Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Membujuk Tuan Jenson


__ADS_3

Sedangkan tuan Jenson sendiri tidak bisa terima dengan hal itu jadi dia pun segera saja mengikuti Rasya ke meja makan dan dia tetap kembali mengancam Rasya lagi seakan dia masih begitu ragu dan cemas jika Rasya masih memiliki perasaan terhadap istrinya.


"Heh, aku ini bicara serius apa kau sama sekali tidak takut dengan ancaman ku barusan atau kau tidak tahu siapa aku sebenarnya ya?" Ucap tuan Jenson lagi sambil membelalakkan matanya sangat lebar di depan Rasya yang nampak tengah menuangkan air minum pada gelas yang ada diatas meja yang tengah dia pegangin saat itu.


Dengan santainya Rasya menyangkan air juga untuk tuan Jenson dan memberikannya sambil menyuruh tuan Jenson untuk minum dahulu air mineral tersebut.


"Sudahlah tuan ini lebih baik kau minuma dan tenangkan dirimu itu, hilangkan pikiran buruk yang hanya akan merusak otak dan hanya akan membuat kau cemas tidak tentu, aku dan Ros benar-benar hanya menjadi sebatas sahabat dan keluarga saja, lagi pula apa yang perlu kau takutkan, dulu saja ketika kau meninggalkan dia dan menelantarkannya lalu aku mengurusi dia dengan sepenuh hati, tetap saja Ros menolak ku, tapi sekarang dia bisa menerima kau dengan mudah bukankah artinya dia menyukaimu." Ujar Rasya yang berhasil menenangkan tuan Jenson dengan cepat.


Tuan Jenson pun mengambil air minum yang diberikan oleh Rasya sebelumnya menandakan bahwa dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rasya saat itu dan mungkin kini tuan Jenson sudah tidak terlalu cemas lagi, sebab bisa dilihat dari raut wajahnya yang nampak jauh lebih bersahabat dibandingkan sebelumnya yang terus saja menatap Rasya penuh dengan ancaman juga sangat sinis. "Awas saja jika kau tidak menepati ucapanmu sendiri aku benar-benar akan melenyapkan kau!" Tegas tuan Jenson lagi yang sudah tidak masuk akal dalam memberikan ancamannya kepada Rasya.


Sedang Rasya sendiri hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu sembari mengangguk untuk menuruti apa yang di ucapkan oleh tuan Jenson apapun itu yang terpenting bagi Rasya bisa membuat tuan Jenson percaya kepada dirinya, sebab dia tidak mau terus dicurigai seperti itu sedangkan dia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi dengan Ros, rasa sayangnya kini benar-benar telah berubah layaknya rasa sayang seorang kakak untuk Ros bukan menjadi seperti pasangan dan tidak lebih dari itu.


"Iya...iya aku kan sudah bilang padamu sejak awal tuan bahwa aku memang sudah tidak menyukai Ros lagi tapi aku memang perduli dan menyayanginya hanya saja rasa sayang yang aku miliki padanya hanyalah rasa sayang dan perduli sebagai saudara dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri dan aku menganggap putramu Teguh sebagai keponakanku." Balas Rasya menjelaskan semuanya yang berhasil membuat tuan Jenson akhirnya mau percaya juga dan berhenti membahas hal seperti itu lagi.


"Baguslah kalau begitu." Balas tuan Jenson begitu senang.


Namun dia masih saja merasa gengsi dan menahan malu dalam dirinya berusaha kuat untuk bersikap santai dan kalem walau sebenarnya saat itu hati dia terus bergemuruh sangat kuat dan tidak bisa diam saja ketika menyadari apa yang dikatakan oleh Rasya bahwa mau bagaimana pun dia lah laki-laki yang sangat beruntung sebab bisa memiliki Ros seutuhnya bahkan memiliki anak dengannya.


*Astaga ..dia bisa langsung berubah drastis saat aku sudah memperjelas semuanya, dia benar-benar telah diperbudak oleh cintanya sendiri kepada Ros, tapi ini hal yang bagus dengan begitu tuan Jenson benar-benar tulus mencintai Ros aku tidak perlu cemas lagi tenangnya. Walaupun sumber bahagianya tidak denganku tapi melihat dia bisa bahagia saja itu sudah sangat cukup untukku, lagi pula aku sudah menjadi suaminya Nayla.* Batin Rasya memikirkan semuanya termasuk masa lalu yang terbenam dan masih saja dia ingat akan momen-momen indahnya dengan Nayla dahulu.


Sampai tidak lama akhirnya kedua wanita itu menyajikan makanan ke atas meja, dengan berbagai menu masakan yang tersaji mereka semua mulai menyantapnya dan para istri mengambilkan nasi serta lauk untuk para suaminya sedangkan Ros masih harus menyuapi Teguh yang duduk di tengah-tengah antara dirinya dan tuan Jenson sehingga membuat tuan Jenson kesulitan setiap kali ingin mendapatkan perhatian dari Ros.


Karena ada Teguh yang selalu minta disuapi dan banyak mengobrol dengan ibunya saat di meja makan kala itu, bahkan saat ini Teguh sudah bisa membaca dengan lancar dan berhitung hingga ribuan, dia menjadi salah satu anak paling berprestasi dalam kisahnya tersebut dan sering mengikuti olimpiade matematika tingkat kota, untuk perwakilan dari sekolahnya tersebut, aku juga sangat bangga dengannya. Kali ini dia mulai membahas mengenai hari ulangtahunnya yang sudah sangat dekat.


"Eum...ibu kamu tidak lupa dengan hati ulangtahun Teguh kan?" Tanya Teguh tiba-tiba saja bicara kepadaku tentang hal itu.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, bagaimana mungkin ibu akan melupakan hari bahagianya putra ibu satu satunya ini." Balasku sambil mencubit kecil pipi Teguh yang nampak tembam tersebut serta dipenuhi dengan banyaknya makanan di dalam mulut kecilnya.


Sedangkan tuan Devon masih saja menatap sinis dan kesal sebab Teguh masih berada disana dan mengobrol banyak kepadaku menceritakan tentang bagaimana dia di sekolah dan semua hari-hari yang dia lewati selama ini, aku juga sangat senang bisa mendengarkan putra kecilku bercerita begitu banyak seperti ini, bahkan tidak hanya aku, Nayla dan Rasya ikut tertawa ketika mendengar cerita lucu yang diceritakan oleh Teguh kala itu, dia begitu menggemaskan dan sangat manis, aku juga turut tertawa sebab dia sangat lucu sekali.


Berbeda dengan tuan Jenson yang sibuk menikmati makanannya sendiri sambil terus saja menatap dengan wajah tidak senang kepada putranya sendiri.


Hingga tidak lama kemudian Teguh mulai bertanya kepada tuan Jenson dan mengajaknya berbicara. "Ayah kenapa kau sedari tadi hanya diam saja apa kau tidak senang mendengar cerita dari putramu sendiri?" Tanya Teguh kepadanya.


"Tidak, semua ceritamu itu sangat tidak menarik, ayah capek mau pergi tidur saja." Balas tuan Jenson begitu kecut pada anaknya sendiri membuat Teguh murung dan dia terlihat cukup sedih sebab tuan Jenson begitu cuek dengannya kali ini.


Saat tuan Jenson hendak pergi segera aku menarik tangannya dan meminta dia agar bicara pada Teguh dahulu sebab aku tidak mau melihat Teguh sedih hanya karena hal sepele seperti ini, terlebih dia masih anak kecil mentalnya begitu rentan dan sensitif saat ini aku tidak ingin membuat dia merasa seperti tidak disayangi oleh ayahnya sendiri.


"Mas tunggu, kenapa kamu mau pergi begitu saja ayo kita berkumpul dulu membicarakan untuk ulang tahun putra kita Teguh sudah sangat antusias dan bersemangat ingin mendengar pendapat darimu." Ucapku kepadanya dengan berbisik pelan ke dekat telinganya agar tidak di dengar oleh Teguh.


Aku pun terpaksa harus mengeluarkan senjata andalanku kepadanya karena jika tidak begini aku mungkin tidak bisa membujuk dia lagi. Meski sebenarnya aku juga malas sekali melakukan hal itu kepadanya.


"Baiklah kalau kau mau tetap keras kepala seperti ini, malam ini aku tidak akan memberimu jatah bahkan sampai satu bulan penuh!" Tegasku kepadanya lalu segera berbalik kembali duduk menghampiri Teguh lagi.


Tuan Jenson yang mendengar itu dia sangat kesal dan tidak terima sehingga dengan cepat dia pun kembali berbalik walau masih saja terlihat menghembuskan nafas dengan lesu sebelumnya. "Fyuhhh...aishh benar-benar menyebalkan dia sama sekali tidak mau membujuk aku disaat aku merajuk malah memberikan aku ancaman begini lagi, sial!" Gerutu tuan Jenson yang terpaksa harus menuruti kemauan dari istri dan putranya tersebut.


Padahal tuan Jenson memanglah orang yang tidak suka dengan sebuah pesta apalagi perayaan ulang tahun seperti ini, baginya hal-hal seperti ini hanya menghabiskan waktu tidak bermanfaat saja dan menghamburkan uang untuk hal tidak penting jadi dia tidak senang dan tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya.


Dengan wajah malas dan tubuh tanpa energi tuan Jenson pun langsung duduk di kursinya lagi dan dia hanya mendengarkan saja semua ucapan yang dikatakan oleh Nayla serta Teguh, dia begitu malas mendengarkan semuanya tetapi dia masih harus berada disana jika tidak mau aku abaikan malam ini keinginannya tersebut.


Aku juga berusaha untuk mengajak dia bicara agar bisa mengeluarkan pendapat dia untuk acara yang akan kami laksanakan nantinya.

__ADS_1


"Mas, bagaimana menurutmu apa sebaiknya acara ulangtahun Teguh dilakukan di rumah ini atau di tempat lain?" Tanyaku kepadanya saat itu.


"Terserah kalian saja yang pasti jangan membuat keributan di rumah ini dan jangan membiarkan siapapun masuk ke dalam rumah, kalau mau buat acaranya di taman samping saja atau mau di hotel juga terserah." Balas tuan Jenson sama sekali tidak perduli dengan apapun.


"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita buat acaranya di taman samping rumah saja, lagipula kalau menyewa gedung atau membuat acara di hotel itu terlalu ribet dan mengeluarkan biaya yang cukup besar, jika di taman kota bisa menata dan mempersiapkan semuanya sendiri, bisa sesuai dengan apa yang Teguh inginkan, bagaimana apa kamu setuju sayang?" Tanyaku kepada Teguh saat itu yang langsung dibalas dengan anggukan kepala yang nampak antusias dari Teguh sendiri saat itu.


"Boleh ibu apapun yang menurutmu bagus aku akan selalu senang mendapatkannya, tapi ibu lihatlah sepertinya ayah tidak senang dengan idemu itu, sedari tadi dia terus cemberut dan menatap aku dengan sini, apa ayah tidak mau merayakan hari ulangtahun aku?" Ucap Teguh sambil terus kembali menjadi murung.


Aku benar-benar sangat jengkel untuk menghadapi tuan Jenson bahkan saat itu aku sudah memberikan isyarat kepadanya untuk diam atau memalingkan pandangan saja sekaligus jika dia tidak bisa bersikap atau memasang wajah ramah dan bahagia di depan putranya sendiri. Alhasil saat ini aku juga yang harus membujuk Teguh agar dia bisa kembali memiliki mood yang baik lagi.


"Sayang ayahmu tidak begitu dia hanya kelelahan saja pekerjaannya hari ini sangat banyak wajar jika ayahmu ingin cepat-cepat istirahat, lagi pula ini sudah larut kamu pergi ke kamar dengan Tante Nayla ya." Ucapku kepadanya dan sengaja mengalihkan semuanya agar Teguh bisa mempercayai aku dan tidak sedih lagi.


"Iya Teguh, ayahmu itu memang memiliki wajah yang sudah begitu sejak lahir jangan aneh, ayo kita ke kamar dengan Tante, biar nanti Tante bacakan dongeng Pinokio bagaimana, mau?" Ucap Nayla yang selalu bisa membujuk Teguh dengan mudah dan dengan semua ide yang ada di kepalanya tersebut.


Seketika Teguh menurut dengannya dan dia terus saja merasa sangat senang karena bisa mendengarkan dongeng sebelum tidur yang biasanya akulah yang harus melakukan semua itu kepada-nya dalam setiap hari. "Aku mau Tante, ayo kita pergi." Balas Teguh nampak begitu senang dan bahagia dia terlihat antusias sampai langsung berlari dengan cepat mengikuti Nayla dan mereka pergi ke kamar segera.


Rasya ikut dengannya dari belakang dan aku kini memiliki sedikit waktu untuk bicara dengan tuan Jenson, setidaknya agar kami bisa bicara dengan serius satu sama lain tanpa ada yang mengganggu sama sekali.


Ku dekati tuan Jenson dan mulai bicara dengan lembut dan perlahan kepadanya untuk memberikan pengertian kepadanya tentang apa yang sebenarnya harus dan tidak boleh dia lakukan ketika di depan putranya sendiri yang masih sangat kecil itu, lagi pula mau bagaimana pun Teguh adalah darah dagingnya dan Teguh putranya yang baru berusia 16 tahun rasanya akan sangat tidak baik jika tuan Jenson masih tidak mau mengalah dengan putranya sendiri seperti ini.


Jadi ada baiknya aku mengingatkan dia lebih dulu dan memberitahukannya bahwa apa yang dia lakukan sebelumnya bukanlah hal yang tepat untuk dia berikan kepada anak kecil seperti Teguh ini.


"Mas, boleh aku bicara denganmu empat mata?" Ucapku meminta izin terlebih dahulu kepada-nya sambil terus tersenyum kecil.


Aku tahu tuan Jenson orang yang sangat keras kepala dan memiliki emosional yang tinggi, jadi untuk menghadapinya perlu sebuah kesabaran tersendiri bagiku agar kami bisa saling bicara satu sama lain dengan benar tanpa adanya bentakkan dan permasalahan yang lainnya lagi. "Bicara saja lagipula disini juga sudah tidak ada siapapun." Balas tuan Jenson padaku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2