Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Di Perjalanan Pulang


__ADS_3

Aku kaget bukan main dan langsung saja membelalakkan mataku sangat lebar saat itu hingga langsung saja aku bangkit kembali menjauh darinya dan langsung membentak serta memarahi dia dengan keras.


"Aaahh...sialan beraninya kau mencium aku, apa kau gila ya?" Bentakku kepadanya dengan sorot mata yang tajam dan penuh dengan kekesalan kepadanya saat itu.


"Heh, siapa yang menciummu kau yang melakukannya, aku hanya menarik tanganmu saja." Balas dia dengan wajah yang tidak merasa bersalah sedikitpun.


Pada aku tahu dengan jelas bahwa dia yang melakukan semua itu sebab jika dia tidak menarik tanganku, aku juga tidak mungkin kembali terdorong ke dalam mobilnya lagi sampai jatuh menimpa dirinya dan ciuman itu terjadi.


"Tuan jika kau tidak menarik tanganku kejadian memalukan seperti tadi tidak akan terjadi diantara kita, dan sebaiknya kau jangan memegangi tanganku lagi, aku harus pergi, jangan pernah kau muncul dihadapan aku atau putraku lagi!" Bentakku kepadanya.


Dia masih saja tidak melepaskan aku dan malah menggenggam tanganku lebih kuat daripada sebelumnya.


Sehingga membuat aku sedikit takut dengannya, apalagi ketika melihat wajahnya yang cukup menyeramkan dia menatap tajam padaku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, padahal aku sudah berusaha berontak kepadanya dengan sangat keras saat itu.


"Eughh...lepas, lepaskan aku, apa yang kau lakukan, kenapa kau malah menggenggam tanganku seperti ini?" Ucapku sambil terus saja berusaha melepaskan pegangan tangan dia pada pergelangan tanganku saat itu.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, kau harus menjawabnya, mana foto ayahnya jika dia benar punya ayah, jika kau tidak menjawabnya atau tidak memperlihatkannya padaku, apa itu berarti dia adalah anakku?" Ucap dia membuat aku langsung terdiam seketika.


"Hah....anakmu? Bukankah dulu kau sendiri yang bilang jika anak dalam kandunganku tidak mungkin anakmu? Kau bilang aku wanita murahan dan kau malah memberikan aku uang untuk menyelesaikan permasalahan kita saat itu, jadi aku tegaskan padamu lagi, dia bukan putramu, dia putraku, dia punya ayah atau tidak atau siapapun ayahnya itu bukan urusanmu!" Balasku dengan tegas dan menghempaskan tanganku hingga terlepas darinya.


"Jika dia bukan putraku kenapa wajahnya begitu mirip denganku?" Ucap dia membuat aku berhenti saat hendak membuka pintu mobilnya lagi.

__ADS_1


Aku langsung kembali berbalik menatap ke arahnya dan mengatakan jawaban yang ingin dia dengar sebelumnya.


"Karena saat aku mengandung, aku sangat membencimu, itulah kenapa wajahnya mirip denganmu, dan aku menyesal atas semua itu!" Balasku kepadanya sambil segera pergi dari mobil dia dengan cepat.


Kebetulan saat aku keluar kulihat ada Teguh yang berlari ke arahku, dan aku segera membawa dia pergi menghentikan taxi yang lewat di sekitar sana lalu segera masuk dan meninggalkan tuan Jenson itu dengan secepat yang aku bisa.


Selama di perjalanan Teguh terus menatap ke arahku dia memperhatikan wajahku yang tidak memiliki ekspresi, karena sebenarnya saat itu aku menahan diri agar tidak menangis di hadapan Teguh, aku tidak mau Teguh mengetahui titik kelemahan diriku, aku tidak mau membuat dia mencemaskan keadaan aku, jadi aku terus berusaha menahan diriku sendiri agar tidak menangis ataupun mengeluarkan air mata di hadapan Teguh.


"Ibu ada apa denganmu, apa pria itu berbuat jahat padamu? Kenapa kau terus diam?" Tanya Teguh kepadaku saat itu.


Aku langsung menoleh ke arahnya dan memeluk dia dengan erat, aku hanya tidak ingin kehilangan Teguh, aku tidak mau dia mengetahui bahwa tuan Jenson itu adalah ayah kandungnya yang selalu ingin dia temui.


"Teguh, ibu baik-baik saja, pria tadi juga tidak bicara apapun pada ibu, dia hanya bertanya kepada wajahnya bisa sangat mirip dengan wajahmu yang tampan ini dan seperti dia kalah tampan denganmu makanya dia terlihat cukup kesal terakhir kali ibu meninggalkannya." Balasku harus membohongi Teguh lagi.


"Bu....aku menyayangimu, aku sangat mencintai dirimu, kau jangan khawatir ya, tidak akan ada orang yang bisa berbuat jahat kepadaku selama aku ada di sampingmu." Balas Teguh padaku saat itu, sambil mengusap punggungku dengan lembut bener kali.


"Terimakasih banyak sayang, ibu sangat menyayangimu juga." Balasku kepadanya.


Entah kenapa rasanya sakit sekali ketika mendengar Teguh yang masih berusia lima tahun saja bisa bicara seperti itu kepadaku, dan memiliki keinginan kuat untuk menjaga aku dan melindungi diriku, aku merasa bersalah karena sudah menutupi semua kebenarannya pada dia, tetapi aku tidak mungkin memberitahu Teguh semua itu, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui hal sebesar ini, yang dimana orang dewasa sekalipun mereka belum tentu bisa menerima sesuatu permasalahan serumit ini, dan masih belum ada jalan keluar yang bisa aku lakukan untuk hal ini.


Karena dulu aku lebih memilih untuk kabur, meninggalkan semua orang dan kenangan menyedihkan itu, aku pikir aku bisa terbebas hanya dengan meninggalkan semuanya saja, tapi nyatanya semua itu salah, aku tetap mengingat hal menyedihkan itu dan semuanya tetap menghantui aku, bahkan hampir membuat Teguh mengetahuinya juga.

__ADS_1


...****************...


Hingga sesampainya di rumah aku memutuskan untuk beristirahat lebih awal karena besok aku berniat untuk mempercepat penerbangan ku ke negara C, setidaknya disana aku bisa menemui Rasya dan Nayla, aku sangat berharap banyak mereka bisa membantu aku untuk menghindar dari tuan Jenson aku juga masih memiliki hutang pada Nayla karena sampai sejauh ini aku tidak pernah memberitahu dia siapa diriku sebenarnya.


Teguh sudah tidur lebih dulu dan malam ini aku ingin tidur dengannya, karena aku tidak bisa merasa tenang jika tidak bisa melihat dia di sampingku.


Sedangkan disisi lain tuan Jenson terus saja tersenyum kecil sambil memegangi bibirnya dia terus membayangkan kejadian dia yang tidak sengaja mencium bibir Ros sebelumnya.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan itu, ternyata memang dia yang aku terima untuk melakukannya, setidaknya aku normal jika dia benar-benar memiliki putra dariku sebab kejadian malam itu." Gerutu tuan Jenson pelan.


Roy yang melihat tuan Jenson terus tersenyum kecil seperti itu, dia mulai mengkhawatirkan keadaannya dan segara saja Roy menyadarkannya.


"Tuan ...hei...tuan Jenson apa kau baik-baik saja, kenapa kau tersenyum terus seperti itu?" Tanya Roy dengan wajah penuh keheranan saat menanyakannya.


"Aku hanya senang karena bisa menemukan gadis itu setelah bertahun-tahun kau mencari dia tapi tidak berhasil menemukannya." Balas tuan Jenson kepada Roy.


"Maafkan saya tuan, saya tidak menjalankan tugas anda dengan teliti saat itu," balas Roy kepadanya.


"Tidak masalah, yang penting sekarang kita tidak boleh kehilangan dia lagi, bagaimana pun caranya kita harus menemukan dia, kita tidak akan pulang ke negara asal dalam waktu dekat, kau sesuaikan jadwalnya denganku." Balas tuan Jenson sudah memutuskan saat itu.


Dia berpikir bahwa Ros tinggal di negara itu dan masih akan mengganggu Ros sampai Ros mau mengakui semua kebenarannya, selain itu Roy juga sudah mengambil sempel rambut dari Teguh dan mereka akan melakukan tes DNA sesuai dengan apa yang di rencanakan tuan Jenson untuk memastikan apakah Teguh adalah putranya atau memang bukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ros kepada dia sebelumnya.

__ADS_1


"Roy kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" Tanya tuan Jenson kepadanya.


"Tenang saja tuan, saya sudah mengambil rambut anak itu dan tes DNA akan dilakukan secepatnya, saya akan memberikan anda hasilnya nanti, termasuk memberikan semua identitas Ros di negara ini." Balas Roy kepadanya.


__ADS_2