Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Panggilan dari Produser


__ADS_3

Namun sepertinya, tuan Jenson tetap tidak senang karena aku tidak menuruti keinginannya itu, bukannya menjawab ucapan dariku buktinya dia malah pergi meninggalkan aku begitu saja, ekspresi wajah yang dia perlihatkan sangat jelas menunjukkan bahwa dia tidak senang dengan ucapan yang aku katakan kepadanya barusan, tetapi memanggil sayang kepadanya sungguh akan membuat aku merasa sangat canggung nantinya, maka dari itu aku terasa sulit untuk mengatakan hal itu.


Sedangkan disisi lain ketika aku mau mengejar tuan Jenson yang pergi ke kamarnya, justru ponselku berdering sangat kencang membuat aku mengurungkan diri untuk mengejarnya karena harus mengangkat panggilan masuk tersebut terlebih dahulu.


"Tuan...tuan kau mau kemana, tuan tunggu!" Teriakku berusaha menghentikannya namun tetap saja gagal, karena dia mengabaikan teriakkan aku saat itu.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan terus saja mengangkat panggilan telepon yang ternyata itu dari produser film yang nanti akan aku perankan, mereka mengajak kami untuk meeting bersama dengan para pemeran dan crew lainnya, aku pun menyetujuinya dengan cepat dan segera saja aku mengambil tas selempang milikku lalu berpamitan dahulu kepada Teguh juga salah satu pelayan yang membantu aku berkemas untuk rencana liburan ke Jepang nantinya.


"Teguh ibu ada urusan sebentar ke luar kamu baik-baik disini dengan bibi ya, dan jangan terlalu banyak mengemas barang kita tidak akan terlalu lama di sana nantinya." Ucapku kepada Teguh saat itu.


"Baik Bu, aku mengerti." Balas Teguh sambil tersenyum dengan riang.

__ADS_1


Aku pun menitipkan Teguh kepada pelayan tersebut dan segera pergi dengan cepat, aku tidak ingin datang terlambat di hari pertama aku akan bertemu dengan semua rekan kerja dalam proses pembuatan filmnya nanti, meskipun disini aku hanya mendapatkan peran pendamping namun setidaknya aku akan mendapatkan peran bahkan hingga ke episode terakhir, jadi aku tetap harus bersikap profesional.


Karena terburu aku tidak sempat untuk meminta izin secara langsung kepada tuan Jenson aku hanya mengirimkan pesan untuk meminta izin dengannya, lagi pula aku pikir jika aku meminta izin dengannya dia juga tidak akan mendengarkan aku, karena kami baru saja bertengkar sedikit, dari pada nantinya akan menghambat aku untuk pergi dengan cepat, aku lebih baik meminta izin dengannya lewat chat saja.


Di sisi lain tuan Jenson yang baru mengetahui jika ternyata Ros telah melakukan testing dan diterima oleh penulis Jack tanpa sepengetahuan dirinya dia mulai terlihat sedikit kesal bukan karena Ros tetapi karena dia tidak bisa membantu Ros untuk mendapatkan peran utama dalam film tersebut. Karena itu tuan Jenson pun segera menghubungi sekretaris Roy untuk menghubungi penulis Jack dan mencari tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ros di belakangnya beberapa hari ini.


"Roy cari tahu apa yang dilakukan oleh Ros belakangan ini, dan cari tahu juga tentang pertemuannta hari ini bersama dengan penulis Jack juga pembuatan filmnya." Ucap tuan Jenson kepada sekretaris Roy yang langsung mendapatkan respon cepat darinya.


"Baik tuan." Balas sekretaris Roy dengan sigap.


Terlebih-lebih semua ini terjadi disaat aku sudah pernah menolak bantuan dari tuan Jenson untuk mendekati penulis Jack agar dia bisa memberikan peran utamanya denganku.

__ADS_1


Saat itu aku memang begitu percaya diri bahwa aku bisa meraih semuanya dengan mudah sesuai dengan apa yang aku harapkan karena aku sangat percaya dengan kemampuan akting yang aku miliki dan banyaknya pengalaman yang sudah aku lewati, namun nyatanya aku lupa bahwa tidak semua orang jujur dan menilai semua peserta sesuai dengan kemampuannya saja tetapi dorong dari orang dalam itu jauh lebih memberikan pengaruh dibanding kerja keras yang kita lakukan.


Hal itulah yang membuat aku sangat benci sampai sekarang kepada Mike, meski aku senang karena peran utamanya di dapatkan oleh kakakku Desi, tetapi entah kenapa hatiku terasa begitu tidak nyaman seperti aku tidak siap untuk beradu peran dengan kakakku sendiri dan disana kami justru malah menjadi musuh bebuyutan dan aku adalah orang jahatnya.


Sesampainya di salah satu gedung yang disebutkan oleh sang produser yang menelpon ku sebelumnya, aku mulai masuk dan menunjukkan undangan yang diberikan sang produser terlebih dahulu, barulah aku di persilahkan masuk dan langsung bertemu dengan Moris yang terlihat memakai pakaian cukup rapih dengan rambut keribonya yang dia ikat rapih, tapi mau bagaimana pun meski di ikat begitu tetap saja rambutnya itu terlihat mengembang dan besar seperti sarang tawon, dari kejauhan saja aku sudah bisa mengenali bahwa itu adalah Moris karena rambutnya yang sangat jelas juga begitu berbeda dengan wanita yang lainnya.


Dia mengangkat tangannya dan melambai ke arahku, aku pun tersenyum membalas sapaan darinya, lalu segera saja datang menghampiri Moris sampai duduk di sampingnya yang ternyata Moris dengan sengaja sudah menyiapkan satu kursi khusus untukku.


Aku benar-benar merasa senang dibuatnya, karena bisa mengenal teman baik lagi disini, setidaknya dengan adanya Moris aku merasa tidak benar-benar sendirian lagi.


"Ros.... Ayo cepat kemari aku sudah menunggumu sedari tadi, ayo cepat duduk." Ucapnya terlihat begitu antusias meyambut kedatangan aku saat itu.

__ADS_1


Aku duduk di sampingnya dan segera saja kami mengobrol bersama, tentang betapa bahagianya Moris karena dia akhirnya bisa lolos dalam testing dan bisa mulai bermain peran setelah gagal lebih dari dua puluh penyeleksian selama ini.


Aku saja bahkan merasa sangat kaget ketika mendengarnya semua cerita dan kerja keras yang Moris lalui selama ini hanya untuk menggapai mimpi besarnya menjadi seorang aktor terkenal seperti Ros, tapi dia bahkan tidak sadar bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini dan dia ajak untuk mengobrol adalah Ros yang dia idolakan selama ini dan Ros yang sama dengan yang selalu dia ceritakan.


__ADS_2