Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Mendesakku


__ADS_3

Aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat dan terus saja menyilangkan kedua tanganku di hadapan dia, mencoba untuk menjelaskan kepadanya bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mengkhianati dia sedikit pun, bahkan aku sama sekali tidak pernah memiliki pemikiran sampai ke arah sana.


"Aahh tidak tidak, aku sama sekali tidak memiliki niat seperti itu bahkan terpikir pun tidak, kau jangan salah paham dulu, aku bisa menjelaskannya tuan." Ucapku kepada dia dengan wajah yang sedikit panik dan takut.


"Ahaha...aku juga tahu manusia konyol dan polos sepertimu mana mungkin punya otak licik, senang sekali mengerjai dia." Batin tuan Jenson yang ternyata sengaja mengerjai Ros sedari tadi.


Tuan Jenson terus berusaha untuk menahan tawa dalam dirinya ketika dia dihadapkan dengan wajah Ros yang sangat lucu ketika dia merasa cemas dan ketakutan seperti ini, apalagi disaat dia berniat untuk menjelaskan semuanya.


"Ya sudah ayo katakan apa tujuanmu menguping di depan pintu ruangan kerjaku?" Balas tuan Jenson kepadaku lagi.


Aku merasa sangat gugup dan takut saat dia bertanya seperti itu, pasalnya aku takut dia tidak akan mempercayai apa yang aku jelaskan kepadanya, karena aku tahu dia bukan tipe orang yang akan mudah percaya hanya dengan perkataan jujur yang akan aku ungkapkan kepadanya, tetapi daripada aku diam saja dan akan membuat dia semakin curiga kepadaku, maka dari itu aku pun tetap berusaha menjelaskan semuanya kepada dia, walau masih dalam perasaan gugup tidak karuan saat itu.


"Sebenarnya aku hanya penasaran saja, aku ingin tahu kenapa kau selalu menghabiskan banyak waktu di dalam sana dengan Roy, terus aku juga ingin tahu kenapa kau tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk ke dalam sana, kau sangat mencurigakan sekali di tambah kau menyuruh Roy datang di jam segini, jadi rasa penasaran di dalam diriku semakin bertambah dan aku tidak bisa menahannya, oleh karena itu aku mencoba untuk mengupingnya, tapi kau tenang saja aku sama sekali tidak mendengar apapun, sungguh, aku tidak berhasil mendengar apapun sebelumya." Ungkapku menjelaskan kepada dia.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa percaya kepadamu jika sebelumnya saja kau jelas mencoba untuk menguping ku." Ucap tuan Jenson yang terus saja mulai mendesak aku dengan mendekatkan tubuhnya kepadaku dan terus saja dia membuat aku tersentak juga sangat ketakutan saat itu.


Perasaanku sudah mulai tidak menentu saat itu, aku gugup tidak karuan dan hatiku rasanya semakin bergemuruh tidak tenang, banyak kecemasan dalam diriku tentang semua ini, terlebih tatapan tuan Jenson benar-benar sangat menusuk membuat aku sangat cemas di buatnya.


Aku sudah mencoba untuk menjaga jarak darinya dengan mundur ke belakang dan terus menjauhkan tubuh dan wajahku darinya, tetapi dia terus mendesak aku tanpa henti sambil terus mengatakan semua hal-hal yang dia curigai terhadap aku saat ini.


"Bisa saja kau berbohong padaku dengan mengatakan tidak mendengar apapun, nyatanya kau sudah mengetahui semuanya, atau jangan-jangan kau memang sengaja melakukan itu agar kau bisa mengancam aku dan aku bisa meloloskan kamu dan Teguh, iya kan?" Ucap tuan Jenson terus saja mendesak sampai aku jatuh terlentang di sofa saat itu, sambil menahan tubuh tuan Jenson agar tidak semakin dekat denganku.


Aku juga terus saja menggelengkan kepalaku dengan keras sebagai jawaban kepadanya, bahwa aku benar-benar tidak memiliki niat yang jahat, apalagi dengan semua yang dia curigai kepadaku sebelumnya.


Tapi rasanya dia seperti tidak mempercayai aku sepenuhnya, masih saja dia mengerutkan kedua alisnya dan terus menatapku semakin tajam, bak seperti tengah mencari kebenaran dengan apa yang baru saja aku ungkapkan kepadanya, aku juga terus saja mengangguk kepadanya untuk memberikan dia keyakinan saat itu.


Sampai tiba-tiba saja ada Teguh yang membawa bola di tangannya dia bermain sambil bercanda ria dengan salah satu pelayan yang mengasuhnya sedari tadi dan dia melemparkan bola itu ke lantai cukup keras, hingga bolanya memantul dan mengenai punggung tuan Jenson cukup keras sampai membuat tuan Jenson jatuh menimpa tubuhku dan bibi kami bertemu begitu saja, mataku terus terbelalak sangat lebar dan aku tidak tahu harus bagaimana saat itu begitu juga dengan tuan Jenson yang membelalakkan matanya jauh lebih lebar dibandingkan diriku.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain Teguh yang melihat pemandangan itu dia pun langsung menutupi matanya dengan kedua tangan dan terus saja mengajak salah satu pelayan yang bermain dengannya untuk pergi ke luar lagi.


"Wow. Bi ayo kita keluar lagi saja, sepertinya ayah dan ibu sedang tidak bisa diganggu, aku juga tidak mau disalahkan oleh mereka nantinya, ayo bi." Ucap Teguh sambil terus memegangi tangan bibinya dan dia segera berbalik kembali pergi dari sana secepatnya.


Rasa gugup dan kaget sudah tidak dapat aku gambarkan lagi, rasanya aku ingin menghilang dalam sekejap saat itu juga, tetapi ada yang membuat aku lebih kaget lagi, dimana tuan Jenson justru malah terus menci*m bibirku begitu saja dan dia terus memegangi kepalaku dengan lembut, dia benar-benar melakukan hal itu tanpa izin dariku sama sekali, aku terus berusaha untuk berontak tetapi dia malah terkesan terus memaksaku begitu saja, hingga aku tidak dapat melepaskan diri darinya, dan bodohnya aku juga malah membiarkan dia melakukan semua itu, sampai kami berdua kehabisan nafas dan tuan Jenson langsung melepaskan ci*man itu sejenak, nafas kami saling berburu satu sama lain dan aku hanya menatapnya dengan tatapan yang kebingungan dan heran sendiri. "Apa aku boleh melakukannya?" Tanya tuan Jenson kepadaku.


Aku tidak bisa menjawabnya saat itu, tapi dia tiba-tiba saja kembali sudah menciumku disaat aku baru saja membuka mulutku untuk menjawabnya saat itu, tangannya benar-benar tidak bisa diam, aku berusaha untuk menahan tangannya agar tidak terus merayap masuk ke dalam pakaianku, tapi tuan Jenson yang kehilangan kendali dia sungguh tidak bisa menahannya lagi, Roy yang baru menuruni tangga dia segera saja kembali menaikkan tangga dan langsung masuk ke dalam ruangan kantor pribadinya tuan Jenson lagi.


Sedangkan tuan Jenson terus saja menyusuri leherku dan terus menerus membuat aku sungguh tidak tahan lagi dengan kelakuannya itu.


Aku mendorongnya dengan sekuat tenagaku dan menatap dia dengan wajah penuh kekesalan saat itu. "Eughh...tuan apa kau gila?" Bentakku kepadanya sangat kencang saat itu.


Barulah tuan Jenson tersadar dan dia langsung bangkit berdiri lalu mulai menatap ke depan dengan wajahnya yang datar tanpa rasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


Sedangkan aku terus saja merapihkan kemeja yang aku kenakan dimana beberapa kancing di bagian bawahnya sudah terbuka karena tuan Jenson.


__ADS_2