
Tapi kali ini pria sialan itu justru malah langsung muncul di hadapan Teguh dan malah memperlakukan Teguh layaknya seperti seorang penculik, aku semakin membenci pria itu, dan aku tidak ingin bertemu lagi dengannya.
Aku segera berjongkok dan menyetarakan tubuhku dengan Teguh, berusaha memberikan penjelasan kepadanya dengan cara yang lembut agar dia mempercayai aku.
"Teguh sayang, ibu juga tidak tahu kenapa mereka harus mengejar kita, bahkan setelah mereka mengambil ponsel itu, tetapi ibu pikir orang yang mereka inginkan sebenarnya bukanlah ponsel kita saja, tetapi dirimu, mereka bisa saja seorang culik yang ingin mengambil kamu dari ibu, makanya tadi ibu langsung menggendong kamu dan membawamu lari, dan buktinya mereka mengejar kita kan? Itu artinya mereka memang menginginkan kamu, mereka penculik yang jahat, jadi kita harus kabur darinya, terutama dengan kamu, jika kamu bertemu siapapun di luar sana yang mencurigakan jangan kamu tanggapi, kamu harus lari dan kabur ke tempat yang ramai atau meminta bantuan pada orang dewasa lain yang ada disana, kamu mengerti kan?" Ucapku kepadanya saat itu.
Tatapan Teguh bak seperti orang dewasa yang tengah menyelidiki ucapan yang baru saja aku katakan panjang lebar kepadanya, aku juga merasa takut dan cemas dia tidak bisa mempercayai aku, namun ternyata dia mempercayai ucapanku dan langsung memberikan sebuah pelukan kepadaku.
"Iya ibu, aku mengerti, aku janji denganmu, aku akan lebih berhati-hati lagi nanti." Ucap Teguh kepadaku saat itu.
Ku hembuskan nafas dengan lega dan langsung saja mengajak Teguh untuk pulang secepatnya dan aku juga harus berhenti dari cafe sebelumnya tempat aku bekerja, karena aku takut mereka berdua akan datang kesana untuk mencari aku lagi, apalagi setelah mereka tahu bahwa aku bekerja disana dan sering berkeliaran di sekitar sana, untungnya tidak ada siapapun yang mengetahui alamat rumahku jadi setidaknya aku tidak perlu pindah rumah, hanya perlu menghilang dari pekerjaanku dan mencari pekerjaan lainnya saja.
"Ayo kita pulang sayang, ini sudah hampir larut." Ucapku pada Teguh.
Kamipun segera pergi dari sana secepatnya, selama perjalanan aku tidak bisa merasa tenang sama sekali dan terus saja menatap ke segala arah karena aku takut tuan Jenson itu masih berada di sekitar sana, aku terus saja menundukkan kepala dan harus menutupi wajahku termasuk dengan Teguh yang menuruti apa yang aku katakan padanya sebab dia juga sudah mempercayai aku bahwa dia orang itu adalah penculik yang hendak membawanya dariku.
Untungnya aku pulang dengan selamat, tapi walau begitu tetap saja aku merasa cemas, aku hanya takut mereka diam-diam mengikuti aku saat itu, hingga aku terus berdiri di depan pintu dan melihat ke arah luar untuk memastikan bahwa tidak ada siapapun yang mengikutiku pulang malam ini.
__ADS_1
"Bu...kenapa kamu terus seperti itu, mereka tidak mungkin mengikuti kita sampai sejauh ini kan?" Ucap Teguh kepadaku saat itu.
"Aahh....iya kamu benar, ibu merasa lega karena kita bisa kembali ke rumah dengan aman, tapi Teguh mulai sekarang ibu ingin kamu tetap di rumah dulu, jangan banyak bermain ke luar, dan kamu juga sudah libur sebaiknya kamu jika mau keluar hubungi ibu saja, kita bisa pergi bersama, kamu mengerti kan?" Ucapku sambil memegangi kedua pundaknya dengan erat saat itu.
"Iya bu, aku mengerti, ibu jangan terlalu mencemaskan aku, sejak awal jika aku tahu mereka orang jahat dan mau menculik aku, aku sudah mengh*jar mereka saat itu juga." Balas Teguh kepadaku.
"Sayang ibu tahu kamu jenius dan ibu tahu kamu anak yang pintar, tapi mereka berdua itu bukan lawanmu, badan mereka saja jauh lebih besar dibandingkan kamu, jadi sebaiknya jangan melawan mereka, kamu hanya perlu berlari sekencang yang kamu bisa dan berteriak lah meminta tolong agar orang-orang di sekitarmu bisa tahu jika kamu tengah diculik, dengan begitu orang lain pasti akan menolongmu dengan cepat." Ucapku kepadanya saat itu.
Teguh mengangguk patuh padaku, lalu segeralah saja aku menyuruhnya untuk pergi tidur saat itu juga, sedangkan aku masih harus mencari lowongan pekerjaan di internet lewat laptop yang aku punya, aku sudah tidak memiliki ponsel pintar lagi dan hanya memiliki satu ponsel lamaku.
Ponsel yang tidak pernah aku gunakan lagi semenjak aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru di negara ini, tapi kini terpaksa aku harus kembali memakai ponsel itu dan membuka folder yang ada di dalamnya.
Tidak pernah aku bayangkan jika nasib masa depanku harus seburuk ini, padahal aku pikir aku mungkin saja akan menikah dengan pria yang aku cintai dan pria yang sama-sama menyukai musik, sehingga kami bisa hidup bersama dan bahagia dengan banyak fans yang akan mendukungku hingga akhir.
Namun kenyataannya justru berbanding terbalik, aku tidak menikah, aku tidak memiliki suami, dan karirku hancur begitu saja, aku miskin dan tidak memiliki apapun selain putra kecilku yang sangat berharga hasil dari darahku dan jerih payahku selama mengandung dia sembilan bulan lamanya dan mempertaruhkan hidup melahirkan dia tanpa bantuan siapapun dan tidak di dampingi pria yang sudah menyebabkan keberadaannya.
Hingga aku benci dengan pria itu dan tidak ingin menganggap dia sebagai ayah dari Teguh, bahkan melihat wajahnya saja membuat aku sangat benci.
__ADS_1
Rasanya sedih sekali ketika tidak sengaja aku menggeser foto di album ponsel lamaku itu, aku menemukan fotoku dengan Mike yang begitu dekat, termasuk fotoku dengan kakak kesayanganku Desi, tapi sekarang mereka justru malah menjadi musuh dalam selimut ku.
Mereka yang sudah menancapkan pisau kepadaku hingga membuat aku seperti ini, tetapi mereka justru terlihat bahagia di luar sana, bahkan kini Desi sudah menjadi selebritis terkenal yang debut tepat ketika aku tengah diterpa rumor buruk yang dia sebabkan, dan dia juga bekerja sama dengan Mike, aku pikir mereka menyayangi aku dan menganggap aku sebagai seorang adik sungguh, namun ternyata aku salah, Mike tidak benar-benar baik, bahkan kakak kandungku sendiri iri dan membenciku di belakangku selama ini.
Aku merasa diriku sangat bodoh karena dulu sepat begitu mempercayai orang-orang seperti mereka tanpa adanya kecurigaan sedikit pun, padahal aku sangat mempercayai mereka seratus persen, tapi yang aku dapatkan hanya sebuah sakit hati dan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
"Kenapa...kenapa kalian berdua bisa setega ini kepadaku, kalian sudah menjadi pasangan yang bahagia sekarang bukan? Aku tidak sempat mengucapkan selamat atas hubungan kalian yang berjalan dengan lancar, kak ...aku merindukanmu bahkan disaat aku tahu semua ini bisa saja di sebabkan olehmu, bahkan jika kau memang sejahat itu denganku, aku tetap menganggap kau sebagai kakakku." Ucapku sambil terus menghapus semua foto kenangan di dalam ponsel itu.
Hanya itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan agar aku tidak terus meratapi semua nasib buruk yang telah menerpa hidupku, yang terpenting sekarang aku sudah bisa menjalani hidup tanpa embel-embel Ros sang selebriti itu lagi, tanpa status yang tinggi dan tanpa kakak di sampingku, aku masih bisa menjalani hidup dengan baik bersama putra kecilku Teguh.
"Tida papa Ros, setidaknya kamu memiliki putra setampan Teguh dan dia sangat jenius, aku yakin suatu saat nanti Teguh yang mungkin akan mengangkat kembali derajatku, aku bersyukur sekali memiliki putra seperti dia." Ucapku sambil menghapus air mata di pipiku yang sudah berlinang sejak tadi.
Perkataan itu terus memberikan diriku kekuatan tersendiri agar aku bisa terus menjalani hidup dengan lebih baik lagi di kemudian hari dan di hari ini juga seterusnya.
Semuanya aku hapus, kontak semua orang yang ada di ponsel itu aku hapus juga termasuk kontak tuan Jenson, aku menghapus semuanya hingga tidak ada satu nomor pun yang tersisa di dalam ponsel itu, aku juga menghapus media sosialku yang dulu tidak sempat aku hapus, aku benar-benar akan menjaga privasi diriku sendiri dengan sangat tersembunyi dan baik.
Hanya dengan cara itu hidupku bisa merasa tenang, menjauhkan semua hal yang bisa saja akan memicu rasa sakit dan mengingatkan aku kembali pada masa lalu yang terlalu kelam untuk di ingat dan terlalu menyakitkan untuk aku kenang.
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi aku masih sangat menyayangi semua fans di luar sana, meski aku sudah bukan idola kalian lagi, terimakasih sudah pernah mengidolakan aku dan membantuku berdiri tegak diatas panggung." Ucapku pada foto para penggemar dalam acara terakhir yang aku hadiri dahulu.