Janin Yang Tidak Dianggap

Janin Yang Tidak Dianggap
Menemui Tuan Jenson


__ADS_3

Memang sangat sakit rasanya, tetapi aku tidak bisa berhenti, apalagi menyerah, waktunya hanya tersisa lima menit lagi, aku tidak memiliki waktu untuk beristirahat, jadi langsung saja aku kembali bangkit berdiri dan terus melepaskan kedua sepatu hak tinggi yang aku pakai saat itu.


Menenteng kedua sepatu hak tinggi itu sambil kembali berlari dengan semampuku, hingga akhirnya aku bisa sampai juga di depan sebuah rumah dengan gerbang besi yang menjulang sangat tinggi, aku kagum sekali melihatnya, pemandangan rumah sebesar itu yang sama sekali tidak pernah aku lihat sebelumnya, karena sejak dulu aku sama sekali tidak pernah melihat rumah dengan pagar besi yang menjulang tinggi dan ada dua penjaga yang menjaganya di dua sisi pagar tersebut.


Aku pun langsung menghampiri kesana dengan segera, meski kakiku terasa sakit, berjalan dengan pincang dan terus saja berteriak meminta dua penjaga disana agar tidak segera menutup pagar besi tersebut.


"Hei...hei...tunggu! Tolong jangan tutup dulu gerbangnya, hei... Tolong jangan!" Teriakku sangat kencang sambil langsung mendorong pagar besi tersebut dan menahannya sekuat tenaga.


"Siapa kau, untuk apa malam-malam seperti ini datang kemari dan menahan kami, apa kamu tidak tahu kediaman siapa ini?" Ucap salah satu penjaga yang memakai pakaian serba hitam kepadaku.


"Ah.. aku, aku Rosa, tolong beritahu bos kalian tuan Jenson, aku datang kemari untuk menjemput putraku, dia yang menyuruh aku datang kemari, ini lihatlah dengan jelas, ini nomornya bukan, aku mohon tolong biarkan aku masuk." Ucapku memohon kepadanya dengan penuh harapan.


Setelah beberapa saat menatapku dengan tatapan tajam dan mereka memeriksa ponselku ku yang baru saja aku tunjukkan nomor tuan Jenson, hingga akhirnya mereka mempercayai aku dan segera saja membuka kembali gerbang tersebut dengan segera.


Aku cepat saja masuk ke dalam sana, sudah tidak sabar rasanya ingin menemui Teguh, namun sayangnya kedua penjaga itu bak masih tidak mempercayai aku, jadi mereka tiba-tiba saja menarik tanganku, memegangi kedua tanganku dengan cukup kuat dan terus menyeret aku untuk menemui bosnya saat itu.


"Hei.... Lepaskan, tolong lepaskan aku, kenapa kalian malah menahan tanganku begini, hei tolong lepaskan... aku bukan orang jahat, kenapa kalian memegangi tanganku seperti ini?" Bentakku terus saja berusaha untuk berontak dengan kuat.


Namun sayangnya mereka sama sekali tidak bicara denganku dan tidak menggubris semua ucapanku yang terus berteriak meminta dia untuk melepaskan aku, sayangnya mereka terus saja menyeret aku tanpa ampun dan wajahnya itu sama sekali tidak memiliki ekspresi apapun, aku sama sekali tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, jadi hanya bisa pasrah dan terus saja mengeluh sendiri.


"Eeughh... Lepaskan, aishh... Apa kalian ini tuli ya, lepaskan aku!" Bentakku sekali lagi dengan menghembuskan nafas dengan lesu.

__ADS_1


Sampai tidak lama akhirnya aku bertemu dengan tuan Jenson yang tengah berdiri di depan balkon kamarnya, aku tidak tahu kenapa dua orang penjaga tadi malah membawa aku ke dalam kamar tuan Jenson, padahal aku ingin menemui Teguh bukan tuan Jenson yang sangat menjengkelkan tersebut.


"Tuan ini ada wanita yang ingin menemuimu." Ucap salah satu penjaga yang memegangi tanganku saat itu.


"Tuan Jenson dimana Teguh?" Tanyaku kepada dia dengan segera dan terus menatap ke sekeliling sana mencari keberadaan Teguh di dalam ruangan tersebut.


Tapi sayangnya tidak ada siapapun yang ada disana, hanya ada aku dan tuan Jenson juga kedua penjaga yang sebelumnya memegangi kedua tanganku.


Tuan Jenson langsung saja berbalik menatap ke arahku sambil segera saja dia mengayunkan tangan memberikan isyarat kepada dua penjaga di sampingku untuk keluar dari ruangan tersebut.


Hingga tinggal lah kami berdua saat itu, aku sudah sangat tidak sabar untuk mencari keberadaan putra kesayanganku itu, dan tidak bisa mencari keberadaan Teguh di sekitar sana. Karena sudah beberapa saat aku terus menatap kesana kemari tidak kunjung menemukannya juga, aku pun kembali bertanya kepada dia lagi.


"Hei, apa kau lupa, perjanjian yang aku katakan kepadamu?" Balas tuan Jenson sambil berjalan menghampiri aku lagi saat itu.


"Janji? Janji apa yang kau maksud, aku sama sekali tidak pernah menyetujui janji apapun denganmu?" Balasku sambil mengerutkan kedua alisku dengan penuh kebingungan.


Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesa singkat yang sudah dia kirimkan kepadaku sebelumnya, pesan yang sudah aku baca mengenai batas waktu kedatanganku untuk menjemput Teguh di rumahnya.


"Ahh.. apa-apaan kau ini, aku sudah sampai di rumahku sebelum jam sebelas malam, artinya aku bisa menjemput Teguh." Balasku kepadanya mulai terpancing emosi.


"Ahaha... Lihat ini baik-baik, kau sudah terlambat lima detik untuk sampai di hadapanku, itu artinya kau terlambat, jadi Teguh sudah tidak ada disini, aku sudah mengirimkan dia ke tempat tidurnya yang baru dan dia sangat menyukainya." Balas tuan Jenson semakin membuat aku mengerutkan kedua alisku semakin kuat.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin Teguh pulang denganku, berikan dia padaku, dia itu putraku, kau tidak memiliki hak apapun atasnya!" bentakku dengan kencang dan gigi yang aku kerat kan dengan kuat.


Tuan Jenson sendiri justru malah terus saja menatap aku dengan tatapan matanya yang sinis dan terus tersenyum kecil kepadaku.


"Aku ayahnya, jadi aku juga memiliki hak yang sama untuk merawat dia, Teguh tidak mungkin ada di dunia ini tanpa campur tanganku bukan?" balas tuan Jenson terus mendesak aku saat itu.


Aku benar-benar bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat aku, aku tidak bisa diam saja dan menyerah seperti ini meskipun apa yang dikatakan oleh tuan Jenson memang benar tetap saja aku tidak rela jika dia mengambil Teguh dariku, walau hanya untuk beberapa jam saja, jadi aku langsung saja berjalan menghampiri dia lebih dekat lagi, mengguncang tangannya dan bicara dengan keras kepadanya, meminta dia agar cepat mempertemukan aku dengan Teguh.


"Tuan aku mohon, tolong jangan lakukan ini padaku, jangan ambil Teguh dariku, aku sangat menyayanginya, aku yang mengandung dia sembilan bulan lamanya, aku juga yang membesarkan dia lima tahun ini seorang diri, aku tidak bisa kehilangan dia, aku mohon tolong kembalikan dia padaku." Ucapku memohon kepadanya sambil menunduk dan memegangi kedua tangannya.


Meski hal seperti ini sangat memalukan bagiku, tapi tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan, agar aku bisa bertemu dengan Teguh lagi.


Dia sama sekali tidak bicara apapun kepadaku, yang ternyata saat itu tuan Jenson justru memperhatikan pakaiku yang kotor dan kaki yang berdarah tanpa mengenakan alas kaki apapun.


Sampai tiba-tiba saja dia langsung menggendong tubuhku dan mendudukkan aku di samping sofa yang ada di sudut kamarnya.


"Eee...ee..ehhh..tuan kenapa kau menggendongku, turunkan aku tuan!" Teriakku kaget karena dia mengangkat aku secara tiba-tiba saat itu.


"Sudah diam, aku tidak akan melakukan hal yang jahat padamu, duduk disini dan jangan pergi kemanapun!" Ucapnya dengan menatap lekat dan menunjuk ke wajahku begitu saja.


Aku terus menaikkan kedua alisku cukup tinggi, merasa bingung dengan apa yang akan dia lakukan kepadaku saat itu, jadi aku hanya bisa diam saja sambil mengatur nafasku sendiri yang masih terasa sesak karena sudah berlari dalam jarak yang cukup jauh sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2