
"Permisi tuan Mike, kenapa anda duduk di kursi istirahat saya?" Tanya Tos kepada Mike dan menghormati dia di depan banyak karyawan dan crew film di sekitar sana.
Saat aku bertanya begitu Mike langsung bangkit berdiri dan dia menyuruh aku untuk ikut dengannya, sambil mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku. "Ayo ikut saya, ada hal penting yang harus di bicarakan." Ucap Mike membuat aku merasa heran dan kebingungan di buatnya, aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun atau melakukan tindakan apapun lagi, namun nyatanya Mike tetap menyuruhku untuk ikut dengannya saat itu dan aku pun terpaksa mengikutinya karena dia yang terus memaksa dengan tatapan serius kepadaku.
"Kenapa kau diam saja, ayo cepat ikut." Ucapnya lagi membuat aku segera mengangguk dan mengikuti langkahnya hingga kami tiba di tempat yang cukup sepi juga jauh dari lokasi syuting saat itu.
Aku merasa takut sekaligus bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Mike padaku, sehingga aku terus saja bertanya kepada dia kemana sebenarnya dia akan membawaku dan apa yang mau dia bicarakan padaku saat ini.
"Hei, Mike berhenti! Kemana kau mau membawaku dan apa yang sebenarnya kau mau bicarakan kepadaku, kenapa harus pergi sejauh ini, apa tidak bisa dibicarakan di depan orang saja atau di tempat yang dekat dengan lokasi syuting." Ucapku kepadanya yang berhasil membuat Mike berhenti tepat di ujung jalan yang terdapat sebuah pohon rindang.
"Tidak bisa, karena aku ingin memberikan pembalasan kepadamu atas apa yang sudah kau lakukan kepada kekasihku, yang tidak lain adalah kakakmu sendiri." Ucapnya kepadaku membuat aku sangat bingung dan merasa begitu heran.
"HAH? Apa maksudmu, kenapa kau bicara seperti itu kepadaku, aku sama sekali tidak melakukan apapun kepada kak Desi bahkan aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Balasku dengan jujur dan mengatakan semuanya tapi Mike malah tertawa dan tidak mempercayai aku hingga dia terus berjalan mendesak aku membuat aku semakin takut dan terus berusaha berjalan mundur untuk berlari dan menghindarinya.
__ADS_1
"Ahahah...tidak melakukan apapun kau bilang, memang bukan kau yang melakukannya tetapi anak buahmu yang sudah membuat Desi babak belur seperti ini, lihat baik-baik ini, karena kau Desi mendapatkan banyak luka lebam bahkan sampai dia pingsan karena di p*kuli oleh anak buahmu itu!" Bentak Mike membuat aku agar kaget ketika dia memperlihatkan foto Desi ketika dia di rumah sakit, ada banyak lebam di wajahnya dan dia terlihat sangat menyedihkan, tapi aku sama sekali tidak tahu apapun tentang hal itu.
Segera aku jelaskan kepada Mike karena aku memang tidak tahu apapun, aku sungguh tidak mau di fitnah seperti ini olehnya.
"Ya ampun, kak Desi, apa yang sudah terjadi dengannya Mike, kenapa kak Desi seperti itu,napa ini juga alasan kenapa kak Desi memakai kacamata dan masker saat tadi tiba?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang panik dan penuh kecemasan saat itu.
"Cih, jangan berpura-pura polos kau, aku benci wajah polos dan sok baik dirimu, aku juga tahu bahwa kau yang sudah menyogok anak buah Desi untuk menghajar mantan bosnya sendiri, semua itu pasti ulahmu kan?" Bentak Mike menyalahkan aku lagi dan lagi.
Aku terus menggelengkan kepala dengan kuat sembari terus menyuruh Mike untuk mempercayai apa yang aku utarakan saat itu padanya.
Sayangnya Mike tetap saja tidak mau mendengarkan aku dan dia tetap tidak mempercayai aku dan yang membuat aku kaget ternyata alasan Mike tidak mempercayai aku karena dia mengetahui hal itu dari kakakku sendiri.
"Haha...apa kau pikir aku akan tertipu dengan wajah polosmu itu? Tidak akan lagi Ros, karena Desi sendiri yang mengakuinya kepadaku bahwa semua anak buahnya telah beralih pihak denganmu, dan kau yang menyuruh mereka untuk melakukan tindakan kejam itu semalam, lalu apa kau pikir anak buah itu akan berbohong, mereka bahkan tidak mengenalimu, tidak mungkin mereka bohong." Ucap Mike yang tetap menuduh aku tanpa bukti yang jelas.
__ADS_1
"Jika kau tidak percaya denganku, tolong tunjukkan bukti yang kuat jika memang akulah yang menyuruh mereka untuk melukai Desi, aku sama sekali tidak tahu apapun, bahkan baru saja aku tahu jika kak Desi seperti ini." Ucapku lagi dengannya sekaligus meminta bukti yang akurat dari Mike.
Tanpa basa basi Mike yang sudah tersulut emosi dia tetap saja tidak percaya dan malah hampir melayangkan tangannya untuk menamparku saat itu. Untungnya kedua bodyguard yang di perintahkan oleh tuan Jenson selalu memantau aku diam-diam dari jauh sehingga mereka tahun kapan harus muncul dan pergi, mereka berhasil menahan tangan Mike hingga memelintirkannya ke belakang dan aku pun bisa terhindar dari tindakan kasar yang akan dilakukan oleh Mike kepadaku.
"Berisik kau, rasakan saja ini." Ucap Mike melayangkan tangannya secara tiba-tiba ke arahku sehingga aku tidak sempat untuk menghindar dan hanya bisa menutup wajahku dengan tangan sambil memejamkan mata saat itu, sampai tiba-tiba terdengar ringisan kesakitan Mike yang mana saat aku membuka mata lagi Mike sudah di dorong dan tangannya di pelintiran oleh salah satu anak buah yang aku bawa, sedangkan yang satunya langsung menggandeng tanganku dan mengajak aku pergi dari sana dengan cepat.
"Nona Ros mati kita pergi dari sini, biarkan pria itu di selesaikan oleh teman saya." Ucap bodyguard tersebut kepadaku.
Meski saat itu aku cemas kepada Mike tapi aku juga takut, jadi aku mengikuti arahan dari bodyguard tersebut dan segera kembali ke tempat lokasi syuting lagi, aku juga meminta pada bodyguard tersebut agar tidak melukai Mike cukup untuk peringatkan dia saja dan tinggalkan dia pergi sebab aku sendiri tidak sempat di lukai olehnya, aku tidak ingin dia menjadi semakin kesal dan dendam denganku nantinya.
"Hei tunggu, tolong jangan apa-apakan Mike dia sama sekali tidak salah dia hanya salah paham saja, kita tidak boleh membuat kekacauan disini, biarkan saja dia pergi setelah kau mengatakan peringatan kepadanya." Ucapku pada salah satu bodyguard yang mengantarku kembali ke lokasi syuting saat itu.
"Baik nona Ros." Balas sang bodyguard tersebut hingga kembali berlari ke arah dimana temannya tengah menahan Mike saat itu.
__ADS_1
Aku bisa merasa lega karena untungnya ada dua bodyguard itu yang sangat berguna untuk menjaga diriku dan muncul di waktu yang sangat tepat, mereka juga mau menuruti perintah yang aku berikan agar tidak melukai Mike, hingga saat aku baru saja kembali ke tempat istirahat bagianku sudah tiba dan aku harus lanjut memerankan seseorang di depan kamera lagi, untunglah aku sudah mengingat semua dialog yang harus aku katakan jadi tidak begitu sulit untukku meski mendadak dalam waktu yang mepet seperti itu, aku mengesampingkan dahulu rasa cemas dan semua yang mengganggu otakku dan segera saja aku bersikap layaknya sang pemeran wanita pendamping di dalam cerita tersebut, dengan begitu aku juga bisa syuting lebih profesional dan melatih skill dalam diriku.