku yang sedari tadi menahan emosi dan mencoba sabar dalam menghadapinya, akhirnya aku kesal juga dan langsung menatap ke arahnya sambil memegangi kepalaku saat itu dan membentak dia cukup keras.
"Cukup tuan! Kenapa kau sangat berisik sekali, aku kan sudah bilang kepalaku pusing, mataku tidak bisa melihat dengan jelas, aku ini darah rendah, aku hanya perlu istirahat dan duduk untuk beberapa saat, nanti akan sembuh sendiri, jangan terlalu berlebihan dan panik tidak karuan seperti itu!" Bentakku kepadanya dengan kesal.
Tuan Jenson pun langsung terdiam dan terus saja menatap aku dengan kedua matanya yang terbuka sangat lebar, dia merasa sangat kaget melihat aku yang berani untuk mebentaknya sekencang itu dan terus memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Ya ampun tuan, bisakah kau mendengarkan aku dan memahami ucapanku dengan baik sekali saja, aku tidak bermaksud membentak untuk melawan dirimu, tapi kau tau bukan, kepalaku pusing dan semua ini karena kau yang menggendong aku tebalik seperti tadi, sedangkan aku darah rendah, aku pusing, ayolah tolong mengerti kondisiku, aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu hanya karena masalah sepele seperti ini." Balasku berusaha menjelaskan kepadanya.
Tapi rupanya, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan aku jelaskan, wajahnya tetap saja ditekuk sangat jelek dan memalingkan pandangan dariku, mungkin dia juga tidak mendengarkan semua penjelasan yang aku katakan kepada dia sebelumnya, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk memberitahu tuan Jenson bahwa aku tidak bermaksud seperti itu kepadanya.
"Huuhh... Sudahlah tuan, sekarang apa yang mau kau bicarakan kepadaku sampai membawa aku ke tempat ini?" Tanyaku kepadanya untuk mengubah topi pembicaraan diantara kami.
__ADS_1
Setelah aku bertanya begitu barulah tuan Jenson mau berbalik menatap ke arahku lagi dan dia mulai menjelaskan niatnya itu segera.
"Kenapa kau tidak memberitahu Teguh bahwa aku adalah ayahnya." Ucap tuan Jenson membuat aku langsung terbelalak lebar dan refleks langsung menutup mulut tuan Jenson dengan tanganku.
Aku takut Teguh akan mendengarnya, maka dari itu aku refleks membekap mulut tuan Jenson untuk menahan dia agar tidak bicara sembarangan tentang masalah sensitif seperti itu.
Sayangnya aku lupa bawah orang yang berada di hadapanku saat ini adalah tuan Jenson, sang pemilik perusahaan G. Entertainment yang begitu besar di pusat kota dan merupakan salah satu orang yang terpengaruh di negara ini, tatapan mata tuan Jenson begitu tajam kepadaku dan dengan cepat aku langsung melepaskan tanganku yang menutupi mulutnya dengan pelan saat itu, sambil segera saja meminta maaf kepadanya.
"Aa..ahhh..ma..maafkan aku tuan, aku tidak berniat seperti itu, sungguh aku hanya takut Teguh mendengarnya, maafkan aku." Ucapku terus saja merasa takut dengannya.
Dia langsung berdecak kesal dengannya dan langsung saja terlihat begitu gemas denganku, aku tahu dia pasti ingin marah besar kepadaku tapi rupanya dia menahan diri saat itu, untuk tidak melampiaskannya kepadaku.
"Aishh....aaahhh....jika saja kau bukan ibu dari putraku, aku sudah menendangmu sedari tadi, CK... Beraninya kau membekap aku seperti itu!" Ucap tuan Jenson yang terus saja membelalakkan matanya dan berkacak pinggang di depanku, sambil terus mondar mandir dan menendang kosong ke depan.
"Tuan aku kan sudah minta maaf, kenapa kau terus emosi seperti itu." Ucapku mulai merasa tidak enak hati dengannya.
"Hei, bagaimana aku tidak kesal, kau membekap mulutku dengan lancang, kau juga tidak ingin putraku tahu bahwa aku adalah ayahnya, bahkan disaat kau sudah menyetujui untuk tinggal denganku dan akan menikah denganku, apa kau mempermainkan aku hah?" Bentak dia kepadaku sangat kencang.
__ADS_1
Aku hanya bisa terus tertunduk dengan lesu dan tua Jenson terus saja pergi dari sana setelah dia mengacak rambutnya dengan kesal.
"Aishh... Sudahlah, kau hanya membuat aku semakin kesal!" Ucap dia terakhir kali lalu masuk kembali ke dalam rumahnya dengan cepat.