Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Diobati Tuan Jenson


__ADS_3

Hingga tidak lama dia kembali menghampiriku dengan membawa sebuah kotak obat, berjongkok di hadapanku sambil hendak menarik kakiku, tapi dengan cepat aku menahan tangannya, karena tidak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan kepadaku saat itu.


"Hei.. apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang masih cukup cemas.


"Aku mau mengobati kakimu, apa kau tidak lihat ada perban dan obat merah disini." Ucapnya lagi sambil menghempaskan tanganku ke samping dan dia langsung memegangi kakiku begitu saja.


Ini pertama kalinya aku bertemu seseorang seperti dia yang langsung bergerak tanpa banyak bicara sedikitpun, tapi aku juga merasa sangat aneh dengan perbuatannya tersebut, sebab yang aku ketahui dia adalah seseorang yang terkenal sangat dingin dan tidak memiliki hati apalagi belas kasihan kepada siapapun, namun kali ini dia langsung saja mengobati kakiku dengan begitu telaten dan tidak banyak bicara, aku bahkan tidak menduga jika dia mau membantu aku mengobati kakiku yang terluka karena berlari untuk sampai ke tempat itu.


"Kenapa kakimu bisa terluka sampai seperti ini? Apa kau tidak punya sandal?" Ucapnya bertanya padaku sambil mengoleskan obat merah dan mulai menutupnya dengan perban.


"Bukan begitu, tadi aku memakai sepatu hak tinggi dan tidak banyak taxi di tengah malam seperti ini, jadi aku harus berlari untuk sampai kesini tepat waktu, lagi pula ini hanya luka kecil, bahkan jika tidak diobati nanti bisa sembuh sendiri." Balasku menjelaskan kepadanya.


"Bodoh!" Balasnya malah mengatai aku bodoh dengan nada yang sangat menyepelekan.


Aku sangat kesal mendengar ucapan darinya, padahal aku menjawab semua pertanyaan dari dia dengan jujur, tapi dia malah menanggapinya dengan menghina aku seenaknya.


"CK.. sudah aku bisa membalut kakiku sendiri, kau tidak perlu sok baik padaku." Ucapku sambil langsung menarik kakiku dan menjauh darinya.


Aku hendak berdiri saat itu namun sialnya kakiku masih terasa sakit akibat baru saja diberikan obat merah yang masih terasa cukup perih pada luka goresan di kakiku tersebut, yang membuat aku kehilangan keseimbangan dan hampir saja akan terjatuh ke lantai, untung dengan cepat pria menyebalkan itu bisa menahan tubuhku dengan cepat, jadi dia memegangi tangan dan tubuhku membuat aku selamat dari masalah.


"Aahh..... Terimakasih banyak, sudah membantuku." Ucapku refleks berterima kasih kepadanya.


"Kaki sudah seperti ini, apa kau masih bersih keras untuk membawa putramu pulang?" ucapnya kepadaku lagi.

__ADS_1


"Aku masih bisa berjalan kok." Balasku sambil terus menunjuk kepadanya bahwa aku masih bisa berdiri sendiri, tanpa bantuan darinya lagi.


Dia malah tersenyum kecil terlihat seperti meledeki aku yang ternyata masih membutuhkan bantuannya juga, rasanya aku ingin segera pergi saja dari hadapan dia saat itu juga, tapi kakiku tentu tidak bisa berjalan dengan cepat dalam keadaan seperti ini.


"Tuan Jenson ayolah, kembalikan Teguh padaku, aku harus segera kembali sekarang juga, dia juga harus sekolah besok." Ucapku kepadanya lagi.


"Kau menginap saja disini jika cemas tentang Teguh, sebab dia sudah tidur di kamar sebelah." Balas dia sambil berjalan menjauh dariku.


Aku terus berusaha untuk mengejar dia yang terus berjalan menuju balkon kamarnya tersebut, mana mungkin aku mau menginap di rumahnya, aku tidak bisa tinggal di rumah seseorang yang sama sekali tidak aku kenali, terlebih orang yang sangat aku benci seperti dia.


"Tuan sudah cukup! Aku tidak akan tinggal di rumahmu apapun yang terjadi, pokoknya aku mau Teguh sekarang juga, dia itu putraku, kau tidak berhak menghalangi aku untuk bertemu putraku sendiri." Bentakku lebih keras lagi kepadanya.


"Ya sudah silahkan saja kamu temui putramu sendiri, dia juga ingin menginap di rumah ini, ayo sana temui dia, aku akan mengantarmu untuk menemuinya?" Balas dia dengan wajah yang sangat menyebalkan sekali.


Aku mengerutkan kedua alisku dengan kuat, karena melihat hal itu, aku jadi mengerti mengapa Teguh bersedia menginap di rumah ini dengannya.


"Pantas saja anak ini begitu betah, ada selimut kesayangannya yang dia inginkan selama ini." batinku saat pertama kali melihat selimut tersebut.


Aku langsung menoleh ke arah tuan Jenson untuk menayangkan kepadanya secara langsung dari mana dia memiliki selimut seperti itu di dalam rumahnya, karena aku tahu tidak ada anak kecil lain yang tinggal di rumah ini bersamanya.


"Darimana kau tahu kesukaan putraku?" Tanyaku langsung melirik ke arah tuan Jenson dengan tatapan mata yang sangat tajam.


"Dia sendiri yang memberitahunya kepadaku, dan memang apa salahnya jika dia menginap di rumah ayahnya sendiri? Kau juga harus tinggal disini jika ingin tetap bersama Teguh malam ini." Balas dia kepadaku.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang kau bukan ayahnya, dia hanya putraku dari pria yang sudah mati." balasku kepadanya untuk menegaskan lagi.


Tuan Jenson langsung terdiam dengan menatap datar padaku.


Aku tetap tidak bersedia menginap di rumahnya, apapun alasan yang dia buat untuk aku meninggalkan Teguh di sini, aku tidak akan termakan dengan semua rencana jahatnya, langsung saja aku berjalan dengan secepat yang aku bisa, untuk menghampiri Teguh secepatnya, dan segera saja aku membangunkan Teguh dengan lembut.


"Kau harus tinggal disini Ros." balas dia memaksa lagi padaku.


"Jangan harap! Aku akan membangunkan Teguh sekarang juga." Ucapku kepadanya.


"Teguh... Sayang bangun ini ibu, ayo kita pulang, Teguh.." ucapku terus mencoba membangunkan dia dengan perlahan.


Teguh mulai terusik dan dia membuka matanya menatap ke arahku sambil langsung memeluk aku dengan erat.


"Mah... Aku mengangguk sekali, gendong aku ya, aku tidak bisa berjalan sendiri." Ucap Teguh kepadaku.


Karena dia meminta itu, sebagai seorang ibu, jelas aku tidak bisa menolak permintaan dari anakku sendiri, aku mengangguk dan langsung menggendong Teguh dalam pangkuanku, mengabaikan rasa sakit di kakiku dan terus membawanya keluar dari sana sambil menatap sinis melewati tuan Jenson yang berdiri di samping pintu kamar tersebut.


Aku mulai berjalan menuruni tangga dan tiba-tiba saja tuan Jenson mengambil Teguh dari pangkuanku dengan cepat.


"Ee..eeehh.. kenapa kau merebut Teguh, kembalikan dia padaku!" Teriakku sambil berusaha untuk mengejar dia saat itu.


"Kakimu masih terluka, memangnya kau akan sanggup terus menggendong Teguh hingga ke rumahmu, sudah jika kau tetap ingin pulang, aku akan mengantarkan kalian pulang." Balas ia sambil terus keluar dari rumahnya dan memasukkan Teguh ke dalam mobil miliknya tersebut.

__ADS_1


Aku masih berdiri di belakangnya, menatap dengan penuh keheranan dan terus berjaga-jaga jika saja dia hanya berpura-pura baik kepadaku juga Teguh saat itu.


__ADS_2