Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Penjelasan Tuan Jenson


__ADS_3

Aku langsung berbalik dengan cepat karena aku tidak ingin memperlihatkan mataku yang mulai berkaca-kaca karena melihat kejadian itu di depan mataku secara langsung seperti ini, aku pun segera berlari keluar dan menyenggol tubuh Roy hingga dia hampir jatuh saat itu. "Ros? Ros..tunggu...Ros ini tidak seperti yang kau lihat, Ros!" Teriak tuan Jenson sangat kencang memanggilku saat itu.


Dia juga sempat mengejarku tapi aku segera masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup diwaktu yang tepat, aku terus saja menangis seorang diri di dalam lift yang mulai sampai di lantai bawah, segera aku pergi untuk mencari taxi di sekitar sana, aku tidak ingin bertemu dengan tuan Jenson lagi dan sudah cukup bagiku untuk berharap hidup bahagia dengan pria sepertinya, tapi baru saja aku menemukan taxi dan saat aku hendak membuka pintu pintunya, tuan Jenosn tiba-tiba muncul dari belakangku dan dia menutup kembali pintu itu dengan cepat.


"Tunggu Ros, jangan salah paham dahulu aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Ucap tuan Jenson sambil memegangi tanganku sangat erat saat itu.


Aku bahkan tidak berani menatap wajahnya, aku tidak ingin terlihat lemah di depan dia tapi aku sangat rapuh dan mudah cemburu saat ini.


"Lepaskan tuan, lagi pula kita hanya menikah untuk saling memenuhi kebutuhan satu sama lain bukan? Kau hanya membutuhkan putraku dan aku membutuhkan ayah untuk dia sekaligus menjaga aku agar tidak sampai di curiga bersekongkol dengan dua sahabatku yang ternyata bukan orang baik, jadi aku juga tidak masalah jika kau dengan wanita lain." Balasku membohongi diriku sendiri dan memaksakan senyum yang sangat menyedihkan ini di hadapannya.


Tuan Jenson hanya menatap datar padaku dan dia langsung memeluk aku dengan erat, dia tidak membiarkan aku pergi saat itu meski aku terus berusaha untuk berontak dan ingin melepaskan diri dari dekapannya tersebut.


"Tuan, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan, wanitamu bisa cemburu jika melihat kau memeluk wanita lain seperti ini, tuan Jenson!" Ucapku sambil terus berusaha untuk mendorong tubuh kekarnya tersebut.

__ADS_1


"Diam! Kau wanitaku, kau istriku dan kau ibu dari putraku, kau juga yang tengah cemburu padaku saat ini bukan? Kenapa aku tidak boleh memelukmu?" Balas tuan Jenson yang membuat aku tidak bisa berkata-kata lagi.


Aku hanya bisa terus diam menunduk, sedang tuan Jenson terus memegangi kedua pundakku dengan begitu erat dan dia terus membawa aku untuk kembali pergi ke ruangannya dan menjelaskan semuanya bersama dengan wanita yang aku lihat sebelumnya itu. "Ayo masuk aku akan menjelaskan semuanya denganmu, kau harus mempercayai aku Ros, aku bukan pria brengsek yang akan bermain api di belakang istrinya sendiri." Ungkap tuan Jenson lagi dan aku pun pada akhirnya tetap mengikuti dia lagi, dan bertemu dengan Roy juga wanita seksi yang sebelumnya aku lihat.


Wanita itu duduk bersampingan dengan Roy dan segera berdiri saat aku dan tuan Jenson masuk ke dalam ruangan tersebut, namun dengan cepat tuan Jenson segera mempersilahkan mereka untuk kembali duduk lagi.


Dan aku mulai duduk di berhadapan dengan wanita itu, sedang tuan Jenson berhadapan dengan Roy saat itu, aku langsung menatap ke arah tuan Jenson dan segera memintanya untuk menjelaskan semuanya dengan segera.


"Begini Ros, kau pasti sudah tahu wanita di hadapanmu ini adalah sekretaris baru di perusahaan cabang, aku juga sudah memberitahumu tentang dia sebelumnya bukan, dia itu Naura dia datang kemari untuk melaporkan perintah yang aku berikan kepadanya, dia bisa bekerja seperti mata-mata yang handal, itulah kenapa dia memakai pakaian seperti ini, dia hanya menyamar saja, dan apa yang kamu lihat sebelumnya, itu juga hanya kesalah pahaman saja, dia hanya membantuku untuk memakaikan alat ini pada kerah pakaianku, sebab aku tidak mungkin memakainya sendiri tanganku tidak sampai dan mataku tidak bisa melihatnya dengan jelas, ini alat yang bisa mengatur gerak otak kita, aku bisa mendengar bisikan setiap orang dengan alat ini, dan ini alat rahasia terbaru yang aku ciptakan di perusahaan cabang, itulah kenapa Naura membantuku memasangnya, karena hanya dia yang tau tata caranya yang baik dan benar." Ujar tuan Jenson menjelaskan semuanya kepada.


Tatapan tuan Jenson dan Naura langsung beralih kepada Roy dengan sangat tajam dan seketika Roy langsung saja menjelaskannya alasannya melakukan hal itu.


"Eehh, kenapa jadi aku yang terkena dampaknya begini, aku kan hanya menjaga agar hal seperti ini tidak terjadi, karena aku yakin nona Ros pasti akan salah paham, makanya aku menahan dia." Balas Roy menjelaskannya.

__ADS_1


Tatapan mata tidak senang dari tuan Jenson begitu tajam, membuat Roy merasa ketakutan dan dia mulai memutuskan untuk pergi dari sana secepatnya dengan beralasan melakukan pekerjaan lain yang sempat dia tinggalkan sebelumnya.


"Aaa..AA..ahh...aduh, aku lupa masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang, kalau begitu aku pergi dulu ya, kau juga cepatlah pergi Naura, bukankah tugasmu juga masih banyak?" Ucap Roy beralasan dan segera pergi dengan cepat.


Begitu pula dengan Naura yang menyusul pergi mengikuti Roy segera, hingga tinggal hanya ada aku dan tuan Jenson saja di dalam ruangannya tersebut, tidak ada pembahasan apapun lagi yang bisa aku bicara dengannya, bahkan aku sudah lupa apa yang mau aku katakan kepada dia sebelumnya, karena adanya kejadian yang sangat menyebalkan itu barusan.


Tuan Jenson terus menatap lekat padaku dan dia mulai menampakkan sebuah senyum kecil di wajahnya, membuat aku merasa sangat heran mendapatkan tatapan seperti itu darinya. "Kenapa kau menatapku begitu?" Tanyaku kepada tuan Jenson dengan wajah sedikit cemberut padanya.


"Tidak ada, aku hanya merasa senang saja, karena sepertinya orang yang dulu membenciku dan sangat merasa kesal denganku kini mulai menyukai aku." Balas tuan Jenson menyinggung aku secara tidak langsung.


"Tuan aku tahu kau bicara seperti itu kepadaku bukan?" Balasku kepadanya lagi.


"Eh, darimana kau tahu jika orang yang tengah aku bicarakan adalah dirimu, atau jangan-jangan kamu memang benar sudah menyukai aku ya?" Balas tuan Jenson yang ternyata malah menjebakku dengan pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Tidak, siapa yang menyukaimu, aku biasa saja." Balasku menyangkalnya dengan cepat.


Langsung saja aku berbalik menjauh darinya dan dengan segera menyangkal semua itu yang dia katakan dengan cepat, sebab aku terlalu malu untuk mengakuinya di hadapan tuan Jenson secara langsung seperti ini, sekalipun apa yang dikatakan oleh tuan Jenson saat ini memanglah sebuah kebenaran yang aku rasakan.


__ADS_2