
Tuan Jenson lebih menyebalkan dibandingkan sebelumnya, karena dia bersikap semakin seenaknya terhadap aku dan Teguh, dia bahkan bisa membuat Teguh begitu patuh atas ucapannya dan kini aku merasa Teguh sedikit menjauh dariku dan itu adalah hal yang paling aku takutkan, segera aku pergi menaiki tangga dan berniat meninggalkan tuan Jenson, namun tiba-tiba saja disaat aku hendak membuka pintu kamarku tuan Jenson menarik sebelah bahuku dan membalikkan aku hingga mendorongku ke dinding secara tiba-tiba, membuat aku sangat kaget dan terus saja menatap penuh keheranan terhadapnya.
"Aahh...tuan apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Berontak ku kepadanya.
Tapi tangan dia terus menahan ke dinding sangat kuat, sulit untuk aku menghindarinya, dia benar-benar mendesak aku saat itu.
"Ros, dengarkan aku baik-baik, kau akan menjadi istriku mulai besok, tolong jangan menjadi keras kepala seperti ini, ada apa denganmu, kenapa kau harus merajuk padaku hanya untuk hal sepele seperti itu? Ayo selesai semua permasalahan diantara kita saat ini juga, aku tidak ingin sampai besok kau terus bersikap seperti ini kepadaku, terlebih di hadapan para tamu undangan." Ucap tuan Jenson kepadaku dengan wajahnya yang begitu serius.
"Aku rasa anda lebih mementingkan perasaan para tamu undangan itu dibandingkan denganku, jadi untuk apa kau menahanku seperti ini. Ayo lepaskan aku." Balasku membalikkan ucapannya.
Tuan Jenson terus saja menahan emosi dalam dirinya sebab dia tidak ingin membuat situasinya menjadi lebih kacau lagi, menarik nafas dengan panjang dan membuangnya sekaligus, dia menatap dengan begitu lekat kepadaku dan membuat aku benar-benar merasa gugup tidak menentu saat itu.
"Ros apa kau akan percaya padaku jika aku mengatakan bahwa aku sepertinya mulai menyukaimu?" Tanya dia secara tiba-tiba membuat aku langsung membelalak mata dibuatnya.
"Ekmm.... Tentu saja tidak, lagi pula sejak awal kau meminta aku untuk menjadi pengantinmu itu hanya demi Teguh kan, dan aku tahu tugasku hanya untuk berpura-pura menjadi istrimu dan menikah lalu bertemu dengan nenekmu, itu saja, setelah itu kau juga akan membuang aku bukan?" Balasku mengatakan ucapan yang pernah dikatakan oleh tua Jenson sendiri sebelumnya.
"Tidak, kau salah, aku memaksamu dan bicara seperti itu, karena kau sulit sekali untuk aku dekati, aku sungguh ingin kau menjadi istriku." Balas dia membuat aku semakin sulit menelan salivaku sendiri.
__ADS_1
Langsung saja aku memalingkan pandangan darinya dan berusaha untuk tidak terlihat gugup, aku sungguh tidak menduga jika ternyata tuan Jenson benar-benar ingin menjadikan aku istri sah nya bukan hanya sekedar untuk mendapatkan Teguh saja ataupun untuk memperlihatkan aku pada neneknya, seperti yang aku duga sebelumnya.
"Ah..haha...kau pasti bercanda bukan?" Tanyaku lagi kepadanya.
"Tidak! Lihatlah baik-baik mataku Ros, apa ada sorot mata bercanda padaku saat ini?" Balas dia lagi kepadaku.
Aku pun mulai menghembuskan nafas dengan besar dan segera saja mengutarakan hal yang cukup menggangu pikiranku dan perasaanku sedari tadi.
"Jika kau memang menyukai aku dan ingin memperistri aku dengan sungguh-sungguh, lalu bagaimana dengan kekasihmu itu?" Balasku mulai bertanya tentang wanita yang aku lihat bersama dengan tuan Jenson sebelumnya.
Tetapi ada yang membuat aku heran, saat aku bertanya tentang kekasihnya, tuan Jenson langsung mengerutkan kedua alisnya itu dengan cukup kuat dan dia langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, sekaligus menyangkal apa yang aku bicarakan dengannya. "Kekasih? Darimana kau pikir aku punya kekasih, aku bahkan hanya dekat denganmu saja." Balas tuan Jenson kepadaku.
Langsung saja tuan Jenson tertawa mendengarnya, membuat aku merasa semakin heran dengan reaksi yang dia berikan padaku saat itu, dan aku terus meminta dia untuk berhenti tertawa dan menjelaskan semuanya kepadaku dengan segera, karena aku sudah tidak sabar lagi untuk mendengarnya langsung dari mulut dia sendiri.
"Apa? Ahahah...jadi hanya karena wanita itu kau terus terlihat begitu sensitif kepadaku sedari tadi? Ahh ..jadi kau cemburu padaku ya?" Balas tuan Jenson sambil memegangi daguku saat itu, aku hanya menatap sinis dengannya dan menyingkirkan tangannya itu dengan cepat dari daguku.
"Berhenti bermain-main tuan Jenson, katakan saja dia kekasihmu atau bukan?" Balasku bertanya lagi kepadanya dengan nada tinggi yang tegas.
__ADS_1
"Bukan, dia itu sekretaris baru di perusahaan cabang, dia juga tidak sering bekerja denganku, itulah alasan kenapa kau tidak pernah bertemu dengannya namanya Naura, dia wanita yang disukai oleh Roy, jadi bagaimana mungkin aku akan merebut wanita incaran asistenku sendiri." Balasnya menjelaskan semuanya terhadapku.
Langsung saja aku merasa sangat malu ketika sudah mendengar semua penjelasan dari tuan Jenson saat itu, aku benar-benar tidak tahu lagi harus memasang wajahku dimana saat berhadapan dengannya, padahal sebelumnya aku sudah sangat marah dan menjauh darinya aku tidak memberikan tatapan dan sikap yang baik kepadanya karena berpikir bahwa wanita itu adalah kekasihnya, tapi sekarang ternyata malah aku yang terlihat cemburu dengannya, aku benar-benar merasa kacau saat ini.
"Aaahhh ..sial, ternyata dia hanya sekretarisnya saja, matilah aku, mana aku sudah terlalu konyol lagi." Batinku terus saja merasa cukup malu.
Tetapi walau begitu, tidak mungkin bagiku memperlihatkan rasa malu dalam diriku kepada tuan Jenson secara langsung, jadi aku masih tetap berusaha menegakkan tubuhku dan langsung saja mencoba untuk tetap bersikap santai di hadapannya.
"Jadi bagaimana, apa kau masih mau marah karena hal yang tidak jelas kepadaku?" Tanya tuan Jenson lagi saat itu.
"Tidak tahu, sudahlah aku lelah, aku mau tidur saja." Balasku kepadanya dan berniat melepaskan salah satu tangannya yang menahanku ke dinding.
Tapi dia tetap saja tidak melepaskan aku, padahal aku merasa permasalahannya sudah selesai, tapi mungkin dia tidak berpikiran yang sama denganku.
"Tuan lepaskan tanganmu ini, mau sampai kapan kau akan men..." Ucapku perotes kepadanya terus menerus dengan sedikit kesal agar dia melepaskan ku saat itu.
Tapi bukannya melepaskan aku, dia justru terus saja menciumku secara tiba-tiba, aku sungguh di buat kaget karena sikapnya dan apa yang dia lakukan saat itu, terus saja aku berusaha untuk mendorong tubuhnya, tetapi dia sungguh sangat kuat, terus berontak dan berusaha untuk membuka mulutku, hingga aku benar-benar kewalahan dengan c*Uman yang dia berikan saat itu.
__ADS_1
Meski begitu aku terus berusaha untuk mendorong diri dengan sekuat tenaga karena merasa semua ini tidak seharusnya terjadi secara tiba-tiba seperti ini.