
Betapa senangnya Ros ketika mendapatkan panggilan telepon dari Teguh, saat dia mendengar suara Teguh yang memanggil namanya di balik telepon tersebut, aku sungguh sangat senang dan langsung menanyakan keberadaan dia saat itu juga.
"Ahh... Teguh sayang akhirnya kamu menghubungi mamah, kamu ada dimana dan ponsel siapa yang kamu gunakan untuk menghubungi mamah? Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku terus menerus tanpa henti kepadanya.
"Mah, tenangkan dirimu dulu, jangan terlalu panik seperti ini, aku baik-baik saja, bahkan aku sangat senang hari ini karena tuan Jenson mengajakku bermain seharian dan dia memberikan aku banyak sekali makanan dan uang, aku juga menaruhnya di tas ku, nanti akan aku berikan padamu, kamu tidak perlu cemas lagi soal biaya sekolah dan sewa rumah, sekarang mamah jemput aku ya, nanti om Jenson akan memberitahu alamat rumahnya pada mamah." Ucap Teguh membuatku langsung kaget dan terbelalak sangat lebar
"Tuan Jenson? Eh... Teguh tunggu, sayang... Halo sayang jangan berikan dulu ponselnya." Teriakku berusaha untuk menghentikan Teguh saat itu, namun sayangnya aku sudah terlambat.
Teguh sudah terlanjur memberikan ponselnya kepada tuan Jenson hingga suara berat yang membuat aku merinding itu mulai terdengar dengan jelas di telingaku.
"Hei, berhenti berteriak, kau akan datang menjemput putra kita atau aku yang akan mengantarkannya ke sana?" Ucap tuan Jenson begitu saja.
Aku semakin dibuat kaget mendengar ucapan dari tuan Jenson yang mengatakan Teguh sebagai putra kita, padahal jelas sekali bahwa dia tidak pernah mengakui Teguh sebagai putranya, di tambah aku sangat takut Teguh akan mendengar ucapannya barusan, jadi dengan cepat aku langsung menegurnya saat itu juga.
"Hei cepat berikan alamat rumahmu itu, dan satu lagi jangan pernah sekali-kali kau mengakui Teguh sebagai anak kita, dia hanya anakku bukan anakmu!" Ucapku dengan suara yang begitu tegas memperingati dirinya.
__ADS_1
"Ya ya terserah, aku sudah mengirimkan alamatnya, cepat datang kemari, jika tidak gerbang akan di tutup dan kau tidak akan bisa menjemput putramu ini." Balas dia lalu panggilan telepon tersebut langsung saja terputus.
Aku bahkan belum sempat menjawab ucapannya, tetapi dia sudah lebih dulu menutupnya, membuat aku sangat jengkel dan begitu kesal karena kelakuan dia yang selalu memutuskan semua seenaknya.
"A..apa? Hei jangan beraninya kau menahan Teguh, hei Jenson sialan, hallo hei! Aarkkk dasar manusia sialan, aku harus segera bergegas sekarang juga, Teguh tunggu mamah nak, mamah akan segera menjemputmu." Ucapku terus menggerutu kesal dan segera mengambil tas selempang miliku dan berlari dengan cepat untuk pergi menjemput Teguh segera.
Aku tidak memiliki kendaraan apapun, sehingga malam itu aku harus memesan taxi dan membutuhkan beberapa waktu untuk menunggu taxi sampai di tempat tersebut, selama menunggu taxi tiba aku terus saja merasa cemas, tidak pernah sedetikpun aku merasa tenang dalam memikirkan Teguh, bagaimana mungkin ada seorang ibu yang bisa tenang dikala putra semata wayangnya berada di tangan seseorang yang sangat menyebalkan dan begitu kejam seperti tuan Jenson ini.
Dia bisa melakukan apapun kepada Teguh dengan caranya sendiri, bahkan kini Teguh terlihat sudah mulai dekat dengannya, aku bisa tahu semua itu, hanya dari bagaimana Teguh bercerita dan mengatakan semuanya padaku lewat panggilan telepon singkat sebelumnya, aku mengerti dia begitu menginginkan Teguh, tapi aku belum tahu dengan pasti apa yang sebenarnya di inginkan oleh tuan Jenson tersebut, karena jelas sekali lima tahu yang lalu dia bahkan tidak mengakui putranya tersebut, bahkan teganya dia malah memberikan sejumlah uang padaku untuk menyuruh aku pergi dan tidak bisa menampakkan wajahku lagi di hadapannya.
"Aaahhh... Kemana sih tadinya lama sekali." Gerutuku terus saja merasa sangat cemas.
Meski begitu, aku terus saja tidak bisa pasrah dan hanya duduk diam menunggu sang supir taxi pesananku sampai disana, sebab tuan Jenson sudah kembali mengirimkan sebuah pesan pendek yang membuat aku semakin cemas dibuatnya.
"Ingat. Waktumu tidak lama lagi, jika sampai jam sebelas malam, kau tidak sampai disini maka gerbangnya akan segera aku tutup, kau tidak bisa menjemput anak laki-lakimu malam ini." Isi pesan dalam ponselku dari tuan Jenson yang membuat aku kembali semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Astaga.. sebenernya dia itu mau apa sih, aku tidak boleh diam terus seperti ini, aaahh aku harus pergi menggunakan angkutan umum yang lain." Gerutuku terus mulai berlari.
Meski aku mengenakan sepatu hak tinggi, tetapi demi Teguh aku harus berlari semampuku sambil menunggu taxi itu sampai, lagi pula terus diam disana sama sekali tidak ada gunanya, aku sudah membatalkan pesanan taxi ku tersebut dan memilih untuk mencari taxi yang akan berlalu di jalanan nantinya.
Hingga tidak lama setelah aku berlari lumayan jauh, ada taxi yang lewat di sekitar sana dan langsung aku hentikan dengan cepat, aku menyuruh sang supir taxi untuk melajukan mobilnya itu dengan cepat, sebab saat aku melihat jam di ponselku itu sudah menunjukkan jam 10.40 yang artinya aku hanya memiliki waktu dua puluh menit lagi untuk bisa menjemput Teguh di kediaman tuan Jenson.
Saat hampir sampai disana justru taxi yang aku naiki malah berhenti dan supirnya mendengus kesal sebab dia kehabisan bensin.
Aku ikut mengeluh dan memiliki untuk turun disana saja.
"Aaahh .. ya sudah pak aku disini saja, ini ongkosnya terimakasih." Ucapku segera turun dan harus kembali berlari.
Sudah beberapa kali kakiku keseleo karena memakai hak tinggi dan harus berlari secepat yang aku bisa saat itu.
"Aa...a...aaahh.. bruk!" Aku jatuh meringkuk di tanah dengan memegangi kakiku yang terlihat lebam dan berdarah sedikit karena mengenai batu yang tajam.
__ADS_1