
Aku sangat kaget dan begitu gugup tidak menentu saat melihat neneknya tuan Jenson saat itu, dia juga bersalaman denganku dan aku mulai menyapanya sebaik yang aku bisa, meski saat itu tanganku terus bergetar karena gugup.
"Ayo silahkan duduk, kamu pasti Ros kan, dan kamu Teguh." Ucap sang nenek bicara lagi mempersilahkan kami untuk duduk di sofa mewah yang ada di ruangan tegah rumah tersebut, aku hanya bisa tersenyum dan segera saja duduk di samping tuan Jenson dengan Teguh yang duduk di sampingku.
"Ros kenalkan ini nenekku, dan nek kenalkan juga ini Ros istriku dan ini Teguh putraku yang selalu aku ceritakan padamu, kami memang berpisah sangat lama dan saat itu memang ada permasalahan diantara kami yang sulit untuk dibicarakan, tetapi aku sudah memutuskan untuk tetap bersama dengan Ros." Ucap tuan Jenson membuat aku kebingungan terus menerus dan merasa heran sendiri dengan apa yang dikatakan oleh tuan Jenson kepada neneknya saat itu.
"Apa yang dia maksudkan dengan memutuskan terus bersama denganku?" Batinku terus saja menerka-nerka dan memikirkannya tanpa henti. Karena pasalnya yang aku tahu pernikahan ini hanyalah kedok belaka untuk saling membantu satu sama lain.
Sedangkan sang nenek yang duduk di hadapanku saat itu, justru terus menatap lekat padaku dan wajahnya mulai terlihat sangat serius, hingga tidak lama dia mulai tersenyum lebar kepadaku dan terus saja mengajak bicara denganku saat itu.
"Ros kamu bisa memanggilku Oma saja, jangan mengikuti anak yang tidak tahu diri ini, selalu memanggilku nenek, aku kan belum cukup tua untuk dipanggil nenek." Balas Oma yang terlihat ramah denganku juga Teguh saat itu.
Aku yang awalnya merasa gugup dan takut untuk bicara dengannya tetapi setelah mendengar dia bicara, kini aku terus saja merasa sangat senang, karena ternyata Omanya tuan Jenson tidak semenyeramkan wajahnya saat pertama kali menatapku sebelumnya, aku juga merasa dia lebih bersahabat dibandingkan dengan cucuknya sendiri yang sering kali mendominasi aku dan selalu memberikan tatapan tajam kepadaku berkali-kali, Teguh juga terlihat mudah bergaul dengan Oma, dia bahkan bisa langsung mengobrol dengan santai dengan sang Oma dan dia mau duduk di samping Oma begitu mudahnya, padahal biasanya Teguh sulit sekali untuk berkenalan dengan orang baru, tapi dengan Oma dia begitu mudah untuk diajak bicara, mungkin karena dia adalah Omanya sehingga Teguh lebih mudah dekat dengannya.
__ADS_1
"Ros, kamu tinggal saja disini dengan Teguh, biarkan anak nakal ini tinggal di rumahnya sendiri, setidaknya kamu harus memberikan pelajaran karena dia sudah pernah meninggalkan kamu begitu saja dalam waktu yang begitu lama, Oma juga sangat tidak menyukai sikapnya itu." Ucap Oma kepadaku secara tiba-tiba disaat kami tengah berkumpul saat itu.
"Ahh...aku senang-senang saja jika tuan Jenson mengijinkan aku untuk tinggal disini denganmu Oma, lagi pula sepertinya Teguh sangat senang tinggal disini." Balasku sambil tersenyum lebar kepada sang Oma.
Langsung saja tuan Jenson memberikan tatapan tajam yang sangat menusuk kepadaku dengan kedua matanya yang dia sipitkan saat itu, aku mulai menelan salivaku sendiri dengan susah payah saat mendapatkan tatapan seperti itu darinya, tetapi untung saja ada Oma sekarang, jadi setidaknya ada orang yang bisa melindungi aku dan membantuku untuk menghentikan tatapan tajam itu dari tuan Jenson yang sangat mengganggu sekali, Oma langsung saja menepuk kaki tuan Jenson dengan tongkat yang ia pegang cukup kencang, sampai membuat tuan Jenson meringis kesakitan di buatnya.
"Peletak!" Suara tongkat Oma yang mengenai kaki tuan Jenson tepat sasaran.
"Itu balasan karena kau sudah beraninya memberikan tatapan tajam kepada istrimu sendiri, apa kau tidak tahu ya, dalam sebuah pernikahan istri itu adalah ratu yang harus kau jaga dan lindungi, dia juga orang yang sudah memberikanmu keturunan dan akan menjagamu seumur hidupnya, tidak bisakah kau memperlakukan istrimu ini dengan baik? Jika kau terus begitu tidak akan ada wanita yang tahan dengan kelakuanmu, aishhh... benar-benar." Balas Oma mulai menasehati tuan Jenson dengan wajah gemasnya dan sedikit emosi dalam dirinya saat itu.
Aku hanya diam dan terus menahan senyum sendiri, karena merasa sangat senang ketika kini sudah ada Oma yang bisa membela aku dan melindungi aku dari tuan Jenson, setidaknya kini aku memiliki tempat mengadu, dan aku bisa memanfaatkan semua ini untuk mengancam tuan Jenson ke depannya.
"Kenapa kau terus tersenyum begitu, apa kau sangat puas melihat aku di omeli oleh nenekku sendiri, hah?" Balas tuan Jenson kepadaku saat itu.
__ADS_1
Langsung saja aku mengesampingkan rasa ingin tertawaku dengan cepat, sebelum tuan Jenson akan semakin marah dan kesal terhadapku, aku juga segera mencoba untuk memeriksa kakinya dengan segera, sembari mengobatinya dengan lembut dan hati-hati.
"Tidak, aku hanya berpikir apa yang dikatakan oleh Oma ada benarnya, sini biar aku periksa kakimu." Balasku kepadanya sambil segera memeriksa kaki tuan Jenson yang ternyata memang sedikit lecet akibat benturan dari tongkat Oma sebelumnya.
Segera aku mengobatinya dan kembali memasangkan sepatu pada kaki tuan Jenson dengan sangat hati-hati, karena aku tahu dia pasti akan menjerit kencang jika sampai aku tidak baik dalam mengobati kakinya tersebut.
"CK... sudahlah Ros kakinya hanya lecet sedikit, kenapa kamu harus mengurusi bayi besar yang manja sepertinya, dia itu pantas mendapatkan semua itu dariku, bahkan seharusnya dia aku tinju saja sekalian." Balas sang Oma yang masih tersulut emosi kepada cucuknya sendiri.
"Tidak apa Oma, bagaimana pun tuan Jenson adalah suamiku, aku harus menjaganya, mengurusi dia dan tetap menghormatinya, setidaknya aku sekarang memiliki keluarga, aku sangat senang bisa menjadi menantu Oma, dan terimakasih karena Oma bisa menerima aku dengan sangat baik seperti ini." Balasku kepada Oma sambil tersenyum lebar dan sangat senang.
Oma langsung memelukku dengan sangat erat dan dia juga begitu hangat, aku merasa memiliki keluarga lagi sekarang, hingga beberapa saat kemudian setelah kami menikmati jamuan makan siang dari Oma tuan Jenson terus membawaku kembali ke rumah bersama dengan Teguh, dan seperti yang sudah aku duga dia memang tidak akan pernah mengijinkan aku untuk tinggal bersama dengan neneknya.
Selama di perjalanan tuan Jenson lebih banyak diam sejak kami keluar dari rumah Omanya tersebut, sedangkan Teguh terus saja asik bermain game di ponselnya sendiri, aku juga hanya diam mematung tidak melakukan apapun, sampai tiba-tiba saja aku teringat dengan niat utamaku untuk membicarakan mengenai kembalinya aku ke dunia hiburan dengan tuan Jenson, terus saja aku mencari waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya kepada dia.
__ADS_1