Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Keinginan Teguh


__ADS_3

Terus saja aku berusaha untuk menahan senyum saat itu, karena jujur saja aku masih jaga gengsi sendiri sebab rasanya sangat malu jika sampai tuan Jenson akan mengetahui perasaanku yang sebenarnya kepada dia, jadi aku terus saja berusaha untuk menahan diri sembari menunggu dia yang akan mengatakannya lebih dulu kepadaku.


Disisi lain tuan Jenson yang baru saja selesai mengobati tangan ku dia ternyata memperhatikan aku lewat ujung matanya sedari tadi hingga dia mulai bertanya denganku.


"Hei, kenapa kau terus tersenyum seperti itu?" Tanya tuan Jenson yang membuat aku seketika tersadar juga langsung merapatkan bibirku dan menghilangkan senyum kecil itu.


"Tidak, aku tidak tersenyum, siapa juga yang senyum sedari tadi aku diam saja kok, seperti ini." Balasku mengelak darinya sambil terus memalingkan pandangan ke arah lain.


Setelah aku berkata begitu, dia justru malah langsung bangkit berdiri dan menyuruhku untuk lebih hati-hati ketika bekerja, tapi setelahnya dia sudah tidak mengatakan apapun lagi, justru dia malah pergi meninggalkan aku begitu saja, sangat berbeda dengan tuan Jenson yang biasanya, sehingga aku mulai bertanya-tanya kepadanya tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan dia saat ini.


"Sebaiknya kau hati-hati jika tengah memasak, aku naik dulu." Ujarnya begitu singkat dan pergi dengan cepat.


Bahkan aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepadanya saat itu, tetapi dia sudah melangkahkan kaki berlengan pergi dari hadapanku, hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu juga segera kembali ke dapur untuk mempersiapkan makanan di meja makan, aku menjajarkan semua menu makanan yang sudah aku masak ke atas meja dan terus memanggil Teguh untuk makan bersama malam ini, hingga tuan Jenson datang dan dia juga duduk di samping Teguh, seperti biasa aku mulai mengambilkan makanan untuk mereka berdua dan kami mulai makan, Teguh terus saja menikmati makanan dengan sangat lahap, dia terus saja mengunyah makanannya dengan begitu cepat.


"Teguh sayang, makannya pelan-pelan ya, nanti kamu tersedak." Ucapku menasehatinya.

__ADS_1


"Eummm..ini sangat enak Bu, sudah lama sekali aku tidak memakan makanan buatan ibu yang satu ini, rendang ayamnya benar-benar enak sekali, aku takut ayah akan menghabiskannya, jadi aku harus cepat." Ujar Teguh membuat tuan Jenson langsung menoleh ke arahnya sambil memberikan tatapan yang tajam saat itu, seakan dia tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Teguh kepada dirinya.


"Haiss.. kau tenang saja aku bahkan belum mencicipi daging nya kau sudah merasa ketakutan begitu, dasar anak nakal!" Balas tuan Jenson sambil mencubit kecil pipi Teguh.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua yang memang selalu bak seperti musuh dan sulit sekali akur, padahal sebelumnya mereka itu nampak sangat kompak dan selalu bersama kemanapun mereka pergi, tapi sekarang sepertinya mulai ada jarak diantara Teguh dan tuan Jenson terlebih tuan Jenson juga sudah mulai di sibukkan dengan pekerjaannya, jadi mungkin Teguh sedikit kesal karena dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menemani Teguh bermain yang sekarang justru lebih banyak bermain denganku juga pelayan yang biasa mengasuhnya di rumah.


Hingga setelah makan tiba-tiba saja Teguh meminta untuk pergi liburan kepada tuan Jenson dengan sangat berani. "Ayah aku punya permintaan padamu dan kau harus mengabulkannya jika kau mau aku tetap tinggal disini dengan ibu." Ucap Teguh yang sudah memberikan ancaman padahal dia baru saja mau mengatakan niatnya itu.


"Hei kau anak kecil sudah berani mengancamku, dasar, apa kau mau aku berikan hukuman?" Balas Tuan Jenson sambil terus melanjutkan makannya.


"Sudah cepat katakan apa yang kau inginkan jangan membahas hal di luar itu, kau membuat aku emosi saja." Balas tuan Jenson segera menyuruh Teguh untuk mengatakan keinginannya itu, karena dia tidak mau mendengarkan ocehan Teguh lagi.


Teguh pun tersenyum dengan lebar, dia pikir usahanya sudah berhasil memang ini niat awal yang dia inginkan sampai membuat tuan Jenson hampir emosi dibuatnya.


"Begini ayah, aku mau liburan ke luar negeri, aku tidak pernah di bawa liburan sekalipun dengan ibu dan aku juga ke taman bermain baru sekali itu juga sangat begitu singkat, karena aku sudah hampir kenaikan kelas, aku ingin liburan ayah, aku kan sudah bekerja keras selama di sekolah jadi kau harus memberikan hadiah liburan untukku, bagaimana itu ide yang bagus bukan?" Ungkap Teguh sambil melipatkan kedua tangannya di dada dengan kedua alis yang dia naikkan ke atas membuat tuan Jenson langsung mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan dia berdecak pelan hingga memalingkan pandangannya ke arah lain dengan cepat.

__ADS_1


"CK...kenapa aku bisa memiliki putra sepertimu, aku sibuk sekarang, kalau kau mau liburan pergi saja dengan ibumu." Ujar tuan Jenson yang malah menunjuk ke arahku.


Jelas untuk sekarang aku juga pasti sibuk karena sudah lolos dari testing untuk memainkan peran nantinya dimana syuting itu akan di mulai bulan depan, dan aku juga lupa belum mengatakannya kepada tuan Jenson, mungkin itu juga kenapa dia malah memalingkan ucapannya kepadaku.


Teguh langsung mengubah ekspresi di wajahnya dia terlihat sangat kesal dan langsung cemberut dengan begitu murung, aku menjadi tidak tega untuk menolaknya tetapi aku juga mungkin akan memiliki jadwal yang padat dan berdesakan jika aku menyetujui keinginan Teguh tersebut. "Aahh sudahlah semua ini juga demi kebahagiaan Teguh." Batinku memikirkan.


"Teguh, tuan Jenson benar, dia sangat sibuk sekali jadi kamu pergi dengan ibu saja ya, ibu punya banyak waktu untuk Teguh." Balasku kepadanya sambil memegangi kedua tangan Teguh dengan lembut, tapi sayangnya Teguh malah langsung menarik kembali tangannya dia membelakangi aku dengan cepat dan terus saja menolak.


"Tidak mau! Aku mau liburan keluarga dimana ada ibu dan juga ayah di sampingku, aku mau berkemah di pegunungan, menyatu dengan alam dan aku ingin membagikan liburankan kepada teman-teman di sekolah nantinya, ibu kau tahu sejak aku di TK sampai sekarang aku tidak pernah bisa melakukan hal itu karena aku hanya punya satu orang tua saja yaitu kau, tapi aku tidak pernah mengeluh dan mengatakannya padamu karena aku tahu kondisi keluarga kita sangat sulit kala itu, tetapi sekarang aku sudah punya ayah dan ayahku sangatlah kaya, aku juga ingin merasakan apa yang dirasakan teman-temanku." Balas Teguh meluapkan semua isi hatinya.


Aku hanya bisa menatap ke arah tuan Jenson dan berharap dia bisa mengabulkan keinginan dari Teguh, bukan untuk memanjakan dia tetapi Teguh juga berhak merasakan semua itu, terlebih aku tidak pernah bisa mengabulkan keinginannya dahulu.


Sayangnya tuan Jenson tetap saja tidak memahami makna tersirat dari tatapan mataku saat ini, dia malah terus saja menggelengkan kepala dan menyuruh Teguh untuk pergi tidur daripada membicarakan mengenai hal ini.


"Sudahlah kau ini banyak sekali maunya, sana tidur ini sudah malam jangan jadi anak yang nakal, cepat pergi ke kamarmu." Ucap tuan Jenson yang semakin saja membuat Teguh kesal dan dia merajuk sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya sangat kencang, bahkan dia menutup pintu kamarnya sekaligus membuat aku sedikit kaget di buatnya, karena Teguh pergi dengan cara seperti itu, aku menjadi sangat mencemaskannya dan segera saja aku bicara dengan tuan Jenson untuk membujuk dia agar dia mau mengabulkan keinginan Teguh yang sangat sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2